
Setelah selesai belajar bersama selama dua jam, Arya dan yang lainnya berhenti sejenak untuk beristirahat. Saat ini juga sudah masuk jam makan siang, jadi Arya memesan makanan secara online untuk dirinya dan teman-temannya.
"Lucy, aku ingin bertanya sesuatu."
"Tentu, tanyakan saja, Helen."
"Aku penasaran. Kenapa kalian berdua sangat lama membukakan pintu tadi? Aku menunggu cukup lama, lho."
Helen mengerutkan bibirnya, cemberut. Dia menunggu cukup lama di luar karena Arya maupun Lucy tidak membukakannya pintu dengan cepat.
Lucy yang mendengar itu tersentak dan memerah. Dia mengingat kembali adegan di mana dirinya dan Arya berciuman menggunakan stroberi. Terlebih lagi, mereka bahkan saling mengecup dan menjilat leher satu sama lain.
Lucy tidak tahu mengapa, tapi hari ini dia sangat ingin menjadi agresif dan mengambil kendali. Jika bukan karena itu, dia pasti akan kalem seperti biasanya.
Setelah jeda beberapa saat, Lucy berdeham dan menjawab.
"Aku sedang berada di kamar mandi. Arya sebenarnya ada di kamar, tapi dia sedang mendengarkan musik menggunakan headphone. Jadi mungkin dia tidak mendengar ketukan pintu."
Lucy menjawab dengan canggung sambil berusaha menutupi perasaan malu di hatinya.
"Tapi tadi Arya bilang, kalau seandainya aku tidak datang, mungkin kalian sudah berbahagia sekarang."
Helen menghela napas, membuat Lucy terkejut dan langsung menatap Arya dengan terkejut.
'Apa yang kamu katakan pada Helen? Bukankah itu malah buat dia jadi curiga? Dasar Arya bodoh!'
Lucy menatap Arya dengan penuh keterkejutan. Dia sangat ingin memberinya bogem mentah sekarang juga.
Menatap Helen kembali, Lucy berkata.
"Apa Arya bilang begitu? Aku tidak paham maksudnya." Lucy tersenyum pahit.
"Benarkah? Tapi tadi waktu membuka pintu, wajah Arya sedikit merah dan dia terengah-engah. Apakah mendengarkan musik bisa membuatnya kelelahan?"
Lucy semakin terkejut dan wajahnya sepenuhnya merah padam hingga telinga. Dia kehabisan kata-kata saat ini.
"Mu-mungkin saja Arya berolahraga tadi. Aku juga tidak tahu..."
Lucy tidak tahu harus menjawab seperti apa. Dia mengutuk Arya dalam hatinya, karena berbicara tanpa pikir panjang pada Helen.
Melihat reaksi Lucy, Helen tertawa kecil. Dia sebenarnya hanya menggoda Lucy dengan sengaja. Dia juga sudah menebak-nebak kalau Arya dan Lucy tidak kunjung membukakannya pintu dengan cepat, pasti karena keduanya sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat.
Selain itu, Helen bisa menebak apa yang sedang pasangan kekasih ini lakukan. Mungkin saja mereka sedang bermesraan dan tidak ingin diganggu.
Pada saat yang sama, Arya dan Niko bersama Brent tampak asik mengobrol. Mereka terdengar sedang membahas toko roti Arcy milik Arya.
Bagaimanapun, toko roti Arcy merupakan toko roti yang mereka buka bersama. Ketiganya mengumpulkan dana bersama untuk mencukupi semua modal yang diperlukan untuk toko mereka nanti.
Brent sendiri telah menyumbang banyak bantuan. Dia tidak hanya membantu dalam hal dana, tapi dia juga menyumbangkan sebuah toko untuk digunakan untuk berjualan. Toko itu bahkan tidak dipungut biaya sewa, jadi Arya sangat berterima kasih pada Brent.
Arya dan dua lainnya juga merupakan orang yang bekerja dari pagi sampai malam ketika toko roti Arcy buka di awal-awal.
Brent membantu dalam urusan membuat roti. Niko melayani pelanggan dan kasir. Untuk Arya sendiri, karena dia merupakan bosnya, maka dia adalah orang yang memiliki tugas paling sedikit, yaitu melayani pelanggan.
Mereka bertiga juga terkadang mendapat bantuan dari orang tua Brent dan juga Yuki.
Lucy sendiri juga sebenarnya ingin membantu. Namun, Arya melarangnya.
Dia sangat melarang Lucy untuk membantunya dalam urusan toko roti. Alasannya melarang Lucy sebenarnya sederhana. Dia hanya tidak ingin Lucy kelelahan.
Lucy sudah mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan rumah tangga itu melelahkan, jadi jika Arya membiarkannya membantu di toko roti, dia takut Lucy kelelahan dan hal itu malah membebani Lucy.
Jika itu terjadi, itu hanya akan membuat Arya merasa bersalah.
"Arya, sepertinya kita harus menambah varian rasa untuk toko roti kita. Akhir-akhir ini pelanggan kita berkurang cukup banyak. Jika seperti ini terus, aku takut pelanggan mulai bosan dan pergi ke toko lain yang varian rasanya lebih banyak."
Brent menyuarakan sedikit keluhannya. Dia selalu berada di toko roti, jadi dia tahu perkembangan toko setiap harinya.
"Sepertinya kau benar. Menurut kalian, rasa apa yang sebaiknya kita tambahkan?" Tanya Arya.
"Bagaimana kalau roti isi daging?" Niko menjawab.
"Seperti itu ide bagus." Kata Brent.
"Baiklah, aku juga setuju dengan itu."
Arya mengangguk puas. Kemudian, ketiganya terus membahas tentang tambahan varian rasa pada roti yang mereka jual.
*****
"Aku tidak sabar untuk study tour. Aku sangat menantikannya!"
Helen tiba-tiba berkata demikian, tersenyum lebar.
Mendengar itu, semuanya mengangguk. Mereka semua sangat menantikan study tour ini.
"Aku sebenarnya penasaran. Kenapa dulu saat tahun kedua, ketika kita akan study tour, tiba-tiba ada dua belas orang siswa yang menghilang? Jika bukan karena orang-orang yang hilang itu, kita pasti sudah melakukan study tour sejak lama!"
Helen menggertakan giginya, sedikit kesal.
Mendengar itu, yang lain tidak terlalu bereaksi dan hanya saling memandang satu sama lain.
Niko kemudian berkata.
"Yah, jika bukan karena seseorang, kita pasti sudah melakukan study tour." Niko melirik Arya sambil meledek.
Alasan mengapa study tour yang seharusnya dilakukan saat tahun kedua ditunda adalah karena Arya.
Jika bukan karena dia membunuh Roy dan kelompoknya, maka sekolah tidak akan diliburkan dan mereka sudah melakukan study tour saat itu.
Lucy, Niko dan Brent mengetahui hal ini, jadi mereka hanya diam dan tidak merespon kata-kata Helen.
Kemudian, setelah belajar bersama untuk waktu yang cukup lama, mereka berlima mengakhiri belajar bersama mereka ketika waktu sudah mulai sore.
Selama periode ini, baik Arya, Lucy atau yang lainnya belajar banyak hal dan mereka juga saling berbagi pengetahuan, jadi ini sangat menguntungkan mereka semua.
"Baiklah, Lucy. Aku pulang dulu. Sampai jumpa di sekolah besok Senin."
Helen melambaikan tangannya. Niko dan juga Brent mengatakan hal yang sama pada Arya dan ketiganya pulang ke rumah masing-masing.
Kembali pada Arya dan Lucy. Keduanya kini hanya berduaan lagi di rumah tanpa ada seorang pun yang mengganggu. Mereka menatap punggung ketiga teman mereka hingga menghilang dari pandangan.
"Jadi, perlukah kita melanjutkan yang tadi?"
Arya menatap Lucy dengan mata berbinar dan penuh harap. Namun, yang dia dapat bukanlah yang dia inginkan, melainkan sebuah bogem mentah dari Lucy, tepat di perutnya hingga dia meringkuk kesakitan.
"Lucy... Apa salahku...?" Kata Arya, kesakitan.
"Apa yang sebenarnya kamu katakan pada Helen tadi, hm?" Lucy menghembuskan napas ke tangannya yang terkepal, yang baru saja dia gunakan untuk memukul Arya tadi.
"Apa maksudmu?"
"Aku yang seharusnya bertanya! Apa maksudmu mengatakan jika kita akan bahagia seandainya Helen dan yang lainnya tidak datang?"
"Oh, ternyata itu maksudmu. Bukankah itu sudah jelas? Mereka datang di saat yang tidak tepat! Jika saja mereka datang sedikit lebih lama, kita pasti masih bisa melanjutkan ciuman menggunakan stroberi." Arya mendengus, memahami maksud Lucy.
"Ish! Pikirkan sedikit kata-katamu itu! Bagaimana jika Helen salah paham? Itu membuatku malu, kamu tahu?"
"Baiklah. Cukup, Ratuku. Bagaimana jika kita lanjutkan saja yang tadi?"
Arya menyela, tidak ingin membahas hal yang tak berguna. Dia meraih dagu Lucy dan mengangkatnya, siap menciumnya.
Lucy tersentak, memerah. Jantungnya berdetak kencang saat mengingat kembali ciuman macam apa yang dia lakukan tadi.
"Ja-jangan lakukan di sini, ini masih di luar! Lakukan di dalam..." Suara manis Lucy terdengar.
Arya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Lucy. Dia meraih tangan Lucy, mengajaknya ke ruang tamu.
Arya duduk di sofa, sementara Lucy berada di pangkuannya. Keduanya saling berhadapan.
Keduanya berbagi ciuman dengan panas, kedua lidah saling terjalin dan suara decakan terdengar di ruang tamu yang sunyi.
"Ah, akhirnya aku sampai rumah. Ugh, hari ini benar-benar melelahkan..."
Ketika Arya dan Lucy sedang menikmati waktu mesra dan intim mereka, suara derit pintu terdengar diiringi suara David.
Arya dan Lucy terkejut, namun mereka tidak langsung memisahkan diri. Sepertinya karena terlalu sering kepergok oleh David, keduanya sudah terbiasa.
"Hei, bisakah kalian melakukannya di ruang TV atau kamar? Bagaimana jika ada orang asing tiba-tiba masuk?" David menghela napas tanpa daya melihat kedua adiknya yang tidak tahu tempat.
Dia sudah terbiasa melihat kemesraan Arya dan Lucy, bahkan dia sekarang muak karenanya.
Arya tersenyum masam mendengarnya, sementara Lucy membenamkan wajahnya ke dada Arya.