Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 21 - Lucy, Bagaimana Perasaanmu Sekarang?



Setelah melakukan ciuman ringan, Arya dan Lucy berada dalam kondisi canggung.


Mereka duduk bersebelahan di kasur tapi tidak satupun dari mereka mengeluarkan sepatah kata pun.


Ciuman tadi merupakan ciuman pertama Lucy, jadi dia tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah melakukannya. Selain itu, Arya menciumnya secara tiba-tiba, membuatnya terdiam.


Dia tahu Arya melakukannya agar dia tenang, tapi dia masih terkejut.


"Lucy, bagaimana perasaanmu sekarang?"


Arya adalah yang pertama memecahkan kesunyian. Dia memiliki senyuman lembut yang menghiasi wajahnya dan matanya menunjukan sedikit kenakalan.


Mungkin ciuman tadi merupakan pertama kalinya untuk Lucy, tapi untuk Arya, itu merupakan ciumannya yang kesekian kalinya.


Sebelum dengan Lucy, Arya memiliki dua orang pacar dan dia pernah berciuman dengan kedua pacarnya tersebut.


Meski Arya dan Lucy teman masa kecil dan sudah saling mencintai sejak kecil, mereka pernah mengalami sedikit masalah pada masa-masa SMP, membuat Arya menjauh dari gadis tersebut untuk waktu yang lama.


Tapi meski begitu, mereka akhirnya kembali bersama lagi.


Mendengar pertanyaan Arya, Lucy tersentak dan menundukkan kepalanya dengan wajah yang merah cerah. Jantungnya yang sudah berdetak dengan normal mulai berdetak kencang lagi.


Dia baru saja mencoba untuk tenang, tapi pertanyaan Arya membuatnya kehilangan ketenangannya.


Perlahan, Lucy mengangkat kepalanya dan menatap Arya dengan ragu.


"Te-tentu saja aku sangat senang dan bahagia. Lagi pula, ini adalah ciuman pertamaku."


Nada Lucy yang malu-malu terdengar imut di telinga Arya.


"Aku senang mendengarnya."


"Ugh, kenapa kamu bisa begitu tenang? Kita baru saja ciuman, lho!"


Lucy sedikit kesal karena hanya dirinya yang canggung sekaligus malu sedangkan Arya hanya terlihat canggung untuk sementara waktu dan menjadi tenang dengan cepat. Dia bahkan menggodanya.


Arya langsung terdiam dan keringat dingin menetes dari pipinya. Dia tidak tahu harus bagaimana menjawab Lucy.


Jika dia menjawab jujur, dia takut Lucy cemburu dan marah.


"Si-siapa bilang aku tenang? Aku juga merasa canggung dan malu, tahu?"


"Pembohong, aku tahu ini bukan pertama kalinya untukmu...!"


Lucy segera membantah dengan kecewa sambil buang muka. Dia tahu kalau ciuman tadi bukan pertama kalinya untuk Arya. Dia mengetahui ini dari cara Arya menciumnya.


Cara Arya menciumnya begitu ahli dan dia begitu tenang saat menciumnya.


Mengetahui kalau dirinya tidak bisa mengelak, Arya pasrah dan mengangguk. Dia mengakui kalau itu bukan pertama kalinya.


Wajah Lucy segera menjadi murung. Dia sedikit kecewa dengan ini. Dia berharap dirinya akan kehilangan ciuman pertamanya dengan Arya dan sebaliknya, Arya kehilangan ciuman pertamanya dengan dirinya.


Tapi sayangnya, kenyataannya menyakitkan.


Melihat ekspresi murung Lucy, Arya buru-buru memeluknya dan berbisik di telinganya.


"Ratuku, meski ini bukan pertama kalinya untukku, tapi ini merupakan kenangan terindah yang akan selalu aku ingat selamanya."


Lucy tersipu malu mendengar ini. Nafas hangat terasa dengan jelas di telinganya saat Arya berbisik.


Menatap Arya, Lucy tersenyum tipis.


"Aku percaya itu. Tapi aku masih merasa sedikit kecewa, tahu? Buat aku senang dan bahagia lagi."


Arya terkejut dengan ini tapi dia segera tersenyum dan memahami maksud Lucy. Dia mendengus pelan dan meraih dagu Lucy.


Lucy perlahan menutup matanya dan mengerucutkan bibirnya yang mungil.


Perlahan, kedua bibir saling bertemu lagi.


Arya meraih pinggang Lucy dan memeluknya dengan erat, tidak ingin melepaskannya meski satu detik.


Dia dengan jelas merasakan bibir Lucy yang hangat, lembut dan manis tersebut.


Aroma harum dari tubuh Lucy memasuki hidung Arya, membuatnya hampir mabuk. Dia ingin melakukan lebih dari ini tapi dia menahan diri.


Beralih pada Lucy, ketika bibir Arya menyentuh bibirnya, dia sedikit merinding dan tubuhnya menjadi tegang. Tapi setelah merasakan kehangatan dari bibir Arya, dia menjadi rileks dan tenang.


Perlahan, dengan ragu Lucy meraih leher Arya dan melingkarinya.


Setelah waktu yang tidak diketahui, keduanya menarik kembali bibir masing-masing.


Arya memiliki rona merah di pipinya sementara Lucy merah padam.


Jantungnya berdetak kencang dan dia tidak berani menatap Arya.


Kemudian, Lucy menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Arya dan membenamkan wajahnya ke dada Arya.


Arya tersenyum tipis dan mengelus kepala gadis tersebut dengan gerakan menyayangi.


"Apakah kamu sudah merasa senang dan bahagia lagi sekarang?"


Lucy mengangguk sebagai jawaban. Dia terlalu malu untuk mengeluarkan suaranya.


Selain itu, dia tidak tahu mengapa tapi dia ingin mendapat ciuman dari Arya lagi. Sepertinya dia tidak puas karena Arya hanya menciumnya sebentar tadi.


Setelah waktu yang tidak diketahui, Arya dan Lucy terus berpelukan dan mengobrol sedikit. Mereka menghabiskan waktu dengan mesra, melupakan masalah rumor yang sedang terjadi.


Tiba-tiba, handphone Arya berdering.


Melihat handphonenya, Arya menyadari bahwa dia mendapat panggilan video grub dengan teman masa SMP-nya.


Lucy yang sedang dalam pelukan Arya menggembungkan pipinya dengan tidak puas. Mereka baru saja menikmati momen mesra tanpa gangguan ini tapi tiba-tiba Arya mendapat sebuah video call.


"Apakah kamu mau tetap seperti ini atau kamu mau berpindah posisi?"


Arya bertanya sebelum mengangkat video call tersebut.


Pada saat ini, Lucy sedang duduk di pangkuannya dengan kedua kakinya melingkari pinggang Arya dan kedua tangannya juga melingkari leher Arya dengan erat.


Ya, keduanya sedang melakukan pelukan koala saat ini.


Lucy menggeleng dengan cepat. Dia tidak ingin berpindah posisi karena sudah terlanjur nyaman.


Karena sudah mendapat jawaban, Arya mengangkat video call tersebut dan segera, wajah beberapa temannya terlihat di layar handphonenya.


Di layar handphonenya, terlihat ada tiga orang gadis cantik dan seorang pria muda seusia Arya dengan mata yang agak sipit.


"Wah, sepertinya kita mengganggu, ya?"


Seorang gadis dengan nada main-main berkata demikian. Gadis tersebut bernama Vanessa.


Sekali lagi, seorang gadis dengan rambut sebahu tersenyum puas sambil menganggukkan kepala berulang kali. Gadis tersebut secara alami adalah Vina.


"Hm? Arya, jangan berpelukan terlalu lama! Nanti pacarmu bisa hamil! Ibuku pernah bilang, kalau pria dan wanita berpegangan tangan, maka akan ada bayi muncul di perut wanita tersebut. Jika kalian berpelukan terlalu lama, aku takut pacarmu akan hamil!"


Seorang gadis berambut hitam bergelombang berteriak dengan panik dengan polosnya. Dia adalah Kana, seorang gadis yang polos dan selalu dilindungi oleh Vanessa dan Vina agar kepolosannya tidak rusak.


Arya awalnya berkedut ketika mendengar Vanessa dan Vina, tapi setelah mendengar Kana, dia tertawa. Dia tidak tahu kapan gadis Kana ini menjadi dewasa.


Meski Kana sudah berusia enam belas tahun, tapi kepolosannya seperti anak berusia lima tahun.


"Hei, hei. Lihat ini, sepertinya pacarmu begitu cantik. Perlihatkan wajahnya padaku, Arya."


Setelah tiga gadis tersebut menyapa Arya, kini seorang pemuda seusianya berkata dengan agak vulgar. Dia adalah Viktor.


Arya mengerutkan dahinya saat mendengar ini.


Ekspresi Lucy yang berada dalam pelukan Arya juga berubah, jelas tidak senang dengan ucapan Viktor.


Awalnya, dia merasa agak malu dengan ucapan Vanessa dan Vina lalu merasa lucu dengan Kana. Tapi setelah mendengar Viktor, Lucy tahu kalau teman Arya yang satu ini agak menjijikan.


"Viktor, jaga ucapanmu. Salah sedikit saja nyawamu bisa melayang!"


"Wah~, aku sangat takut~."


Viktor mengabaikan Arya, menggunakan nada main-main.


Arya segera melotot pada Viktor. Dia sangat membenci pria satu ini. Bukan hanya Arya yang membencinya, Vanessa dan Vina juga membencinya.


Banyak alasan mengapa dia sangat membencinya. Salah satu alasannya adalah karena Viktor merupakan seseorang yang hobinya menjadi orang ketiga di suatu hubungan antar pasangan.


Semasa SMP, Arya awalnya berteman baik dengan Viktor, tapi setelah melihat bahwa Viktor seorang bajingan, dia perlahan menjauhinya dan mulai membencinya.


Setiap kali ada pasangan yang mesra dan dalam hubungan yang baik, Viktor akan selalu menganggu dan merebut si gadis dari pasangannya.


Tidak masalah jika hanya itu, tapi yang lebih parahnya adalah Viktor hanya akan menjalin hubungan dengan gadis yang dia rebut selama satu bulan paling lama sebelum akhirnya mencari yang baru dengan cara yang sama.


Inilah alasan Viktor sangat dibenci.


Seketika, suasana sunyi dan canggung datang.


Di dalam video call tersebut, tidak ada dari mereka berlima yang berbicara.


Arya memiliki ekspresi tidak senang.


Viktor hanya tersenyum dan terkekeh main-main.


Kana tidak bisa membantu dan hanya menatap polos teman-temannya.


Vanessa dan Vina memiliki ekspresi rumit di wajah mereka.


"Um... Arya, bisakah kau mengenalkan seseorang yang sedang dalam pelukanmu itu?"


Tiba-tiba, suara Vina terdengar. Dia adalah orang yang memecahkan suasana sunyi dan canggung tersebut.


Dengan helaan nafas panjang, Arya menahan rasa kesalnya pada Viktor dan mengenalkan Lucy pada Vanessa, Vina dan Kana.


Lucy sendiri ingin ikut mengobrol, tapi sayangnya Viktor terlihat sangat menjijikan, membuatnya malas meladeninya dan hanya diam dalam pelukan Arya dengan erat.


*****


Esok harinya, Arya berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Dia bahkan meninggalkan Lucy di rumahnya.


Tujuan Arya sudah jelas, dia ingin menyelesaikan masalah rumor buruk tentang Lucy.


Tiba di sekolahnya, Arya langsung menuju kelas Lucy, mencari Rui.


"Dimana Rui?"


Arya bertanya dengan dingin saat tatapannya tajam.


Gadis tersebut, yang merupakan orang yang Arya tanyai gemetar ketakutan saat bahunya gemetar. Dia langsung pucat dan keringat dingin menetes dari pipinya.


Arya memiliki segudang rumor buruk dan salah satunya adalah dia tidak pandang bulu saat berkelahi, jadi wajar jika beberapa orang takut padanya.


"Rui... Rui ada di dalam..."


Gadis tersebut berkata dengan gemetar dan air mata memenuhi sudut matanya. Dia langsung lari setelah menjawab Arya.


Mata Arya menyapu seluruh kelas sebelum dia mendekati seorang pemuda berponi.


"Hei, katakan padaku. Selain Rui, siapa saja yang menyebarkan rumor buruk tentang Lucy?"


Arya bertanya pada pemuda berponi tersebut sambil mengcengkeram kerah lehernya, membuatnya terkejut dan langsung ketakutan.


Para siswa lainnya terkejut dan terdiam melihat ini. Sebagian dari mereka ketakutan karena mereka tahu betapa kejamnya Arya ketika berkelahi.


"A-aku tidak tahu pasti tapi Rui membayarku dan beberapa orang lainnya untuk menyebarkan rumor tentang Lucy... Aku hanya diperintahkan, tolong ampuni aku..."


Pemuda berponi tersebut segera mengungkapkan kebenarannya sambil menangis, memohon ampun pada Arya.


Arya menggertakan giginya karena marah dan melepaskan pemuda berponi tersebut sebelum menatap Rui yang tidak jauh dari sana.


Rui berdecak kesal karena rahasianya diungkapkan dengan mudah.


Dia kemudian tersenyum dengan paksa lalu mendekati Arya, merangkul tangannya dan menggodanya dengan nakal.


"Arya, apakah kamu datang mencariku? Apakah kamu sudah bosan dengan Lucy, makanya kamu mencariku?"


Dengan nada menggodanya, Rui menekankan dadanya ke lengan Arya.


Namun tidak seperti yang diharapkan, Arya tidak bergeming, hanya menatap Rui dengan jijik sambil mendengus dingin.


"J*l*ng, menyingkirlah dariku!"


Arya menarik lengannya dan menampar Rui dengan keras hingga pipinya memerah.


Rui merasakan sakit pada pipinya.


Dia menatap Arya dengan ketidakpercayaan. Sejak dia kecil, ibu atau ayahnya bahkan tidak pernah memukulnya. Ini adalah pertama kalinya dia dipukul, menyebabkannya marah besar.


"Kau! Kau berani menamparku?!"


"Ya, aku berani menamparmu!"


Arya menampar Rui lagi dan lagi.


Para siswa lainnya hanya diam menonton. Mereka semua takut terlibat dengan Arya.


Awalnya, mereka menyebarkan rumor tentang Lucy karena dibayar oleh Rui. Mereka sama sekali tidak memikirkan konsekuensinya. Tapi sekarang, setelah melihat Rui ditampar Arya tanpa henti, mereka merinding dan menyesal telah menerima permintaan Rui.