
Tiba di rumah Lucy, Arya mengetuk pintu berkali-kali, menciptakan suara ketukan berulang yang keras, membuat pintu yang diketuk bergetar.
"Ya, tunggu sebentar."
Suara David terdengar, namun Arya tidak berhenti mengetuk. Sebaliknya, dia mengetuk lebih cepat dan lebih keras. Dia benar-benar ingin bertemu Lucy, ingin menceritakan semuanya pada gadis tersebut. Hanya Lucy harapannya satu-satunya.
"Tunggu sebentar!"
David berkata, meninggikan nadanya. Dia agak kesal pada tamu yang berkunjung malam hari dan mengetuk tanpa henti meski dia sudah menanggapi.
Ketika membuka pintu, David terdiam ketika melihat Arya datang dengan wajah pucat dan keringat dingin. Matanya agak redup.
David seketika panik melihat kondisi Arya. Dia mengetahui kondisi mental Arya sedang dalam keadaan yang kurang baik. Terlebih lagi, dua hari ini dia tidak tahu kabar adiknya ini, membuatnya merasa jika kondisi Arya mungkin memburuk.
"Arya, ada apa...?"
David hendak bertanya, tapi Arya tidak memberinya kesempatan. Dia segera masuk dan menabrak bahu David, namun dia tidak peduli. Dia hanya ingin bertemu Lucy, bercerita tentang ketakutannya.
"Lucy!"
Arya masuk ke dalam kamar Lucy, namun matanya tidak melihat adanya gadis itu di sana. Dia melihat sekeliling, namun Lucy benar-benar tidak ada di dalam kamar.
Dia segera berbalik, terkejut dan terdiam melihat jika Lucy berada tepat di belakangnya.
Lucy menatap Arya dengan terkejut. Dia membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu tapi dia menahannya. Dia menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya.
Dia masih agak takut pada pemuda di hadapannya ini. Dia melihat Arya membunuh seseorang, jadi bagaimana dia bisa tetap tenang melihat Arya?
Arya melihat Lucy dengan tatapan lega, segera memeluknya dengan erat, sangat erat. Pelukannya itu bagai dirinya ingin membuat Lucy bersatu dengannya.
Lucy terkejut dan merasa sesak karena pelukan Arya begitu erat. Namun, di balik itu semua, dia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak dia rasakan.
Perlahan, Lucy membalas pelukan Arya dan mengusap punggungnya. Dia bisa merasakan Arya gemetar dalam pelukannya.
"Lucy... Aku takut..."
Suara gemetar Arya terdengar ketika dia terus memeluk Lucy. Dia membenamkan wajahnya ke pundak gadis tersebut.
"Arya, kamu baik-baik saja...?" David segera menghampiri Arya karena dia cemas dengan kondisi Arya. Namun, ketika dia melihat jika Arya dan Lucy sedang berpelukan erat, dia terdiam dan kehilangan kata-katanya.
Tersenyum, David menggeleng. Dia merasa jika Arya dan Lucy benar-benar tidak bisa dipisahkan, meski hubungan keduanya buruk sekalipun. Mereka tetap membutuhkan satu sama lain untuk teman bercerita dan saling berbagi kehangatan.
*****
Arya dan Lucy duduk di tepi kasur, bersebelahan. Keduanya dalam keadaan diam selama beberapa saat karena merasa canggung.
Bagaimanapun, sikap Arya selama ini dingin dan formal pada Lucy. Dia bahkan tidak mau mendekati gadis itu. Namun, kali ini, ketika dia dalam keadaan takut dan tidak ada orang yang bisa menjadi tempatnya bercerita, dia datang pada Lucy setelah semua sikap buruknya pada Lucy.
Ini membuatnya malu dan sedikit menyesal.
Menghela napas panjang, Arya menatap Lucy dan menceritakan ketakutannya karena membunuh William dan lainnya.
Dia juga bilang jika dirinya merasa bersalah dan selalu waspada dengan sekitar karena takut ditangkap polisi. Dia juga mengatakan jika hari ini polisi datang untuk mencari beberapa petunjuk tentang hilangnya William. Arya mengatakan semuanya, tanpa terkecuali.
"Aku takut... Aku sungguh takut, Lucy... Jika aku ditangkap, apa yang harus kulakukan? Apa yang akan Mama katakan jika dia tahu semua ini...?
Arya menatap tangannya yang gemetar. Dia masih ingat sensasi hangat dari darah yang membasahi tangannya.
"Aku juga takut... Aku takut... Aku hampir saja kehilangan kehormatanku..."
Lucy mulai bercerita ketika Arya mulai diam. Dia juga menceritakan semua rasa takutnya karena dia hampir kehilangan kesucian dan kehormatannya sebagai seorang wanita. Tidak hanya itu, Lucy juga mengatakan pada Arya jika dia takut padanya, karena Arya membunuh seseorang.
Arya diam dan tidak berkomentar ketika mendengar Lucy takut padanya. Dia tidak mempermasalahkannya. Lagi pula, wajar bagi Lucy untuk takut padanya, karena dia sekarang adalah seorang pembunuh.
Saat melihat Arya membunuh William dan Tommy, Lucy melihatnya dengan jelas semua adegan kejam itu. Dia hanya diam dan menutup matanya karena takut. Saat melihat Arya membunuh, yang dia pikirkan saat itu adalah dirinya yang kemungkinan akan dibunuh juga oleh Arya, agar tidak ada saksi mata.
Tapi, yang tidak Lucy sangka ternyata Arya tidak membunuhnya, malah menyelamatkannya.
Hal ini membuat Lucy bingung, antara harus takut atau berterima kasih pada Arya.
Perlahan, semakin lama Lucy bercerita, semakin gemetar suaranya dan dia mulai menangis.
Arya yang melihat Lucy menangis tidak tinggal diam. Dia mengulurkan tangannya dan menarik Lucy dalam pelukannya, memberikan pelukan hangat.
Arya bisa merasakan gadis ini gemetar. Ini membuatnya bisa membayangkan betapa rapuhnya Lucy ketika dalam keadaan seperti ini.
Ini membuat Arya tidak ingin melepaskan pelukannya, takut Lucy akan hancur jika dilepaskan.
Setelah beberapa saat, Lucy yang menangis dalam pelukan Arya perlahan menjadi tenang. Namun, gadis itu menutup matanya dan tertidur dalam pelukan Arya.
Entah karena kehangatan pelukan Arya, atau karena gadis ini lelah secara mental, tapi dia benar-benar tertidur dengan nyaman dalam pelukannya.
Arya menghela napas melihat Lucy yang tertidur. Dia mengelus kepalanya sebentar, lalu merapikan rambut Lucy yang menutupi wajahnya.
Arya tersenyum tipis saat dia melihat wajah cantik Lucy tertidur dengan nyaman dan rileks. Wajahnya itu adalah wajah yang sudah lama tidak dia lihat dari jarak sedekat ini.
Perlahan, Arya melepaskan pelukannya membaringkan Lucy ke kasur dan menyelimutinya.
Lucy yang tidur dengan nyaman itu tiba-tiba mengerutkan dahinya dan alisnya berkedut beberapa kali. Ekspresi wajahnya terlihat ketakutan.
"Tidak... Jangan mendekat... Arya, tolong aku... Jangan tinggalkan aku, kumohon..."
Dengan mata tertutupnya, Lucy bergumam dengan nada menyedihkan. Tangannya bergerak seakan ingin menggapai sesuatu, namun tidak berhasil.
Tampaknya gadis ini mengalami mimpi buruk.
Arya terkejut melihat ini. Dia terdiam lama, sebelum akhirnya meraih tangan Lucy dan menggenggamnya.
Wajah Lucy seketika menjadi rileks dan senyum tipis muncul di wajahnya. Dia menggenggam tangan Arya dengan erat.
Sepertinya mimpi buruknya berakhir karena genggaman hangat dari Arya.
Arya menatap Lucy dengan ekspresi bermasalah. Dia ingin keluar dari kamar ini, tapi dia takut jika dia melepaskan genggamannya, Lucy akan bermimpi buruk lagi.
Berpikir sejenak, Arya menghela napas tanpa daya. Dia kemudian bersandar ke kepala ranjang dan menatap Lucy dengan senyuman tipis. Dia tidak melepas genggamannya. Sebaliknya, dia ingin tetap berada di sisi Lucy untuk malam ini.