
Esok harinya, Arya yang berada dalam kondisi kurang baik karena baru saja menyiksa ayah kandungnya sendiri mendapat telepon dari ibunya, Rosa.
Rosa menelepon untuk memberi tahu Arya bahwa Vicky masuk rumah sakit dengan kondisi mengenaskan sekaligus menakutkan, di mana seluruh jari serta lidahnya terpotong oleh benda tajam dan ada luka sayatan pada dada hingga perutnya. Bahkan mulutnya robek.
Tentu saja, sebagai orang yang pernah menjadi istri Vicky dan hidup bersamanya untuk waktu yang cukup lama, dia merasakan simpati. Tapi di sisi lain, dia menganggap apa yang terjadi pada Vicky saat ini adalah karma atas apa yang telah pria tersebut lakukan padanya dan anak-anaknya.
Rosa juga mengatakan pada Arya kalau karena hilangnya lidah Vicky membuatnya kesulitan dalam berbicara, bahkan berbicara mungkin sudah menjadi mustahil bagi Vicky.
Karena keadaannya yang mengenaskan, Rosa meminta Arya untuk pergi menjenguk Vicky dan melihat kondisinya.
Tentu saja Arya hanya menuruti permintaan Rosa dengan malas karena semua yang dibicarakan Rosa tentang keadaan Vicky, penyebabnya adalah dirinya sepenuhnya.
Ketika Arya datang ke rumah sakit tempat Vicky dirawat, dia bertemu dengan tiga orang wanita di dalam kamar tempat ayahnya dirawat. Satu wanita terlihat berusia hampir lima puluhan, serta dua orang gadis berusia dua puluh lebih.
Arya mendecakkan lidahnya dengan tidak senang karena ketiga wanita ini merupakan istri pertama serta anak-anak gadis Vicky.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Alice bertanya dengan dingin saat matanya merah, habis menangis. Kedua anak gadisnya juga melotot pada Arya.
Arya mengabaikan mereka dan mendekati Vicky yang terbaring di kasur rumah sakit itu. Dia menatap pria tersebut dengan tatapan rumit. Dadanya terasa sakit melihat ayahnya yang koma, namun dia menekankan rasa sakitnya itu.
Menghela napas pelan, Arya mengangkat kepalanya dan menatap ketiga wanita ini.
"Kau, sebaiknya kau cepat pergi dari sini! Aku tidak sudi bernapas di ruangan yang sama dengan orang sepertimu!"
Salah satu anak gadis Vicky mencibir, menutup hidungnya.
Arya menatapnya dingin, berkata dengan acuh tak acuh.
"Aku hanya ingin menjenguk ayahku, apakah itu tidak diperbolehkan?"
"Siapa ayahmu? Dia ayah anak-anakku dan bukan ayahmu!" Alice menyela.
"Lakukan sesukamu."
Arya terlalu malas meladeni para wanita ini. Dia menatap Vicky dengan dingin sebelum berbalik, tidak ingin berlama-lama di ruangan yang sama dengan para wanita ini. Dia benar-benar muak hanya melihat wajah mereka, bahkan niat membunuhnya meningkat. Rasanya dia benar-benar ingin mencekik wanita ini satu per satu, lalu membunuh mereka dan membuang mereka ke sungai.
Melihat Arya pergi, Alice mencibir.
"Pergilah, bocah. Katakan pada ibumu, jangan pernah datang menjenguk Vicky, atau dia hanya akan kucabik-cabik dan kubunuh. Tidak, akan lebih menyenangkan jika aku menelanjanginya dan melemparnya ke jalanan!"
Arya yang sudah membuka pintu itu terdiam dan membeku. Dia menoleh dengan kaku dan tatapan mengerikan muncul di matanya yang hitam. Mendengar ibunya dihina merupakan suatu hal yang tidak bisa ditoleransi olehnya.
"Pastikan kau hidup bahagia selama beberapa tahun ini. Jika tidak, kau hanya akan mati menderita di tanganku."
Arya tak ragu mengatakan hal ini pada Alice.
Alice diam dan menatapnya dingin, sama sekali tidak menanggapi Arya.
Keduanya saling menatap dingin. Masing-masing dari mereka memiliki kebencian yang tidak bisa dihilangkan.
Menghela napas, Arya pergi meninggalkan mereka. Dia berjanji dalam hatinya, jika dia tidak membunuh Alice dan anak gadisnya, maka dia tidak akan hidup dengan tenang.
*****
Dua hari kemudian, di teras samping rumah Lucy, terlihat seorang pemuda sedang duduk dengan ekspresi bermasalah saat dia menatap ke bawah. Cahaya matanya agak redup dan jejak penyesalan terlihat di wajahnya.
Pemuda itu secara alami adalah Arya.
Selama dua hari ini, dia terus-menerus merenungkan apa yang telah dia perbuat pada Vicky. Dia bingung dengan apa yang telah dia lakukan pada ayahnya itu adalah tindakan benar atau salah.
Dari balik jendela, Lucy menatap Arya dengan melankolis.
Lucy yang melihat keadaan Arya selama dua hari ini tidak bisa untuk tidak khawatir. Sejak kemarin, Arya banyak diam dan menyendiri. Bahkan ketika dia disuruh makan olehnya, pemuda itu menolak.
Hingga hari pun, Arya belum memakan sesuap nasi sedikit pun.
Jelas, Lucy merasa khawatir dan dia yakin kalau terjadi sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Dia juga sudah bertanya pada David, namun kakaknya tidak mau menjawab dengan jujur dan selalu mengelak.
Ini membuatnya curiga jika Arya dan David memiliki rahasia yang disembunyikan dari dirinya.
Lucy sendiri tidak ingin bertanya tentang apa yang terjadi pada Arya. Dia ingin Arya mengatakannya padanya ketika pemuda itu sudah siap dan memang ingin menceritakannya.
Jika dipaksa, Lucy yakin Arya tidak akan bercerita dan malah tambah stres.
Menghela napas tanpa daya, Lucy keluar rumah dan menghampiri Arya, berdiri di hadapannya.
"Arya, kamu kenapa? Sejak kemarin kamu terlihat tidak sehat."
"Kalau kamu memang tidak enak badan, kamu seharusnya minum obat dan makan. Kamu belum makan sama sekali dari kemarin. Makan dulu, ya? Aku akan masak sesuatu untukmu."
Arya tidak menjawab dan memeluk Lucy yang berdiri di hadapannya, membenamkan wajahnya di perut ramping Lucy.
Lucy membiarkannya dan tidak memaksanya menjawab. Dia lalu menepuk kepala Arya dan mengelusnya dengan lembut.
Tidak lama kemudian, David yang cuti dari kerjanya menghampiri Arya dan Lucy.
"Arya, kenapa tidak kau ceritakan saja semuanya pada Lucy? Jangan buat Lucy mengkhawatirkanmu terus-menerus." Kata David penuh kecemasan.
Arya lalu melepaskan pelukannya dari Lucy dan segera menjawab David.
"Maaf, tapi aku tidak mau menceritakannya kepada Lucy." Jawab Arya sambil membuang muka.
Lucy yang melihat Arya dan David membicarakan sesuatu yang tidak dia ketahui menjadi bingung dan bertanya-tanya. Dia menatap Arya dan David secara bergantian.
"Kakak, Arya, apa yang kalian berdua sembunyikan dariku? Cerita apa yang kalian maksud?"
"Lucy, dengarkan ini. Arya itu..."
David melirik Arya sejenak, ragu-ragu untuk mengatakan kebenarannya pada Lucy. Tapi tetap, dia mengatakannya pada Lucy.
"Arya... Dia baru saja membunuh ayahnya sendiri."
David menghela nafas berat dan ekspresi bermasalah memenuhi wajahnya. Matanya menunjukan kesedihan saat dia melirik pada Arya yang gemetar itu.
Lucy yang mendengar ucapan David menjadi terkejut, membeku. Dia berhenti bernapas untuk sekian detik dan tubuhnya gemetar hebat. Matanya melebar dan dia kehilangan semua kata-katanya.
Lucy yakin jika Arya membunuh seseorang beberapa hari yang lalu, karena pemuda itu mengasah belatinya setiap kali akan membunuh seseorang. Namun, dalam pemikiran terliarnya sekalipun, tidak pernah dia berharap kalau Arya akan membunuh ayahnya sendiri.
Dengan wajah pucat, Lucy menatap Arya yang buang muka.
"Arya... Katakan padaku kalau semuanya hanya kebohongan... Kumohon, katakan padaku kalau kamu dan Kakak hanya membuat candaan..."
Keringat dingin menetes dari pipi Lucy. Dia menatap Arya dengan ketidakpercayaan. Dia berjanji dalam hatinya, jika Arya benar-benar membunuh ayahnya seperti yang David katakan tadi, maka dia tidak akan pernah mau bicara ataupun melihat wajah Arya lagi.
Arya perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Lucy lalu David dengan cahaya matanya yang benar-benar sudah menghilang. Dia kemudian berkata dengan gemetar.
"Aku tidak tahu apakah aku benar-benar membunuhnya atau tidak. Tapi yang jelas, aku melampiaskan seluruh kebencianku padanya."
Keduanya terkejut dengan ini, terutama David.
Apa yang Arya katakan memiliki makna bahwa dia ragu apakah dia benar-benar membunuh Vicky atau tidak, yang secara tidak langsung membuat David menghela nafas lega meski masih agak ragu.
Lucy juga menghela nafas dan meraih pergelangan tangan Arya, menariknya saat ekspresinya serius.
"Ikut aku. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!"
Lucy merasakan sakit kepala yang hebat seakan kepalanya ditusuk ribuan jarum.
*****
"Jelaskan semuanya."
Lucy menatap Arya dengan agak marah ketika keduanya berada di dalam kamar.
"Bisakah kita tidak membahas ini? Aku muak jika harus menceritakan semuanya."
Arya menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya.
Lucy dengan tegas menatap Arya seakan dia tidak akan berhenti menatapnya jika belum mendapat jawaban yang memuaskan, membuat pemuda tersebut menghela nafas kasar. Sebenarnya, bukannya dia tidak mau menjelaskan. Hanya saja, jika dia menjelaskan semuanya, maka dia akan mengingat apa saja yang telah terjadi. Ini membuatnya merasakan sakit pada dadanya.
"Arya..." Lucy memanggilnya dengan lembut dan hangat.
"Lucy, tanpa aku jelaskan, kamu sudah tahu jawabannya, kan?"
"Tolong, jelaskan semuanya. Kamu tidak benar-benar membunuh ayahmu, bukan? Aku percaya kamu tidak akan melakukan hal sekejam itu."
Lucy mendekati Arya, membuatnya hanya berjarak satu jari dari pemuda tersebut.
Arya menghela nafas panjang, bersiap untuk menjelaskan semuanya pada Lucy.
"Dengarkan aku..."
Arya mulai menjelaskan tentang apa yang terjadi.