Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 121 - Kunjungan Lucy



Pada hari pertama dan kedua Lylia menginap, tidak banyak yang terjadi di antara Arya dan Lylia di pagi hari.


Lylia yang baru bangun itu segera membasuh wajahnya dan menuju kamar Arya, membangunkan kekasihnya tercinta.


Masuk ke dalam kamarnya, Lylia melihat Arya tidur dengan agak berantakan, karena selimutnya hanya menutupi sebagian tubuhnya dan tangannya menggelantung ke bawah.


Tersenyum masam, Lylia duduk di tepi kasur, mengguncang bahu Arya dengan pelan.


"Arya, bangun. Ini sudah pagi. Ayo bersiap-siap dan pergi ke sekolah."


Tidak ada respon dari Arya. Kekasih Lylia itu hanya membuat suara "uhm" lalu memunggungi Lylia.


Lylia sekali lagi membangunkan Arya dan kali ini, Arya membuka matanya meski hanya setengah.


"Lylia?"


"Selamat pagi, Arya. Ayo bangun, lalu... Ah!"


Lylia terkejut, dia tiba-tiba ditarik oleh Arya ke dalam pelukannya. Kekasihnya ini memeluknya begitu erat, tidak ingin melepaskannya.


"Arya, jangan begini. Ini sudah pagi. Kamu masih harus ke sekolah, kan? Ayo bangun dan mandi. Aku akan masak sarapan untukmu."


"Sebentar lagi, biarkan aku memelukmu dulu."


"Ugh, jangan memelukku terlalu lama, oke? Akan merepotkan jika kakek tiba-tiba masuk dan memergoki kita."


Arya hanya diam, memeluk Lylia sepuasnya.


Pada hari ketiga Lylia menginap.


Hari ketiga ini bisa dibilang cukup istimewa, karena Erwin pergi sejak pagi dan mungkin akan pulang larut, meninggalkan Arya dan Lylia berdua di rumah.


Lylia sangat gembira karena Erwin pergi seharian. Dia saat ini hanya ingin berdua bersama Arya.


Di dalam kamarnya, Arya dan Lylia mengobrol bersama sambil menikmati cokelat panas dan menonton film dari laptop milik Lylia, yang gadis itu bawa.


Keduanya duduk di karpet ambal dengan Lylia duduk di pangkuan Arya dan bersandar pada dadanya.


Melihat film yang mereka tonton sudah habis, Lylia tersenyum puas.


"Sungguh, film drama ini benar-benar membuatku terharu. Perjuangan seorang istri mendapatkan hati suaminya yang dingin benar-benar membuatku tersentuh. Bukan begitu, Arya?"


"Eh? I-iya..."


"Sayang, kamu tidak memperhatikan filmnya, ya?"


Lylia bertanya, sedikit menggunakan penekanan pada nadanya. Melihat reaksi kekasihnya yang bingung dan agak panik itu membuatnya tahu jika Arya tidak memperhatikan film yang mereka tonton.


"Maaf, aku kurang menyukai drama." Kata Arya tulus.


Lylia hanya mendengus dan mulai mencari film lain yang menarik perhatiannya.


Menonton film lagi, Lylia tiba-tiba merasa ingin dimanja oleh Arya. Dia segera bersandar padanya.


"Arya." Panggilnya manja.


"Ya, ada apa, Lylia?"


Lylia tidak menjawab. Dia menggosokkan pipinya ke pipi Arya dengan gerakan manja.


"Arya, cium? Boleh?"


Nada manja serta ekspresi memohon Lylia, ditambah dengan matanya yang lembab itu benar-benar menggemaskan.


Arya tanpa pikir panjang segera menyatukan bibirnya. Keduanya saling bertukar ciuman ringan dan dangkal, suatu ciuman yang menyampaikan perasaan satu sama lain.


Awalnya, keduanya berciuman dengan ringan dan dangkal, namun semakin lama mereka menyatukan bibir, semakin bergairah keduanya.


Arya terus mencium Lylia, yang terus-menerus menghisap bibirnya.


Perlahan, Lylia membuka sedikit mulutnya dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Arya, mencari keberadaan lidah kekasihnya.


Arya terkejut ketika merasakan sesuatu yang licin dan hangat menyentuh lidahnya. Dia menyadari jika Lylia baru saja memainkan lidahnya.


Arya tidak mau kalah, dia menjulurkan lidahnya dan kedua lidah saling terjalin, meski gerakan lidah mereka masih berantakan dan terkadang tergelincir.


Namun, baik Arya atau Lylia menikmatinya.


Lidah Lylia terasa sangat manis, sangat lembut dan sangat nikmat, membuat Arya ketagihan.


Suara decakan air liur terdengar. Suara napas Arya dan Lylia yang kasar dan hangat bergema di kamar yang sunyi, di mana hal itu meluluhkan otak Arya. Dia sangat bahagia sampai tidak bisa memikirkan apapun lagi.


Arya ingin tahu, sudah berapa lama keduanya berciuman? Mungkinkah lidah keduanya akan melebur dan menjadi satu kalau terus seperti ini?


Untuk waktu yang lama, bibir Arya dan Lylia terus tumpang tindih. Mereka melepaskan diri ketika kehabisan napas dan pada saat itu, benang transparan yang berkilauan menetes dari bibir Arya, melambangkan betapa manisnya ciuman tersebut.


Tepi bibir Arya dan Lylia penuh akan air liur, menunjukan bahwa ciuman yang keduanya lakukan sangatlah panas dan penuh gairah.


Lylia yang terengah-engah dengan wajah memerah itu menatap dalam mata Arya. Dia kemudian mendorong dada Arya, membuatnya berbaring dan segera menungganginya.


Lylia duduk di atas tubuh Arya saat dadanya naik turun. Dia kemudian berkata.


Hanya tiga kata, namun itu berhasil membuat jantung Arya berhenti sepersekian detik. Dia benar-benar terkejut mendengarnya.


"Apa maksudmu, Lylia?"


"Ayo bercinta... Jika kita bercinta dan aku hamil, kita bisa menikah dan menjadi suami istri. Aku sebagai istrimu akan mengikutimu ke manapun kamu berada, jadi kita tidak perlu berpisah, kan? Aku tidak ingin pindah dan hanya ingin bersamamu, jadi ayo bercinta..."


Lylia menjelaskan dengan terengah-engah. Dia meraih ujung pakaiannya, berniat membukanya tapi Arya segera menghentikannya.


Duduk, Arya memangku Lylia dan menatap matanya sambil membelai pipinya dengan lembut.


"Lylia, jangan lakukan hal bodoh semacam ini. Jika kita melakukan itu dan pada akhirnya kamu hamil, apa yang akan dikatakan orang tua kita? Aku tahu kamu tidak mau pergi ikut orang tuamu. Tapi, jangan lakukan..."


Arya berhenti di tengah-tengah, karena Lylia menangis tersedu-sedu.


Arya agak panik dan menyeka air mata Lylia.


"Aku tidak ingin pindah... Aku ingin bersamamu, berada di sisimu selamanya. Tapi kenapa...? Kenapa ayah dan ibu memaksaku?"


Lylia terisak, tidak dapat menahan air matanya yang mengalir bagai sungai.


Dia sangat sedih jika harus berpisah dari Arya, makanya dia menyarankan untuk bercinta, agar dirinya hamil dan bisa menikah dengan Arya.


Meski cara ini agak kurang baik, namun selama bisa bersama Arya, Lylia tidak keberatan.


Namun, sayangnya Arya menolak.


Menyeka air mata Lylia, Arya memeluknya dengan erat dan tidak melepaskannya, bahkan dalam tidurnya.


*****


Sekitar jam sepuluh pagi, seorang gadis berambut hitam dengan wajah cantik sedang berdiri di depan rumah Arya. Dia memiliki make-up yang agak menonjol, membuat kecantikannya bertambah.


Mengetuk pintu, Lucy tersenyum lebar. Dia sangat tidak sabar untuk melihat Arya dan menghiburnya karena sudah ditinggalkan Lylia.


Tidak kemudian, pintu terbuka dan memperlihatkan sosok gadis seusia Lucy dengan rambut putih keperakan serta wajah yang cantik bagai peri.


Ekspresi Lucy seketika menjadi suram saat dia sepenuhnya melihat jika yang membukakannya pintu bukanlah Arya, melainkan Lylia!


'Apa ini? Kenapa Lylia masih ada di sini? Apa yang dia lakukan di rumah Arya?! Apakah dia berbohong jika dia pindah?!'


Lucy memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya. Dia memiliki mood yang buruk karena Lylia.


Lylia cukup terkejut melihat kedatangan Lucy. Belum lagi dia memakai make-up dan merias diri dengan cantik.


'Kamu datang dengan begitu cantik, apakah kamu ingin merebut kekasihku setelah mendengar kepindahanku? Sungguh rubuh licik!' Pikir Lylia.


Saling menatap, Lucy dan Lylia menunjukan permusuhan. Bahkan percikan api terlihat di antar tatapan mereka.


"Apakah kamu ada perlu, Lucy?"


"Ya, aku memiliki kepentingan di sini, tapi tidak denganmu. Aku datang ingin bertemu Arya. Dia memintaku datang beberapa hari yang lalu, katanya dia memiliki beberapa hal untuk dibicarakan."


"Oh, boleh aku tahu apa itu?"


Lucy tidak menjawab, memberikan senyuman penuh makna dengan mata permusuhannya.


"Lylia, siapa yang datang?"


Suara Arya terdengar.


Baik Lylia maupun Lucy segera menoleh, menatap Arya.


Arya terkejut melihat yang datang adalah Lucy. Dia segera mengerutkan dahinya.


"Apa yang Anda lakukan di sini?"


"Aku ingin bertemu denganmu. Apakah itu salah?"


"Tidak salah, tapi saya tidak ingin bertemu Anda. Ada baiknya Anda pulang saja, saya agak sibuk sekarang ini."


Arya mengibaskan tangannya.


Lucy berkedut kesal, merasa diusir oleh pujaan hati. Dia menatapnya sejenak, lalu menatap Lylia.


"Arya, apa yang Lylia lakukan di sini? Bukankah dia seharusnya pindah sejak beberapa hari yang lalu?"


"Apa keuntungan saya jika menjawab pertanyaan Anda?"


"Aku hanya bertanya, jangan dingin begitu."


Lucy menahan sakit di dadanya, kesedihan memenuhi hatinya ketika sikap Arya semakin dingin padanya. Padahal, baru beberapa hari yang lalu dia menunjukkan sedikit perhatiannya, meski sedikit.


Lucy agak menyalahkan Lylia di sini.


"Ada apa ini, kenapa berisik sekali?"


Suara Erwin terdengar.