Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 158 - Lucy Diculik



Ketika Arya kembali ke kamar hotelnya untuk mengambil belatinya, Lucy menunggu dengan sabar. Dia mengangkat kepalanya untuk menatap langit malam dan berhasil terkejut sekaligus kagum.


Dalam pandangannya, Lucy bisa melihat ribuan bintang bersinar terang dan bulan sabit yang indah dengan cahayanya yang menyejukkan tampak menyinari gelapnya malam.


Lucy segera tersenyum, lalu mengangguk puas.


"Benar apa yang dikatakan Arya. Langit malam di kota ini benar-benar indah!" Tidak salah dia mengajakku keluar malam-malam begini."


Lucy terkikik dan menatap langit malam lagi sembari menyenandungkan nada menyenangkan. Ekspresinya penuh kegembiraan dan rasa senang memenuhi hatinya. Melihat bintang dan bulan sebenarnya bukan hal yang buruk.


Tiba-tiba, saat Lucy sedang menikmati langit malam, sebuah mobil melintas tidak jauh darinya dan berhenti sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri.


Lucy menoleh sejenak, namun segera mengabaikannya. Mungkin saja pemilik mobil ingin menyewa kamar hotel.


Di sisi lain, pintu belakang mobil tersebut terbuka dan dua orang segera keluar dari sana dengan mengenakan topeng wajah. Keduanya langsung berlari ke arah Lucy.


Lucy terkejut mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya dengan cepat. Dia menoleh dan terkejut saat dua orang tersebut tiba-tiba berlari ke arahnya.


Lucy tahu jika dua orang ini memiliki niat buruk padanya, jadi dia segera berlari menuju arah hotel namun dia tiba-tiba tersandung jatuh dan kakinya segera ditangkap oleh salah seorang dari dua orang tadi.


Lucy segera menjadi pucat pasi dan ekspresinya ketakutan. Dia berteriak meminta tolong namun mulutnya tiba-tiba dibungkam oleh sebuah kain oleh orang lainnya.


Dia terus-menerus memberontak dan tidak ingin pasrah. Lucy menggerakkan seluruh tubuhnya da menendang-nendang, berharap orang yang memegang kakinya melepaskannya.


Namun, harapannya pupus. Kakinya dicengkeram erat.


"Sial, gadis ini benar-benar punya tenaga yang banyak!" Orang yang memegang kaki Lucy berkata, mengeluarkan sebuah tali dari balik pakaiannya dan mulai mengikat kaki Lucy.


Lucy terkejut saat kakinya terikat. Dia menangis dan memanggil Arya dalam hatinya.


Perlahan, entah kenapa Lucy mulai merasa mengantuk saat dia menghirup aroma yang aneh dari kain yang membungkam mulut dan hidungnya. Matanya mulai kabur dan pandangannya menjadi tidak jelas.


"Selesai?" Kata orang yang membungkam Lucy.


"Selesai, ayo kita bawa. Dia cukup cantik, jadi seharusnya harganya cukup mahal!" Orang lainnya tertawa, kemudian keduanya mengangkat Lucy dan membawanya menuju mobil yang mereka tumpangi tadi.


Lucy yang mulai kehilangan kesadarannya itu masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan dua orang ini. Dia merinding dan takut.


Namun, di saat-saat terakhir sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya, Lucy bisa melihat sosok orang yang sangat dia cintai berlari ke arahnya dengan wajah marah dan dua belati di kedua tangannya.


Ketika kembali ke tempat Lucy berada, Arya terkejut dan panik saat dia tahu Lucy tidak ada di sana. Dia memanggil namanya namun tidak ada balasan dari gadis itu.


Arya lalu secara tidak sengaja menangkap dua orang di sudut matanya. Dia segera menoleh, melihat Lucy disekap oleh dua orang bertopeng. Satu orang mengangkat tubuhnya dan satu lagi membungkam mulut Lucy menggunakan sebuah kain. Dilihat dari kejauhan, tampaknya Lucy tidak sadarkan diri.


"Berhenti! Apa yang kalian lakukan pada Lucy?!"


Arya sangat terkejut, namun ekspresinya berubah marah. Dia mengeluarkan kedua belatinya dan langsung berlari ke arah dua orang tersebut. Matanya menunjukkan sinar berbahaya.


"Lepaskan dia, atau kalian akan mati!"


Arya berteriak pada dua orang itu, mempercepat langkahnya sebisa mungkin.


Namun, dia terlambat. Dua orang tersebut langsung membawa Lucy ke dalam mobil dan mobil tersebut langsung melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Arya seorang diri yang membeku di tempat.


Arya terdiam melihat mobil yang menculik Lucy semakin jauh. Tubuhnya gemetar saat dia mengigit bibirnya dengan kuat, menahan amarah yang luar biasa.


"Sial, tidak akan kubiarlan kalian lolos begitu saja!"


Arya berteriak saat wajahnya memerah karena marah. Dia berlari, menguatkan otot-otot di kakinya dan berlari sekuat yang dia bisa, berharap jika bisa mengejar ketertinggalannya.


Namun, meski Arya berlari secepat yang dia bisa, mobil itu masih jauh darinya.


Arya menggertakan giginya hingga hampir patah. Dia terus berlari sampai tidak sengaja melihat ke halaman rumah seseorang, dia melihat sepeda.


Dengan cepat, dia mengambil sepeda itu tanpa pikir panjang. Dia mengayuh sepedanya dengan cepat, sedikit memperpendek jaraknya dengan mobil.


Meski begitu, mobil itu tampaknya menyadari kalau Arya semakin dekat, jadi mobil itu menambah kecepatan.


"Bocah, berhenti saja dan biarkan gadis ini menjadi milik kami!"


Seorang pria bertopeng berteriak pada Arya. Dia mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil dan berteriak, membuat Arya semakin marah.


Berkat provokasi itu, emosi Arya memuncak dan kekuatan kakinya dalam mengayuh sepeda semakin cepat.


Ketika kejar-kejaran terjadi selama lima belas menit, Arya jadi menyadari kalau mobil tersebut menuju ke pelabuhan.


Saat study tour, Arya sempat melewati pelabuhan dan dia masih mengingat jelas jalan menuju ke pelabuhan dan kebetulan, jalan yang mobil itu tuju sama jalan menuju pelabuhan.