
"Arya, kamu di sini saja, ya? Kamu mau menemaniku, kan?"
Ketika mengantarkan Lucy pulang ke rumahnya, gadis ini menarik Arya ke dalam dan keduanya berpelukan di ruang tamu. Pintu sudah tertutup, jadi mereka tidak khawatir jika ada orang yang melihat.
Mendengar ini, Arya tersenyum lembut sebelum mempererat pelukannya.
"Tentu, Ratuku. Aku akan berada di sisimu, selama yang aku bisa."
Mendekatkan wajahnya, Arya memiringkan kepalanya dan hendak mencium Lucy.
Lucy menutup matanya dan mengerucutkan bibirnya. Bibirnya yang mungil itu bergetar beberapa kali, seakan dia sudah tidak sabar untuk dicium.
Perlahan, bibir keduanya hampir menyatu.
Tapi, tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar, membuat keduanya segera memisahkan diri dengan cepat.
"Siapa?"
Arya membuka pintu. Wajahnya dipenuhi rasa kesal dan amarah.
"Ah, apa kabar, Arya? Ini aku, Niko."
Di depan pintu, Niko melambaikan tangannya dengan canggung.
"Apa yang kau lakukan di sini? Pergi, jangan ganggu aku dan Lucy!"
"Hei, tidakkah menurutmu kau terlalu kasar pada tamumu?"
"Siapa tamuku?"
"Itu aku! Haah, sudahlah. Ngomong-ngomong, aku datang ke sini ingin menemuimu. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
"Katakan saja, kenapa harus bertele-tele?"
Arya sudah tidak sabar.
"Tidak banyak yang ingin kukatakan. Ibuku mengundangmu makan malam dan menonton film bersama lusa depan. Apakah kamu sibuk di waktu itu?"
"Makan malam, ya? Sepertinya aku tidak sibuk, aku akan datang jika tidak ada sesuatu yang mendadak."
Arya mengangguk. Ini bukan pertama kalinya dia diundang makan malam oleh Yuki. Dia terkadang diundang olehnya untuk makan malam bersama, setelah itu mereka akan menonton film bersama.
Arya tidak tahu mengapa, tapi sepertinya Yuki sangat senang ketika menonton film bersamanya.
"Ngomong-ngomong, Arya. Bisakah kau jelaskan, kenapa ibuku sangat senang mengundangmu makan malam dan menonton film bersama? Ibuku tidak seperti ini sebelumnya!"
"Hah? Mana mungkin aku tahu. Mungkin saja ibumu ingin memiliki teman menonton?"
"Tidak mungkin! Biasanya, ibuku menonton film seorang diri jika dia memang mau! Tapi, sejak adanya dirimu, dia sering mengajakmu! Selain itu, apa yang kau lakukan pada ibuku sehingga dia menatapmu dengan penuh cinta?!"
"Penuh cinta?! Omong kosong!"
Arya terkejut, segera mengerutkan dahinya dengan tidak senang.
Menurutnya, sangat tidak mungkin Yuki menatapnya dengan penuh cinta. Ini sangat tidak masuk akal.
"Tidak, aku serius di sini! Ibuku benar-benar menatapmu seperti itu!"
"Cukup! Pergilah dan jangan ganggu aku lagi! Aku sangat sibuk sekarang ini!"
Arya menggertakkan giginya, mendorong Niko dan menedangnya, menyuruhnya untuk segera meninggalkan rumah Lucy.
"Hei, setidaknya biarkan aku masuk dulu!"
"Diam, jangan banyak bicara atau kau akan kubunuh di sini!"
Niko terdiam.
*****
Setelah mengusir Niko pergi, Arya menghela napas panjang dan pergi mencari Lucy, menemukan bahwa gadis ini ada di dalam kamarnya.
Lucy tengah duduk di tepi ranjang, ekspresinya terlihat agal kesal.
"Maaf, tadi Niko datang."
"Oh, apakah dia sudah pergi?"
Arya terkekeh. Dia kemudian duduk di sebelah Lucy.
Lucy bersandar pada Arya, meraih tangannya dan menjalinkan jari-jarinya.
"Arya, kamu akan menginap lagi, kan?"
"Itu... Sepertinya itu agak sulit, Lucy. Aku sudah berjanji pada kakek jika aku tidak akan menginap di sini selama dua minggu."
"Arya, Sayangku, dengarkan aku. Jika kamu menginap di sini malam ini, aku akan memakai piyama yang kamu berikan saat ulang tahunku kemarin."
Lucy mengangkat kepalanya, menatap Arya dengan serius. Dia benar-benar ingin agar Arya tetap tinggal dan menemaninya tidur, memeluknya dan menciumnya sebelum tidur. Bahkan, dua hari terakhir, dia tidak bisa tidur nyenyak karena Arya tidak ada di sisinya saat malam hari.
Mendengar ini, Arya terkejut. Dia tidak menyangka Lucy akan mengambil tindakan seperti ini hanya demi dirinya menginap di sini.
Dia dengan jelas ingat bagaimana piyama yang dia sarankan pada Nia saat ulang tahun Lucy kemarin. Piyama itu memiliki corak bunga warna-warni dan agak ketat serta memiliki model yang provokatif.
Jika Lucy memakainya malam ini, Arya bisa membayangkan betapa cantiknya dan betapa menggodanya kekasihnya ini.
Membuka mulutnya, Arya ingin mengatakan sesuatu tapi suaranya tertutup oleh suara handphone yang berdering.
Arya berdecak kesal karenanya. Dia segera mengambil handphonenya dan melihat bahwa Emily, adik sepupunya, meneleponnya.
"Ada apa, Emily?" Kata Arya kesal.
"Kak, kamu sedang ada di mana?"
"Aku sedang bersama pacarku sekarang, jadi kututup teleponnya, oke?"
"Ah! Tunggu sebentar! Kakek bilang jika kamu tidak pulang sekarang, kakek akan mengadu pada Tante Rosa jika Kakak menginap di rumah pacar Kakak selama tiga bulan!"
Suara memperingatkan Emily terdengar.
Arya terdiam mendengar ini. Dia diam-diam marah pada Erwin karena terlalu begitu ketat padanya.
Menghela napas tanpa daya, Arya tersenyum masam pada Lucy.
"Aku sepertinya harus menolak. Kakek menyuruhku pulang sekarang juga."
"Apakah kamu yakin? Jangan terburu-buru, jika kamu pulang sekarang, kamu tidak akan melihatku mengenakan piyama itu, lho."
"Ugh... Ini benar-benar pilihan yang sulit, tapi aku benar-benar harus menolak, Lucy."
"Baiklah, kamu yang memilih."
Lucy menghela napas. Dia sadar bahwa godaannya gagal, jadi dia berhenti di saat yang tepat.
Kemudian, Arya berpamitan pada Lucy karena dia harus segera kembali ke rumah Erwin.
Keduanya bertukar ciuman selama beberapa menit, membuat Arya benar-benar tidak ingin kembali ke rumahnya.
"Arya, ayo hentikan ini. Kamu harus pulang, kan?"
Napas Lucy terengah-engah, wajahnya memerah dan dia melingkarkan tangannya pada leher Arya.
"Baiklah, tapi sekali lagi."
Arya mencium Lucy sekali lagi.
*****
"Ini... Apa-apaan ini?! Apakah ini pantas disebut piyama?!"
Setelah Arya pulang ke rumahnya, Lucy langsung masuk ke dalam kamarnya dan mencoba piyama yang Nia berikan pada ulang tahunnya kemarin. Sejak diberikan oleh Nia, Lucy belum pernah memakainya karena merasa bahwa piyama ini terlalu memalukan baginya. Terutama piyama ini sepertinya kurang bahan saat pembuatannya, karena itu sangat ketat.
Selain itu, Lucy tahu bahwa piyama ini dipilihkan oleh Arya, bukan Nia sendiri. Nia hanya memberikannya saja, bukan memilihnya.
Sebagai hasilnya, setelah Lucy mencoba piyama itu, dia menjerit terkejut di hadapan cermin.
Lucy tahu bahwa piyama ini agak ketat, tapi setelah dia pakai, ternyata itu lebih ketat daripada yang dia bayangkan. Ketika dia memakainya, piyama itu akan menunjukkan semua lekuk tubuhnya.
Ketika dipakai, bagian dada dan pinggulnya terasa sesak dan kancing paling atas tidak bisa dikancingkan baik, membuatnya memperlihatkan sedikit belahan dadanya.
"Ugh... Untung saja Arya memilih pulang, jika tidak, bagaimana bisa aku memakai piyama ini di hadapannya? Ya ampun, ini sangat ketat!"
Lucy diam-diam menghela napas lega.