Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 152 - Wanita Berambut Pirang



Tiba di depan pintu kamar hotel Lucy, Arya mengetuk pintu dan beberapa saat kemudian seorang gadis muncul.


"Lucy, ayo pergi keluar mencari makan malam..."


Arya perlahan kehilangan suaranya saat yang datang bukanlah Lucy, melainkan Helen.


"Oke, aku tahu kamu merindukan Lucy, tapi bersabarlah sebentar. Lucy masih di dalam. Dia baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya."


Helen berkata, berkedut sudut mulutnya. Dia sedikit tidak senang karena Arya langsung memanggil Lucy tanpa melihat siapa yang membukakannya pintu.


Arya tersenyum masam mendengarnya. Dia agak malu karena salah memanggil. Lucy memiliki teman sekelompok, jadi jika orang lain yang membukakannya pintu, maka itu hal wajar.


"Maaf, Helen. Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" Arya mencoba menyingkirkan rasa malunya.


"Kabarku baik. Sepertinya kamu dan Lucy semakin mesra saja, ya. Aku penasaran, apakah kalian pernah bertengkar sebelumnya? Kurasa tidak, kalian terlalu mesra untuk bertengkar."


Helen bertanya dengan penasaran, namun dia langsung menjawab pertanyaannya sendiri. Baginya, aneh jika pasangan semesra Arya dan Lucy bertengkar.


Jika mereka bertengkar, itu pasti karena salah satunya selingkuh. Namun, mengingat betapa keduanya saling mencintai, rasanya kata "selingkuh" itu sendiri tidak ada dalam hidup mereka.


Arya tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar Helen. Dia baru bertengkar dengan Lucy beberapa waktu yang lalu.


Setelah beberapa saat mengobrol dengan Helen, Lucy kemudian keluar dengan wajah segarnya. Dia memiliki aroma yang begitu harum hingga hampir membuat Arya mabuk.


"Maaf, apakah kamu menunggu lama, Arya?"


"Tidak, ayo pergi keluar sebentar."


"Um, ayo." Lucy mengangguk dan tersenyum manis.


"Helen, aku pergi bersama Arya dulu, ya. Jika guru bertanya, katakan saja yang sejujurnya."


Lucy melambaikan tangannya pada Helen saat tangan lainnya memeluk tangan Arya.


"Ya, nikmati kencan kalian. Pastikan kamu kembali ke kamar, Lucy. Arya juga, jangan culik Lucy ke kamarmu, dengar?"


Arya berkedut mendengarnya. Dia tidak tahu apakah Helen bisa membaca pikiran atau sejenisnya, tapi dia memang berniat menculik Lucy ke kamarnya malam ini.


*****


"Apa yang ingin kamu makan malam ini, Lucy?"


"Apa, ya? Bagaimana kalau kita ke restoran keluarga di dekat sini? Aku lihat ada restoran keluarga di dekat hotel saat perjalanan study tour tadi. Di sana cukup ramai, jadi masakan di restoran itu pasti lezat."


"Baiklah, ayo kita ke sana."


Arya mengangguk, menggandeng tangan Lucy dan keduanya kemudian segera menuju restoran keluarga yang Lucy maksud dengan berjalan kaki.


Restoran keluarga tersebut ternyata tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap. Jadi hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki.


Tiba di sana, ternyata restoran itu memang ramai pengunjung. Aroma masakan mereka bahkan sampai tercium hingga keluar restoran.


Arya tanpa sadar menelan ludah, segera menarik Lucy dan masuk ke dalam lalu memesan banyak makanan di dalam sana.


Lucy tertawa kecil melihat betapa lahapnya Arya makan. Rasanya sangat bahagia melihat kekasihnya makan dengan begitu banyak.


Setelah selesai dengan makanan mereka, Arya dan Lucy tidak langsung pergi. Mereka duduk di meja mereka sambil mengobrolkan beberapa hal ringan, sambil menghilangkan rasa kekenyangan yang Arya alami karena kebanyakan makan.


"Huh, benar-benar. Baru kali ini aku menemukan restoran keluarga dengan makanan selezat ini."


"Oh, jika dibandingkan dengan masakan buatanku, mana yang lebih lezat, Arya?"


"Tentu saja masakanmu, Ratuku. Masakan mama juga sama lezatnya. Masakan mama yang paling lezat di dunia!"


Arya berkata, sangat membanggakan dan memuji ibunya begitu banyak.


Lucy terkekeh mendengarnya. Dia tidak tersinggung atau semacamnya, karena pada dasarnya Rosa sangat pandai memasak dan setiap makanan yang dia buat pasti tidak akan gagal dan selalu lezat.


Jika Lucy membandingkan masakannya dengan buatan Rosa, dia yakin dia akan kalah telak.


Setelah mengobrol cukup lama, Lucy secara tidak sengaja mendapati matanya melirik seseorang yang berada di meja sebelah tempat mereka.


Lucy menatapnya cukup lama, terkejut karena wajah orang yang dia lihat begitu cantik.


Dalam sudut pandang Lucy, wanita yang dia lihat memiliki rambut pirang yang indah, yang sepertinya itu merupakan warna alami. Mata wanita itu berwarna biru cerah, bagai lautan biru.


Kecantikan wanita yang Lucy tatapan membuatnya menyakini jika wanita ini lebih cantk dari dirinya.


Arya yang melihat Lucy menatap erat suatu arah menjadi kebingungan. Dia mengikuti pandangan Lucy dan menemukan seorang wanita berambut pirang sedang duduk di meja sebelah mereka, seorang diri.


Arya mengakui jika wanita berambut pirang ini cantik, namun itu tidak membuatnya terpesona.


"Lucy, ada apa? Apakah kamu mengenal wanita itu, atau kamu pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja dulu?"


"Eh? Ti-tidak, ini pertama kalinya aku melihatnya."


Lucy terkejut mendengar pertanyaan Arya, segera menarik pandangannya dan menatap Arya dengan wajah malu.


"Dia sangat cantik, ya? Lihat rambut dan matanya. Sepertinya itu warna alami dan wajahnya juga sangat cantik. Dia lebih cantik dariku. Aku penasaran, apakah dia mau berkenalan denganku?"


Lucy memasang senyum pahit, dia sangat menyadari jika dirinya cantik. Selama ini, yang dia ketahui, yang bisa menandingi kecantikannya adalah Lylia, mantan pacar pertama Arya.


Selain itu, Lucy selalu merasa lebih dari gadis-gadis seusianya. Namun begitu dia secara tidak sengaja melihat wanita berambut pirang itu, rasanya seperti dia melihat Lylia.


Arya tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar Lucy. Dia mengakui jika wanita berambut pirang itu lebih cantik dari Lucy, namun di dalam hatinya, Lucy merupakan yang paling cantik kedua setelah Rosa.


"Lucy, kenapa kamu berpikir begitu? Kamu sudah sangat cantik. Jika kamu ingin berkenalan dengannya, bagaimana jika kita hampiri dia setelah dia selesai makan nanti?"


"Ti-tidak perlu! Aku tidak nyaman jika mengganggunya. Aku hanya mengatakannya secara iseng, jangan menganggapnya serius!"


"Baiklah, baiklah. Ayo kita kembali ke hotel, ini sudah cukup malam."


Arya mengangguk, berdiri dan membayar makan malamnya.