
Kembali pada Arya dan Lucy, yang kini berduaan saja.
Menatap Lucy, Arya memiliki tatapan nakal di matanya. Dia mengulurkan tangannya dan menyisir rambut Lucy ke belakang telinganya sambil berkata dengan lembut.
"Ratuku, ingatkan apa yang aku katakan tadi padamu?"
"Ti-tidak, aku tidak ingat..." Lucy menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Oh, begitu. Baiklah, aku akan membantumu mengingatnya, Ratuku."
Arya menangkupkan satu tangannya di wajah Lucy dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lucy.
Mata Lucy melihat ke kiri dan kanan, memastikan jika Rosa sudah benar-benar pergi.
Melihat jika Rosa tidak ada, Lucy menutup matanya dan mengerucutkan bibirnya, menerima ciuman Arya.
Keduanya bertukar ciuman ringan, namun penuh kasih dan cinta.
Bagaimanapun, selama dua hari ini, mereka kekurangan jatah ciuman harian mereka. Entah itu pagi setelah bangun tidur, ataupun sebelum tidur, mereka terkadang tidak mendapat kesempatan untuk ciuman karena adanya Rosa dan Andhika.
Merasakan bibir hangat Lucy, Arya menciumnya dan menghisap bibir gadis itu, menikmati bibirnya dengan sepenuh hati.
Lucy sendiri membalas, melingkari leher Arya dengan dua tangannya.
"Oh, ya ampun. Indahnya masa muda~. Mama tidak sangka bisa melihat momen mesra kalian. Kalian ternyata lebih mesra daripada yang Mama kira."
Suara penuh penekanan dari Rosa terdengar, membuat Arya dan Lucy terdiam dan segera membuka mata mereka.
Keduanya menoleh ke sumber suara. Entah karena saking terkejutnya, atau hal lainnya, Arya dan Lucy lupa memisahkan bibir mereka, namun sudut mata mereka menangkap siluet Rosa yang sedang menatap mereka.
Menyadari jika bibir Arya masih menimpa bibirnya, Lucy mendorong pundak Arya, berteriak dengan suara aneh. Wajahnya segera merah padam hingga ke telinga dan ubun-ubunnya mengeluarkan asap saking malunya.
Arya terdiam, membeku. Dia tidak tahu kapan Rosa kembali ke ruang keluarga.
"Mama?! Ke-ke-kenapa Mama ada di sini?!" Arya terkejut bukan main, tergagap.
Wajahnya merah padam dan rasa malu setengah mati memenuhi hatinya.
"Mama kembali untuk mengambil air dan ke kamar mandi, tapi Mama tidak sangka jika bisa melihat kemesraan kalian. Kupikir aku cukup beruntung~."
Rosa terkikik, menikmati reaksi malu Arya dan Lucy. Ini benar-benar menyenangkan baginya.
Dengan mulutnya yang menggeliat, Arya ingin mengatakan sesuatu namun tersangkut di tenggorokannya.
Pada akhirnya, Arya dan Lucy tidak bisa tidur karena menahan malu. Sementara itu, Rosa tidur sangat nyenyak karena mendapat tontonan gratis.
*****
Pada esok harinya, ketika Arya bangun dari tidurnya, dia menguap begitu lebar karena masih mengantuk. Dia kurang tidur semalam, karena menanggung rasa malu yang luar biasa.
Menghela napas panjang, Arya melihat ke samping dan menemukan jika Andhika sudah tidak ada, menandakan adiknya sudah bangun lebih dulu.
Beranjak dari kasurnya, Arya keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menyikat giginya.
Setelah kembali dari kamar mandi, Arya bertemu Lucy yang menuju kamar mandi juga. Sepertinya gadis ini juga baru bangun tidur, dilihat dari rambutnya yang masih agak berantakan dan matanya yang mengantuk.
Begitu melihat Arya, wajah Lucy dipenuhi kedutan. Dia ingat apa yang terjadi tadi malam, yang membuatnya berakhir dengan rasa malu.
Menginjak kaki Arya dua kali, Lucy mendengus dan meninggalkannya. Rasanya sangat menjengkelkan ketika mengingat Arya yang begitu ceroboh tadi malam.
Jika saja Arya menahan diri, mungkin dia dan Arya tidak akan kepergok sedang ciuman oleh Rosa.
Arya yang diinjak kakinya mengerang, kesakitan.
*****
Setelah berbagai macam persiapan, Arya dan keluarganya siap pergi jalan-jalan.
Mereka menaiki mobil milik Rosa dan pergi mengisi bahan bakar mobil sebelum pergi jauh.
"Kita akan pergi ke mana dulu, Arya?" Rosa bertanya sambil fokus menyetir mobilnya.
"Bagaimana jika ke pusat perbelanjaan? Mama ingin berbelanja pakaian baru, kan? Di sana kita juga bisa menonton bioskop dan bermain di game center. Setelah itu, terserah pada Mama dan Andhika mau ke mana. Aku hanya mengikut."
"Itu... Baiklah, mari kita pergi ke sana."
Rosa mengangguk, agak ragu.
Dia tahu pusat perbelanjaan mana yang Arya maksud. Itu tidak lebih dari pusat perbelanjaan terbesar di kota Bern ini.
Jika dia berbelanja di sana, mungkin itu akan memakan biaya yang banyak dan Rosa tidak menginginkan itu, karena dia yakin semua biaya Arya yang tanggung. Dia tidak ikut serta menbantu Arya dalam menjalan bisnisnya, jadi dia merasa tidak nyaman jika hanya menikmati hasil.
Tapi, Rosa tahu jika Arya akan memaksa jika dia menolak.
Tiba di pusat perbelanjaan, kelompok empat orang itu segera turun dari mobil dan pergi berkeliling di lantai satu, melihat apakah ada yang menarik.
Di lantai satu tidak banyak hal yang menarik. Hanya beberapa perabot rumah tangga dan dapur.
Namun, meski itu tidak menarik bagi Arya dan Andhika, itu sangat menarik bagi Lucy dan Rosa. Keduanya merupakan wanita yang selalu berurusan dengan dapur, jadi wajar mereka sangat senang berlama-lama di lantai satu.
Setelah setengah jam di lantai satu, mereka melanjutkan ke lantai dua dan tiga, sebelum pergi ke lantai empat karena dua lantai sebelumnya kurang menarik.
Lantai empat merupakan tempatnya toko pakaian, jadi Rosa yang ingin berbelanja pakaian baru secara alami berhenti di sana dan melihat-lihat.
Memasuki salah satu toko, Rosa dan Lucy memimpin sambil melihat beberapa pakaian yang menarik perhatian mereka. Arya dan Andhika hanya mengekor di belakang, dengan Andhika yang mengeluh karena bosan.
Arya sendiri tidak terlihat bosan. Dia sangat menikmati pemandangan ibu dan kekasihnya yang sangat akur ketika memilih pakaian. Ini membuat hatinya hangat dan damai.
"Arya, menurutmu mana yang cocok untuk Mama?" Rosa memanggil, meminta saran atas dua gaun one piece yang dia pegang.
Satu gaun tersebut berwarna merah, dengan manik-manik yang menghiasi bagian dada, sementara yang lainnya berwarna hitam tanpa hiasan apapun, namun terlihat nyaman jika dipakai.
Yang merah terkesan mewah dan bisa digunakan saat menghadiri pesta, namun yang hitam bisa digunakan untuk pergi jalan-jalan seperti saat ini.
Arya menatap dua gaun tersebut, membayangkan jika Rosa yang memakainya dan segera mengangguk.
"Keduanya bagus, jadi beli saja keduanya."
"Nak, Mama tidak membutuhkan terlalu banyak pakaian, tahu? Juga, harga satu gaun saja sudah sangat mahal. Jangan boros, Nak." Rosa mengingatkan.
"Tak apa, Ma. Beli saja keduanya. Vicky memberiku banyak uang karena aku ingin pulang kemarin. Selain itu, Vicky tidak pernah memberi Mama uang dulu, kan? Jadi, tidak masalah boros sedikit."
Rosa menghela napas mendengar kebohongan putranya. Dia tahu jika uang yang digunakan Arya adalah uang miliknya, bukan pemberian dari Vicky.
Rosa sebenarnya agak kecewa karena Arya merahasiakan fakta yang begitu membahagiakan darinya, tentang toko roti milik Arya. Namun, karena putranya belum mau memberitahunya, dia tidak bisa memaksa.
Selain itu, Lucy bilang Arya akan memberitahunya jika saatnya telah tiba. Ketika saatnya tiba, dia akan mendapat kejutan besar dari Arya.
"Baiklah, Mama ikut saranmu saja." Rosa pasrah.
Mendengar itu, Arya tersenyum gembira. Dia mengambil dua gaun itu dan membawanya ke kasir. Dia kemudian kembali dan menghampiri Lucy, membantunya dalam memilih pakaian.
Rosa mendengus ringan melihat betapa mesranya keduanya. Dia terkikik ketika mengingat Arya dan Lucy yang ciuman tadi malam.