
Di dalam rumahnya, Lucy terlihat sedang memegang handphonenya dan menelepon Arya berkali-kali, namun Arya sama sekali tidak menerima panggilan teleponnya. Dia tidak tahu mengapa, tapi Arya tiba-tiba pergi tanpa mengatakan apapun padanya. Bahkan dia tidak tahu kapan Arya pergi. Ini membuatnya kesal dan marah.
Ketika Lucy sedang menggerutu karena sedang dalam mood yang buruk, tiba-tiba pintu rumahnya terdengar diketuk oleh seseorang.
Lucy merasa heran ketika mendengar ini. Biasanya, Arya tidak akan mengetuk pintu. Namun, karena dia berpikir jika yang datang adalah tamu, dia perlahan membukakan pintu.
"Siapa...?"
Ketika Lucy membuka pintu, dia terkejut melihat bahwa yang mengetuk pintu rumahnya adalah seorang pria dengan wajah yang tidak dia kenali. Bahkan wajah pria itu terlihat menakutkan dan tidak bersahabat.
Lucy langsung tahu kalau pria ini memiliki niat buruk padanya, jadi dia segera membanting dan menutup pintu rumahnya dengan cepat dan melarikan diri ke belakang.
Preman tersebut terkejut dengan ini. Dia segera menghalangi pintu yang hendak tertutup dengan kakinya dan segera masuk dengan ekspresi marah.
"Siapa kau?!" Lucy berteriak marah.
"Gadis Kecil, tenang dan turuti ucapanku jika kau tidak ingin terluka."
Preman tersebut menyeringai jahat dan meraih lengan Lucy, mengcengkeramnya dengan keras.
Lucy mengerang kesakitan namun dia segera memutar otak dengan keras sampai akhirnya dia memiliki ide untuk menggigit tangan preman tersebut.
Benar saja, preman tersebut langsung melepaskan cengkeramannya ketika Lucy mengigit preman tersebut dengan keras hingga membekas.
Lucy tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia kabur ke dapur dengan wajah pucat dan keringat dingin. Jantungnya berdebar kencang ketika dia melihat sekitar, mengambil pisau dapur untuk berjaga-jaga jika kondisinya semakin memburuk.
"Gadis sialan! Kau akan membayar ini!"
Preman tersebut berteriak sambil memegangi tangannya yang digigit Lucy menggunakan tangan lainnya. Dia lalu mencari Lucy dan mengikutinya. Dia tidak pernah berpikir jika seorang gadis seperti Lucy akan melawannya. Ini adalah pertama kalinya dia dipermalukan oleh seorang gadis.
Dia diam-diam mengutuk Viktor karena memperkerjakannya untuk menangkap gadis galak seperti Lucy.
Ketika preman itu tiba di dapur, dia melihat Lucy memegang pisau dengan kedua tangannya yang gemetar. Wajahnya dipenuhi ketakutan.
Preman itu menyeringai dengan ini, merasa jika gadis ini cukup berani.
Lucy gemetar, menelan ludah dalam tegukan. Pisau di tangannya hanyalah gertakan, dia berharap preman itu takut dan waspada padanya.
Tapi tidak seperti yang diharapkan, preman itu justru tertawa jahat.
"Untuk seorang gadis, kau cukup berani mengarahkan pisau padaku."
Preman tersebut menatap Lucy dengan kebencian. Dia benar-benar membenci gadis ini karena mengigitnya tadi.
Mendekati Lucy, gadis tersebut terpojok oleh preman tersebut. Dia memejamkan matanya sambil berharap bahwa Arya datang menolongnya bagaikan pahlawan.
"Argh!!!"
Sebuah teriakan kesakitan terdengar. Teriakan tersebut sangat kencang, menunjukan bahwa orang yang berteriak sangat kesakitan akan suatu hal.
Lucy terkejut karena teriakan itu sangat dekat dengannya. Dia takut jika dia tanpa sadar menusuk preman itu menggunakan pisau di tangannya.
Perlahan, Lucy membuka matanya dengan takut. Matanya yang indah segera melebar dan wajahnya semakin pucat dan kengerian serta ketakutan semakin jelas di wajah Lucy. Jantungnya juga berdebar dengan sangat kencang.
Di depannya, preman yang seharusnya memiliki niat buruk padanya, kini telah terbunuh saat dua buah belati menancap di lehernya dengan dalam.
Lucy mengenali sepasang belati ini, jadi dia segera mengalihkan pandangannya ke belakang preman tersebut.
Di belakang preman tersebut, terlihat seorang pemuda dengan tatapan dingin dan wajah tak bersalah meski pemuda tersebut baru saja membunuh. Selain itu, dia terlihat sangat mengerikan dan terlihat tidak berperasaan.
Lucy dengan sangat, sangat dan sangat mengenali siapa pemuda tersebut. Ya, dia adalah Arya.
Lucy merasa ngeri melihat Arya saat ini. Pemuda yang dia cintai saat ini memiliki tatapan dingin dan kejam. Meski dia sudah sering melihat tatapan dingin Arya, tapi baru kali ini dia melihat yang semenakutkan dan sedingin ini.
Selain itu, Arya yang biasanya tersenyum lembut dan hangat padanya kini tanpa ekspresi. Ini membuatnya merasa bahwa Arya yang sedang di hadapannya bukanlah Arya yang dia kenal, melainkan orang lain.
"Lucy, kamu baik-baik saja?"
Arya bertanya dengan ringan. Kedua belatinya sudah dia cabut dari leher preman itu, membuat kedua tangannya yang memegang belati terkena bercak darah.
Aroma khas darah menyentuh ujung hidung Lucy, membuatnya membeku ketika dia menatap Arya, berteriak dengan suara aneh sebelum akhirnya terjatuh, kehilangan kesadaran karena ketakutan melihat Arya membunuh seseorang tepat di depan matanya.
Arya terkejut dan panik, dia membuang dua belatinya ke samping. Dia segera menepuk pipi Lucy dengan pelan, menyadari jika gadis ini benar-benar pingsan.
Arya menggertakkan giginya karena marah. Jika bukan karena Viktor, dia tidak akan terpaksa membunuh di depan mata Lucy.
Menggendong Lucy, Arya membawanya ke dalam kamarnya. Dia menatap gadis yang terbaring di kasurnya itu dengan tatapan bersalah. Dia terdesak dan panik karena Lucy terpojok, jadi dia tidak pikir panjang dan langsung membunuh preman tadi.
Menghela napas panjang, Arya kembali ke dapur membereskan mayat preman itu dan membersihkan dapur yang kotor karena darah.
*****
Perlahan, Lucy yang kehilangan kesadaran diri karena terkejut, takut dan ngeri akhirnya membuka matanya dengan berat. Dia segera melebarkan matanya dan duduk. Wajahnya masih pucat dan jantungnya berdebar kencang lagi.
Kembali ke dapur, Lucy merinding. Meski saat ini dapur itu bersih tanpa noda darah dan mayat, dia masih sangat ketakutan.
Apa yang dia lihat saat itu sangat tidak terduga. Dia tidak tahu dari mana preman itu datang. Tapi yang jelas, preman tersebut pasti merupakan orang yang memiliki niat buruk padanya.
Selain itu, Lucy jadi takut pada Arya.
Arya terlihat berbeda dengan Arya yang dia kenal.
Dia jadi sangat menakutkan. Sorot matanya sangat dingin, senyum yang biasanya Arya tunjukan menghilang. Terlebih lagi, aura yang Arya keluarkan begitu mencekam.
Lucy merasa bahwa Arya yang dia kenal dengan Arya yang seorang pembunuh adalah dua orang yang berbeda.
Karena masih merasa takut, gadis tersebut akhirnya menelepon kakaknya, David dan menceritakan semuanya.
David menjadi sangat marah mendengar cerita Lucy. Dia segera pulang dan menemani adiknya.
*****
Arya tiba di rumah Viktor, langsung mendobrak pintu rumah tersebut dan menerobos masuk tanpa memedulikan sekitar. Dia hanya memiliki satu tujuan saat ini, yaitu membunuh Viktor.
Ayah Viktor yang tengah menyesap kopi di ruang tamu terkejut dan langsung memaki.
"Sialan! Bajingan mana yang berani kurang ajar di rumahku?!"
Wajah Ayah Viktor langsung merah karena marah. Dia menggertakkan giginya dan melihat ke Arya hanya untuk terkejut.
"Ah... Itu ternyata kau, Dik Arya. Apakah kau ada keperluan lagi?"
Wajahnya yang awalnya merah karena marah segera menjadi pucat layaknya kertas. Dia tidak menyangka kalau yang mendobrak pintu rumahnya adalah Arya. Tidak masalah baginya jika Arya membuat keributan. Tapi yang membuatnya takut adalah ayah Arya.
Selain itu, Ayah Viktor diam-diam mengutuk anaknya. Dia jelas mengetahui bahwa semua ini terjadi karena Viktor ingin merebut wanitanya dari pemuda tersebut, membuatnya marah hingga seperti saat ini.
Arya hanya memasang wajah dingin dengan tatapan tajam. Dia perlahan mendekati Ayah Viktor dengan salah satu tangannya berada di balik pakaiannya, siap mengambil belatinya untuk membunuh pria di hadapannya.
Ayah Viktor tiba-tiba merinding tanpa alasan. Dia merasa bahwa jika dia tidak kabur, maka dia akan dalam bahaya. Meski begitu, dia mengabaikan ketakutannya. Dia tetap tersenyum dan berusaha tenang meski keringat dingin memenuhi wajahnya.
Bahunya juga gemetar meski tidak terlalu terlihat.
Tiba di hadapan Ayah Viktor, Arya menatapnya dengan dingin.
"Argh!!!"
Tiba-tiba, Ayah Viktor merasakan sakit yang tidak terbayangkan di perutnya. Dia perlahan menatap ke perutnya hanya untuk terkejut dan melebarkan matanya.
Di perutnya, sebuah belati panjang menusuknya dengan dalam dan darahnya mengalir dengan deras layaknya sungai mengalir.
Pelahan, Ayah Viktor menatap Arya dengan tatapan ketidakpercayaan dan wajahnya yang sudah pucat semakin pucat seperti kertas. Tubuhnya yang besar juga ikut gemetar hebat dan dia ingin mengatakan sesuatu.
Tapi sebelum ucapan keluar dari mulutnya, dia sudah merasakan sakit lagi di lehernya.
Ayah Viktor tidak perlu memeriksa apa yang ada di lehernya. Dia sudah tahu kalau itu pasti belati lainnya yang menusuknya. Sampai titik ini, dia merasa sangat marah pada Arya karena sudah keterlaluan. Dia terbata-bata dengan kata-kata yang tidak jelas sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Mencabut kedua belatinya, kedua tangan Arya bersimbah darah namun tatapan tetap dingin, tidak merasa bersalah. Bahkan ketika membunuh Ayah Viktor, dia tidak mengedipkan matanya sedikitpun.
Adapun mengapa dia membunuh Ayah Viktor, alasannya karena Ayah Viktor juga memiliki sikap yang hampir sama dengan Viktor dan dia membenci hal ini. Makanya dia membunuh pria tersebut. Juga, jika dia sedang mencabut rumput, maka dia harus mencabut hingga akarnya.
"Apakah ada masalah, Ayah?"
Viktor datang dan bertanya sambil bermain handphonenya.
Mendengar keributan dari ruang tamu membuatnya penasaran.
Menoleh, Viktor terkejut dan langsung berubah pucat dan keringat dingin memenuhi wajahnya. Pada saat ini, dia melihat ayahnya tergeletak di lantai dengan tubuh yang mengeluarkan darah yang menggenang.
Dia datang ke ruang tamu karena penasaran, tapi dia tidak pernah mengharapkan adegan semacam ini.
Dengan takut, Viktor mengangkat kepalanya dengan pelan. Dia melihat seorang pemuda sedang berdiri dekat ayahnya yang sudah tidak bernyawa dari bawah hingga atas.
Pemuda tersebut memegang belati di kedua tangannya yang bersimbah darah.
Menyadari siapa yang memegang belati, Viktor menggertakan giginya karena marah dan wajahnya langsung merah. Dia jelas sangat mengenali siapa pemuda tersebut. Itu adalah Arya!
Viktor marah karena ayahnya sepertinya mati di tangan Arya. Selain itu, dia juga marah karena pemuda di depannya, dia jadi dipukuli oleh ayahnya.
Melihat Viktor yang tidak terlihat takut, Arya menyeringai jahat dan mendekatinya dengan langkah mantap.
Viktor segera tersadar dan amarahnya langsung menghilang. Dia segera memucat dan berbalik, hendak melarikan diri.
Tentu saja, Arya tidak akan membiarkannya lepas dengan mudah. Dia langsung mengejar Viktor.