
Arya terdiam cukup lama, tidak tahu harus berkata apa. Ini adalah pertama kalinya dia melihat gadis yang sangat cantik seperti Lylia.
Gadis ini memiliki pesona lembut dan dewasa, serta orang yang tulus. Wajahnya yang cantik benar-benar tidak terbayangkan, seakan dia adalah peri dan bukannya manusia.
Menggelengkan kepalanya, Arya berkata.
"Tidak masalah. Lagipula, mereka yang memukulku duluan, jadi aku hanya membela diri."
Setelah semua yang terjadi, perkelahian Arya dan Lery menyebar bagai api di seluruh SMA Daeil.
Lery adalah orang yang memiliki nama, jadi mudah bagi orang-orang untuk mengenalinya.
Saat ini, semua orang menggosipi bahwa ada seorang siswa tahun pertama, yang berkelahi dengan Lery yang merupakan tahun ketiga dan yang paling kuat.
*****
Karena perkelahian itu, Arya dan semua orang yang terlibat dipanggil ke ruang BK untuk ditanyakan beberapa hal serta diberi hukuman bagi mereka yang membuat onar.
Baik Arya dan Lylia serta Lery dan dua anak buahnya berkumpul di ruang BK dan menerima ocehan dari guru BK, terutama Lery.
Lery merupakan seorang yang sering berkelahi, jadi dia terkenal tidak hanya dikalangan para siswa, tapi juga terkenal di kalangan guru.
Sebagian besar guru juga membenci Lery, karena dia adalah pembuat onar, jadi guru BK tidak segan-segan dalam memarahi Lery.
Setelah selesai dengan Lery, guru BK menanyai Arya tentang penyebab mereka berkelahi.
Yang mengejutkan, bukan Arya yang menjelaskan tetapi Lylia.
Ketika gadis itu menjelaskan, dia sepenuhnya membela Arya dan mengatakan jika dia diganggu oleh tiga orang kakak kelas, yaitu Lery dan kawannya.
Guru BK mengangguk di setiap penjelasan Lylia. Gadis ini merupakan anak dari seorang CEO terkenal, jadi apapun yang dia katakan dipercaya, bahkan jika ucapannya bohong.
Guru BK itu jelas menyadari jika dia lebih baik menyinggung Lery daripada menyinggung Lylia yang memiliki kekayaan dan kekuasaan.
Setelah setengah jam, semuanya keluar dari ruang BK.
Lery dan kawannya diberikan hukuman membersihkan toilet pria dan membersihkan halaman belakang sekolah. Adapun Arya dan Lylia, mereka tidak bersalah, jadi mereka kembali ke kelas mereka.
Ketika berjalan melewati koridor, Arya dan Lylia berjalan berdamingan dan jarak mereka hanya dua langkah.
Ini membuat Arya agak merasa tidak nyaman, karena dia dan Lylia tidak mengatakan apapun sejak mereka kembali dari ruang BK. Selain itu, dia gugup karena harus berdekatan dengan gadis secantik Lylia.
Jika gadis di sebelahnya adalah Lucy, reaksi Arya tidak akan demikian. Tapi, di sebelahnya adalah Lylia, yang kecantikannya melebihi Lucy.
Setelah beberapa saat, Arya mendengar Lylia menghela napas.
"Arya, aku benar-benar berterima kasih padamu. Kamu benar-benar datang di saat yang tepat. Aku benar-benar ketakutan tadi. Mereka terus-menerus menggangguku dan memojokkanku."
Suara lembut Lylia terdengar, membuat Arya meliriknya dari sudut matanya.
"Ya, bisa dikatakan jika kau beruntung, karena aku kebetulan lewat."
"Ya, itu benar. Ngomong-ngomong, apakah lukamu masih sakit? Perlukah kita ke rumah sakit atau unit kesehatan sekolah?"
"Tidak, itu tidak diperlukan. Ini hanya luka ringan, tidak terlalu sakit."
Arya berkata, menyentuh pipinya yang memar dan berwarna biru.
Lylia menatapnya dengan ragu, tapi menghela napas pada akhirnya.
Meski Arya mungkin terlihat mengobrol dengan santai bersama Lylia, tapi sebenarnya dia memiliki sedikit nada dingin dalam ucapannya. Bagaimanapun, jika bisa, Arya ingin menjauh dari gadis ini, karena identitas gadis ini sangat besar dan jika terjadi hal yang sama seperti tadi, dia mungkin bisa saja terlibat lagi dan dia tidak menginginkan hal itu.
Ketika Arya dan Lylia memasuki kelas, mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian.
Para siswa lainnya segera mengalihkan pandangan mereka pada keduanya, ekspresi terkejut terlihat jelas di wajah semua orang.
"Wah, bukankah dia terlalu berani? Dia mendekati Lylia tanpa ragu!"
"Sialan, apakah mereka berdua secara kebetulan masuk kelas bersamaan atau ada yang terjadi ketika mereka keluar kelas tadi?"
"Dia Arya, kan? Kenapa dia bisa dekat dengan Lylia?"
Para siswa, baik pria dan para gadis berbisik satu sama lain, membicarakan apa yang ada di benak mereka masing-masing.
Arya mengerutkan dahinya dengan tidak senang dengan apa yang dia dengar. Seperti yang dia duga, berada di dekat Lylia hanya akan membawa masalah tidak berarti.
Lylia tersenyum masam, tidak menduga jika memasuki kelas bersama Arya akan membuat kehebohan seperti ini.
Mengabaikan bisikan orang-orang, keduanya menuju bangku masing-masing.
Bangku Arya berada di pojok kanan belakang, sementara Lylia berada di baris kedua, di depan.
Lucy yang melihat Arya duduk di bangkunya segera menghampirinya. Ekspresi terlihat tidak nyaman dan matanya menunjukkan kesedihan.
"Arya, bisakah kita bicara sebentar?"
"Tidak, saya tidak memiliki waktu untuk meladeni Anda."
"Tidak, ini hanya sebentar saja, kumohon."
Lucy menatap Arya dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Arya agak melunak dan mengangguk untuk menunjukkan persetujuannya.
"Arya, aku tadi dengar ada yang berkelahi dengan kakak kelas, apakah itu kamu?"
Lucy bertanya ketika dia duduk di hadapan Arya.
"Jika itu saya, lalu apa?"
"Itu benar-benar kamu?! Kenapa kamu bisa berkelahi?"
Lucy terkejut, tidak menyangka berita yang dia dengar tentang siswa yang berkelahi itu ternyata adalah Arya. Pertama kali dia melihat memar di wajah Arya, dia segera memiliki keyakinan bahwa yang berkelahi itu memang Arya.
Mengulurkan tangannya, Lucy menyentuh memar Arya dengan lembut.
Arya mengerutkan dahinya dan menepis tangan Lucy, menatap tajam padanya dan berkata dengan dingin.
"Jangan sentuh saya. Jika memungkinkan, Anda juga jangan berada di dekat saya lagi. Sekarang, tolong tinggalkan saya seorang diri."
Lucy mengigit bibirnya, merasakan sakit ketika setiap kata-kata Arya menusuk hatinya. Ini benar-benar menyakitkan. Hanya karena kesalahpahaman, dia harus menerima rasa sakit ini.
Menatap Arya, Lucy tersenyum terpaksa.
"Jika kamu merasakan sakit, panggil aku, ya? Aku akan membantumu tentang memarmu itu."
Lucy kemudian pergi dan menuju bangkunya, lalu mengobrol dengan beberapa gadis lainnya.
Arya menghela napas dengan ini, dipenuhi penyesalan.
Lylia yang melihat Arya dan Lucy dari bangkunya mengerutkan dahinya, merasa ada yang aneh dengan Arya dan Lucy.
*****
Ketika jam istirahat tiba, para siswa meninggalkan kelas mereka dan menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Di dalam kelas, hanya tersisa beberapa siswa yang belum keluar, salah satunya adalah Arya.
Arya duduk di bangkunya dengan melamun. Pikirannya dipenuhi tentang ibunya dan seluruh masalah keluarganya. Dia sedang mengalami stres karena masalah keluarganya.
Karena hal itu, Arya lebih banyak melamun dan jarang berbicara. Jika ada beberapa siswa yang mendekatinya untuk mengajaknya berteman, dia akan mengabaikannya.
Arya saat ini sedang ingin menyendiri dan memikirkan solusi untuk masalah keluarganya, jadi dia tidak terlalu berminat berteman untuk saat ini.