Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 170 - Kejutan dari Marissa



Tiga hari kemudian.


Di dalam sebuah kamar rumah sakit, tampak seorang pria muda dan seorang gadis sedang mengobrol di dalam sana.


Pria muda itu duduk di kasur rumah sakit dan mengenakan pakaian pasien.


Adapun gadis tersebut, dia duduk di kursi, tepat di sebelah kasur rumah sakit.


Keduanya secara alami adalah Arya dan Lucy. Mereka berdua saat ini sedang berada di rumah sakit.


Tentunya, luka tusukan di pinggang serta luka tembak di bahu Arya tidak bisa sembuh dalam semalam, jadi dia perlu di rawat di rumah sakit selama tiga hari terakhir.


Lukanya sudah cukup pulih dengan baik, dengan luka di pinggangnya suda hampir sembuh sepenuhnya. Namun, luka tembak di bahunya sangat menggangu karena setiap kali Arya menggerakkan bahunya, rasanya sangat sakit. Jika dia ceroboh sedikit dalam menggerakkan bahunya, kemungkinan lukanya akan terbuka lagi.


Lucy sendiri menemani Arya di rumah sakit selama tiga hari ini. Dia merawat kekasihnya itu dengan baik dan lembut. Setiap jam makan tiba, dia akan menyuapi Arya dan tidak membiarkan Arya makan sendiri karena sedang terluka.


Arya sebenarnya agak kewalahan karena dimanja seperti ini, tapi dia menikmatinya.


"Aku masih tidak menyangka jika Marissa adalah Putri Inggris."


Arya tiba-tiba berkata, menghela napas dan tersenyum masam.


"Yah, aku juga sangat terkejut mendengarnya. Aku tidak menyangka jika Putri Inggris juga diculik. Tapi, sebenarnya ini juga berita bagus. Kamu bilang kamu pernah keluar dan makan bersama Marissa, benar? Bukankah itu artinya kamu pernah makan di meja yang sama dengan Putri Inggris, Arya?"


"Kamu benar. Itu mungkin akan menjadi sarapan pagiku yang akan kukenang selamanya."


Arya tersenyum, menatap Lucy dan menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat. Dia kemudian tersenyum meledek sambil berkata.


"Tapi, jika aku tidak salah ingat, ada seseorang yang cemburu buta karena aku pergi keluar sarapan bersama wanita lain. Siapa, ya? Aku lupa."


Lucy berkedut mendengarnya. Dia jelas tahu siapa orang yang Arya maksud. Itu tidak lain adalah dirinya sendiri.


"Apa salahnya jika aku cemburu? Lagipula itu salahmu karena pergi dengan wanita lain tanpa memberitahuku. Bahkan jika yang pergi bersamamu adalah Putri Inggris, aku tetap cemburu!"


Lucy dengan cemberut berkata, dia mencubit pipi Arya dengan tangannya yang bebas. Rasanya sedikit menjengkelkan karena Arya menyinggung masalah yang sudah berlalu.


Arya hanya tertawa kecil merasakan cubitan dari Lucy. Itu bukan cubitan yang menyakitkan, melainkan cubitan yang hangat dan gemas.


Ketika sedang menikmati waktu bermesraannya, tiba-tiba suara pintu diketuk terdengar.


Arya dan Lucy segera berhenti bermesraan dan saling menatap, sebelum akhirnya Lucy pergi membukakan pintu.


Ketika pintu terbuka seluruhnya, Lucy tertegun saat melihat tiga orang berdiri di depan kamar rumah sakit tempat Arya dirawat.


Tiga orang ini merupakan Marissa bersama Luois serta seorang wanita yang tak dikenal.


"Halo, apakah kami mengganggu waktu istirahat pasien?"


Marissa bertanya sambil tersenyum.


"Ti-tidak, tentu saja tidak. Silahkan masuk...",


Lucy dengan gugup dan agak terbata menyingkir dari pintu dan mempersilakan Marissa masuk. Rasanya begitu tegang ketika berhadapan dengan seseorang yang memiliki latar belakang yang sangat menakjubkan seperti Marissa.


Setelah itu, Lucy kembali pada Arya, berdiri di dekatnya. Dia tidak berani duduk sebelum Marissa duduk.


Melihat kedatangan Marissa bersama Luois, Arya terkejut namun dia segera mengangguk pelan, seakan dia paham kedatangan mereka.


Selain itu, dia belum bertemu dengan Marissa dan Luois lagi selama tiga hari ini. Dia ingin mengucapkan terima kasih pada Marissa karena telah membantunya lepas dari polisi. Ditambah lagi, biaya rumah sakit ini ditanggung oleh Marissa, jadi dia berhutang dua terima kasih pada Marissa.


"Halo, Arya. Bagaimana keadaanmu? Apakah aku mengganggu waktu istirahatmu?"


"Saya sudah lebih baik, Putri. Semua berkat bantuan Anda. Saya sangat berterima kasih, Putri."


Arya menjaga sikapnya dan berbicara dengan formal dan hormat, tidak ingin menyinggung Marissa.


"Santai saja, Arya. Jangan terlalu formal seperti itu."


"Baiklah, Marissa."


Arya langsung memanggil nama Marissa tanpa ragu, seakan sikap formal dan hormatnya tadi adalah bohong. Dia benar-benar mengubah wajahnya secepat membalikkan telapak tangan.


Marissa tersenyum masam mendengarnya, agak tidak menyangka jika Arya berubah begitu cepat.


Lucy juga sama terkejutnya.


Adapun Luois dan wanita yang bersama Marissa itu, mereka mengerutkan dahinya dengan tidak senang. Bagi mereka, orang asing memanggil Putri Inggris dengan nama langsung adalah penghinaan. Namun melihat jika Marissa tidak tersinggung, mereka diam.


"Silakan duduk, Marissa."


Arya tersenyum tipis, menunjuk sofa dengan tangannya.


Marissa mengangguk ringan kemudian duduk di sana sementara Luois dan sang wanita tetap berdiri di dekat pintu. Tampaknya wanita ini adalah pelayan Marissa jika dilihat dari tampilannya.


Kemudian, setelah Marissa duduk, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Semua orang yang berada di dalam ruangan merasa sangat canggung satu sama lain. Selain itu, Arya tidak bisa bersikap seenaknya. Meski dia memanggil nama Marissa secara langsung, namun nadanya masih sopan dan sedikit hormat.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


Setelah sunyi cukup lama, Arya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


Mendengar itu, Marissa mengangguk ringan dan mempersilakan Arya untuk bertanya.


Melihat jika dirinya mendapatkan izin, Arya menghela napas pelan dan dahinya sedikit berkerut.


"Melihat kalian datang kemari, apakah ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan padaku? Aku yakin kalian datang kemari bukan hanya untuk menjengukku saja."


Arya bertanya dengan nada serius. Lagipula, tidak mungkin Marissa datang hanya untuk mengunjunginya. Pasti ada sepatah dua patah kata yang ingin disampaikan padanya.


Mendengarnya, Marissa tersenyum tipis. Tampaknya niatnya telah diketahui pihak lain.


"Apa yang kamu katakan adalah benar, Arya. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu."


Marissa membalas. Dia menarik napas sejenak kemudian ekspresinya berubah menjadi serius.


Arya seketika pasang telinga dan menjadi serius juga. Lucy juga memiliki ekspresi yang sama. Gadis itu cukup penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Putri Inggris secara langsung pada Arya.


"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena telah menyelamatkanku dari para penculik tiga hari yang lalu. Jika bukan karenamu yang membantu Luois, aku tidak tahu bagaimana nasibku saat ini."


"Bukan masalah besar, Marissa. Luois dan aku memiliki tujuan yang sama, yaitu menyelamatkan orang-orang yang penting bagi kami. Peranku yang membantu Luois sepenuhnya untuk keuntungan kedua belah pihak."


"Kamu benar, tapi meski begitu kamu juga telah membantu, bahkan terluka. Jadi sudah sepatutnya kamu mendapat ucapan terima kasih. Namun, aku tahu jika ucapan terima kasih saja tidak akan cukup. Jadi, aku memiliki sebuah kejutan untuk kuberikan padamu."


Di akhir kalimatnya, Marissa tersenyum penuh makna.


Arya kebingungan dengan senyum penuh makna Marissa. Dia merasa kejutan yang akan diberikan oleh Putri Inggris ini akan benar-benar mengejutkannya.


"Baiklah, tentang kejutan yang kukatakan sebelumnya, itu sebenarnya bukanlah hal yang besar. Selain itu, kejutan ini merupakan hal kedua yang ingin aku sampaikan padamu."


Marissa menghentikan kalimatnya. Dia menatap Arya yang tampak gugup itu.


Bagaimana mungkin Arya tidak gugup? Diberikan kejutan oleh Putri Inggris secara langsung merupakan kebanggaan tersendiri baginya. Selain itu, meski Marissa berkata jika kejutan ini bukanlah hal besar, namun baginya itu sudah pasti sangat besar dan mengejutkannya.