Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 177 - Pangeran Ivor



Karya ini merupakan cerita fiksi berdasarkan imajinasi dan tidak terkait dengan nama orang, organisasi, tempat ataupun kejadian apapun.


*


*


*


*


*


Arya yang melihat kepergian Marissa dan Ratu Chaterine menghela napas lega. Dia benar-benar gugup, hingga setiap kali dia berbicara, dia pasti terbata-bata dan tidak bisa berbicara dengan benar.


"Silakan, Tuan. Saya akan memimpin Anda masuk. Saat ini mungkin Putri Marissa akan sedikit sibuk dan menghabiskan waktu bersama Yang Mulia Ratu, jadi saya akan menunjukkan ruang tunggu untuk Anda."


Luois tiba di samping Arya, berkata dengan sopan dan hormat.


Arya terkejut mendengarnya, tidak menyangka jika Luois akan begitu sopan padanya. Padahal sebelumnya, mereka berbicara secara informal. Tapi sekarang, sepertinya Arya mendapat perlakuan berbeda. Mungkin karena dia saat ini berada di dekat Marissa dan Ratu Chaterine.


"Baiklah, tunjukkan jalannya."


Mengangguk, Arya berkata mengikuti Luois dari belakang. Dia memiliki senyum bangga dan gembira di wajahnya.


Pertama, dia berjabat tangan langsung dengan Ratu Chaterine dan bertukar beberapa kata dengannya. Sekarang, dia bahkan dipanggil "Tuan" oleh Luois, membuatnya entah mengapa merasa nyaman dengan panggilan itu.


Sembari mengikuti Luois dari belakang, Arya yang memasuki istana dan melihat isi dalamnya benar-benar tidak bisa berhenti menganga dan selalu mendecakkan lidahnya karena kagum.


Apa yang dia lihat adalah hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia tidak pernah menyangka jika dalam hidupnya, dia bisa bertemu keluarga kerajaan Inggris dan bisa memasuki istana yang begitu megah ini.


"Silakan, Tuan. Di sini adalah ruangan untuk Anda menunggu Putri Marissa. Anda juga bisa beristirahat di sini."


Arya dan Luois akhirnya tiba di sebuah ruangan yang cukup luas dan megah, yang berisikan sofa dan beberapa perabotan lainnya. Jelas, semua yang ada di dalam sana adalah perabotan yang harganya tidak bisa Arya bayangkan.


Memasuki ruangan tersebut, Arya melihat sekeliling sejenak sebelum akhirnya dia menatap Luois.


"Terima kasih telah mengantarku kemari, Luois. Ngomong-ngomong, bisakah kau tetap di sini dan menemaniku mengobrol? Aku tidak terbiasa dengan tempat ini."


Arya tersenyum masam saat dia meminta bantuan Luois. Saat ini, hanya ada dia dan Luois yang berada di ruangan ini. Jadi, jika Luois meninggalkannya, dia akan sendirian dan jika seseorang datang, dia mungkin mendapat masalah karena kesalahpahaman.


"Baiklah, Tuan. Sesuai permintaan Anda."


Luois mengangguk dan menemani Arya.


Arya tersenyum puas mendengar jawaban Luois. Dia kemudian duduk di sofa dan ketika dia duduk di sana, dia bisa merasakan betapa empuk dan lembutnya sofa tersebut.


Arya sedikit terkejut dengan ini. Dia kemudian mengelus permukaan sofa tersebut, merasa jika itu begitu lembut bagai sutra. Dia jadi penasaran dengan harga sofa ini, dia menginginkan satu untuk di rumah.


Setelah itu, Arya dan Luois mengobrol sedikit ketika tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


Luois membukakan pintu untuk orang yang mengetuk, mengetahui jika yang datang adalah dua orang pelayan wanita yang membawa camilan dan teh.


Keduanya kemudian meminta izin pada Luois untuk masuk dan setelah mendapat izin, mereka mendekati Arya dan menyajikan camilan dan teh ke meja.


Satu orang menyajikan camilan sembari memberi senyum sopan dan hangat, sementara lainnya menyeduh teh untuk Arya.


Arya yang melihat teh yang disajikan untuknya bisa merasakan betapa harum dan segarnya teh tersebut. Dia segera ingin mencicipinya, namun dia masih harus bersikap sopan, jadi dia menahan diri.


Kemudian, ketika camilan dan teh disajikan di meja, kedua pelayan tersebut mempersilakan Arya untuk menikmati sajian yang telah disajikan dan keduanya kemudian pergi setelah beberapa kata.


"Silakan dicicipi, Tuan. Ini adalah teh Earl Grey , yang merupakan salah satu teh yang sangat disukai oleh Ratu Chaterine."


Luois berkata dengan pelan, tersenyum tipis.


Arya mengangguk, mengangkat gelas tehnya, lalu menikmati aromanya terlebih dahulu sebelum menyesapnya.


Ketika teh tersebut melewati tenggorokan Arya, rasanya begitu segar dan nikmat. Ini adalah teh ternikmat dan terbaik yang pernah dia cicipi sejauh ini.


Melihat reaksi Arya, Luois tersenyum bangga.


Selama masa ini, Arya dan Luois masih di ruangan yang sama dan keduanya mengobrol cukup banyak, terutama tentang Luois yang menjelaskan setiap sudut istana ini.


Arya tentu mendengarkan dengan seksama dan setiap kali dia mendengar penjelasan Luois, dia terkagum karena istana ini lebih luas dari yang dia bayangkan.


Ketika sedang asik mengobrol, suara ketukan pintu terdengar kembali dan Luois segera membukakan pintu.


Ketika pintu terbuka sepenuhnya, tampak seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru cerah bagai berlian berdiri di depan pintu. Wajah pemuda ini begitu tampan dan dia memiliki kemiripan dengan Marissa.


Selain itu, pemuda ini terlihat berusia tujuh belas atau delapan belas, usia yang mirip dengan Arya.


Melihat pemuda itu, Arya sedikit mengerutkan dahinya. Dia merasa tidak asing dengan wajah pemuda ini.


Berpikir sejenak, Arya tiba-tiba melebarkan matanya dan keterkejutan memenuhi wajahnya. Pemuda itu, yang berdiri di depan pintu tidak lain dan tidak bukan adalah anak kedua dari Ratu Chaterine, Pangeran Ivor!


Arya segera berdiri dari tempat duduknya, berniat menyambut sang pangeran.


"Oh, Luois. Aku dengar Putri Marissa mengundang seseorang ketika dia sedang berlibur. Di mana orang itu? Aku ingin bertemu dengannya."


Pangeran Ivor berkata sambil menatap Luois.


"Tamu Putri Marissa ada di sini, Pangeran."


Luois kemudian menunjuk pada Arya, yang kini mendekat.


Melihat Arya mendekat, Pangeran Ivor mengangkat alisnya, sedikit terkejut melihat jika tamu dari kakaknya merupakan seorang pria yang tampak seusia dengannya.


"Hm... Jadi kau adalah tamu dari kakakku, Putri Marissa, benar? Perkenalkan, aku adalah Pangeran Ivor."


"Ah, salam kenal juga. Nama saya Arya, Pangeran."


Pangeran Ivor mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Arya. Dia kemudian menatap Arya sambil tersenyum tipis.


"Jangan terlalu formal begitu, Arya. Santai saja. Sepertinya usia kita sama, jadi jangan gunakan nada hormat seperti itu saat berbicara denganku."


"Saya tidak berani, Pangeran."


Arya tersenyum malu, menunduk sedikit.


Pangeran Ivor tertawa kecil melihat reaksi Arya. Dia kemudian melewati pemuda tersebut, lalu duduk di sofa.


"Kemarilah, ceritakan padaku bagaimana dirimu bisa bertemu dengan kakakku."


Pangeran Ivor tersenyum saat tatapan tertarik melintas di matanya.


Arya menoleh pada Luois, ragu-ragu apakah dia harus menceritakan yang sebenarnya atau tidak.


Luois secara alami mengetahui apa maksud dari tatapan Arya. Dia mengangguk pelan sehingga Pangeran Ivor tidak mengetahui pergerakannya.


Mengetahui itu, Arya kembali duduk di sofa dan mulai menceritakan pertemuannya dengan Marissa dan mengatakan bagaimana dia menyelamatkan Marissa bersama dengan Luois. Tentunya, Arya tidak mengatakan apapun tentang membunuh, karena itu adalah rahasia yang tidak bisa dia katakan secara blak-blakan pada orang yang baru dia temui sekali.


Mendengar itu, Pangeran Ivor tampak sedikit terkejut, namun dia tersenyum setelah mendengar semua cerita Arya.


"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak karena telah membantu Luois menyelamatkan kakakku."


"Saya hanya melakukan pekerjaan kecil, Pangeran."


"Oh, tidak, tidak. Bagaimana bisa menyelamatkan Putri Inggris dibilang pekerjaan kecil? Yang kau lakukan adalah jasa besar bagi negara kami."


Berhenti di titik ini, Pangeran Ivor tiba-tiba tersenyum penuh makna dan tatapannya sedikit dingin dan tajam.


"Selain itu, sangat jarang bagi kakakku, Putri Marissa, dekat dengan seorang pria. Asalkan kau tahu, Arya. Tapi Putri Marissa sangat jarang terlihat dekat dengan seorang pria, apalagi sampai makan bersama. Sedangkan dirimu, kau bisa makan bersamanya secara kebetulan. Meski bagimu itu adalah kebetulan, tapi itu cukup mengejutkanku jika kakakku pergi bersama dengan pria sepertimu. Sepertinya kau memberi kesan yang sangat baik pada kakakku."


Pangeran Ivor berkata, terkekeh di akhir kalimat.


Arya hanya bisa tertawa kering mendengarnya. Dia tidak tahu apakah itu pujian, atau ledekan.