Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 66 - Masalah Foto



Sudah sekitar satu minggu lebih sejak ulang tahun Lucy. Selama masa ini, hubungan Arya dan Lucy semakin intim dan kasih sayang mereka pada masing-masing semakin menguat.


Tentunya, ini karena lamaran tidak langsung yang Arya katakan pada saat ulang tahun Lucy sejak saat itu.


Lucy jelas sangat bahagia mengetahui bahwa Arya akan menikahinya setelah mereka lulus SMA ini. Dia awalnya mengira bahwa menikah dengan Arya akan memakan waktu yang lebih lama dan baginya, itu seperti angan-angan yang tidak akan pernah terwujud, selamanya.


Lucy berpikir seperti ini karena beberapa tahun terakhir, hubungannya dengan Arya terbilang cukup buruk, di mana Arya memusuhinya selama waktu yang lama sampai akhirnya Arya menemukan titik di mana dia merasa bersalah karena sudah memusuhi Lucy.


Lucy sebenarnya tidak berharap banyak, tapi karena Arya sudah mengatakan bahwa dia akan menikahinya, maka Arya benar-benar akan menikahinya.


Masa SMA mereka juga hanya sebentar lagi, sekitar lima bulan sebelum akhirnya mereka lulus.


Oleh karena itu, Lucy sangat tidak sabar. Dia sudah bisa membayangkan dirinya akan memakai gaun pengantin di hari pernikahan nanti.


Pada saat ini, di dalam ruang TV. Arya, Lucy dan Nia sedang menonton TV bersama dengan Nia duduk di antara pasangan kekasih itu.


Arya tidak bisa menahan kedutan saat Nia selalu menghalanginya untuk bermesraan dengan Lucy.


Di sisi lain, Lucy juga sedikit kesal karena Nia duduk di antara dirinya dan Arya. Dia ingin bersandar pada Arya, duduk di pangkuannya, berciuman dengannya dan banyak lagi. Tapi karena ada Nia, semuanya tidak bisa dia lakukan!


Menghela napas panjang, Lucy pasrah dan mulai sibuk dengan handphonenya.


Tiba-tiba, ketika dia sedang melihat handphonenya, Lucy mendapat sebuah pesan dari Helen.


Lucy segera membuka pesan tersebut dan mengetahui bahwa Helen memberinya dua buah foto yang buram karena belum dia unduh.


Setelah mengunduh sebentar, mata Lucy melebar dan dia menatap foto yang diberikan Helen dengan tidak percaya.


Apa yang terlihat di foto yang diberikan Helen adalah Arya sedang disuapi makan oleh seorang wanita cantik berusia dua puluh lima sampai tiga puluh tahun.


Di foto tersebut, Arya dan wanita tersebut terlihat mesra saat berbagi makanan.


Tangan Lucy yang memegang handphone gemetar dan dia perlahan mengalihkan pandangannya ke Arya dengan kaku, dengan wajah dipenuhi ribuan kedutan.


"Arya, apa maksud dari semua ini?"


Lucy berkata dengan mengatupkan giginya, nadanya penuh amarah ketika dia menatap Arya dengan tajam.


Baik Arya dan Nia terkejut mendengar nada marah Lucy. Keduanya segera menoleh dan melihat bahwa ekspresi Lucy terlihat mengerikan.


"Lucy, ada apa denganmu?"


"Ada apa denganku? Lihatlah ini dan kamu akan tahu!"


Lucy dengan marah melempar handphone baru yang Arya berikan pada kekasihnya itu.


Melihat fotonya yang sedang disuapi makan oleh Yuki, bagaimana dia tidak tahu alasan dibalik ekspresi mengerikan Lucy?


Segera, dahi Arya dipenuhi keringat dingin yang menetes ke pipinya dan wajahnya menjadi pucat. Dia sangat menyadari bahwa Lucy pasti akan meminta penjelasan padanya.


Nia yang melihat ekspresi Arya berubah menjadi penasaran, jadi dia menjulurkan kepalanya untuk melihat layar handphone Lucy dan segera menyeringai jahat.


"Kak Lucy, lihat Kak Arya. Kemarin, saat aku dan Kak Helen mencari hadiah untuk Kak Lucy, aku dan Kak Helen tidak sengaja melihat Kak Arya sedang berduaan dengan seorang wanita di sebuah restoran. Mereka berdua terlihat sangat mesra, bahkan mereka saling menyuapi saat berbagi makanan."


Nia berkata dengan penuh kebencian saat dia menggertakkan giginya karena marah. Dia menatap tajam Arya dan menunjukan ekspresi jijik.


Namun, itu yang dia perlihatkan di luar. Sebenarnya, Nia tertawa jahat di dalam hatinya, merasa senang karena Arya pasti akan mendapat masalah besar kali ini. Dia jelas hanya berkata omong kosong dan dengan sengaja menuangkan minyak ke api.


Arya berkedut tanpa henti mendengar omong kosong Nia. Dia juga merasa kesal dan marah pada Helen karena gadis ini, Lucy jadi salah paham padanya.


Lucy tersenyum tipis mendengar penjelasan Nia, namun matanya jelas menunjukkan niat membunuh.


"Lucy, ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Aku tidak melakukan apa yang Nia katakan! Kemarin, saat aku mencari hadiah ulang tahun untukmu, aku bersama dengan Nia dan Helen, aku mengajak mereka makan siang! Mereka ada di sana saat itu!"


"Arya, sayangku, itu bukan penjelasan bagiku. Itu terdengar seperti omong kosong. Jika Nia dan Helen ada bersamamu, kenapa mereka berdua tidak menghentikan wanita ini dari bermesraan denganmu? Selain itu, siapa sebenarnya wanita cantik ini? Apakah kamu sekarang menyukai wanita yang lebih tua darimu, Arya?"


"Tidak, dengarkan aku, Lucy. Wanita itu, dia adalah ibu Niko. Kamu ingat Niko, kan? Temanku yang berkaca mata dan kurus itu, lho."


"Arya, kamu pikir aku anak berusia tiga tahun yang mudah dibohongi? Mana mungkin ada seorang ibu yang memiliki seorang anak seusia kita, tapi wajahnya masih seperti wanita berusia tiga puluhan! Kamu jelas berbohong!"


"Tidak, Lucy... Tunggu, dengarkan aku, Lucy!"


Arya hendak memberi penjelasan lagi, tapi Lucy tiba-tiba pergi dan berlari ke kamarnya sebelum dia bisa memberi penjelasan lagi.


Menghela napas tanpa daya, Arya menatap tajam Nia yang tertawa puas yang tidak jauh darinya. Dia diam-diam mengutuk gadis ini dan Helen karena membuat Lucy salah paham.


Jika Helen tidak memberikan Lucy foto dia sedang disuapi Yuki, bagaimana mungkin Lucy akan salah paham dan marah seperti sekarang?


Jika bukan karena Nia yang menuangkan minyak ke api, bagaimana mungkin Lucy terpancing emosinya dan menjadi lebih salah paham dan tidak mendengarkan penjelasannya sama sekali?


Menggelengkan kepalanya, Arya berdiri dan mencoba memberi penjelasannya pada Lucy lagi. Tapi saat dia mencoba masuk ke kamar Lucy, pintunya terkunci dan gadis itu sama sekali tidak mau membukakannya pintu.


*****


Pada malam harinya, setelah makan malam, Arya dan Nia sedang menonton TV bersama sementara Lucy masih berada di dalam kamarnya, masih marah pada Arya dan tidak mau menemuinya, bahkan ketika Arya berniat menjelaskan, dia mengabaikannya.


Menonton TV, Arya melihat acara komedi dan tertawa beberapa kali, sementara Nia yang ada di sebelahnya terlihat tidak bisa menjaga kepalanya tetap tegak dan terus-menerus menguap. Matanya terlihat mengantuk dan tidak lama kemudian, dia berbaring di paha Arya, menggunakannya sebagai bantal.


Arya agak terkejut, tapi dia segera tersenyum tipis ketika melihat Nia tertidur dengan nyaman di pangkuannya.