Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 82 - Kenangan bersama Lylia VI



Di sisi lain, Lucy yang melihat Arya melamun menatapnya dengan prihatin. Dia jelas memahami apa yang ada dipikiran Arya saat ini.


Lucy sangat ingin membantu, tapi mengingat permusuhan Arya padanya, dia yakin Arya hanya akan semakin membencinya. Tapi, itu tidak menghalanginya untuk tetap mendekati Arya dan memperbaiki hubungannya dengan pemuda tersebut.


"Arya, mau makan siang bersamaku? Aku dengar ada menu nasi kare yang sangat enak, lho. Ayo kita ke kantin dan mencobanya, ya?"


Dengan nada lembutnya, Lucy tersenyum manis pada Arya, seakan kata-kata tajam Arya tadi tidak menyakitinya sama sekali.


Arya meliriknya dan menghela napas.


"Apakah Anda lupa tentang apa yang saya katakan tadi? Bukankah saya sudah mengatakan pada Anda untuk menjauhi saya?"


"I-itu... Aku mengingatnya, tapi aku ingin makan siang bersamamu. Satu kali ini saja, kumohon."


"Tidak, saya masih memiliki hal lain yang harus saya urus."


Arya berdiri, melewati Lucy dan meninggalkannya.


Lylia, yang masih di dalam kelas itu menatap Lucy dengan kasihan. Dia sudah mendengar jika Lucy dan Arya adalah teman masa kecil, tapi apa yang dia lihat tidak seperti yang dia dengar.


Menghela napas pelan, Lylia mendekati Lucy.


"Lucy, kan? Apakah Arya mengabaikanmu lagi?"


"Eh? Lylia? Y-ya, begitulah. Aku mengajaknya makan siang bersamaku, tapi dia menolak." Lucy tersenyum masam.


"Um... Lucy, jika tidak keberatan, bagaimana jika aku membantumu? Aku akan mengajak Arya makan siang dan mentraktirnya, tapi aku juga mengajakmu. Bagaimana, apakah itu tidak masalah?"


"Itu bukan ide yang buruk. Tapi, kenapa kau harus mentraktir Arya?"


"Apakah kamu belum tahu? Arya berkelahi karena aku."


Lylia kemudian menjelaskan secara singkat alasan Arya berkelahi.


Lucy terkejut mendengar ini, tidak menyangka jika Arya berkelahi karena Lylia.


"Jadi, bagaimana? Apakah kau setuju dengan ideku, Lucy?"


Lucy mengerutkan dahinya, ekspresi berpikir terlihat di wajahnya.


Setelah diam cukup lama, Lucy setuju dengan ide Lylia. Yang terpenting baginya adalah bisa makan siang bersama Arya.


*****


"Arya, tunggu!"


Sebuah suara terdengar dari belakang.


Arya yang sedang berjalan di koridor berhenti dan menoleh, melihat Lylia mengejarnya.


"Apakah kau ada perlu denganku?"


Arya bertanya dengan dingin. Dia ingin menjauh dari gadis ini, tapi gadis ini selalu menempel padanya. Ini membuatnya agak tidak senang.


Lylia tersenyum ringan dan berkata.


"Arya, kamu belum makan siang, kan? Bagaimana jika kita makan siang bersama? Tenang saja, aku yang traktir. Anggap saja ini ucapan terima kasih karena sudah menolongku tadi."


Arya agak terkejut. Dia memang ingin menjauh dari gadis ini, tapi ketika dia mendengar dirinya akan ditraktir, dia jadi sulit untuk menolaknya.


Ekonomi keluarganya tidak terlalu baik, jadi Arya ingin menghemat uangnya sebaik mungkin agar tidak merepotkan ibunya. Jadi, jika Lylia mentraktirnya, itu sama saja menghemat uangnya.


Tanpa ragu, Arya mengangguk.


Lylia tersenyum manis mendengar ini.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambil dompetku di kelas."


Lylia berkata, berbalik dan kembali ke kelas.


Dia sudah berjanji pada Lucy untuk membantunya agar bisa makan siang bersama Arya, jadi dia harus kembali ke kelas untuk mengabarinya. Dia melakukan ini sepenuhnya karena rasa simpatinya pada Lucy.


Dia prihatin karena gadis secantik Lucy terus-menerus diabaikan oleh Arya.


*****


"Kenapa dia ada di di sini?"


Duduk di meja, Arya meletakkan dagunya di tangannya yang bertumpu pada meja sementara tangannya yang lain mengetuk dengan kesal.


Di hadapannya, duduk dua orang gadis cantik. Satu berambut putih keperakan sedangkan lainnya berambut hitam.


Secara alami, keduanya adalah Lylia dan Lucy.


Lylia tersenyum masam mendengar keluhan Arya, sementara Lucy tersenyum tanpa daya.


"Aku bertemu Lucy di kelas saat mengambil dompet tadi, jadi aku mengajaknya. Tidak masalah bukan, Arya?"


Lylia berkata dengan lembut, seakan membujuk Arya.


Arya mengerutkan dahinya dan ekspresi berpikir terlihat di wajahnya.


Lucy memperhatikan ini dan menelan ludah dalam tegukan. Dia merasa gugup, takut Arya keberatan dan mengusirnya.


Setelah diam dan berpikir cukup lama, Arya menghela napas pasrah dan mengangguk.


"Ya, tidak masalah jika ada tambahan orang. Lagipula, aku ditraktir di sini, jadi aku tidak bisa menolak jika kau ingin mengajak orang lain, Lylia."


Arya menatap Lylia dan berkata demikian.


Dia sedang ditraktir Lylia dan dia tidak ingin mengalami kerugian, jadi dia lebih memilih berdamai dengan Lucy sesaat agar mendapat keuntungan.


Lylia mengangguk setuju dengan ini, sementara Lucy tersenyum bahagia.


Setelah itu, Arya dan Lucy memesan nasi kare yang cukup terkenal sementara Lylia hanya memesan kue stroberi dan secangkir teh.


Mereka bertiga makan dengan mengobrol riang, namjn terkadang Arya dan Lucy bertengkar sedikit, tapi itu bukan masalah besar.


Para siswa lainnya yang melihat Arya dan Lylia serta Lucy makan siang di meja yang sama merasa iri, terutama para pria.


Lylia dan Lucy adalah gadis yang sangat cantik, jadi tentu saja, bisa makan siang bersama dua orang seperti mereka merupakan keberuntungan yang sangat bagus.


*****


Tanpa terasa, satu bulan berlalu dengan cepat.


Semua siswa ajaran baru di SMA Daeil sudah beradaptasi dengan baik.


Dalam masa satu bulan ini, ada sebuah kejadian yang cukup menarik, yaitu penentuan siapa gadis paling cantik di seluruh SMA Daeil. Tentunya, yang menentukan adalah para pria, karena pria pada dasarnya selalu tertarik pada hal-hal semacam ini.


Setelah penentuan selama tiga hari, para siswa tahun pertama hingga tahun ketiga menyetujui bahwa gadis tercantik nomor satu adalah Lylia dari kelas 1-1.


Setelah Lylia, Lucy berada diurutan kedua tercantik di seluruh SMA Daeil sementara orang ketiga tercantik merupakan seorang guru muda, yang bisa dibilang guru baru.


Di dalam kelas 1-1, ketika jam pelajaran belum di mulai, Arya dan Lylia terlihat sedang mengobrol dengan santai. Keduanya duduk berhadapan di pojok kelas, di tempat di mana itu adalah bangku Arya.


Jadi, jelas Lylia yang menghampiri Arya untuk mengajaknya mengobrol.


Para pria menatap Arya dengan iri dan cemburu. Beberapa bahkan menunjukkan permusuhan.


Tentu saja, ini semua karena Lylia terlalu cantik dan dia mau berteman dekat dengan Arya. Meski tampang Arya tidak buruk, tapi di seluruh SMA Daeil ini, dia bahlan tidak memasuki top sepuluh pria paling tampan. Oleh karena itu, banyak yang mengatakan jika Arya sangat beruntung.


Belum lagi Lylia, Lucy yang merupakan seorang gadis paling cantik kedua bahkan merupakan teman masa kecil Arya, jadi kecemburuan dan rasa iri padanya sangat kuat.


Arya hanya bisa pasrah dan mengabaikan semua kecemburuan orang-orang. Dia sebenarnya sangat tidak nyaman dengan kehadiran Lylia di dekatnya. Dia awalnya ingin menjauh dari gadis ini, tapi sayangnya gadis ini selalu mencarinya dan menempel padanya, mengajaknya mengobrol dan makan siang tanpa henti selama satu bulan ini.