Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 71 - Kabar Baik dan Buruk



Setelah melewati akhir pekan yang suram tanpa kehadiran Lucy, Arya akhirnya bisa bertemu dengan kekasihnya lagi di sekolah. Dia bangun sangat pagi dan segera bersiap.


Alasannya sederhana, Arya ingin pergi menjemput Lucy di rumahnya, di waktu pagi-pagi sekali, hanya untuk memiliki waktu luang agar bisa bermesraan dengan kekasihnya itu.


Tiba di rumah Lucy, Arya mengetuk pintu di waktu di mana matahari baru muncul setengahnya.


Hanya dalam hitungan detik, pintu terbuka dan menunjukkan sosok Lucy yang masih mengenakan apron, menunjukkan bahwa dia sedang memasak di dapur.


Lucy tersenyum lebar melihat Arya. Dia segera melompat ringan dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Arya. Dia memeluknya begitu erat, membuat Arya agak kesulitan bernapas.


Merasakan pelukan erat Lucy, Arya bisa merasakan kehangatan dan rindu dari Lucy.


Mungkin, keduanya hanya tidak bertemu selama satu atau dua hari. Tapi bagi keduanya, mereka bagaikan sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun.


"Arya, aku sangat merindukanmu!"


"Aku juga merindukanmu, Ratuku."


Arya tertawa kecil sambil mencubit ringan hidung Lucy.


Lucy terkekeh dengan ini. Dia tersenyum manis, kemudian menutup matanya.


Arya tahu tapi yang harus dia lakukan. Lagipula, ini adalah rutinitas mereka setiap harinya ketika dia masih menginap di rumah Lucy.


Setelah bertukar ciuman, Lucy bersandar di dada Arya dan mendengarkan jantungnya yang berdetak kencang.


Lucy diam-diam tersenyum lembut dan bergumam pelan.


"Arya, jantungmu berdetak sangat kencang, lho."


"Ya, semuanya karena kamu terlalu cantik dan menggoda, sih. Aku jadi tergila-gila padamu."


Arya menangkupkan pipi Lucy dan menciumnya sekali lagi.


"Arya, kamu belum sarapan, kan? Ayo, aku sedang memasak di dapur, jadi tunggu sebentar, ya, Sayang."


Tanpa menunggu jawaban Arya, Lucy tersenyum manis dan berbalik, menuju dapurnya. Dia dengan jelas mengetahui bahwa Arya belum memakan apapun, dikarenakan dia datang sepagi ini.


Arya tersenyum tipis dan mendengus ringan. Dia kemudian mengikuti Lucy ke dapur.


Biasanya, Arya tidak akan mau mencampuri urusan dapur. Karena pertama, Lucy melarangnya dan yang kedua, karena dia takut mengacau.


Tapi sekarang, Arya mau datang ke dapur dan membantu. Semua dia lakukan hanya untuk berduaan dengan Lucy.


Memasak bersama, keduanya berdiri bersebelahan di depan kompor yang menyala. Keduanya memasak sarapan pagi yang cukup menggugah selera, dengan sup daging serta tumisan sayuran khas buatan Lucy.


"Lucy, aku punya kabar baik dan kabar buruk. Mana yang ingin kamu dengar lebih dulu?" Arya bertanya, membuat Lucy berpikir sejenak.


"Kabar baik." Jawab Lucy.


"Baiklah, kabar baiknya adalah aku diizinkan oleh kakek untuk menginap di sini selama lima hari setiap minggunya. Dia mengizinkanku dengan beberapa syarat."


"Ugh, aku yakin syarat yang diajukan kakek pasti akan menjadi kabar buruknya, kan?"


Arya tersenyum masam dan mengangguk.


"Jadi, apa syarat yang diajukan kakek?"


"Syaratnya adalah aku harus pulang ke rumah selama dua hari. Selain itu, aku harus menginap di rumah selama dua minggu ini dan aku tidak boleh bertemu denganmu di luar sekolah selama waktu itu. Jadi, aku hanya punya waktu bersamamu ketika pagi hari seperti ini, atau saat di sekolah. Oh, ya. Kakek juga menyuruhku untuk pulang ke rumah setiap akhir pekan. Oleh karena itu, sepertinya waktu kita di akhir pekan berkurang banyak."


Arya menjelaskan, merasa bahwa kakeknya terlalu kejam.


Lucy terdiam, merasakan hal yang sama seperti Arya.


Dia menghela napas panjang dengan ini, lalu bersandar pada bahu Arya.


"Kenapa begitu? Bukankah kakek terlalu kejam? Jika kamu tidak bisa bertemu denganku di akhir pekan, kita tidak memiliki waktu yang banyak, kan?"


"Yah, mau bagaimana lagi. Lagipula, itu sudah cukup. Selama aku bisa bertemu denganmu, meski hanya sebentar, itu lebih baik daripada tidak sama sekali."


Arya berusaha menghibur Lucy yang terdengar sedih itu. Dia juga ingin menghabiskan akhir pekan dengan berduaan dengan Lucy. Tapi karena Erwin, keduanya akan saling merindukan selama beberapa waktu ini.


"Arya, kapan kamu menginap di sini lagi? Aku sangat kesepian tadi malam. Tidak ada yang memelukku saat tidur dan aku tidak bisa melihat wajahmu saat tidur."


"Aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, tolong tunggu sebentar, ya? Aku akan berusaha membujuk kakek dan jika tidak bisa, aku akan curi-curi waktu selama dua minggu ini agar bisa bersamamu lebih lama."


Lucy mengangguk dengan lemah.


*****


Setelah selesai sarapan pagi, Arya dan Lucy pergi ke sekolah. Selama di dalam perjalanan, Lucy selalu memeluk erat Arya yang sedang membawa motornya.


Arya membiarkannya, lagipula dia menikmatinya.


Tiba di sekolah, keduanya memasuki kelas sambil berpegangan tangan. Pemandangan ini sudah biasa bagi teman sekelas mereka, jadi banyak yang tidak terlalu memperdulikannya.


Meski banyak dari teman sekelas yang sudah terbiasa, tapi mereka semua merasa heran, karena setiap harinya, Arya dan Lucy selalu terlihat lebih intim dari hari sebelumnya.


Banyak yang bertanya pada Arya ataupun Lucy, tentang rahasia keintiman mereka dan bagaimana cara agar hubungan selalu langgeng.


Lucy yang ditanyai ini menjawab sebisanya, tapi berbeda dengan Arya. Dia hanya menjawab singkat dan acuh tak acuh.


Tidak lama setelah Arya dan Lucy memasuki kelas, pelajaran dimulai.


Selama pelajaran di kelas, Lucy yang biasanya fokus dan selalu menatap papan tulis kini kehilangan fokusnya dan selalu melirik Arya sesekali. Dia sangat merindukannya dan ingin bersamanya.


Lucy ingin memeluk Arya, menciumnya dan berpegangan tangan dengannya. Tapi, karena dia harus sekolah, dia tidak bisa melakukannya. Ini membuatnya agak dilema.


Di sisi lain, Arya juga melirik Lucy dan terkadang memanggilnya dengan berbisik, berusaha menggodanya.


"Hei, Ratuku. Lihatlah kemari, aku ingin melihat wajah cantikmu."


Arya, yang duduk di sebelah Lucy berbisik dengan nakal.


Lucy perlahan menoleh dengan kaku, sudut matanya berkedut.


"Arya, bisakah kamu tidak mengganguku? Aku sedang mencoba fokus di sini!"


"Oh, apakah kamu lebih mementingkan pelajaran sekolah, di saat kamu sudah cerdas dan pintar?"


"Bukan begitu... Ish, jangan ganggu aku!"


"Ratuku, tidakkah kamu merindukanku? Aku di sini merindukanmu, tahu? Aku hampir mati karena tidak bertemu denganmu selama dua hari. Jika aku tidak bertemu denganmu satu hari lagi, aku sudah mati sekarang."


Arya masih berusaha menggoda.


Lucy menghela napas tanpa daya. Dia menatap Arya dengan senyum tipis lalu berkata.


"Apakah kamu pikir hanya kamu yang merasakan rindu? Aku juga sangat merindukanmu. Rasanya, jika tidak ada kamu, aku tidak bisa melakukan apapun di dunia."


"Jadi, secara tidak langsung, aku adalah duniamu, Ratuku?"


"Tentu, kamu adalah duniaku, priaku, kamu adalah seseorang yang tidak akan bisa aku hidup tanpanya."


Lucy menunjukkan senyum manisnya, membuat Arya terpesona dan hatinya dipenuhi kebahagiaannya.


Apa yang dikatakan Lucy benar-benar tulus, tanpa sedikitpun paksaan atau kebohongan. Dia benar-benar menunjukkan bahwa Arya adalah pria yang sangat dia cintai di dunia ini.


Saling menatap, keduanya berbagi tatapan hangat dan penuh kasih.


"Dua murid di sana, berhenti saling menggoda dan perhatikan pelajaran! Jika kalian ingin berpacaran, di sini bukan tempatnya!"


Tiba-tiba, seseorang berteriak pada Arya dan Lucy, membuat keduanya terkejut dan menoleh ke sumber suara, melihat bahwa seorang guru wanita menatap mereka dengan marah.


Arya mendecakkan lidahnya, kesal. Dia baru saja mendapat kesempatan mengobrol dengan Lucy, tapi semuanya jadi kacau.


Adapun Lucy, dia menundukkan kepalanya, wajahnya memerah karena malu.


Menghela napas, guru wanita tadi melanjutkan pelajarannya.


Setiap lima menit sekali, guru wanita itu akan mengawasi Arya dan Lucy. Pasangan kekasih ini benar-benar menjengkelkan, mereka terus-menerus bermesraan jika memiliki kesempatan, membuatnya harus mengawasi keduanya setiap saat.