Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 137 - Tetap Menjadi Saudara Sepupu



Setelah satu jam, Arya dan Lucy keluar bersamaan dari kamar. Begitu mereka keluar, mereka disambut baik oleh Erwin.


"Selamat pagi, kalian pengantin baru. Bagaimana malam kalian?"


Nada dingin dan penuh tekanan datang dari Erwin yang berada tidak jauh dari sana. Dia menatap Arya dan Lucy dengan senyuman, namun matanya menunjukkan seekor naga menyemburkan api amarah.


"Ini... Aku bisa jelaskan, Kek." Arya berkeringat dingin.


Adapun Lucy, dia bersembunyi di balik punggung Arya. Dia tidak berani menunjukkan wajahnya. Selain malu, dia takut dimarahi Erwin.


"Kamu mau jelaskan? Bagus, ayo ikut Kakek ke ruang tamu sebentar."


Erwin mengangguk, masih memasang senyumnya. Dia kemudian berdiri di hadapan Arya, menepuk pundaknya sekali dan mengcengkramnya.


Arya tersenyum masam saat merasakan sakit di pundaknya. Dia tidak menyangka jika kakeknya yang sudah lebih dari enam puluh tahun ini masih menyimpan tenaga yang begitu kuat.


"Ayo, ke ruang tamu. Oh, ya. Lucy, aku yakin kamu dihasut oleh Arya, jadi aku akan memaafkanmu kali ini. Tapi ingatlah tidak ada kesempatan kedua."


Lucy mengangguk, menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Erwin yang sedang marah itu.


Setelah itu, Arya dimarahi habis-habisan oleh Erwin di ruang tamu. Dia jelas tidak dapat menerima jika kedua pasangan kekasih, yang belum terikat dalam pernikahan, tidur dalam kamar yang sama. Dia takut jika Arya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan.


Setelah tiga jam dimarahi, Arya yang memiliki telinga bengkak dan merah itu akhir bebas dari amukan seekor naga yang sudah lama tertidur. Dia segera pergi membasuh tubuhnya di kamar mandi dan pergi sarapan.


"Kek, Emily sudah bangun belum?"


Arya bertanya pada Erwin, yang duduk di hadapannya, sedang mengunyah.


"Tidak, belum. Dia belum bangun. Kamu bangunkan dia, oke?"


"Um... Baiklah."


Arya mengangguk terpaksa. Dia hanya bertanya santai karena dia tidak melihat Emily. Namun, dia tidak sangka jika akan berakhir seperti ini.


Setelah selesai sarapan, Arya mengetuk kamar Emily beberapa kali namun tidak mendapat balasan.


"Emily, kamu sudah bangun?"


Suara Arya terdengar diiringi ketukan pintu.


Hening...


Tidak ada jawaban dari Emily.


Arya menghela napas pelan. Dia yakin jika adiknya itu sudah bangun, namun tidak ingin keluar kamar untuk menghindarinya. Bagaimanapun, mereka dalam keadaan canggung saat ini.


"Emily, jika kamu sudah bangun, tidak masalah jika kamu tidak keluar kamar. Tapi ingat untuk makan, jaga kesehatanmu, oke? Aku akan pergi ke tempat Lucy nanti sore."


Arya berkata dan berbalik.


Ketika dia hendak pergi, derit pintu terdengar dan Arya segera menoleh ke belakang, tersenyum dan menatap Emily yang cemberut.


Gadis tersebut memelototinya dengan mata merahnya yang sembab. Bibirnya mengerucut, menunjukkan jika dia sedang merajuk. Namun, ketika melihat rambutnya, itu sepenuhnya acak-acakan dan tidak tertata rapi.


"Sudah bangun?" Tanya Arya.


"Tidakkah kamu melihatnya, Kak?" Emily membalas, mencibir dengan kesal.


"Baiklah, keluar dari kamarmu dan sarapan. Mandi juga jangan lupa."


"Baiklah, tapi aku akan mandi dulu. Kak, kemari. Bantu aku menyisir rambutku sebelum mandi."


Tanpa peringatan, Emily menarik tangan Arya masuk ke dalam kamarnya dan menutup rapat pintu kamarnya, menguncinya.


Arya terkejut dan mengerutkan dahinya.


"Jangan apa? Aku hanya memintamu menyisir rambutku! Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Kak?"


Arya terdiam, merasa jika dia bereaksi berlebihan.


Menghela napas, Arya menuruti permintaan Emily.


Emily mengambil sisirnya lalu duduk di bangku, berhadapan dengan cermin di meja rias.


Arya kemudian mulai menyisir rambut berantakan milik Emily. Dia menyisirnya dengan pelan dan hati-hati agar rambut Emily tidak rusak.


Setelah beberapa saat, Arya selesai menyisir rambut Emily. Rambutnya yang awalnya berantakan kini terlihat rapi.


Emily mencambuk rambutnya ke kiri dan kanan, melihat apakah masih ada yang berantakan atau tidak. Mengetahui semuanya sudah rapi, dia tersenyum puas.


"Kak, kamu sangat pandai menyisir rambut."


"Lucy sering memintaku menyisirkan rambutnya, jadi aku sudah terbiasa."


Emily terdiam, merasa sakit ketika mendengar Arya berkata seperti itu.


Arya yang menyadari perubahan ekspresi Emily menghela napas. Dia mengelus kepalanya sambil berkata.


"Emily, lupakan apa yang terjadi tadi malam, oke? Anggap saja semuanya tidak terjadi."


"Termasuk perasaanku padamu, Kak? Apakah aku juga harus melupakan perasaan cintaku padamu, Kak?"


"Ya, lupakan aku dan cari pria lain. Aku sudah memiliki Lucy sebagai kekasihku."


"Aku tidak mau melakukan itu, Kak. Aku tidak akan bisa melupakanmu semudah itu..."


Emily menjatuhkan diri ke dalam pelukan Arya, memeluknya erat hingga Arya terhuyung ke belakang satu langkah.


Arya yang mendengarnya tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya membalas pelukan Emily dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengelus kepala gadis tersebut.


"Kak, benarkah tidak ada kesempatan bagiku? Apakah aku benar-benar hanya seorang adik bagimu?"


"Maaf, Emily. Kamu adalah adikku tercinta. Kamu sama seperti Andhika." Arya menjawab tanpa ragu, nada tegas.


Mungkin yang dia katakan menyakitkan bagi Emily, namun itu adalah suatu hal yang perlu. Jika dia melunak dan memberikan jawaban ambigu, dia takut Emily salah paham.


Emily tersentak mendengarnya, mencengkeram dada Arya dan mulai menangis. Suaranya yang putus asa itu menyakitkan bagi Arya.


Setelah lima menit menangis, Emily menjadi lebih tenang berkat pelukan dan elusan kepala yang Arya lakukan untuk menenangkannya.


"Kak, kamu akan pergi ke rumah Lucy?"


"Ya, aku akan menginap di sana."


"Berapa lama, Kak? Jangan sampai berbulan-bulan lagi, oke? Pulanglah setelah dua atau tiga hari, ya?"


"Tentu, Emily. Aku akan lebih sering menghabiskan waktu bersamamu dan kakek. Tapi, ingatlah jika hubungan kita akan tetap seperti sebelumnya, oke? Kita akan tetap menjadi saudara sepupu."


Emily mengangguk, meski enggan dan terpaksa. Rasanya sangat berat jika dia harus melupakan perasaannya pada Arya. Namun, jika dia paksakan perasaannya itu, dia yakin jika dia tetap tidak akan bisa mengubah perasaan Arya padanya.


Selain itu, sesuatu yang dipaksakan hasilnya pasti tidak akan berakhir baik.


"Bagus. Sekarang, pergi mandi dan sarapan, ya."


"Ya, Kak. Tapi, jika hubungan kita tetap saudara sepupu, apakah aku masih boleh bersikap manja dan sering mengobrol denganmu, Kak?"


"Eh? Tentu, asalkan manjamu tidak berlebihan, tidak masalah, Emily. Kita saudara sepupu, jadi kenapa kita tidak boleh mengobrol?" Arya agak terkejut, namun dia segera tersenyum dan mengelus kepala Emily sebentar.


Mata Emily berbinar mendengarnya. Dia memeluk Arya erat sebelum pergi membersihkan tubuhnya.