Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 77 - Kenangan bersama Lylia



Um... Karena flashback Arya-Lylia panjang dan saya yakin bakal banyak yang bosan dengan flashback ini, buat yang males ngikutin flashback-nya silakan skip ke chapter 125 - Kunjungan Tak Terduga.


Di chapter 125 cerita sudah berfokus pada Arya-Lucy lagi dan flashback Arya-Lylia sudah selesai di chapter 124 - Perpisahan.


Maaf sekali karena flashback Arya-Lylia terlalu panjang. Mr. A.N khilaf waktu nulis flashback Arya-Lylia... :)


.


.


.


.


.


.


.


Sudah satu minggu lebih sejak Arya selalu berada di rumahnya.


Selama masa ini, Arya sangat bosan di rumah. Dia tidak memiliki banyak teman, jadi jika dia ingin pergi ke rumahnya temannya, dia hanya bisa memilih beberapa. Juga, karena pilihannya sedikit, Arya lebih sering berkunjung ke rumah Niko untuk mengobrol bersama temannya itu, untuk menghabiskan waktu.


Tapi, karena kejadian aneh dengan Yuki ketika dia diundang makan malam dan nonton film, Yuki terkadang memintanya untuk menginap, atau Yuki akan lebih sering meminta waktu berdua dengannya.


Arya agak kewalahan dengan ini, karena Niko selalu memarahinya karena ibu dari temannya itu terlalu dekat dengannya.


Berbaring di kasurnya, Arya menatap langit-langit kamarnya, melamun. Dia habis makan malam bersama Erwin dan Emily, semua pekerjaan rumah dari sekolah juga sudah dia kerjakan. Dia ingin melakukan panggilan video dengan Lucy, tapi ternyata kekasihnya itu sedang belajar, jadi dia tidak ingin mengganggunya.


Pada dasarnya, Arya tidak ada kerjaan sama sekali saat ini.


Mengingat beberapa kejadian konyol di masa lalu, Arya sesekali tertawa kecil atau tersenyum ketika dia ingat dirinya menjahili Lucy hingga menangis dulu.


Tak jarang Arya juga tersenyum masam dan menutupi wajahnya saat banyaknya kenangan memalukan tentang dirinya terlintas di benaknya.


Perlahan, waktu berjalan dengan cepat, sampai Arya tiba-tiba mengingat sosok yang pernah dia cintai.


"Ya ampun, dari sekian banyak orang, kenapa aku harus mengingat wajahnya?"


Arya tertawa pahit, terdengar sedikit penyesalan dalan tawanya.


Secara alami, wajah orang yang Arya ingat tidak lain adalah pacar pertamanya, atau lebih tepatnya disebut mantan pertamanya.


Pacar pertama Arya bernama Lylia. Dia berpacaran dengan Lylia selama kurang lebih empat bulan, sampai akhirnya mereka berdua putus karena suatu alasan.


Menghela napas, Arya tersenyum pahit.


"Jika diingat kembali, aku sangat kejam dulu. Aku pacaran dengan Lylia agar bisa melupakan Lucy dan aku hanya memanfaatkan uangnya saat itu. Ugh, bagaimana bisa aku menjadi bajingan seperti itu, ya?"


Arya terdengar menyesal.


"Juga, aku setidaknya menghabiskan uang Lylia lebih dari seratus juta, kan? Aku harus mengembalikannya jika aku memiliki kesempatan."


Pacar pertamanya, yaitu Lylia, merupakan seorang anak dari CEO terkenal, jadi wajar jika dia kaya raya.


Oleh karena itu, Arya sering memanfaatkan uangnya, untuk berbagai macam kepentingan pribadinya.


Selain itu, Arya berpacaran dengan Lylia tanpa mencintainya sama sekali. Dia berpacaran berbulan-bulan, tapi hatinya tetap milik Lucy pada akhirnya.


Tapi, di saat-saat terakhir sebelum putus, perasaan cinta mulai tumbuh dan akhirnya, Arya mulai mencintai Lylia.


Setelah mengenang sedikit masa lalunya dengan Lylia, perasaan Arya hanya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan. Bukan menyesal karena putus dengan Lylia, tapi menyesal sudah memanfaatkannya dan menipu cintanya.


Vicky, yaitu ayah Arya adalah seseorang yang pernah menipu cinta ibunya, Rosa. Jadi, dia jelas membencinya. Namun, tanpa dia sadari, dia juga ternyata pernah menipu cinta seseorang. Inilah yang menyebabkannya merasa bersalah, merasa bersalah pada Rosa, karena pada dasarnya, Arya telah berjanji untuk tidak menjadi seperti Vicky.


"Baiklah, sudah cukup. Jangan mengingat masa lalu lagi."


Arya menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan Lylia, berusaha menyingkirkannya dari benaknya.


Setelah lebih dari sepuluh menit, Arya tetap tidak bisa menyingkirkan wajah cantik Lylia dari benaknya.


*****


Murid baru, seragam baru, teman baru, guru baru serta lingkungan baru. Semua murid tahun pertama yang berhasil lulus dan masuk ke SMA Daeil merasa sangat bahagia, karena SMA ini merupakan salah satu sekolah yang cukup terkenal dan bergengsi di seluruh kota Century.


Di gerbang masuk, banyak siswa-siswa, entah tahun pertama hingga tahun ketiga, semuanya memasuki halaman sekolah dan menuju gedung sekolah. Banyak dari mereka berjalan kaki, tapi ada juga yang menggunakan kendaraan.


Ketika para siswa memasuki gerbang, sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti tepat di depan gerbang, membuat para siswa lainnya berhenti dan memperhatikan mobil mewah tersebut dengan rasa penasaran.


Beberapa dari siswa mungkin sudah melihat mobil mewah yang berhenti di depan gerbang SMA Daeil, tapi mobil kali ini, itu benar-benar mewah dan mengalahkan semua yang ada.


Turun dari kursi sopir merupakan seorang pria tinggi dan kekar dengan jas dan kacamata hitam. Pria tersebut jelas merupakan seorang sopir.


Pria kekar berkacamata tersebut kemudian membukakan pintu penumpang.


Setelah pintu terbuka, sebuah kaki ramping dan putih bagai susu terlihat, menunjukkan bahwa penumpang mobil ini merupakan seorang wanita.


Para pria muda di sekitar segera menunjukkan ekspresi serakah saat mereka melihat kaki ramping ini. Mereka semua sangat penasaran, jika kakinya saja sudah seindah ini, wajahnya seperti apa?


Imajinasi para pria muda mulai berkeliaran dengan hebat.


Perlahan, setelah kaki ramping seputih salju itu muncul, sosok seorang gadis terlihat.


Melihat sosok gadis itu, para pria muda ternganga, tidak dapat mempercayai mata mereka.


Gadis yang mereka lihat, yang turun dari mobil mewah itu sangat cantik, baik wajahnya ataupun tubuhnya.


Gadis tersebut memiliki wajah yang sangat cantik, dengan mata indah serta rambutnya yang berwarna putih keperakan itu menjadi hal yang paling menonjol darinya.


Lekuk tubuh gadis itu juga sangat bagus, sehingga bisa membuat wanita manapun di dunia ini iri padanya. Gadis itu memiliki dada yang tidak terlalu kecil, tapi tidak terlalu besar, pinggangnya ramping serta kaki panjangnya itu begitu indah.


Mengibaskan rambutnya, gadis itu tersenyum tipis pada siswa-siswa di sekitarnya, membuat semua orang, tidak peduli pria ataupun wanita terpesona oleh kecantikan gadis tersebut.


Banyak dari pemuda ingin mendekati gadis berambut putih keperakan tersebut, tapi karena gadis tersebut dijaga oleh sopirnya, mereka semua kehilangan minat dan tidak berani mendekatinya untuk saat ini.


*****


Di koridor sekolah, dua orang terlihat sedang berjalan bersama, satu pria sementara lainnya adalah seorang gadis cantik.


Keduanya berjalan bersama, hendak memasuki kelas.


"Arya, kita satu kelas, lho. Ini membuatku ingat saat kita di sekolah dasar dulu."


Gadis tersebut, Lucy, tersenyum manis pada pemuda di sebelahnya, yang secara alami adalah Arya.


Mendengar ini, Arya hanya meliriknya sejenak dan mendengus dingin, mengabaikannya.


Lucy tersenyum pahit dengan ini, hatinya terasa sakit.


Pada saat ini, hubungan keduanya bisa dibilang cukup buruk, karena Arya memusuhi Lucy karena suatu alasan. Bahkan, saking parahnya dia memusuhi Lucy, dia selalu berbicara formal dengannya, bersikap seakan dia baru mengenal Lucy.


Mempercepat langkahnya, Arya meninggalkan Lucy di belakang.


Lucy terkejut dan ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menelan kembali ucapannya dan mengejar Arya.


.


.


.


.


.


Mulai dari chapter ini akan diisi dengan flashback antara Arya dan Lylia. Lucy juga akan muncul, tapi jarang. Selain itu, flashback kali ini akan menjadi flashback yang panjang, jadi enjoy


reading~.