Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 50 - Hilangnya Waktu Bermesraan



"Huwaaaaaa!!!"


Tidak lama setelah Arya dan Lucy meninggalkan Nia, suara tangisan kencang terdengar dari belakang.


Lucy terkejut dan reflek memukul punggung Arya, menyuruhnya berhenti.


Arya segera berhenti, mengeram mendadak.


Lucy kemudian menoleh ke belakang dan matanya yang indah melebar karena terkejut.


Di sana, Lucy melihat Nia menangis. Ini membuatnya panik dan dia langsung menatap Arya.


"Arya, apa yang kamu lakukan pada gadis tadi?!"


"Aku tidak melakukan apapun!"


"Lalu kenapa dia menangis?!"


"Aku tidak tahu. Sudahlah, biarkan saja dia."


Arya berkata dengan agak kesal. Dia cukup kesal karena sikap Nia yang menyebalkan.


"Tidak bisa! Sekarang, putar balik dan buat dia tenang dulu, baru kita pulang."


Arya hanya bisa pasrah dan menghela nafas tanpa daya. Dia kemudian putar balik dan berhenti tepat di depan Nia.


"Apa lagi yang kau inginkan? Jangan pikir hanya karena kau menangis, aku akan merasa kasihan padamu dan memberikan Lucy padamu." Arya menatap tajam Nia dan nadanya dingin. Dia bahkan tidak turun dari motornya.


"Kau berbohong! Kau tadi bilang akan melakukan apa yang kuminta, tapi kau malah meninggalkanku dan membawa Kak Lucy pergi!"


Air mata Nia yang sebesar kacang masih menetes dengan deras.Dia terus-menerus menyeka matanya sambil terisak.


Entah kenapa, melihatnya menangis begini Arya tidak merasa bersalah pada Nia, tapi gemas.


"Hei, bisakah kamu berhenti menangis dulu? Jangan membuat orang lain salah paham, oke?"


Lucy berkata dengan lemah lembut dan turun dari motor.


Nia langsung diam dan menahan air matanya, hidungnya memiliki hingus yang menetes keluar, langsung diseka olehnya.


'Dia menjadi begitu patuh jika Lucy yang berkata.' Pikir Arya setelah melihat Nia diam atas perintah Lucy.


"Nah, begitu lebih baik." Lucy tersenyum manis.


"Kak Lucy, bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?"


Nia tiba-tiba bertanya dengan matanya yang lembab. Ekspresinya memohon dan dia terlihat jika permintaannya ditolak, maka dia akan menangis lagi.


Lucy terkejut dengan ini. Lagi pula, dia dan Nia baru bertemu sekali dan agak tidak nyaman rasanya jika mengajak seseorang yang tidak terlalu akrab ke rumahnya.


Lucy kemudian melirik Arya, meminta bantuan.


Arya hanya mengangkat bahunya dan ekspresinya acuh tak acuh. Dia yakin kalau Lucy pasti menolak.


"Ya, tentu saja boleh."


Lucy tersenyum manis, membuat Nia tersenyum lebar.


Dia sangat bahagia karena Lucy mengizinkannya berkunjung ke rumahnya dengan mudah.


"Apa?! Tunggu, jangan seenaknya memutuskan!"


Arya terkejut dengan keputusan Lucy. Dia tidak menyangka kalau Lucy akan dengan mudah mengizinkan Nia berkunjung ke rumahnya.


"Arya, biarkan saja. Kamu juga sudah membuatnya menangis tadi."


"Tapi, Lucy..."


Lucy segera menyipitkan matanya dan menatap tajam Arya, membuat pemuda itu merinding dan menelan kembali kata-katanya


*****


"Wah~! Jadi ini rumah Kak Lucy? Rumahmu sangat bagus, Kak!"


Ketika tiba di rumah Lucy, baik Arya, Nia dan Lucy langsung masuk.


Lucy tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Meski rumahnya tidak mewah, tapi itu sederhana dan nyaman untuk ditinggali.


Setelah itu, Nia berkeliling di dalam rumah Lucy seakan itu adalah rumahnya.


Lucy membiarkannya dan dia segera pergi ke belakang untuk mencuci.


Di sisi lain, Arya jadi agak kesal karena Nia seenaknya berkeliling di rumah Lucy tanpa sopan santun.


"Hei, jaga sopan santunmu!"


Arya memperingati dengan nada agak kesal.


Dia sedikit tidak terima jika ada orang lain di rumah ini selain dirinya, Lucy dan David.


Bagaimanapun, dengan adanya Nia, dia dan Lucy tidak bisa bermesraan di rumah dengan nyaman dan tenang. Biasanya, setelah pulang sekolah, mereka akan memiliki beberapa saat untuk berduaan dan bermesraan sepuasnya sebelum David kembali dari bekerja.


Tapi sekarang, karena ada Nia, waktu berduaan dan bermesraannya dengan Lucy menghilang, membuatnya merasa kesal.


Nia yang mendengar Arya menoleh dan menatapnya dengan tajam sebelum akhirnya mendengus dan mengikuti Lucy ke belakang.


‍‍‍‍‍‍‍‍Nia tiba di belakang dan melihat Lucy sedang memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci dan hendak mencucinya.


"Kak Lucy, apakah kamu selalu melakukan ini?"


"Ya, aku selalu seperti ini. Aku sudah terbiasa."


Lucy berhenti sejenak dan menatap Nia sambil tersenyum tipis sebelum melanjutkan pekerjaannya.


Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Lucy dituntut untuk lebih menjadi lebih mandiri. Sebagai seorang gadis, tentu saja dia harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, memasak dan bersih-bersih rumah. Dia sudah terbiasa dengan hal ini.


"Arya, jika kamu ada pakaian kotor tolong bawa ke sini. Aku akan mencucinya."


Lucy memanggil Arya dari belakang.


Nia mengerutkan dahinya saat mendengar ini. Dia diam-diam berpikir kalau Arya menyulitkan Lucy karena harus mencucikannya pakaian miliknya.


"Kak Lucy, kenapa Kakak malah mencucikan pakaiannya? Bukankah itu malah menyulitkan dirimu sendiri, Kak?" Nia bertanya penasaran.


"Eh? Ya, sebenarnya itu tidak menyulitkanku karena semuanya dikerjakan oleh mesin. Lagi pula, Arya terkadang menginap di sini selama beberapa hari, jadi pakaiannya ada yang kotor beberapa. Karena aku sedang mencuci, jadi sekalian saja aku mencucinya."


Lucy menjawab dengan senyuman manis dan matanya menunjukan rasa cinta dan kasih sayang yang tidak terbatas.


Nia cemberut melihat tatapan penuh cinta milik Lucy. Dia juga ingin ditatap seperti itu oleh Lucy.


Tidak lama kemudian, Arya datang dengan telanjang dada dan membawa beberapa pakaian kotor di keranjang kecil di tangannya. Di dalam keranjang itu adalah semua pakaian kotor miliknya.


Melihat Arya telanjang dada, baik Lucy ataupun Nia terkejut dan keduanya segera tersipu malu.


"K-kau! Apa yang kau lakukan?!"


Nia menunjuk Arya dengan gemetar dan dia mundur satu langkah karena terkejut.


Arya hanya tersenyum licik dan membusungkan dadanya dengan bangga.


Lucy kemudian maju dan berdiri di hadapan Arya, menutupi tubuh sang kekasih dari Nia. Dia menatap Arya dengan cemberut dan berkata.


"Hei, jangan berkeliaran tanpa memakai baju seperti itu. Ada Nia di sini, jadi kamu harus lebih berhati-hati!"


"Oh, jadi jika hanya ada kita berdua, aku boleh telanjang dada seperti ini?"


Arya meraih dagu Lucy dan tersenyum nakal.


Lucy memerah dan jantungnya berdebar kencang. Dia melirik Nia sejenak sebelum menatap Arya dengan malu-malu.


"Ti-tidak, tentu saja tidak boleh...! Bahkan jika hanya ada kita berdua di rumah, kamu tidak boleh telanjang dada seperti ini!"


Suara manis Lucy terdengar malu-malu, membuatnya terlihat sangat imut di mata Arya.


Sebenarnya Lucy sendiri merasa tidak nyaman jika ada orang lain yang melihat tubuh kekar Arya. Dia merasa bahwa Arya hanyalah miliknya seorang dan hanya dirinya yang boleh melihat tubuh pemuda tersebut.


Wajah Nia berkedut tanpa henti saat melihat Arya dan Lucy bermesraan di depan matanya. Dia segera menjadi cemberut, sangat ingin memisahkan dua orang ini.