
Selama dua hari terakhir, Niko terbaring di rumah sakit tapi karena perawatan yang baik, dia sudah bisa menggerakkan tubuhnya meski masih terasa sedikit sakit tapi itu bukan masalah besar baginya.
Yuki sebagai ibu juga memberikan perhatian penuh pada Niko tapi dia tetap tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, jadi dari pagi hingga siang hari Niko akan seorang diri di rumah sakit.
Tapi bagi Niko, dia tidak mempermasalahkan ini. Dia justru senang jika ibunya lebih fokus pada pekerjaannya. Dia tidak perlu khawatir saat ibunya bekerja karena ada para suster dan dokter yang merawatnya sebagai gantinya.
Di dalam kamarnya, Niko sedang duduk di kasurnya saat menatap Yuki yang sedang memotong apel untuknya.
"Ibu, aku ingin dirawat di rumah saja. Kondisiku sudah lebih baik."
Niko berkata demikian, membuat Yuki terkejut dan langsung menghentikan semua kegiatannya.
"Apakah benar begitu? Bukankah lebih baik kamu di rumah sakit saja sampai benar-benar sehat?"
"Tidak, Ibu. Itu hanya akan merepotkanmu. Ibu masih harus bekerja dan merawatku di rumah sakit. Ibu pasti lelah, bukan?"
"Tenang saja. Ibumu ini kuat, jangan khawatir."
"Ibu, aku ingin dirawat di rumah saja. Kumohon."
Niko berkata dengan serius, sedikit memohon pada ibunya.
Melihat betapa seriusnya Niko, Yuki mau tak mau menyetujui permintaan anaknya meski dia merasa sedikit khawatir karena jika dirawat di rumah, Niko hanya akan sendirian di sana.
Suami Yuki sudah meninggal tujuh tahun yang lalu, jadi di rumahnya hanya ada dia dan Niko saja.
Jika Niko dirawat di rumah, dia khawatir Niko kesulitan melakukan aktivitas seperti biasanya karena dia masih terluka.
*****
Di depan sebuah rumah berlantai dua yang terlihat sederhana namun mewah, Yuki dan Niko akhirnya tiba di rumah setelah beberapa saat perjalanan dari rumah sakit.
Niko yang masih terluka karena dihajar oleh Roy dan kelompoknya langsung pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dia segera menjatuhkan dirinya ke kasur dan tertidur.
Sementara itu, Yuki di lantai bawah terlihat sedang beres-beres rumah sebelum pergi keluar untuk membeli beberapa bumbu dapur di minimarket terdekat.
Dua hari kemudian, di depan pintu tampak Yuki dan Niko sedang berdiri di sana.
Niko sudah memakai seragam sekolahnya dan membawa tas di pundaknya. Dia sudah siap berangkat sekolah setelah absen selama empat hari.
Dia sudah tidak merasakan sakit lagi di tubuhnya, jadi dia memutuskan untuk berangkat sekolah. Dia juga takut kalau nilainya turun karena terlalu lama absen.
Yuki bagaimana juga masih khawatir dengan kondisi Niko. Dia ingin menghentikan anaknya, tapi melihat Niko sudah bisa tersenyum seperti biasanya, dia jadi tenang dan segala rasa khawatirnya hilang.
*****
Sesampainya di kelas Niko bertemu dengan Arya. Dia menghampirinya dan menyapa dengan ringan.
"Oh, Niko. Kau baik-baik saja? Brent bilang kau masuk rumah sakit."
Arya bertanya sesaat setelah Niko menyapanya.
Dia mendapat berita dari Brent bahwa Niko dihajar oleh preman hingga babak belur dan pingsan di gang dekat sekolah. Jika hanya dihajar tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi jika sampai masuk rumah sakit, itu berarti luka yang diderita cukup parah.
Tapi, ketika melihat Niko yang seperti biasanya, Arya menghela nafas lega. Dia cukup senang saat mengetahui teman baiknya tidak terlalu terluka parah.
Mendengar pertanyaan Arya, Niko tersenyum canggung dan berkata kalau dia dihajar preman karena menolak menyerahkan uangnya.
"Niko, apakah kau masih mengingat wajah preman itu?"
"Tidak, aku tidak mengingatnya. Untuk apa kau bertanya?"
"Untuk menghajar preman itu, tentunya."
Arya sedikit bercanda ketika dia mengepalkan tangannya, menciptakan suara tulang retak.
Niko hanya menggeleng. Tidak mungkin baginya untuk mengatakan bahwa preman itu sebenarnya adalah Roy.
Setelah berbagi sedikit candaan ringan dengan Arya, bel berbunyi dan seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing dan memulai pelajaran dengan tertib.
*****
Setelah melewati hari yang melelahkan karena belajar seharian, Niko akhirnya pulang ke rumahnya dengan suasana hati yang baik. Hari ini dia sama sekali tidak digangu oleh Roy dan kelompoknya. Bahkan dia tidak melihat mereka selama hari ini.
Ini membuatnya merasa senang. Dia akhirnya bisa menjalani sekolahnya dengan santai tanpa rasa takut karena diganggu Roy.
Menoleh ke gang, Niko melihat ke dalam dan menemukan Roy dan kelompoknya menyeringai jahat padanya. Dia langsung berkeringat dingin dan berbalik.
Niko tidak ingin kejadian yang sama terjadi lagi, jadi dia segera melarikan diri sekuat tenaga.
"Sial, bocah itu semakin berani!"
Roy mengutuk dengan kesal. Dia tidak menyangka kalau Niko berani melarikan diri darinya. Selama ini, Niko selalu menuruti hampir semua ucapannya, jadi saat dia melarikan diri, itu cukup mengejutkan.
Tanpa pikir panjang, Roy segera menyuruh orang tercepat dikelompoknya untuk mengejar Niko.
Dia masih memiliki beberapa 'bisnis' dengan Niko.
Tidak lama kemudian, orang yang Roy suruh mengejar Niko segera kembali dengan menyeret Niko yang memberontak.
Dia memiliki ekspresi tidak senang dan merasa takut disaat yang bersamaan. Dia sudah berusaha lari secepat mungkin, tapi sayangnya staminanya buruk.
"Bagus, sekarang kau sudah berani melawan perintahku, ya?"
Roy mendekatinya sambil tersenyum. Dia mengangkat tangannya dan menampar dengan keras.
Seketika, Niko terguncang ke samping dan pipinya lagi-lagi memerah. Dia merasakan sakit di pipinya, bahkan telinganya berdengung.
"Niko, aku akan mengatakan ini sekali lagi. Panggil temanmu yang bernama Arya itu dan kau akan bebas."
Roy menatap dingin saat nadanya mengancam. Dia tampaknya memiliki dendam yang tak terbalaskan pada Arya.
Bagaimana juga, Arya terkadang berkelahi dengan seseorang dari kelompoknya. Bahkan dirinya juga pernah berkelahi sekali dengan Arya tapi hasilnya dia kalah.
Perkelahiannya dengan Arya yang terakhir kali juga memalukan baginya. Dadanya ditendang tanpa dia bisa membalas. Tiga orang anak buahnya juga dikalahkan. Dia menderita kerugian banyak, sedangkan pihak lain mendapat keuntungan.
Oleh karena itu, saat dia menemukan kalau hubungan Arya dan Niko cukup baik, dia ingin memanfaatkan Niko agar dia memanggil Arya lalu dirinya dan kelompoknya bisa menghajar Arya bersama-sama.
Mendengar ini, Niko mengerutkan dahinya dan berkata.
"Aku tidak akan pernah memanggilnya meski kau menghajarku seperti beberapa hari yang lalu!"
Niko memiliki ekspresi serius di wajahnya. Ketakutan yang sebelumnya menghilang seperti ditelan bumi.
Roy yang mendapat penolakan menjadi marah. Dia mengepalkan tangannya dan hendak memukul Niko tapi dia tiba-tiba berhenti dan menyeringai.
"Baiklah, jika kau tidak mau memanggil Arya maka tidak masalah. Aku akan mendatanginya langsung dan menghajarnya! Ingat, aku memiliki selusin anak buah di sini yang siap mendengarkan perintahku!"
Roy berkata demikian sambil tertawa gila seakan dia memenangkan perkelahian pertamanya.
Niko langsung terkejut dengan ini.
Jika Roy dan kelompoknya benar-benar menghajar Arya, dia yakin kalau Arya akan menderita kerugian dan babak belur.
Tidak peduli seberapa kuat Arya, dia pasti tidak akan bisa melawan selusin orang seorang diri.
Ini membuat Niko bimbang. Dia berpikir keras agar Roy tidak mengeroyok Arya.
Setelah beberapa detik, matanya tiba-tiba berbinar dan dia segera berkata pada Roy dengan memohon.
"Roy, kumohon padamu. Jangan ganggu Arya."
"Huh, kau terlalu berharap. Aku akan menghajar tidak peduli apapun yang terjadi!" Roy kembali mengancam.
"Tidak! Jangan lakukan itu. Sebagai gantinya, biarkan aku menuruti semua perintahmu. Aku akan mendengarkan apapun yang kau suruh asalkan kau tidak menggangu Arya!"
Niko mengambil keputusan. Dia berniat mendengarkan apapun yang Roy perintahkan. Bahkan jika dia disuruh memakan kotoran manusia, dia akan melakukannya.
Dia tidak ingin Arya diganggu karena dirinya.
Semua masalah ini diciptakan olehnya, karena dirinya terlalu lemah dan mudah diganggu. Karena hal itu, dia tidak ingin melibatkan Arya dan ingin menyelesaikan masalahnya dengan kekuatannya sendiri.
Mendengar ucapan Niko, Roy sedikit terkejut. Dia termenung cukup lama, sedikit tertarik dengan pengajuan Niko.
Setelah beberapa saat berpikir, Roy menyetujui permintaan Niko.
Dan sejak saat itu, semua yang diperintahkan Roy, Niko lakukan tanpa paksaan.