
Ketika dua bibir saling menyatu, tubuh Lucy menegang sebelum akhirnya menjadi rileks.
Tangan Arya tidak diam saja. Dia meraih pinggang ramping Lucy dan membawanya ke dalam pelukannya.
Lucy juga tidak mau kalah. Dia melingkari leher Arya dengan erat seakan dia tidak ingin melepaskannya. Kedua kakinya juga melingkari pinggang Arya dan menguncinya, tidak membiarkannya pergi.
Menarik bibirnya, kedua menghembuskan nafas hangat.
Wajah Lucy sepenuhnya memerah, begitu pula dengan Arya.
"Sudah, ya? Kamu bilang hanya sekali..."
Lucy ingin mengingatkan Arya tentang ucapannya yang hanya meminta ciuman sekali. Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan ucapannya, bibir Arya sudah menempel lagi dengan erat di bibirnya.
Lucy terkejut dengan ini tapi dia tidak menolak.
Setelah beberapa saat, keduanya mulai terengah-engah dengan wajah merah cerah.
"Su-sudah cukup...! Kamu sudah menciumku terlalu banyak...!"
"Sekali lagi dan itu akan menjadi yang terakhir!"
"Ugh, kamu juga mengatakan itu tadi!"
Lucy merasa agak kewalahan karena Arya terus menciumnya berkali-kali, tanpa membiarkannya istirahat. Bibirnya hampir mati rasa karenanya.
Karena itu, Lucy jadi menyadari bahwa Arya ternyata tidak pernah puas hanya menciumnya sekali atau dua kali, atau bahkan tiga kali tidak akan cukup.
Setidaknya, sudah hampir lima menit mereka berciuman.
Arya sendiri ketagihan dengan bibir Lucy yang lembut, manis dan hangat itu. Dia merasa kecanduan dengan ini. Setiap kali dia mencium Lucy, dia bisa mencium aroma tubuhnya yang khas, membuatnya hampir mabuk.
"Sudah cukup!"
Lucy mendorong pundak Arya, menjauhkannya dari dirinya.
Arya tersentak dengan ini tapi dia tidak marah. Dia malah tersenyum nakal.
"Arya, kalau kamu menciumku lagi, kamu tidak akan mendapat ciuman lagi besok!"
"Oh? Jadi maksudmu, aku boleh menciummu lagi besok?"
"Te-tentu saja... Tapi kamu harus berjanji, jangan cium aku lagi untuk hari ini..."
Lucy tiba-tiba menyadari bahwa kata-katanya mungkin mengundang kesalahpahaman untuk Arya. Dia semakin memerah dan dia mengalihkan pandangannya dari Arya.
Arya tersenyum nakal melihat ini, merasa bahwa gadis di pangkuannya memperbolehkannya menciumnya setiap hari.
"Lalu, jika aku menciummu lagi, apa yang akan kamu lakukan?"
"A-aku akan mengadu pada kakak!"
Lucy mencari alasan terbaik dengan mengadu pada kakaknya.
Tapi meski begitu, Arya tidak panik. Dia malah mendekati wajah Lucy, hendak menciumnya lagi.
Lucy segera memejamkan matanya, siap untuk dicium lagi.
Tapi setelah beberapa saat menunggu, dia tidak merasakan bibir hangat Arya.
Membuka matanya, Lucy terkejut dan matanya yang indah segera melebar.
"Wah, kamu sudah semakin berani saja, Arya. Sepertinya aku tidak boleh meninggalkan kalian berduaan saja di rumah!"
Ketika Lucy membuka matanya, dia melihat seorang pria berkacamata dengan wajah agak galak sedang memegang kerah Arya.
Pria berkacamata tersebut secara alami adalah kakaknya, David.
Melihat David meraih kerahnya, Arya mengangkat kepalanya dan terkejut. Dia langsung berkeringat dingin dan wajahnya pucat seperti kertas.
"Kak David...?"
"Ya, ini aku. Bagaimana kabarmu, Arya?"
"Aku baik. Ngomong-ngomong, sejak kapan Kakak pulang?"
Arya tidak bisa membantu tetapi tertawa kering. Dia panik sekaligus takut, takut David akan memarahinya karena dia baru saja berniat mencium adik perempuannya.
Selain itu, dia juga tidak tahu kapan David pulang bekerja, membuatnya semakin panik.
"Aku baru saja tiba kurang dari lima menit yang lalu. Selain itu, aku juga melihat kau mencium Lucy beberapa kali. Apakah kau sudah begitu berani sekarang?"
Wajah Arya semakin pucat mendengar ini.
Lucy sendiri sudah tidak berada di pangkuan Arya. Dia sudah lama melarikan diri ke kamarnya, merasa sangat malu pada kakaknya karena hampir ketahuan akan berciuman dengan Arya.
Kembali pada Arya, dia diseret keluar dari ruang TV dan dia diocehi David di ruang tamu selama tiga jam penuh.
Setelah Lucy melarikan diri ke kamarnya, jantungnya tidak berhenti berdebar dengan kencang selama beberapa menit. Wajahnya yang cantik juga memiliki rona merah cerah. Dia benar-benar malu saat ini.
"Kenapa saat aku dan Arya sedang ci-ciuman harus dilihat Kakak?! Ini benar-benar memalukan...!"
"Tapi tunggu sebentar, ini salah Arya. Dia tidak menahan diri sedikitpun! Bagaimana caraku menghadapi Kakak besok?!"
"Argh, semuanya salah Arya!"
Lucy terus mengoceh sambil memeluk guling dan berguling-guling di kasurnya. Wajahnya masih merah padam dan dia tidak bisa untuk tidak memikirkan bagaimana reaksi David besok ketika mengetahui dia berciuman dengan Arya.
Pada akhirnya, Lucy tidak bisa tidur hingga pukul 2 pagi karena terlalu memikirkan cara menghadapi David esok hari.
*****
David, seorang pria berusia 23 tahun dengan wajah yang agak galak namun sebenarnya dia orang yang penyayang. Dia sangat menyayangi Lucy sebagai adiknya. Bahkan Arya sudah dia anggap sebagai adiknya.
David sendiri memiliki rambut hitam dan dia menggunakan kacamata sebagai aksesoris semata.
Dia memiliki rambut hitam yang cukup lebat.
David sendiri merupakan seorang pekerja kantoran yang bekerja dari hari Senin hingga Jumat. Dia selalu pulang sore hari paling lambat pukul lima sore. Jika dia ada lembur, dia akan pulang tengah malam paling lambat.
Terlebih lagi, dia juga merupakan seseorang yang mengetahui fakta bahwa Arya adalah seorang pembunuh.
Dia sebenarnya sudah puluhan bahkan ratusan kali menyuruh Arya untuk berhenti membunuh demi kebaikannya dan orang di sekitarnya. Tapi sayangnya, Arya tidak mendengarkan dia sama sekali.
"Hoam...!"
Arya menguap dengan lebar, menandakan dirinya yang masih mengantuk. Dia tidur cukup larut karena harus mendengarkan David mengoceh semalam, membuatnya kekurangan tidur.
"Kak, kenapa Kakak tidak berhenti kerja saja? Aku sudah punya usaha sendiri dan berpenghasilan cukup banyak."
Arya menghampiri David yang sedang memakai sepatu di depan pintu. Dia sedang berusaha membujuk kakaknya agar berhenti bekerja karena dia sudah memiliki toko roti dan memiliki penghasilan yang banyak setiap bulannya. Dia tahu jika David pasti lelah karena bekerja hampir setiap hari, bahkan terkadang lembur hingga larut malam.
Oleh karena itu, Arya mengambil inisiatif untuk membantu David tentang masalah keuangannya.
David yang tengah duduk memakai sepatunya di depan pintu itu langsung berdiri dan berbalik, menatap tajam ke arah Arya. Ekspresi kesal terlukis jelas di wajahnya.
"Apakah kau mau membayar semua tagihan di rumah ini?
"Apakah kau mau membayar uang sekolah Lucy?"
"Dan, apa kau mau menanggung biaya belanja bulanan dan biaya hidupku dan adikku setiap harinya?" Tanya David sambil menusukkan jari telunjuknya di dada Arya. Nadanya terdengar kesal
David merasa sedikit iri dengan Arya. Pemuda tersebut masih muda tapi sudah punya usahanya sendiri dan penghasilan yang ia dapat pun tidak main-main setiap bulannya. Adapun dirinya, dia lebih tua dari Arya, tapi dalam hal penghasilan, dia kalah jauh.
Terkadang, dia merasa iri ketika melihat Arya bisa memberikan apapun yang Lucy inginkan. Dia juga ingin memberi adik perempuannya sesuatu, tapi terkadang dia berpikir dua kali karena kebutuhan sehari-harinya cukup banyak.
"Ya, aku mau."
Arya menjawab dengan singkat. Ekspresinya tidak berubah sedikitpun.
"Lalu apa gunanya aku sebagai kakak, jika masalah uang saja aku bergantung padamu? Jangan remehkan kakakmu ini, Arya." David menghela nafas.
Semenjak Arya memiliki toko roti, David terkadang menerima bantuan dari Arya. Entah itu berupa uang atau barang. Bahkan beberapa hari yang lalu Arya membelikannya motor baru untuk dirinya, tapi David menolak.
Dia ingin membuktikan kepada Arya kalau tanpa bantuannya, dia bisa membeli motornya sendiri.
Arya yang mendengar ucapan David itu hanya tersenyum dan memberikan sebuah tawaran yang cukup menggiurkan.
"Baiklah, begini saja. Saat aku lulus nanti, aku mau membuka 2 sampai 3 cabang lagi. Apa Kakak mau mengelola salah satunya? Dengan begitu, kau sama saja bekerja untukku."
David sedikit tertegun dengan perkataan Arya.
"Berapa gaji perbulannya?" Tanya David dengan berbisik.
"Khusus untuk Kakak, gajinya akan aku buat dua kali lebih banyak!"
David terkejut, tapi dia segera tertawa dan langsung merangkul bahu Arya. Tatapan tajam yang dia berikan seketika hilang tanpa jejak.
"Adikku yang satu ini memang bisa diandalkan!" David tersenyum cerah.
"Kak, lebih baik kau pergi sekarang atau kau akan terlambat masuk kerja."
"Ah ya, kau benar. Kalau begitu, aku pergi bekerja dulu. Tolong jaga Lucy untukku. Dan juga, jangan macam-macam dengannya. Saat ini dia masih tidur, jadi..."
"Aku paham, aku paham! aku takkan berani menyentuh Lucy saat dia sedang tidur."
Arya segera menjawab dengan cepat. Wajahnya memerah ketika dia mengingat kembali bagaimana dia ketahuan ciuman dengan Lucy semalam.
David tertawa melihat Arya. Dia kemudian pergi bekeja setelah mengatakan beberapa hal lagi.
Ketika dia pergi, dia meninggalkan Arya dan Lucy di rumah tanpa adanya pengawasan. David berani meninggalkan mereka berdua karena tahu sikap Arya yang tidak akan berani macam-macam dengan adiknya. Jika Arya sampai macam macam dengan Lucy, maka Arya tidak akan pernah dapat restu dari dirinya.
Adapun untuk ciuman yang keduanya lakukan tadi malam, David tidak terlalu memikirkannya. Dia tahu kalau keduanya saling mencintai, jadi dia pikir tidak masalah jika bertukar ciuman sesekali.