Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 168 - Kedatangan Luois



Di sisi lain, Luois tampak sedang sibuk bersama rombongannya. Dia berdiri di dekat mobil dengan kaca terbuka setengah.


Luois memiliki ekspresi takut dan cemas ketika dia melirik ke dalam mobil melalui jendela. Dia melihat seorang wanita berambut pirang yang sedang duduk dengan mata terpejam.


Wanita berambut pirang ini merupakan Putri Inggris yang baru saja dia berhasil selamatkan dari penculikan. Putri Inggris berhasil diculik dikarenakan kelalaiannya dalam bertugas, jadi Luois secara alami takut mendapat teguran dari Putri Inggris.


Namun, dibalik itu dia juga cemas terjadi sesuatu yang buruk menimpa Putri Inggris.


"Luois, ini buruk! Pemuda yang bersamamu tadi ditahan Kepala Kepolisian kota Vant! Sepertinya bocah itu kurang beruntung!"


Ketika sedang dalam takut dan cemasnya, Luois tiba-tiba mendapat laporan dari salah satu temannya. Dia melaporkan tentang Arya.


Mendengar itu, Luois terkejut dan segera mengerutkan dahinya.


"Apakah itu benar? Kau tidak salah lihat, bukan?"


"Itu benar! Bocah itu dalam masalah, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Luois diam, ekspresi berpikir terlukis di wajahnya. Tampaknya Arya tidak seberuntung yang dia kira.


"Luois, apakah pemuda yang dimaksud adalah orang yang ikut membantumu saat menyelamatkanku?"


Ketika Luois sedang berpikir tentang Arya, sebuah suara datang dari dalam mobil.


Suara tersebut merupakan suara Putri Inggris, yang kini membuka matanya dan menatap Luois. Mata Putri Inggris begitu indah dengan warna biru cerah bagai berlian.


"Itu benar, Putri. Pemuda yang dimaksud adalah orang yang membantu saya ketika menyelamatkan Putri."


"Begitu, ya? Bantu dia lepas dari masalah polisi itu. Buat alasan apapun yang kau bisa. Aku ingin dia lepas dari polisi. Dia membantu menyelamatkanku, jadi setidaknya aku ingin berterima kasih dengan benar. Selain itu, sepertinya pemuda yang kau maksud cukup mengejutkanku."


Putri Inggris menatap Luois dengan acuh tak acuh. Namun, ketika dia akhir kalimatnya, dia tampak tertarik dengan pemuda yang dimaksud Luois.


Mengangguk, Luois dengan cepat melaksanakan perintah Putri Inggris dan segera meminta orang yang melapor tadi membawanya ke tempat Arya berada untuk membantunya lepas dari polisi.


*****


"Nak, bisakah kau tidak keras kepala dan menjaga sopan santun ketika berbicara dengan yang lebih tua? Setidaknya tunjukkan rasa hormatmu!"


Kepala Kepolisian berkata dengan kesal pada Arya yang duduk di hadapannya. Dia sedang mengintrogasi Arya di sebuah ruangan bersama Tuti beserta empat gadis yang mengaku melihat Arya membunuh.


Namun, meski interogasi sudah berjalan selama lima belas menit, Kepala Kepolisian sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun. Dia justru hanya mendapatkan caci maki dari Arya.


Pemuda itu selalu mengatakan banyak hal buruk dan nadanya penuh penghinaan, membuat siapapun yang mendengarnya kesal.


Tuti yang melihat Arya sangat sulit diajak kerja sama hanya bisa menghela napas. Muridnya yang satu ini benar-benar membuatnya tidak berdaya.


"Huh, kau pikir kau pantas mendapat rasa hormatku? Kau bermimpi! Hanya orang-orang tertentu yang berhak mendapat rasa hormatku!"


Arya mendengus dingin, lalu menunjukkan senyum mengejek.


Kepala Kepolisian berkedut dan sangat ingin menampar Arya. Namun, dia tidak bisa melakukannya karena itu tidak sesuai dengan pekerjaannya sebagai polisi.


"Cukup, Nak. Bersikaplah serius. Benarkah kau membunuh, atau tidak? Selain itu, ada seseorang yang mengaku sebagai pengawal pribadi Putri Inggris. Apakah dia yang bersamamu membunuh para penculik itu?"


Kepala Kepolisian sebelumnya bertemu dengan Luois dan setelah mendapat laporan jika Arya datang bersama seorang pria dan membunuh para penculik itu, dia tidak bisa untuk tidak memikirkan Luois.


"Ya, pria yang kau maksud mungkin Luois. Dia dan aku adalah pengawal pribadi Putri Inggris. Putri Inggris berhasil diculik karena kelalaianku dan Luois, jadi kami berdua langsung datang dan menyelamatkannya. Aku tidak membunuh, tapi beda cerita dengan Luois. Dia terpaksa membunuh karena demi keselamatan kami berdua dan Putri Inggris. Para penculik itu mengancam akan membunuh korban jika kami tidak menyerah, tahu?"


Arya berkata dengan penuh percaya diri. Dengan menjual nama Putri Inggris dan Luois, dia memiliki beberapa keyakinan jika dia bisa lepas dari polisi. Selain itu, dia agak kesal pada Luois. Dia berharap pria itu datang dan membantunya, namun pria itu malah menghilang entah ke mana.


"Nak, jangan berbohong. Kau pengawal pribadi Putri Inggris? Huh, lihatlah wajah dan nada bicaramu. Kau jelas-jelas bukan orang barat!"


Arya menepuk dahinya karena kebodohannya. Dia mencoba berbohong jika dia pengawal Putri Inggris, namun dia lupa jika wajahnya dan wajah orang barat memiliki banyak perbedaan.


Setelah itu, interogasi dilanjutkan dengan Arya terus-menerus membantah jika dia tidak membunuh. Dia terus-menerus meminta bukti pembunuhan.


"Permisi."


Ketika sedang mengintrogasi Arya, seseeorang tiba-tiba datang dan masuk begitu saja ke dalam ruangan tersebut, mengejutkan semua orang yang berada di sana.


Melihat ke sumber suara, Kepala Kepolisian agak terkejut sementara mata Arya berbinar dengan kegembiraan.


"Luois!" Arya berkata dengan nada rendah, gembira. Akhirnya orang yang dia harapkan datang.


"Maaf, Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?"


Kepala Kepolisian bangkit dari tempatnya dan menuju tempat Luois berdiri.


"Ya, Tuan. Ini masalah bocah itu."


"Oh, bocah ini? Apakah Anda mengenalnya, Tuan? Maaf sebelumnya, tapi saya mendapat laporan jika Anda dan bocah ini datang bersama dan membunuh para penculik itu. Apakah itu benar, Tuan?"


"Siapa melaporkan hal itu?" Luois mengerutkan dahinya, tidak senang karena ada orang yang mengacaukan segalanya.


"Para gadis ini yang melapor, Tuan."


Kepala Kepolisian menunjuk pada empat gadis itu, kemudian meminta mereka menjelaskan apa yang mereka lihat dan laporkan padanya.


Mendengar penjelasan para gadis itu, Luois diam. Dia sebenarnya agak kesal dan sedikit tidak menyangka jika para gadis ini masih sempat memperhatikannya di saat-saat mereka sedang diculik.


Selain itu, para gadis ini selamat berkatnya dan Arya, jadi kenapa mereka malah melaporkannya dan bukannya berterima kasih? Luois tidak senang dengan ini.


Memutar otaknya sejenak, Luois berkata.


"Sedikit rumit untuk menjelaskan hubunganku dengan bocah itu. Tapi yang jelas, dia tidak membunuh. Hanya aku yang membunuh. Dia kebetulan datang juga untuk menyelamatkan kekasihnya, jadi aku meminta bantuannya untuk membantuku menyelamatkan Putri Inggris agar penyelamatan berjalan lebih cepat."


"Oh, bisakah Anda jelaskan kejadiannya? Selain itu, bagaimana bocah ini membantu Anda? Bukankah dia hanya menjadi beban?"


"Tidak, dia bukan beban. Sebenarnya dia cukup baik dan dia sepertinya paham beberapa teknik bela diri, jadi dia cukup membantu."


Luois berkata dengan penuh omong kosong. Dia kemudian menjelaskan banyak kejadian dan menutupi jika Arya membunuh sebisa mungkin. Dia mengarang cerita agar Arya terlepas dari jeratan polisi.


Arya yang mendengar Luois merasa lega. Sepertinya dia akan lepas dari jeratan polisi sebentar lagi.


Mendengar cerita Luois, empat gadis itu sangat tahu jika yang dikatakan pria ini omong kosong. Namun, tidak ada yang berani membantahnya. Mereka semua takut.


Adapun Tuti, dia merasa curiga namun dia mengabaikannya kecurigaannya.