
Dengan kemarahannya yang sudah Lucy luapkan, dia merasa agak nyaman. Dia sudah menahan semua ini sejak lama dan akhirnya bisa melepaskannya.
Arya, yang mendapat kemarahan Lucy jadi marah juga. Dia menatap tajam Lucy.
"Omong kosong macam apa itu? Jika Anda hanya menyukai dan mencintai saya, maka siapa pria yang bersama Anda saat itu? Kalian berdua terlihat mesra saat itu."
"Arya, cukup! Kamu memang tidak pernah mau mendengarkanku! Aku sudah menjelaskan berkali-kali, tapi kamu selalu tutup telinga!"
Suara Lucy semakin tinggi, air mata memenuhi sudut matanya. Perasaan sedih dan sakit yang menyayat hati terus-menerus dia rasakan, seakan ditusuk ribuan jarum.
Adapun Arya, dia merasakan hal yang sama seperti Lucy. Jika bukan karena perasaan dikhianatinya, dia tidak akan mengatakan hal buruk pada Lucy, seperti saat ini. Dia hanya ingin mengatakan kata-kata manis pada gadis ini.
Lylia yang berada tidak jauh dari keduanya kebingungan. Dia mencoba melerai Arya dan Lucy yang bertengkar, tapi dia gagal.
"Arya, lakukan saja sesukamu! Aku sudah menjelaskan, jadi seharusnya kamu mengerti! Aku hanya berharap satu hal, jangan pernah lupakan janji yang kita buat dulu!"
Lucy terisak, dia pergi dan melewati Arya.
Namun, dia tiba-tiba berhenti melangkah saat ucapan Arya terdengar di telinganya.
"Janji? Janji palsu itu? Wah, saya tidak sangka Anda masih mengingat janji yang dibuat oleh anak-anak! Itu hanya janji palsu, permainan...!"
Tanpa menunggu ucapan Arya selesai, sebuah tamparan keras melayang dan mendarat di wajah Arya.
Wajah Arya seketika miring dan ekspresinya menggelap. Di pipinya, semburat merah karena tamparan Lucy terlihat jelas.
"Arya, aku benci kamu! Pergilah menjauh dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku! Aku tidak akan percaya ucapanmu lagi, selamanya!!!"
Setelah menampar Arya, Lucy berbalik dan berlari dengan menangis. Ini benar-benar sulit dipercaya.
Dia dan Arya dulu pernah membuat janji jika mereka sudah dewasa nanti, mereka akan menikah dan memiliki beberapa anak, lalu hidup bahagia. Namun sekarang, setelah mendengar ucapan Arya tentang janji itu, Lucy jadi sangat hancur.
Kembali pada Arya, dia merasakan sakit di pipinya. Tidak hanya itu, sakit di hati dan dadanya benar-benar menyiksanya.
"Arya..."
Lylia memanggilnya dengan lembut, namun Arya sama sekali tidak menanggapi. Dia mengutuk dengan sangat keras lalu meninggalkan kelas, pergi ke atap untuk menenangkan dirinya.
*****
Duduk di atap sekolah, Arya menatap langit biru dengan tatapan kosong. Di benaknya, banyak sekali hal yang melintas, salah satunya adalah meminta maaf pada Lucy. Namun, dia mengurungkan niatnya untuk melakukannya karena banyak faktor.
Tiba-tiba, ketika sedang melamun, suara derit pintu terbuka terdengar dari belakang.
Arya menoleh dan melihat bahwa yang datang adalah Lylia. Gadis itu memiliki ekspresi khawatir di wajahnya.
Dengan ragu, Lylia berjalan menghampiri Arya dan berhenti tidak jauh dari pemuda tersebut.
"Arya, apakah kamu baik-baik saja?" Lylia bertanya dengan cemas.
"Menurutmu?"
Tanpa menoleh, Arya menjawab dengan dingin.
Lylia terdiam dengan ini, tidak berani mengatakan apapun.
Setelah sunyi sejenak, suara helaan napas panjang Arya terdengar. Pemuda itu menghela napas dua kali sebelum berkata.
"Eh? Ce-cerita tentang apa?"
Lylia, yang berdiri di belakang Arya bertanya, agak gugup.
"Cerita tentang mengapa aku bertengkar dengan Lucy dan cerita tentang bagaimana hubunganku dengannya menjadi buruk seperti sekarang."
"Seperti yang kau ketahui, aku dan Lucy adalah teman masa kecil. Kami saling kenal sejak usia dua atau tiga tahun, kami masih sangat kecil saat itu. Aku dan Lucy bisa dibilang tumbuh besar bersama dan suatu saat, aku dan Lucy membuat sebuah janji."
Pada titik ini, Arya berhenti berbicara dan menghela napas lagi. Berat rasanya jika harus mengatakan kisahnya dengan Lucy.
Lylia yang mendengarkan juga diam, menunggu Arya melanjutkan ceritanya. Dia juga agak penasaran tentang Arya dan Lucy.
"Lylia, apakah kau tahu janji macam apa itu? Janji itu adalah janji di mana aku dan Lucy akan menikah ketika dewasa nanti. Itulah perjanjian yang kami buat saat kecil dulu. Tapi, ketika lulus sekolah dasar, aku pindah jauh. Aku jadi terpisah jauh dari Lucy."
Nada Arya awalnya terdengar nostalgia, tapi ketika dia membicarakan kepindahannya, nadanya berubah jadi penuh kebencian.
"Lalu... Apa yang terjadi setelah itu?" Lylia bertanya pelan.
"Huh, ketika aku jauh darinya, Lucy berkhianat. Dia pergi dengan pria lain dan melupakanku. Aku dengan jelas melihat dia berfoto dengan mesra bersama pria lain. Dia benar-benar mengkhianati janji itu, seakan janji itu hanyalah angin lewat!"
Arya menggertakkan giginya.
Lylia mengerutkan dahinya, merasa ada sesuatu yang janggal. Dia berpikir sejenak dan menyadari bahwa apa yang Arya ceritakan adalah cerita menurut sudut pandangnya sendiri. Pasti ada kejadian lain yang tidak diketahui Arya.
Menurut Lylia sendiri, Lucy bukanlah gadis yang akan berselingkuh. Meski dia hanya mengenal Lucy baru sebulan terakhir, dia bisa merasakan jika Lucy bukanlah seseorang yang dengan mudahnya berkhianat.
Namun, Lylia tidak terlalu memikirkannya. Dia menatap punggung Arya dengan erat. Ekspresinya berubah-ubah, antara prihatin dan senang.
Dia tidak tahu dari mana datangnya perasaan senang ini.
"Andai saja aku bisa membalas perbuatan Lucy, maka aku akan melakukannya! Aku akan menggandeng tangan gadis lain di depan matanya jika dia benar masih menyukaiku..."
Suara Arya terdengar, dia tertawa dengan suara aneh sehingga Lylia merinding mendengarnya.
Menghela napas panjang, Arya menatap langit biru yang cerah.
Di sisi lain, Lylia menatap Arya dan mendekatinya. Dia kemudian berlutut dengan kedua kakinya. Tangannya yang indah diulurkan dan melingkari leher Arya dari belakang. Dia menyandarkan tubuhnya pada punggung Arya dan menaruh semua berat padanya.
Arya sangat terkejut dan matanya melebar. Dia segera menoleh ke belakang hanya untuk melihat bahwa wajah Lylia sangat dekat dengan wajahnya. Saking dekatnya, dia bisa merasakan napas hangat Lylia dan aroma memabukkan memenuhi hidungnya.
Arya tidak tahu apa yang terjadi karena dia sangat terkejut, yang dia ketahui adalah Lylia sedang memeluknya.
"Lylia... Apa... Apa maksudnya ini...?"
"Pasti sakit, kan? Kamu dikhianati oleh Lucy, padahal kalian berdua sudah berjanji."
"Y-ya, itu sangat menyakitkan. Tapi... Kenapa kamu melakukan ini?"
"Menurutmu, kenapa aku melakukan ini?"
Lylia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, membuat Arya kebingungan. Dia terdiam cukup lama.
Lylia menghela napas ringan dan tersenyum tipis pada Arya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Arya dan berbisik dengan pelan, napasnya bertiup di telinga Arya, membuat pemuda itu merinding.
"Arya, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku. Aku akan membuatmu melupakan Lucy. Aku juga akan menyembuhkan luka yang membekas di hatimu. Oleh karena itu, jadilah kekasihku."