Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 37 - Bercerai



Waktu berjalan begitu cepat, Arya yang masih kecil itu kini sudah berusia sepuluh tahun. Selama delapan tahun ini, dia menjalani kehidupan yang kurang menyenangkan, di mana Vicky jarang berada di rumah dan setiap kali ayahnya kembali ke rumah, ayahnya hanya akan bertengkar dengan ibunya tanpa dia ketahui apa titik permasalahannya.


Setiap kali kedua orang tuanya bertengkar, Arya hanya bisa menangis. Dia tidak tahu mengapa orang tuanya bertengkar. Tapi yang pasti, dia mengetahui jika bahwa seseorang bernama Alice selalu menjadi sumber pertengkaran kedua orang tuanya. Ini membuatnya sangat membenci orang bernama Alice itu, meski dia tidak mengetahui siapa Alice, ataupun bagaimana wajahnya.


*****


"Kau j*l*ng sialan! Jangan bicara sembarangan!"


"Tutup mulutmu, bajingan kotor!"


Teriakan dan umpatan terdengar dari dalam rumah. Dua orang, satu pria dan satu wanita sedang berhadapan, bertengkar dengan mata merah karena marah. Tatapan mereka dipenuhi dengan kebencian dan nafas mereka terengah-engah karena lamanya mereka bertengkar dan berteriak setiap kali mengumpat.


Arya yang melihat kedua orang tuanya bertengkar menangis. Dia juga sudah berusaha untuk menenangkan kedua orang tuanya, tapi dia gagal. Setiap kali dia membujuk salah satu dari mereka, dia pasti didorong menjauh.


"Ma... Pa... Sudah, jangan bertengkar lagi..."


Arya terisak tangis saat dia meraih lengan Rosa dan menariknya, berusaha menjauhkan Rosa dari Vicky agar tidak bertengkar lagi.


"Diam dulu, Nak! Mama belum selesai dengan ayahmu ini! Dia ini benar-benar tidak tahu diri!"


"Omong kosong! Jangan dengarkan ibumu, Arya!"


Vicky dan Rosa melanjutkan pertengkaran mereka dan mengumpat satu sama lain.


Arya segera menjauh karena takut, menutup telinganya dan masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak berani keluar sebelum keadaan tenang.


Kembali pada Vicky dan Rosa, keduanya saling melotot.


"Vicky, kau benar-benar bajingan busuk! Tidak cukup kau menikahi aku dan menyakiti hati Nyonya Alice, sekarang kau bahkan berani untuk menikah lagi! Ingatlah segala perbuatan yang sudah kau lakukan selama ini padaku, Arya dan Nyonya Alice! Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku selama ini!"


Rosa mengeluarkan suaranya yang hampir serak karena berteriak marah pada Vicky.


Ekspresi Vicky menjadi suram dan wajahnya merah karena marah. Dia segera membantah sambil berteriak.


"Omong kosong apa yang sebenarnya kau katakan?! Aku menikah lagi? Itu tidak mungkin terjadi!"


Vicky membantah dan Rosa membalas. Setiap kata yang Vicky keluarkan, maka semuanya akan dibalas oleh Rosa.


Selama ini, sejak Alice datang melabrak Rosa ketika Arya berusia dua tahun, Vicky sangat jarang berada di rumah karena pekerjaannya dan karena ancaman dari Alice. Andai Vicky pulang ke rumah sekali pun, dia hanya akan pulang larut malam ketika Arya tidur. Setelah itu dia hanya akan menggauli Rosa dan pergi lagi ketika fajar tiba.


Rosa benar-benar sakit hati dengan ini. Dia merasa jika suaminya hanya menganggapnya sebagai wanita sewaan, yang bisa didatangi kapan saja dan ditinggal sesuka hati. Terlebih lagi, karena hubungannya dengan Vicky ketahuan oleh Alice, dia sering mendapat pesan ancaman dari Alice. Bahkan terkadang dia dilabrak dan diteror melalui telepon.


Ini membuat Rosa takut dan merasa tidak nyaman karena diteror terus-menerus oleh Alice. Terlebih lagi, terkadang dia bertengkar dengan Vicky setiap kali suaminya itu pulang. Tidak masalah jika mereka bertengkar hanya saling adu mulut, namun Vicky terkadang menggunakan kekerasan padanya.


Karena Vicky jarang berada di rumah, Rosa tentunya merawat Arya seorang diri. Apa lagi sekarang dia bukan hanya memiliki satu orang putra, melainkan dua. Anaknya yang kedua memiliki perbedaan usia empat tahun dengan Arya.


Merawat dua anak sekaligus benar-benar melelahkan bagi Rosa. Meski dia mungkin mendapat bantuan ibundanya dalam hal mengurus Arya dan adiknya, dia tentunya ingin pria yang dia cintai itu turut serta mengurus anak mereka.


Tidak masalah jika Vicky jarang di rumah, namun masalahnya pria brengsek itu, sangat pelit pada keluarganya. Dia adalah kepala keluarga, tapi dia tidak pernah menafkahi keluarganya.


Sejak Arya berusia tiga tahun, Vicky berhenti memberikan Rosa uang bulanan. Andai dia memberi pun, dia hanya memberi sangat sedikit.


Karena hal ini, Rosa jadi harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya beserta dua orang anaknya.


Semua ini sangat melelahkan. Bukan hanya fisik, namun juga mental. Namun, meski Rosa sangat kelelahan, setiap kali dia melihat senyuman kedua anaknya, semua rasa lelah yang dia alami seketika menghilang begitu saja.


Senyuman kedua anaknya merupakan penyemangat baginya.


Setelah bertahun-tahun dia bertahan dengan keadaan seperti ini, bukan berarti suaminya kini semakin cinta padanya, tapi justru malah semakin keterlaluan.


Sekitar tiga minggu yang lalu, Rosa mendapat kabar dari kerabatnya. Dia mendapat kabar jika Vicky ternyata menikah lagi.


Jika dia gegabah dan langsung menuduh, jika ternyata apa yang dikatakan kerabatnya hanya gosip, maka itu hanya akan memperburuk keadaan rumah tangganya.


Setelah mencari kebenarannya selama lebih dari satu minggu, Rosa akhirnya mengetahui jika Vicky benar-benar menikah lagi dengan salah satu bawahannya di kepolisian, yang kini menjadi istri ketiganya.


Karena kemarahannya, Rosa bertengkar dengan Vicky dan memberinya bogem mentah tak terhitung jumlahnya. Dia juga melabrak istri ketiga Vicky dan sempat bertengkar juga dengannya.


Vicky, yang sudah ketahuan itu tentu saja membantah dan tidak mengakui jika dia menikah lagi.


Di sisi lain, Alice sebagai istri pertama juga mengetahui jika Vicky menikah lagi, membuatnya bertengkar dengan Vicky.


Vicky sangat sakit kepala karena dua orang istrinya ini bertengkar dengannya di waktu yang hampir bersamaan, membuat kepalanya terasa akan pecah.


Semakin hari, Rosa semakin lelah menjalani kehidupan rumah tangga yang berantakan ini. Dia akhirnya memutuskan untuk bercerai dari Vicky ketika Arya berusia sebelas tahun.


Setelah bercerai dengan Vicky, hak asuh anak tidak menjadi masalah besar, karena Arya sendiri lebih memilih ikut bersama ibunya.


Namun, apabila Vicky ingin menemui Arya dan adiknya, maka Rosa mengizinkan dan tidak mempersulit Vicky. Bagaimanapun, Arya dan adiknya itu masih kecil, jadi mereka jelas membutuhkan kasih sayang seorang ayah agar bisa tumbuh dengan baik.


Arya yang kedua orang tuanya bercerai itu sangat sedih dan sempat tidak menerima jika kedua orang tuanya harus berpisah. Namun, Rosa membujuknya dengan mengatakan jika yang terbaik adalah berpisah dari Vicky, jadi dia menurut.


Tidak lama setelah kedua orang tuanya bercerai, nenek Arya, yaitu ibunda dari Rosa, yang merawatnya dengan penuh kasih meninggal dunia karena sakit keras.


Arya yang belum menghilangkan kesedihannya karena bercerainya kedua orang tuanya menjadi semakin sedih dengan kepergian sang nenek.


Setelah lulus sekolah dasar, Arya diajak oleh Rosa untuk pindah ke kota asal mereka, yaitu kota Bern.


Rosa tidak peduli lagi dengan Alice. Bagaimanapun, dia sudah bercerai dari Vicky dan seharusnya Alice tidak memiliki alasan lagi untuk mengusik kehidupannya. Jika Alice masih mengganggu kehidupannya, maka Rosa tidak akan segan-segan untuk melaporkannya pada pihak berwajib.


Vicky yang baru saja bercerai dari Rosa itu sempat mengalami depresi sesaat, sebelum kembali normal seperti biasanya. Bagaimanapun, dia masih punya dua orang istri selain Rosa.


Terkadang, Vicky juga berkunjung untuk menemui Arya dan adiknya, lalu mengajaknya jalan-jalan. Dia terkadang ingin bertemu Rosa, namun mantan istrinya itu menolak keras untuk menemuinya.


Saat Arya berusia tiga belas tahun, dia pergi berkunjung ke tempat kakeknya, Erwin.


Erwin yang melihat Arya kian dewasa tentu sangat senang. Dia kemudian merasa jika cucunya itu sudah cukup umur untuk mengetahui alasan orang tuanya bercerai.


Dia kemudian menceritakan permasalahan yang menyebabkan Rosa dan Vicky bercerai. Erwin juga mengatakan jika ibunya adalah istri kedua yang mendapat perilaku tidak adil dari sang suami. Bahkan dia juga mengatakan jika Vicky memiliki istri ketiga.


Tak lupa, Erwin mengatakan juga tentang siapa sebenarnya Alice.


Setelah mendapat begitu banyak fakta yang mencengangkan, Arya terguncang. Dia segera menyimpulkan jika ayahnya itu merupakan bajingan yang tergila-gila pada wanita, namun tidak bisa bersikap adil pada para wanitanya.


Hampir semua kejadian di masa lalu, yang tidak Arya ketahui penyebabnya terungkap dan ini menyebabkan dirinya marah dan sedih.


Dia marah pada Vicky karena membuat ibunya menderita dan sedih karena mengetahui semua penderitaan Rosa.


Dia kini menyadari betapa sulitnya keadaan ibunya yang harus bekerja sembari merawatnya dan adiknya hingga seperti sekarang.


Erwin yang menceritakan semua fakta itu jelas mengetahui seberapa terkejutnya Arya dan apa yang dia ceritakan hanya sebagian kecil. Dia akan memberitahu semuanya ketika Arya sudah lebih dewasa.


Perlahan namun pasti, rasa benci pada Vicky mulai tumbuh di hati Arya. Dia bahkan berani mengumpat dan mengutuk ayahnya jika mengingat semua hal yang sudah Vicky perbuat pada dirinya dan Rosa.


Sejak saat itu, sikap Arya pada Vicky sedikit berubah.


Dia jadi agak dingin dan acuh tak acuh kepada Vicky.


Bahkan Arya terkadang mengabaikan ucapan Vicky dan terkadang menatapnya dengan penuh kebencian.