
Di depan ruang kepala sekolah, Arya mengetuk pintu dengan tangannya yang ada sedikit noda darah. Wajahnya memar dan napasnya terengah-engah. Dia baru saja selesai berkelahi dengan beberapa orang dan segera melarikan diri ke ruang kepala sekolah setelah selesai berkelahi.
Dia tadi berkelahi cukup parah, di mana dirinya menginjak punggung seorang gadis di hadapan banyak orang. Dia juga berkelahi dengan beberapa orang.
Semuanya bermula dari gadis tahun ketiga yang menyinggung tentang ibunya, membuatnya marah. Sepertinya, karena Guru James membongkar rahasia keluarganya, banyak orang jadi mengetahui bagaimana keluarganya sebenarnya.
Ini membuat Arya sangat marah dan mengutuk Guru James tanpa henti.
Setelah mengetuk sejenak, Arya mendapat izin masuk.
Ketika Arya masuk ke ruang kepala sekolah, Tuti yang sedang mengurus dokumen di meja kerjanya mengangkat kepalanya, terkejut ketika mengetahui yang datang adalah Arya.
"Arya, apa yang kau lakukan di sini? Kembali ke kelasmu, pelajaran sudah dimulai!"
Tuti mengingatkan. Dia dan Arya memiliki sedikit hubungan pertemanan.
Tuti juga merupakan teman dari ayah Arya, Vicky. Dia tahu jika Vicky memiliki tiga orang istri. Dia bahkan tahu bagaimana masalah keluarga yang dihadapi Arya. Dia juga memiliki beberapa simpati pada Arya. Karena ayahnya, Arya harus menderita seperti sekarang.
Menghela napas pelan, Arya menggelengkan kepalanya dan duduk di sofa tidak jauh dari meja kerja Tuti. Dia bersandar di sofa dan memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri.
"Kepsek, aku baru saja membuat masalah. Aku tahu aku baru saja diskorsing karena masalah sebelumnya. Tapi untuk kali ini, aku mohon padamu untuk membantuku sebisa mungkin. Juga, tolong jangan skors aku lagi. Aku tahu ini egois, tapi aku meminta pertolongan padamu, Kepsek."
Arya berkata dengan mata terpejam. Dia meminta bantuan pada Tuti bukan tanpa sebab.
Lagipula, dia sudah terlalu sering meminta bantuan pada Lylia. Apa lagi terakhir kali dia meminta bantuan yang cukup berlebihan pada Lylia. Gadis itu juga sudah memberitahunya jika dia tidak membantunya dalam waktu dekat.
Jadi, Arya hanya bisa meminta bantuan pada Tuti, yang memiliki sedikit pertemanan dengannya.
Tuti terkejut mendengar ini, dia segara memiliki firasat buruk.
"Arya, apa kau berkelahi lagi?"
"Ya, Kepsek. Aku berkelahi cukup parah, jadi jika ada orang tua siswa yang datang mencariku, tolong buat penjelasan dan pembelaan untukku."
Arya berkata, menghela napas tanpa daya.
Tuti berkedut di sudut matanya. Dia ingin sekali memukul Arya, karena menyebabkan masalah tanpa henti. Juga, bocah ini baru saja diskors dan dia baru masuk kembali. Tapi ketika dia kembali, dia malah membuat masalah?
Menghela napas panjang, Tuti mengangguk pasrah. Kepalanya terasa sangat sakit, seolah-olah bisa pecah kapan saja.
Tidak lama setelah itu, beberapa orang tua siswa datang ke ruang kepala sekolah dan meminta penjelasan tentang mengapa anak-anak mereka bisa terlibat perkelahian.
Tuti tentu saja menyambut dan memberikan penjelasan sebaik mungkin. Dia berusaha sangat keras untuk menenangkan para orang tua siswa yang datang ini.
Setelah hampir satu jam, Tuti akhirnya bisa menghela napas lega. Memberikan penjelasan pada orang tua siswa tadi benar-benar melelahkan. Dia bahkan merasa lebih tua sepuluh tahun sekarang ini.
*****
Pada saat yang sama, ketika Tuti sibuk menjelaskan pada orang tua siswa di ruang kepala sekolah, Arya kembali ke kelasnya.
Semua teman sekelasnya menundukkan kepala mereka ketika dia masuk. Tidak ada yang berani menatapnya.
Melihat Arya memasuki kelas, Lylia segera bangkit dari bangkunya dan menghampirinya dengan ekspresi cemas dan khawatir. Dia mendengar jika Arya diganggu oleh beberapa kakak kelas tahun ketiga dan berakhit berkelahi.
"Arya, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Lylia. Bisakah kita mengobrol sebentar? Hanya kita berdua."
Lylia mengangguk dengan patuh. Keduanya lalu meninggalkan kelas.
Tiba di tempat yang lumayan sepi, Arya menatap Lylia dengan ekspresi rumit dan bermasalah. Dia meraih tangan gadis itu, mengusap punggung tangannya dengan lembut.
Dia ingin meminta bantuan Lylia pada akhirnya. Ketika dia mengobrol dengan Tuti tadi, kepala sekolah itu mengatakan jika kemungkinan terburuk Arya akan dituntut ganti rugi. Namun, itu kecil kemungkinannya.
Tapi tetap saja, Tuti menyuruh Arya untuk bersiap-siap untuk itu.
Makanya, sekarang Arya pergi ke Lylia dan ingin meminta bantuannya. Namun, dia ragu untuk meminta bantuan, karena Lylia sudah terlalu banyak membantunya. Dia juga merasa semakin tidak enak hati jika meminta bantuan pada Lylia terus-menerus.
"Lylia, aku tahu ini sedikit lancang. Tapi, aku memerlukan bantuanmu."
"Aku tahu, Arya. Aku tahu itu."
Lylia mengangguk, menunjukan bahwa dia mengerti. Dia sudah tahu ini sejak awal. Jika Arya sudah mengajaknya mengobrol berdua di tempat sepi, maka Arya pasti akan meminta bantuan padanya.
Arya menundukkan kepalanya karena malu, merasa jika niatnya sudah diketahui oleh kekasihnya ini.
Menjalinkan jarinya, Lylia tersenyum lembut.
"Arya, sayangku. Bantuan apa yang kamu perlukan? Katakan padaku, ya?"
"Ini... Ini soal perkelahianku tadi. Aku agak berlebihan tadi. Aku sudah menemui kepala sekolah untuk meminta bantuan padanya. Tapi, dia mengatakan jika aku akan menghadapi kemungkinan terburuk, di mana aku mungkin harus membayar ganti rugi karena sudah keterlaluan saat berkelahi tadi."
"Apakah kamu mematahkan anggota tubuh mereka lagi?"
"Tidak, aku menahan diri cukup baik kali ini, jadi aku tidak mematahkan anggota tubuh siapapun. Tapi, ada seorang gadis keparat yang menghina ibuki, jadi aku menendangnya dan menginjaknya di depan orang banyak. Aku juga menamparnya dan memakinya beberapa kali. Aku memiliki firasat jika dia pasti akan membuat masalah lainnya."
Arya menjelaskan situasinya, sama sekali tidak mengangkat kepalanya ketika dia menjelaskan.
Lylia mendengarkan dengan seksama. Dia mengangguk dan menangkupkan tangannya di wajah Arya, mengangkat kepala Arya yang tertunduk agar pemuda itu menatapnya.
Ketika mata mereka bertemu, Arya melihat Lylia tersenyum lembut padanya sambil membelai pipinya.
"Aku akan membantumu, oke? Jangan khawatirkan apapun, aku pasti membantumu."
Arya terdiam mendengar ini, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia kini menyadari jika gadis ini benar-benar mencintainya, mencintainya dengan tulus. Tapi dia, dia dengan brengseknya malah memanfaatkan cintu tulus dan murni Lylia agar mendapat uang. Ini membuatnya menyesal, sangat menyesal.
Arya berjanji dalam hatinya, jika dia akan selalu berusaha membuat Lylia bahagia dan tidak akan pernah memanfaatkannya lagi.
"Lylia, terima kasih."
Arya berkata, menarik Lylia ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat, tidak ingin melepaskannya.
Tampaknya, Arya kini menyadari perasaannya pada Lylia sudah berubah.