
Arya tanpa sadar menelan ludah ketika rasa penasaran sekaligus gugup memenuhi hatinya.
Melihat reaksi Arya, Marissa tertawa kecil.
"Baiklah, biar kuperjelas kejutan yang akan kuberikan. Singkatnya, aku, Marissa sang Putri Inggris ingin mengundangmu, Arya, ke kerajaan Inggris!"
Marissa berkata, sedikit bersemangat dalam nadanya dan matanya menunjukkan kebanggaan.
Arya dan Lucy terdiam mendengarnya. Mata mereka melebar hingga hampir keluar dari rongganya dan mulut mereka terbuka lebar saking terkejutnya.
'A-apa aku salah dengar? Bagaimana mungkin aku diundang ke kerajaan Inggris?'
Arya kebingungan, otaknya seketika kosong dan dia sempat menyalahkan telinganya karena mungkin saja dia salah dengar.
Lucy juga memiliki ekspresi sama seperti Arya. Wajahnya sepenuhnya terkejut dan dia jelas tidak percaya dengan apa yang dikatakan Marissa.
"Bi-bisakah kau katakan itu lagi, Marissa? Aku sepertinya salah dengar di sini."
"Kamu tidak salah dengar, Arya. Apa yang kamu dengar adalah apa yang aku katakan." Marissa tertawa kecil melihat reaksi terkejut Arya dan Lucy.
Arya dan Lucy terdiam, mereka benar-benar tidak mempercayai ini, terutama Arya.
Siapa dia sehingga bisa mendapat undangan ke kerajaan? Belum lagi yang mengundangnya adalah sang Putri Inggris itu sendiri!
Menenangkan dirinya yang terkejut, Arya mengerutkan dahinya dengan erat dan memutar otaknya dengan keras. Dia sedang memikirkan tentang undangan dari Marissa.
Marissa tetap diam dan menatap Arya dengan sabar. Dia tahu jika apa yang dia katakan pada Arya tentu mengejutkan dan perlu waktu bagi pemuda itu untuk berpikir.
Setelah waktu yang cukup lama, Arya menghela napas panjang. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Marissa dengan serius.
"Pertama-tama, aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas undangan yang telah kau berikan padamu, Marissa. Namun, dengan berat hati, aku sepertinya harus menolak untuk menghadiri undanganmu itu. Bukannya aku merendahkan atau menghinamu sebagai Putri Inggris, namun aku memiliki alasanku tersendiri mengapa aku harus menolak."
Dengan nada tegasnya, Arya berkata demikian dan menolak undangan dari Marissa.
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut, terutama Marissa. Dia tidak mengharapkan jika undangan yang dia sampaikan secara pribadi akan ditolak seperti ini. Terbesit sedikit rasa kesal dalam hati Marissa ketika Arya menolak undangannya.
Di sisi lain, Lucy melebarkan matanya dan mulutnya menganga, sama terkejutnya dengan Marissa. Wajahnya segera menjadi pucat dan keringat menetes dari wajahnya.
Dengan menolaknya Arya, bukankah itu penghinaan bagi Marissa? Itulah yang terlintas di benak Lucy dan dia takut Arya telah menyinggung Marissa.
"Kau...!"
Luois hampir mengeluarkan rasa kesalnya, namun dia segera terdiam karena Marissa mengangkat tangannya dan memberinya isyarat untuk berhenti.
Luois jelas menurut, namun dia masih merasa kesal tentang penolakan yang Arya lakukan.
"Bisakah kamu memberitahuku alasanmu menolak undanganku?"
"Itu... Agak sulit menjelaskannya, tapi jujur saja aku memiliki janji dengan adik dan ibuku. Setelah study tour ini, aku berniat mengajak mereka liburan dan aku memiliki beberapa rencana lainnya yang akan aku lakukan dalam waktu dekat. Jadi, sekali lagi, aku benar-benar menyesal karena harus menolak undanganmu, Marissa."
Arya menjelaskan dengan sedikit menyesal. Dia sebenarnya ingin pergi ke Inggris dan ikut Marissa ke kerajaan Inggris, melihat bagaimana kerajaan yang sebenarnya dan dia juga ingin mengetahui gaya hidup para orang barat.
Namun, mengingat janjinya dengan Rosa dan Andhika, sepertinya Arya harus mengubur dalam-dalam rasa penasarannya itu. Baginya, janjinya dengan Rosa dan Andhika lebih penting daripada pergi ke Inggris bersama Marissa.
Mendengar alasan Arya, Marissa sedikit terkejut namun dia segera memahami keadaan Arya. Dia tentu tidak bisa memaksa karena Arya sendiri sudah memiliki janji dengan keluarganya. Rasanya tidak nyaman jika harus mengganggu quality time seseorang.
Selain itu, Marissa mengerti jika menghabiskan waktu bersama keluarga lebih penting daripada apapun.
Menghela napas ringan, Marissa bangkit dari duduknya dan mendekati Arya yang sedang duduk di ranjang rumah sakitnya. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada Arya.
"Aku mengerti kondisimu, Arya. Namun, jika kamu berubah pikiran, silakan hubungi aku. Ini kartu namaku, di sana ada nomor dan emailku, jadi kamu bisa menghubungiku kapan saja. Aku masih akan berada di negara ini sekitar satu minggu lagi, jadi selama masa itu, kamu bisa menghubungiku jika kamu sudah berubah pikiran."
Marissa menyerahkan kartu namanya. Meski dia tidak ingin menganggu janji Arya dengan keluarganya, namun dia tetap berusaha mengundang Arya untuk datang ke kerajaan Inggris bersamanya.
Arya tentu menerima kartu nama tersebut dan setelah itu, Marissa pergi bersama Luois dan pelayan wanitanya setelah mengucapkan beberapa hal pada Arya dan Lucy.
Kembali pada Arya dan Lucy, keduanya saling menatap lalu tersenyum masam secara bersamaan.
"Aku tidak menyangka ini. Putri Inggris mengundangku datang ke kerajaan Inggris? Aku pasti bermimpi!"
"Kamu benar, Arya. Aku juga tidak menyangka hal ini akan terjadi pada kita. Ngomong-ngomong, apakah kamu benar-benar akan menolak undangan Marissa? Aku sarankan padamu untuk memikirkannya lagi. Aku tahu ini bukan hakku untuk memaksamu, tapi ada baiknya kamu pergi ke Inggris bersama Marissa. Aku takut jika kamu menolak, kamu bisa saja menyinggung Marissa dan mungkin saja akan terjadi sesuatu yang buruk padaku."
Lucy mengingatkan dengan serius. Dia jelas tidak ingin Arya mendapat masalah karena menolak undangan Marissa, jadi dia menyarankan demikian.
Arya tertegun sejenak, lalu mengerutkan dahinya.
"Tapi bagaimana dengan janji dengan Andhika? Lucy, aku yakin kamu tahu aku akan lebih mengedepankan keluargaku daripada hal lainnya."
"Aku mengerti itu, Arya. Tapi coba kamu pikirkan lagi. Siapa Marissa dan latar belakang macam apa yang dia miliki? Jika karakter besar sepertinya tersinggung, bukankah itu kerugian bagi kita? Aku mohon padamu untuk memikirkannya dengan matang-matang, Arya."
Lucy dengan serius berkata, menggenggam tangan Arya dengan lembut, mencoba meluluhkan hati Arya.
Arya diam lama setelah mendengar Lucy. Dia berpikir sejenak kemudian berkata.
"Baiklah, mungkin aku bisa memikirkannya lagi. Mungkin bukan hal yang buruk untuk pergi ke Inggris."
Arya akhirnya terbujuk, membuat Lucy menghela napas lega dan matanya berbinar senang.
"Um, itu yang seharusnya kamu lakukan!"