Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 100 - Menjadi Terkenal karena Kejam



Satu minggu kemudian, masa skorsing Arya telah selesai sehingga dia bisa bersekolah kembali.


Ketika dia melewati koridor, dia mendengar banyak rumor tentang dirinya yang dibicarakan oleh orang-orang di sekitarnya. Sepertinya apa yang dia perbuat tiga minggu lalu benar-benar menjadi gosip bagi banyak orang.


Namun, Arya mengabaikan semua ucapan orang-orang di sekitarnya. Dia tidak peduli, atau lebih tepatnya dia tidak ingin membuat masalah lagi.


Mempercepat langkah kakinya, Arya tiba di kelasnya. Ketika dia masuk, dia mendapati dirinya ditatap oleh seluruh siswa di kelasnya. Semuanya menatapnya dengan ngeri, bahkan beberapa tidak berani bernapas terlalu keras.


Arya melirik beberapa orang sejenak sebelum duduk di bangkunya, yang berada di pojok kanan kelas, dekat dengan jendela. Dia meletakkan tasnya, sampai tiba-tiba suara gaduh terdengar dari pintu masuk kelas.


"Hei, mana Arya itu? Aku ingin melihat wajahnya! Aku ingin tahu, seberapa menyeramkan wajah orang yang berani mematahkan anggota tubuh Guru James!"


"Aku dengar bocah itu cukup kuat, aku penasaran seberapa kuat dirinya?"


"Wah, sepertinya orang bernama Arya ini benar-benar mengagumkan. Dia mengalahkan Lery di hari pertamanya dan sekarang berkelahi dengan guru dengan kejam."


Terdengar suara sekelompok pemuda, yang terdengar mengejek dan kagum. Mereka melihat sekeliling, mencari keberadaan orang bernama Arya yang sedang terkenal karena perbuatan kejamnya pada seorang guru.


Semua orang terkejut melihat kelompok pemuda ini datang. Mereka semua tahu jika sekelompok orang ini adalah kakak kelas mereka, para tahun ketiga.


Bagi mereka yang melihat secara langsung betapa kejamnya Arya ketika menghajar Guru James, mereka sangat ketakutan padanya. Tapi bagi mereka yang hanya mendengar rumornya, mereka akan memiliki dua reaksi. Pertama mempercayainya dan menghindari Arya, kedua meremehkan dan menantangnya.


Sebagian besar orang meremehkan Arya dan menantangnya. Mereka tidak percaya karena hanya mendengar, bukan melihat.


Arya yang mendengar namanya dipanggil menoleh ke sumber suara, menatap para tahun ketiga dengan tajam dan sedikit tidak senang.


"Hei, kau. Di mana Arya itu? Tunjukkan padaku, yang mana orangnya?" Seorang pemuda bertindik bertanya pada salah seorang pemuda berponi.


"Arya... Dia..." Pemuda berponi ragu dan takut.


"Tunjuk saja orangnya, jangan membuang waktuku!" Pemuda bertindik itu berteriak marah.


"Itu... Dia yang bernama Arya... Dia ada di sana..."


Pemuda berponi itu menunjuk ke arah Arya dengan jarinya yang gemetar. Wajahnya pucat dan dahinya penuh keringat dingin.


Pemuda bertindik itu menoleh ke arah yang ditunjuk, menyeringai penuh makna dan menghampiri Arya.


"Jadi itu kau yang bernama Arya? Kawan, aku dengar ayahmu memiliki tiga orang istri. Bagaimana cara ayahmu bisa memikat tiga wanita sekaligus? Katakan padaku caranya!" Pemuda bertindik terkekeh.


"Ya, itu benar! Katakan padaku juga! Aku juga ingin memiliki banyak wanita di sisiku!" Salah seorang tahun ketiga ikut maju, bertanya hal yang sama.


Ekspresi Arya segera suram mendengar ini. Tampaknya ada seseorang yang dengan lancangnya menyebarkan rumor tentang ayahnya. Ini tidak terlalu menjadi masalah baginya, karena pada dasarnya dia juga membenci ayahnya. Tapi, mendengar pertanyaan orang-orang ini membuatnya agak marah.


"Oh, ya. Aku dengar ibumu adalah istri kedua, kan? Berarti kau adalah anak dari istri kedua. Jadi, siapa yang menggoda lebih dulu? Ayahmu, atau ibumu yang mendekati ayahmu meski ayahmu sudah beristri?"


Tiba-tiba, dari arah pintu masuk, terdengar suara manis seorang gadis. Dia bertanya demikian dan dia juga sepertinya merupakan tahun ketiga, sama seperti sekelompok pemuda yang datang lebih awal tadi.


Semua orang yang mendengar ini terkejut, terutama mereka yang melihat betapa kejamnya Arya ketika menyinggung masalah ibunya. Semua orang memfokuskan pandangannya pada gadis itu, menatapnya dengan penuh kasihan dan prihatin.


Gadis tahun ketiga itu melihat ke kiri dan kanan dengan bingung, memiringkan kepalanya.


Gadis itu memasang ekspresi polos, menunjukkan senyum tak bersalah.


Para tahun ketiga mengangguk setuju, mulai tertarik dengan apa yang dikatakan gadis tahun ketiga itu.


Arya yang mendengar ini tetap diam, namun matanya menatap tajam gadis tahun ketiga itu. Matanya dipenuhi kebencian.


Mengalihkan pandangannya ke mejanya, Arya meraih mejanya dengan kedua tangannya, mengangkat tinggi meja itu dan melemparkannya ke arah gadis tahun ketiga itu.


Di sekitar gadis tahun ketiga itu ada beberapa pemuda, yang merupakan tahun ketiga juga. Mereka berteriak terkejut, tidak menyangka jika Arya akan melemparkan meja semudah melempar bulu ayam.


Teman sekelas Arya menutup mata mereka melihat ini. Tanpa melihat sekalipun, mereka tahu jika gadis tahun ketiga itu pasti akan dihajar habis-habisan oleh Arya.


Tidak berhenti dengan meja, Arya juga melempar bangkunya.


Baik meja atau bangkunya mengenai beberapa pemuda tahun ketiga. Mereka yang terkena lemparan bangku dan meja itu mengerang kesakitan, terjatuh ke lantai. Dua orang tahun ketiga yang berada di dekat Arya menatapnya dengan tercengang. Adapun gadis tahun ketiga yang menyinggung ibu Arya tadi, dia diselamatkan oleh seorang pemuda tahun ketiga lainnya.


Setelah melempar meja dan bangkunya, Arya berlari dan melompat, menerjang seseorang tanpa memedulikan siapa dia. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke gadis tahun ketiga yang menghina ibunya tadi, yang sekarang melarikan diri dengan panik.


Arya menggertakkan giginya, dia mengejar gadis itu, menendang punggung gadis tahun ketiga itu sehingga terjatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk.


Gadis tahun ketiga itu mengerang kesakitan, menarik perhatian orang-orang di sekitar.


Arya memasang ekspresi acuh tak acuh, menatap gadia tahun ketiga itu dengan jijik sebelum menginjak punggung indah gadis tersebut.


"Hei, katakan lagi sesuatu tentang ibuku. Aku tidak mendengarnya dengan jelas tadi."


Suara dingin Arya terdengar.


Semua orang yang menyaksikan Arya menginjak punggung gadis itu segera mengutuknya, merasa Arya terlalu kejam.


Arya adalah seorang pria, sedangkan yang dia injak, yang berada di bawah kakinya itu adalah wanita. Pria macam apa yang akan menginjak wanita dengan begitu kejamnya?


Gadis tahun ketiga yang punggungnya diinjak oleh Arya menangis dengan menyedihkan.


"Hei, aku memintamu mengatakan lagi apa yang kau katakan tentang ibuku, bukan memintamu menangis."


Arya bertanya, mengerahkan lebih banyak pada kakinya yang menginjak punggung gadis tahun ketiga itu.


Gadis itu menangis semakin keras, dia merasa kesakitan dan kesulitan bernapas. Dia ingin berteriak minta tolong, tapi dia terlalu takut.


"Menyingkir kau, bajingan! Kau tidak pantas menjadi pria! Kau terlalu kejam pada wanita!"


Seseorang tiba-tiba berteriak marah, menendang Arya dari samping, mengenai pinggangnya dan membuatnya terjatuh.


Arya terkejut dan semakin marah, dia menatap pemuda yang baru saja menendangnya tadi.


Bangkit, Arya melayangkan pukulannya pada pemuda yang menendangnya dan perkelahian pun terjadi.