Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 148 - Study Tour



Di rumah Lucy, ketika Arya dan gadis tersebut tiba di sana, keduanya disambut oleh David.


David menatap Arya dengan cemas. Bagaimanapun, dia tahu masalah yang sedang Arya hadapi dan dia takut Arya melakukan sesuatu yang gila terhadap ayahnya.


Menyadari makna tatapan David, Arya menggeleng.


"Tenang, Kak. Aku tidak melakukan apapun pada bajingan itu. Aku pulang ke rumah dan menemui mama selama beberapa hari terakhir."


David menghela napas lega mendengarnya. Dia bisa lega jika Arya sudah berkata seperti itu. Jika sampai Arya membunuh ayahnya karena ayahnya itu selingkuh berkali-kali, dia akan merasa sangat bersalah pada adik laki-lakinya itu.


Setelah mengobrol sedikit dengan David, Arya pergi ke kamar Lucy.


"Lucy, apakah kamu sibuk?"


"Tidak, apakah kamu perlu sesuatu? Ah, ngomong-ngomong karena lusa kita sudah berangkat study tour, aku sudah menyiapkan semua keperluan kita selama study tour. Itu, koper itu penuh dengan semua pakaianmu dan alat mandi. Handuk juga sudah aku masukkan. Semuanya ada di sana, periksa saja jika ada yang kurang, kamu bisa menambahkannya. Atau panggil saja aku, aku akan mengurusnya untukmu."


Lucy menunjuk koper di sudut kamarnya.


Arya agak terkejut melihat jika Lucy sudah menyiapkan semua kebutuhannya untuk study tour.


Meraih tangan Arya, Lucy menariknya dan memeluknya erat.


Arya tersentak dan menatap Lucy, mengelus kepalanya.


"Ada apa, Lucy?"


"Aku takut. Sejujurnya, karena kamu mengabaikanku selama lima hari ini, aku takut kamu pergi meninggalkanku dan tidak pernah mau menemuimu lagi. Aku benar-benar takut jika kamu meninggalkanku. Jika itu terjadi, aku tidak tahu bagaimana caraku harus menjalani keseharianku. Rasanya jika tidak ada kamu, aku merasa hampa. Oleh karena itu, tolong jangan pernah tinggalkan aku."


Suara Lucy gemetar dan terdengar kesedihan di sana.


Arya diam selama beberapa saat karena terkejut. Dia mendengus ringan, menangkupkan kedua tangannya di wajah Lucy dan mengangkatnya.


Mata keduanya bertemu, menunjukkan sudut mata Lucy yang sudah memiliki air mata.


"Apa yang kamu katakan? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu hanya karena masalah seperti itu? Aku memang marah, tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Aku bersama mama selama lima hari ini, untuk menebus apa yang telah terjadi. Ah, aku sepertinya belum bercerita tentang masalahku, ya?"


Arya tiba-tiba teringat jika dia belum mengatakan tentang Vicky pada Lucy.


"Aku sudah tahu. Aku sudah mendengarnya dari mama langsung. Aku tidak pernah menyangka jika ayahmu akan sebajingan itu pada mama!" Lucy menggeleng, sangat kesal karena sikap bajingan Vicky pada Rosa yang sudah keterlaluan.


Arya kembali dibuat terkejut. Dia tidak berharap jika ibunya akan bercerita dengan sendirinya pada Lucy. Bahkan, dia tidak tahu kapan Rosa bercerita pada Lucy.


Mengabaikan yang tidak perlu, Arya berkata.


"Vicky adalah bajingan dan tetap akan menjadi bajingan. Jadi, keputusanku menyiksanya saat itu tidak salah. Justru, seharusnya aku membunuhnya saja kala itu."


Lucy diam mendengarnya. Dia memang terkejut dan sangat kesal ketika mengetahui fakta tentang Vicky, tapi dia tetap tidak ingin Arya membunuh ayahnya. Dia menghela napas dalam hatinya.


"Baiklah, sepertinya kita terlalu lama berbasa-basi, ya? Bagaimana jika kita melepas rindu dulu?"


Setelah selesai dengan kalimatnya, Arya tersenyum nakal pada Lucy dan mencium bibir lembutnya, mendorongnya ke atas kasur dan menikmati bibir mungil dan manis Lucy selama beberapa menit ke depan.


*****


Lusa, hari di mana study tour tiba.


Arya dan Lucy berangkat pagi-pagi dan berpamitan pada David.


"Kak, kami pergi dulu. Jaga dirimu selama aku pergi. Jangan lupa makan dan jangan telat makan. Ingat untuk tidur cukup dan jangan terlalu lelah bekerja. Beli makan di luar saja, jangan coba-coba memasak karena Kakak tidak bisa memasak."


Lucy mengingatkan dengan serius, membuat David sakit hati saat mendengar akhir kalimat Lucy tentang dirinya yang tidak bisa memasak.


Tersenyum masam, David berkata.


"Ya, aku bisa menjaga diriku sendiri, jadi jangan khawatir. Pergilah dan bersenang-senang. Ingat, kalian harus membuat kenangan yang indah selama masa study tour, jangan sampai menyesal karena kehilangan masa-masa menyenangkan saat kalian masih SMA."


"Ya, Kak. Kami pergi dulu kalau begitu."


Arya dan Lucy menjawab kompak, bertukar beberapa kata sebelum pergi.


Arya dan Lucy tidak langsung pergi ke sekolah untuk study tour. Masih ada waktu lebih dari satu jam sebelum keberangkatan, jadi keduanya memutuskan untuk pergi ke rumah Erwin lebih dulu.


Bagaimanapun, Erwin merupakan kakek Arya, jadi sebagai cucu dia harus berpamitan pada kakeknya itu.


Tiba di sana, keduanya disambut oleh Emily.


Emily tersenyum pada Arya dan Lucy sambil mengajak mereka masuk.


"Ya, kami akan berangkat, makanya kami pulang karena ingin berpamitan."


Arya menjawab dan Emily mengangguk sebagai tanggapan.


"Oh, kalian sudah datang? Sudah sarapan? Kemari, makan sama Kakek."


Erwin di dapur, duduk di meja makan sambil menyantap makanannya.


Arya dan Lucy saling memandang, pemuda itu tersenyum pada kekasihnya.


"Mau sarapan lagi? Aku masih sedikit lapar, jadi aku akan menemani Kakek makan. Bagaimana denganmu?"


"Maaf, Kakek. Aku sudah kenyang saat sarapan di rumah tadi. Silakan nikmati makanan Kakek bersama Arya, aku akan menunggu di ruang depan saja. Emily, temani aku, ya."


Lucy menatap Erwin dan meminta maaf sebelum menyeret Emily bersamanya.


Erwin mengangguk ringan. Arya juga segera duduk di hadapannya dan mengambil piring.


Erwin menatap Arya dengan rumit. Dia tahu jika cucunyan ini telah mengetahui fakta pahit tentang ayahnya, yang selama ini dia sembunyikan.


Menghela napan panjang, Erwin berkata dengan penuh penyesalan.


"Arya, tentang ayahmu..."


"Tidak ada yang perlu dibahas tentang itu, Kek. Aku sudah mengetahuinya semuanya dan aku juga sudah menemui mama. Aku sudah tidak ambil pusing tentang bajingan itu. Anggap saja dia sudah mati."


Arya segera menyela saat Erwin angkat bicara tentang ayahnya.


Erwin terdiam, bibirnya menggeliat saat dia ingin mengatakan sesuatu namun menghela napas pada akhirnya.


"Mamamu adalah wanita yang kuat, sama seperti nenekmu. Aku tidak pernah mendidiknya untuk begitu kuat dan selalu memanjakannya dulu, jadi sebenarnya agak aneh, dari mana dia sebenarnya mendapat kekuatan untuk menahan semua penderitaannya?"


"Semua karena aku dan Andhika, Kek. Jika bukan aku dan adikku yang menjadi cahaya di gelapnya hidup mama, aku tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan hingga sekarang."


"Kamu benar. Semua karena dirimu dan Andhika. Oleh karena itu, tolong jaga ibumu dengan baik dan jangan sakiti dia."


"Tentu, aku akan menjaga mama sebaik mungkin. Bahkan jika ada pria yang berusaha mendekatinya, bahkan jika aku harus membunuhnya, itu bukan masalah besar."


Di titik ini, nada Arya tiba-tiba menjadi sedingin es dan tatapannya begitu mengerikan hingga Erwin terkejut melihatnya.


Erwin menghela napas panjang melihat tatapan dingin Arya. Dia menggeleng dan melanjutkan makannya.


Setelah selesai sarapan, Arya dan Lucy segera berpamitan pada Erwin Emily.


"Kami berangkat dulu, Kek. Emily, tolong jaga kakek, ya. Ingatkan dia untuk makan jika dia terlambat makan." Kata Arya.


"Ya, Kak. Tenang saja. Kakek pasti akan makan tepat waktu dj bawah pengawasanku. Kakak dan Lucy juga hati-hati selama study tour. Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh ketika kamu pulang nanti, Kak."


"Tentu, aku akan bawakan apapun yang kamu mau."


Arya tersenyum pada Emily.


"Apakah kalian pikir aku akan selalu melupakan makanku? Jika aku lapar aku akan makan, tahu?" Erwin mencibir, agak kesal.


Arya dan Emily tertawa kecil mendengarnya.


Erwin menghela napas mendengar tawa kedua cucunya. Dia kemudian menatap Lucy.


"Lucy, tolong jaga Arya selama perjalanan. Dia sekarang hobi berkelahi, jadi jangan sampai dia membuat masalah yang tidak perlu."


"Ya, Kakek. Tenang sana, dia tidak akan berbuat macam-macam selama ada aku di sisinya."


"Baguslah. Dan Arya, kamu juga hati-hati. Entah kenapa tapi Kakek memiliki firasat buruk tentang study tour-mu ini. Aku tidak tahu kenapa aku memiliki firasat buruk, tapi ada baiknya kamu berhati-hati."


Erwin tiba-tiba berkata demikian, ekspresinya begitu serius hingga membuat Arya, Lucy dan Emily terkejut mendengarnya.


Arya mengangguk sungguh-sungguh sebagai tanggapan. Jarang bagi Erwin untuk memiliki firasat buruk. Jika dia sudah memiliki firasat buruk, maka firasatnya itu akan menjadi kenyataan. Setidaknya itu yang sering Arya alami ketika Erwin memiliki firasat buruk.


Setelah beberapa pertukaran kata, Arya dan Lucy berangkat ke sekolah sebelum pergi study tour.