
Pada hari keenam Lylia menginap di rumah Arya.
Di dalam kamarnya, Arya dan Lylia berduaan setelah makan malam selesai.
Lylia duduk di pangkuan Arya, melingkari lehernya menggunakan kedua tangannya sementara pinggang Arya dikunci rapat dengan kedua kakinya.
Arya sendiri memeluk pinggang ramping Lylia, memeluknya erat. Keduanya saling menatap, mengusapkan hidung masing-masing dengan mesra.
"Aku mencintaimu, Lylia."
"Aku juga mencintaimu."
Keduanya saling mengungkapkan perasaan mereka.
Lylia kemudian membenamkan wajahnya ke dada Arya, mengusapkan dahinya untuk mencari kehangatan lebih.
"Arya, apa yang harus kita lakukan agar kita tidak berpisah dan melakukan hubungan jarak jauh?"
Lylia bertanya, nadanya sedih.
Arya terdiam cukup lama, memutar otaknya sebelum menjawab.
"Tetap tinggal di sini, Lylia. Jika kamu tetap di sini, kita tidak akan berpisah, benar?"
"Tidak bisa, Arya. Ayah dan ibuku memaksa dan aku ingin menjadi anak yang berbakti pada mereka. Apakah benar-benar tidak ada jalan lain?"
"Aku tidak tahu, Lylia. Mari kita pikirkan malam ini, semoga besok kita menemukan jalan keluar."
Arya tersenyum lembut, menempelkan dahinya ke dahi Lylia.
Keduanya diam untuk waktu yang lama, mencoba mencari jalan keluar agar mereka tidak berpisah.
"Arya, bagaimana jika kamu ikut aku saja? Jika kita berdua pindah, kita akan selalu bersama. Bagaimana menurutmu?"
"Itu... Sepertinya tetap tidak bisa, Lylia. Bahkan untuk tinggal bersama kakek saja aku harus bertengkar sedikit dengan ibuku."
Arya tersenyum tanpa daya.
Seperti yang dia katakan, ketika dirinya meminta izin untuk tinggal bersama Erwin, Rosa menolak keras dan keduanya bertengkar karena Arya memaksa ingin tinggal bersama kakeknya.
Jika tinggal bersama Erwin sudah cukup membuatnya bertengkar dengan ibunya, bagaimana jadinya jika dia pindah ke Amerika Serikat? Mungkin itu akan menjadi perang dunia ketiga.
Lylia menghela napas panjang, pasrah dengan keadaan Arya.
"Arya, hanya ada satu jalan keluar termudah dan tercepat. Ayo bercinta sekarang juga dan aku akan hamil, jadi kita bisa memiliki alasan kuat untuk menikah dan bersama selamanya. Meski cara ini memang agak kotor, tapi itu terbukti manjur, Arya. Itu tidak sulit... Kita hanya perlu... Berbaring dan..."
Lylia tidak menyelesaikan kalimatnya, merasa sangat malu dengan apa yang ingin dia katakan.
Arya tersenyum pahit, bingung dengan apa yang sebenarnya kekasihnya ini pikirkan.
"Lylia, jangan seperti itu, oke? Aku tidak ingin memancing perang dunia ketiga."
Arya menggeleng. Jika Rosa tahu dia menghamili seorang gadis di luar nikah, jangankan perang dunia ketiga, mungkin setengah dunia ini akan hancur karena teriakan marah Rosa.
"Sepertinya kita benar-benar ditakdirkan untuk berpisah, Lylia."
Arya tak bisa berkata-kata. Dia hanya berusaha menghibur kekasih kesayangannya ini.
Menatap mata Arya, Lylia memegangi kepala belakang Arya, menariknya dan menciumnya.
Arya agak terkejut, tapi dia segera membalas.
Keduanya berbagi ciuman ringan dan dangkal, menunjukkan perasaan mereka.
Perlahan, Lylia memainkan lidah mungilnya dengan nakal. Dia menjalinkan miliknya dengan lidah Arya.
Kedua lidah saling terjalin, dengan Lylia sesekali menghisapnya.
Memisahkan diri, Lylia menghisap bibir bawah Arya dengan agak mengigitnya.
Saling menatap, mata Lylia menunjukkan cinta tanpa batas. Bahkan pupil matanya sudah berubah menjadi bentuk hati.
"Arya, aku sangat, sangat, sangat mencintaimu!"
"Aku tahu, Lylia. Aku tahu itu."
Arya mencium bibir Lylia sekali lagi, menciumnya hingga puas.
Lylia juga tidak mau kalah. Dia mempererat tangannya yang melingkari leher Arya dan kakinya mengunci erat pinggang Arya.
"Lylia, lidahmu sangat manis."
"Bibirmu juga... Sangat nikmat..."
Arya dan Lylia yang terengah-engah itu mengekpresikan apa yang mereka rasakan dan segera berciuman lagi sebagai penutup malam sebelum tidur.
*****
Pada esok paginya, baik Arya dan Lylia bangun awal sekali.
Arya berpakaian rapi nan formal. Dia menata rambutnya sedemikian rupa dan mengenakan parfum di sekujur tubuhnya.
Lylia juga merias diri dengan cantik. Dia juga sudah membereskan semua pakaian yang dia bawa ke dalam kopernya.
Hari ini adalah hari terakhir Lylia di kota Century sebelum pindah ke Amerika Serikat. Dia akan benar-benar pindah kali ini.
Setelah siap, Arya mengantarkan Lylia ke bandara karena kedua orangtuanya sudah menunggu di sana.
Bandara.
Tiba di bandara, Arya dan Lylia mencari sejenak sebelum menemukan sepasang suami-istri, melambaikan tangannya pada mereka.
Lylia tersenyum melihatnya, dia segera menarik tangan Arya dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya membawa kopernya.
Arya yang ditarik oleh Lylia tersenyum tanpa daya. Dia diam-diam merasa gugup, karena akan bertemu dengan kedua orang tua Lylia.
"Maaf karena terlambat, Ayah, Ibu."
Lylia menyapa kedua orangtuanya, tersenyum lembut.
Gerald dan Vera mengangguk, tidak memiliki masalah dengan keterlambatan putri mereka.
"Bagaimana kabarmu selama satu minggu ini, Lylia?"
"Aku sangat baik, Ayah! Aku sangat senang karena bisa menghabiskan waktu bersama kekasihku sebelum pindah ke Amerika!"
"Itu terdengar bagus. Jadi, kau adalah pemuda yang berhasil merebut hati putriku, eh?"
Gerald mengalihkan pandangannya pada Arya, menunjukkan wajah seram dengan tatapan tajam.
Arya agak terkejut, namun dia segera membuat ekspresi acuh tak acuh.
"Itu benar, Tuan. Namaku Arya, kekasih Lylia."
"Arya, ya? Nama yang bagus."
Keduanya saling berjabat tangan, menunjukkan ekspresi acuh tak acuh.
Melepaskan tangannya, Gerald tertawa puas, menepuk pundak Arya.
"Bagus! Kau sepertinya pria dengan harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi, ya. Bahkan setelah bertemu dengan orang tua kekasihmu, kau tak gugup sama sekali dan malah acuh tak acuh!"
Arya terkejut dengan perubahan mendadak dari Gerald.
Tersenyum masam, Arya mengangguk pelan.
Di sisi lain, Lylia tersenyum puas melihat Arya dan ayahnya sepertinya akur.
Vera, di sisi lain menatap Arya dari atas hingga bawah, mencibir dalam hatinya.
'Jadi, inikah kekasih Lylia? Dia terlihat biasa saja. Sikapnya bahkan tidak menunjukkan jika dia dari golongan kelas atas. Bocah, kau mungkin bisa menipu putriku, tapi tidak denganku!'
Vera perlahan mendekati Lylia, berbisik pada putrinya.
"Lylia, kekasihmu orang miskin, ya?"
"Apa?! Tunggu, Ibu! Jangan bicara begitu tentang Arya!"
"Huh, sepertinya tebakanku benar. Lylia, kamu hanya dimanfaatkan, Nak. Kamu memacari orang miskin, hanya berakhir ditipu.'
"Ibu, jangan bicara sembarangan! Arya bukan orang seperti itu! Dia benar-benar orang baik!"
Vera mengabaikan Lylia, melangkah maju mendekat pada Gerald.
Melihat Vera, Gerald tersenyum tipis dan mengenalkan Vera pada Arya.
Arya mengangguk dan hendak menjabat tangan Vera, namun tangannya tiba-tiba ditepis dengan kasar.