Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 116 - Bermesraan Sepuasnya



Esok harinya, Arya membuka matanya dengan berat. Dia merasakan tangan kanannya terasa berat dan kebas. Dia kemudian menoleh ke samping, terkejut ketika melihat sosok gadis, yang secara alami adalah kekasihnya, Lylia.


Arya yang baru bangun tidur itu kebingungan dengan kehadiran Lylia di pelukannya, bahkan gadis ini tertidur dengan nyaman di sana.


Berpikir sejenak, Arya akhirnya mengingat alasan Lylia berada di pelukannya dan tertidur. Lylia menginap semalam.


Segera, Arya menatap Lylia dengan senyum hangat. Dia menikmati pemandangan semacam ini dengan damai. Wajah Lylia tetap terlihat cantik bahkan jika dia sedang tidur.


Namun, perlahan senyum Arya menghilang begitu dia mengingat Lylia akan pindah bulan depan. Jika apa yang dikatakan gadis ini adalah fakta, dia jelas akan patah hati dan sangat sedih.


Keduanya akan terpisah jauh jika Lylia pindah.


Arya tidak menginginkan hal itu, tapi sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain.


Dia hanya berpikir jika mungkin kedua orang tua Lylia tidak menyetujui hubungannya dengan Lylia, makanya orang tua Lylia mengajaknya pindah agar Lylia jauh darinya.


Bagaimanapun, mereka hidup dalam dunia yang berbeda. Derajat mereka berbeda karena banyaknya faktor.


Arya sendiri hanya seorang pemuda dari keluarga biasa, yang memiliki keuangan yang serba berkecukupan, bahkan terkadang kurang. Dia juga memiliki masa kecil yang kurang menyenangkan karena ayahnya yang tidak bertanggung jawab. Orang tuanya sendiri bahkan sudah bercerai. Ini adalah salah satu faktor utamanya.


Adapun Lylia, gadis ini sejak kecil hidup dalam keluarga kelas atas, di mana dia hidup dalam dunia yang penuh dengan harta yang melimpah. Lylia jelas tidak kekurangan dalam hal ekonomi ataupun materi.


Inilah yang membuat Arya yakin jika hubungannya tidak direstui oleh orang tua Lylia. Bagaimanapun, Lylia pantas mendapat seorang pria yang lebih baik darinya. Entah itu dalam hal ketampanan, kekayaan dan derajatnya.


Merasakan sakit di dadanya, Arya memeluk erat Lylia.


Gadis tersebut mengeluarkan erangan pelan dan perlahan membuka matanya. Sepertinya karena pelukan Arya tadi, dia jadi terbangun.


Lylia kemudian menatap Arya dengan linglung. Matanya masih terlihat mengantuk dengan wajah malasnya.


Arya tersenyum pada Lylia, tanpa mengucapkan apapun. Dia menepuk kepala kekasihnya itu dan mengelusnya.


Lylia merasa hangat dan nyaman, jadi dia membiarkan Arya melakukan apa yang dia inginkan.


Lylia perlahan memejamkan matanya lagi, meringkuk dalam pelukan Arya, mencari kehangatan lebih.


Arya tersenyum hangat, merasa Lylia belum sepenuhnya sadar. Namun, itu bukan masalah besar baginya. Dia terus mengelus kepala Lylia dengan gerakan menyayangi, membuat Lylia mendengkur bagai kucing kecil.


"Lylia sepertinya suka bermain-main saat bangun tidur, ya?"


Arya bergumam, sangat senang karena melihat tingkah menggemaskan Lylia yang baru bangun ini.


Sekitar lima menit kemudian, Lylia bangun dan segera melebarkannya karena terkejut. Kini dia akhirnya sepenuhnya sadar dan mengingat semua tindakan Arya yang kekasihnya itu lakukan padanya.


Dia benar-benar merasa malu karenanya. Wajahnya bahkan merah padam saat ini.


Dia tidak tahu wajah seperti apa yang dia buat tadi. Lylia takut dia meneteskan air liur saat tidur. Jika Arya melihatnya meneteskan air liur, dia mungkin tidak akan mau menatap Arya lagi karena terlalu malu.


Karena terlalu malu, Lylia bersembunyi di dalam selimut dan menggeliat di dalam sana. Dia tidak keluar dari kamar Arya selama satu jam lebih sebelum akhirnya dia merasa lebih tenang.


*****


Pada saat makan siang, Arya dan Lylia makan bersama setelah memesan makanan cepat saji.


Ketika makan, Arya terlihat tidak bersemangat, banyak melamun dan jarang bicara. Dia sepenuhnya sedih karena Lylia akan pindah dalam waktu dekat.


'Sepertinya Arya benar-benar terkejut karena kepindahanku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan agar dia ceria kembali? Aku tidak ingin berpisah darinya, tapi...'


Lylia menghela napas tanpa daya.


Setelah selesai makan siang, Arya membawa semua peralatan makan yang kotor dan mencucinya, sementara Lylia mengelap meja.


Gadis itu kemudian menatap punggung Arya yang sedang mencuci itu. Dia kemudian berhenti mengelap, menghampiri Arya secara pelan tanpa suara dan langsung memeluknya dengan erat.


Arya agak terkejut, tapi dia tidak mengeluarkan suara apapun, terkesan diam seakan dia tidak terkejut.


Lylia agak kecewa karena Arya tidak menunjukkan respon, padahal dia berniat mengejutkan Arya guna membuatnya ceria kembali.


Melihat Arya murung dan tidak bersemangat benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman dan bersalah.


Menghela napas pelan, Lylia membenamkan wajahnya ke punggung lebar Arya dan mengusapkan dahinya.


"Arya, apakah kamu tahu? Aku juga tidak ingin berpisah darimu. Tapi, orang tuaku memaksa, terutama ibuku. Juga, aku sudah menolak ikut dan tetap ingin tinggal di sini, di sisimu. Tapi ibuku melarang. Dia bilang jika aku tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bisa mengurus diri sendiri. Aku juga ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tua, makanya aku menuruti permintaan mereka. Maafkan aku, Arya."


Lylia menjelaskan, terdengar sedih ketika dia terisak.


Arya diam, menghela napas panjang. Dia kemudian berhenti mencuci, membersihkan tangannya yang penuh sabun kemudian berbalik.


"Tidak apa, Lylia. Wajar bagimu untuk berbakti pada orang tua. Tapi, tidakkah kamu pikir sebenarnya orang tuamu tidak merestui hubungan kita, makanya mereka mengajakmu pindah?"


"Ti-tidak... Aku yakin mereka mendukung hubungan kita. Aku sudah bertanya pada mereka."


"Tidakkah kamu pikir mereka hanya berbohong?"


Lylia terdiam.


Ayahnya mungkin tulus menyetujui hubungannya dengan Arya, karena dia tahu kepribadian ayahnya. Namun, yang menjadi masalah adalah ibunya.


Lylia tahu jika ibunya selalu menginginkannya untuk memiliki hubungan asmara dengan pria kaya raya, atau seorang CEO seperti ayahnya. Bahkan dia pernah hampir dijodohkan ketika lulus sekolah dasar oleh ibunya, namun ayahnya menolaknya dengan alasan dirinya masih anak-anak.


Melihat ekspresi Lylia, Arya tahu jika kekasihnya ini memiliki sesuatu yang tidak bisa dikatakan padanya.


Arya tidak memaksa Lylia bercerita. Dia hanya memeluknya dengan erat dan tidak melepaskannya untuk waktu yang lama.


Dua hari berlalu, namun Erwin belum kembali, membuat Arya dan Lylia berdua saja di rumah, bermesraan sepuas yang mereka mau. Keduanya bahkan selalu tidur bersama, saling berpelukan saat tidur dan tidak akan saling melepaskan jika bukan karena fajar telah tiba.


Plus, selama dua hari ini keduanya bolos sekolah dan memilih di rumah saja dan bermesraan.


"Lylia, apakah kamu punya waktu luang Sabtu besok?"


Arya bertanya, sedikit canggung ketika dia hendak mengajak Lylia kencan.


"Tentu saja ada! Ke mana kamu akan mengajakku pergi?"


"Ke manapun, bahkan jika kamu ingin ke bulan, atau kawin lari sekalipun bukan masalah bagiku." Goda Arya.


Lylia memerah mendengarnya. Dia segera tersenyum dan memberikan kecupan hangat di pipi Arya.


Arya merasakan bibir lembut Lylia menyentuh pipinya, membuatnya bedebar. Wajahnya memanas dan menjadi merah bagai tomat rebus.