
Akhirnya, setelah mencari sebentar, Arya dan Lucy tiba di ruang kelas mereka.
Arya terlihat acuh tak acuh ketika melihat kelas barunya, sementara Lucy terlihat gugup dan sedikit kebingungan dan sedikit takut.
Apa yang membuat Lucy takut adalah dia takut salah berbicara ketika memperkenalkan dirinya nanti. Dia juga takut teman-teman barunya menatapnya dengan aneh ketika masuk ke kelas nanti.
Menghela napas pelan, Lucy menenangkan dirinya lalu menatap Arya.
"Arya, bagaimana perasaanmu? Aku sedikit gugup di sini. Aku takut salah bicara saat berkenalan nanti. Jadi, maukah kamu membantuku berkenalan nanti?"
Lucy bertanya dengan pelan, matanya menunjukkan harapan besar pada Arya.
Namun, balasan Arya membuatnya sakit hati.
"Saya tidak peduli dengan urusan Anda, urus saja urusan Anda sendiri. Jangan membuat saya repot." Kata Arya dingin.
Setelah mengatakan kata-kata formal itu, Arya masuk ke dalam kelas diikuti oleh Lucy yang tampak sedih.
Ketika keduanya memasuk kelas, seluruh siswa yang sudah berada di dalam menatap mereka dengan rasa penasaran.
Para pria menatap Lucy dengan terpesona, karena kecantikannya. Sedangkan para gadis menatap Arya, melihatnya dari atas sampai wajah, seakan sedang menilainya.
Tentu saja, para gadis yang menatap Arya ada yang sedikit berminat padanya, sementara lainnya terlihat acuh tak acuh.
Adapun Lucy, dia pada dasarnya cantik, jadi dia sangat menarik perhatian para pria.
Dalam sekejap, Lucy dikerumuni pria dan gadis, bertanya dengan penuh minat.
Ada dua atau tiga gadis yang menghampiri Arya dan mengajaknya berkenalan, tapi dia hanya memberikan tatapan dingin pada para gadis itu dan mengabaikan mereka semua.
Karena itu, beberapa orang menganggap Arya adalah orang yang dingin.
Setelah lima belas menit, seorang guru wanita memasuki kelas dan memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas di kelas 1-1 ini. Dia juga menjelaskan tentang beberapa peraturan wajib ketika dia mengajar.
Setelah penjelasan singkat, guru tersebut meminta para siswanya untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.
Tentu saja, semua siswa menanggapinya dengan baik. Mereka memperkenalkan diri dengan penuh semangat. Beberapa pria muda memperkenalkan diri mereka dengan bangga, jelas memiliki niat untuk menarik perhatian para gadis.
Setelah perkenalan selesai, terlihat ada empat orang siswa yang menonjol dan menarik perhatian saat memperkenalkan diri mereka.
Orang pertama merupakan seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut putih keperakan, Lylia. Dia memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri dan dia juga mengatakan jika dia adalah anak dari seorang CEO terkenal.
Mendengar fakta ini, para pria muda yang ingin mendekati Lylia seketika sadar diri dan langsung mundur.
Orang kedua adalah Lucy. Dia memperkenalkan diri dengan baik tanpa salah bicara. Dia memiliki wajah cantik dengan lekuk tubuh yang ideal. Apalagi dadanya memiliki ukuran yang lebih besar daripada gadia seusianya, jadi dia jelas menjadi incaran para pria muda di dalam kelasnya.
Orang ketiga adalah seorang pemuda dengan wajah tampan, William. Namun, meski dia tampan, tapi sikapnya agak narsis dan dia selalu membanggakan dirinya secara berlebihan, membuat beberapa orang jijik mendengar perkenalannya.
Dan orang terakhir tidak lain dan tidak bukan adalah Arya.
Di saat para siswa lainnya memperkenalkan diri dengan berdiri agar terlihat seluruh teman sekelasnya, Arya justru tetap duduk di bangkunya dan memperkenalkan diri dengan acuh tak acuh. Dia bahkan hanya mengatakan namanya saja.
Karena hal ini, sebagian banyak orang menganggap Arya adalah orang yang sombong. Dia juga memiliki tatapan dingin, jadi orang-orang agak kehilangan minat untuk berteman dengannya.
Setelah sesi berkenalan selesai, guru wanita tersebut meninggalkan kelas agar para siswa bisa mengobrol dan berteman.
Lylia juga bernasib sama, mungkin karena identitasnya sebagai putri dari CEO, membuat orang-orang segan untuk mengobrol bersamanya.
Menatap Lucy yang dikerumuni banyak orang, Arya mendecakkan lidahnya.
"Wah, sungguh hebat. Setelah dia mengkhianati seseorang, dia masih bisa memiliki banyak teman. Aku kasihan dengan mereka yang menjadi temannya."
Arya bergumam, nadanya dipenuhi kebencian.
Seperti yang dia katakan, dia mengejek Lucy mengkhianatinya.
Arya berkata seperti ini bukan tanpa alasan. Pada saat dia pindah dari kota Century ke kota Bern, Arya dan Lucy yang memasuki masa pubertas itu sudah saling menyukai sejak kecil. Tapi karena Arya pindah, mereka jarang bertemu dan hanya bisa saling mengobrol melalui telepon.
Pada suatu saat, pada tahun kedua SMP, Arya melihat Lucy mengunggah sebuah foto di sosial medianya. Di dalam foto tersebut, terlihat Lucy bersama seorang pemuda seusianya. Mereka terlihat mesra dalam foto itu, membuat Arya sangat terkejut.
Oleh karena itu, Arya sakit hati dan merasa dikhianati. Dia dan Lucy sudah saling menyukai sejak kecil, bahkan saat mereka berusia lima tahun, mereka membuat janji jika mereka akan menikah jika sudah dewasa nanti.
Arya menganggap serius janji tersebut, tapi setelah melihat foto Lucy bersama orang lain, dia kecewa dan menganggap Lucy hanya mempermainkan janjinya. Dia sepenuhnya yakin jika Lucy berpacaran dengan pemuda di dalam foto tersebut.
Oleh karena itu, Arya memusuhi Lucy sejak saat itu dan selalu bersikap dingin serta cara bicaranya berubah jadi formal sepenuhnya.
Lucy terkejut dengan perubahakan sikap Arya yang secara tiba-tiba. Dia bertanya-tanya pada Arya, tapi dia selalu mendapat jawaban dingin dari Arya.
Setelah mencari tahu, Lucy akhirnya sadar apa yang membuat Arya berubah. Dia lalu segera menjelaskan pada Arya, tapi Arya sama sekali tidak mempercayainya.
Meski sudah menjelaskan puluhan kali, Arya tetap tidak percaya.
Apa yang tidak Arya ketahui adalah foto tersebut bukan Lucy yang mengunggahnya, melainkan temannya yang jahil.
Karena temannya itu, hubungan Arya dan Lucy jadi berantakan.
Selain itu, Lucy sebenarnya tidak memiliki hubungan apapun dengan pemuda yang ada di foto itu. Dia juga hanya menyukai dan mencintai Arya, dia tidak mempermainkannya dan selalu serius tentang janjinya itu.
Jadi, pada dasarnya, hubungan buruk yang terjadi antara dirinya dan Arya semuanya sepenuhnya terjadi karena kesalahpahaman Arya.
Menatap Lucy cukup lama, Arya menghela napas berat. Mungkin dia terlihat dingin dan formal pada Lucy. Tapi sebenarnya, dia masih mencintainya seperti dulu. Namun, karena kesalahpahamannya itu, dia bertekad untuk melupakan Lucy meski hal itu sangat sulit untuk dilakukan.
Di sisi lain, ketika Lucy mengobrol dengan beberapa teman barunya, seorang gadis berambut pendek tiba-tiba melirik Arya yang menatap Lucy, seakan dia merasakan tatapan Arya.
Gadis berambut pendek itu lalu bertanya pada Lucy.
"Lucy, maaf sebelumnya. Tapi, apakah kau dan Arya saling kenal? Kalian memasuki kelas bersamaan tadi. Arya juga menatapmu terus-menerus dari tadi."
Mendengar pertanyaan ini, Lucy agak terkejut. Para pria di sekeliling juga terlihat menunggu jawaban dari Lucy. Mereka semua mendekati Lucy dengan tujuan yang jelas, jadi jika Arya kenal dengan Lucy, mereka kemungkinan hanya memiliki kesempatan kecil untuk merebut hatinya.
Segera, Lucy langsung menatap Arya yang duduk di pojok kanan belakang.
Arya, yang matanya bertemu dengan Lucy seketika terkejut dan langsung buang muka. Telingat memerah karena malu.
Lucy seketika merasa sangat bahagia. Pada pagi ini tadi, dia selalu mendapat sikap dingin dari Arya, tapi setelah mengetahui bahwa Arya mengawasinya secara diam-diam, dia jadi sangat bahagia.
Tersenyum lembut, Lucy menjawab dengan suara yang jelas dan wajah yang merona.
"Ya, aku dan Arya saling kenal. Kami teman masa kecil."