Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 69 - Emily



Setelah mendengarkan ocehan Erwin selama kurang lebih dua jam, Arya akhirnya bebas. Dia merasa lega karena Erwin ternyata tidak melaporkan dirinya pada Rosa. Jika tidak, dia mungkin mendapat ocehan yang seribu kali lebih mengerikan daripada ocehan Erwin.


Masuk ke dalam kamarnya, Arya melihat bahwa kamarnya cukup rapi meski dia tinggalkan selama tiga bulan lebih. Dia tersenyum puas dengan ini dan berterima kasih pada Erwin karena sudah merapikan kamarnya dan selalu membersihkannya.


Rumah Erwin sendiri tidak terlalu besar, hanya tiga kamar, dapur, ruang keluarga yang dilengkapi TV.


Meletakkan tasnya di kasurnya, Arya memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. Tidak lupa, dia juga menyembunyikan belatinya dengan aman. Jika dia ceroboh dalam menyimpan belatinya, Erwin pasti akan sangat marah besar dan dia mungkin akan dikeluarkan dari keluarganya.


Setelah merapikan apa yang perlu dirapikan, Arya keluar dari kamarnya dan mencari Emily, gadis yang disebutkan oleh Erwin saat dia pulang tadi.


Emily sendiri merupakan adik sepupunya. Dia memiliki penampilan yang imut dan menggemaskan dengan pipinya yang tembem. Juga, sikapnya sangat ramah dan dia merupakan gadis yang baik hati. Wajahnya juga cantik dan dia memiliki perbedaan usia dua tahun dengan Arya, dengan gadis itu yang lebih muda, yaitu enam belas tahun.


Setelah mencari sejenak, Arya tidak menemukan Emily di manapun. Dia kemudian mencarinya di kamarnya.


Mengetuk pintu beberapa kali, Arya segera mendengar derit pintu terbuka, menunjukkan sosok gadis mungil yang cantik dan terlihat menggemaskan dengan pipi temben.


Ketika pintu terbuka sepenuhnya, gadis mungil itu terkejut melihat Arya berada di depan pintu. Matanya melebar dan berbinar. Dia segera tersenyum lebar.


"Kak Arya!"


Gadis mungil itu secara alami adalah Emily. Dia segera membuka kedua tangannya, melompat ke arah Arya dan hendak memeluknya dengan erat.


Tapi sayangnya, Arya menghindar ke samping, membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.


Berbalik, Emily menunjukkan wajah cemberut dan ketidaksenangan. Dia merindukan kakak sepupunya ini dan ingin memeluknya, tapi kakak sepupunya malah menghindar? Dia sangat kecewa pada Arya!


Menggembungkan pipinya, Emily berkata dengan kesal.


"Huh, Kak Arya jahat!"


"Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu yang seenaknya ingin memelukku. Tubuhku ini mahal, tahu?"


"Hmph!"


Emily mendengus dan buang muka mendengar ucapan menjijikan Arya.


Arya terkekeh melihat ini, merasa bahwa adik sepupunya ini masih menggemaskan seperti biasanya.


Menepuk kepala Emily, Arya membujuknya dan gadis itu terbujuk dengan mudah.


"Sudah berapa lama kamu di sini, Emily?"


"Sudah satu bulan, Kak. Oh ya, Ngomong-ngomong, ke mana saja kamu selama ini, Kak? Aku sudah satu bulan di sini, tapi aku tidak melihatmu selama ini."


Emily bertanya, matanya dipenuhi rasa penasaran saat dia menatap Arya.


Aray tersenyum pahit mendengar ini. Dia memutar otaknya dengan keras, tapi dia tidak menemukan alasan bagus untuk diberikan. Jadi, dia hanya mengatakan jika dia menginap di rumah kekasihnya, Lucy.


"Kakak punya pacar?! Sejak kapan?!"


"Hei, apa-apaan reaksi terkejutmu itu?"


"Yah, habisnya aku pikir Kakak akan menghabiskan waktu sendirian sampai akhir hayatnya, jadi aku tidak menyangka hal ini."


"Omong kosong! Mana mungkin aku jadi seperti itu?! Aku bisa menemukan pasanganku meski aku sudah tua nanti!"


Arya mendengus, tidak senang dengan ucapan Emily.


Emily tertawa ketika Arya tersinggung dengan ucapannya. Dia kemudian memeluknya dengan erat, membujuknya sekaligus melepas rasa rindunya.


"He-he-he. Kak Arya sangat imut saat marah."


Arya menghela napas pelan mendengar ini. Dia mengelus kepala Emily sejenak sebelum mendorongnya menjauh.


"Oh, ya. Kamu akan berapa lama berada di sini, Emily?"


"Tidak tahu. Mungkin cukup lama, karena ayah dan ibu bilang kalau pekerjaan mereka akan memakan waktu yang lama."


Orang tuanya bekerja di luar negeri dan jarang pulang. Dia terkadang ikut dengan orang tuanya, tapi karena dia ikut, dia harus sendirian saat di rumah sebab kedua orang tuanya bekerja. Jadi, Emily memilih untuk tinggal bersama Erwin, karena jika dia di sini, dia setidaknya memiliki teman untuk diajak mengobrol, entah itu Erwin ataupun Arya.


Selain itu, Emily juga tidak bersekolah seperti gadis seusianya. Dia mengalami trauma saat sekolah, karena pada masa SMP tahun pertamanya, dia dibully habis-habisan oleh teman sekelasnya, membuatnya ketakutan dan tidak berani pergi ke sekolah lagi.


Namun, meski begitu, dia merupakan anak yang rajin dan selalu belajar setiap harinya. Terkadang, dia akan belajar bersama Arya jika Arya memiliki waktu luang.


Setelah mengobrol lama dengan Emily, Arya kembali ke kamarnya dan berbaring di kasurnya.


*****


Malam harinya, setelah selesai makan malam, Arya dan Erwin duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


"Oh, ya. Bagaimana kabar David dan Lucy? Mereka sudah lama tidak datang kemari dan aku juga tidak tahu kabar mereka."


"Ah, Kak David dan Lucy sehat, Kek. Kak David selalu bekerja setiap hari dan dia terkadang lembur hingga malam hari."


"Ya ampun, pasti berat baginya. Tunggu... Jika David lembur hingga malam hari, berarti kamu dan Lucy hanya berdua saja di rumah?"


Erwin tiba-tiba menyadari sesuatu dan segera bertanya dengan tatapan tajam.


Arya terdiam. Keringat dingin memenuhi dahinya dan dia tidak tahu harus bilang apa. Jika dia mengatakan dirinya memang berdua dengan Lucy selama David lembur, maka dia pasti akan mendengar ocehan lagi.


Arya tentu tidak ingin hal ini. Dia muak mendengarkan ocehan Erwin.


"Te-tentu saja tidak. Lucy mengundang temannya setiap kali Kak David lembur. Tidak mungkin aku berduaan saja dengan Lucy, itu tidak baik. Um, itu tidak baik."


Arya mengangguk, berusaha memberikan penjelasan terbaiknya.


Erwin mengerutkan dahinya dan menatap Arya dengan serius, seolah-olah dia bisa melihat isi hati Arya, memastikannya berbohong atau tidak.


Arya gugup dengan ini. Jantungnya berdebar kencang, takut ketahuan kalau dia berbohong.


"Baiklah, setidaknya aku mempercayaimu untuk saat ini."


Erwin mendengus, ragu dengan jawaban Arya.


Arya diam-diam menghela napas lega dengan ini.


"Arya, jangan terlalu sering menginap di rumah Lucy. Itu tidak baik. Bukannya Kakek melarang, tapi mungkin saja kamu akan merepotkan Lucy dan David. Mereka memiliki kehidupan mereka sendiri, jadi jika kamu ada di sana, mungkin ada beberapa hal yang tidak bisa mereka lakukan." Kata Erwin, menasehati Arya dengan serius.


"Kek, mungkin Kakek tidak tahu, tapi Kak David mengatakan jika tidak masalah jika aku menginap di sana. Lagi pula, Kak David dan Lucy mengatakan jika ada aku di sana, rumah terasa lebih hidup."


"Arya, itu hanya basa-basi David saja, paham? Mereka pasti terkadang merasa terganggu dengan adanya dirimu. Selain itu, kenapa kamu harus menginap di rumah orang lain, jika kamu memiliki rumahmu sendiri?"


"Kek, aku menginap di sana karena ada pacarku di sana. Apakah itu hal yang salah?"


"Arya, tentu saja itu salah. Tidak baik bagi seorang pria, menginap di rumah kekasihnya terlalu lama, apalagi sampai tiga bulan lebih. Selain itu, Kakek sarankan untuk menjaga jarak dengan Lucy. Selalu ada baiknya berhati-hati agar tidak terjadi sesuatu di luar kendalimu."


"Kakek, aku akan mendengarkan semua ucapanmu, tapi tidak dengan menjaga jarak dengan Lucy. Dia adalah kekasihku, kenapa aku harus menjaga jarak darinya?"


Arya terdengar kesal.


"Selain itu, aku tidak pernah melewati batas selama berpacaran dengan Lucy. Jika Kakek tidak percaya, tanya saja pada Lucy."


Arya berkata, jelas mengatakan omong kosong.


Dia pernah hampir melepas bra milik Lucy dengan tangannya sendiri. Jika bukan karena David tidak sengaja memergokinya, maka dia dan Lucy pasti sudah melakukan kegiatan dewasa. (Chp 33)


Jadi, setidaknya Arya pernah melewati batas satu kali.


"Yah, semuanya terserah padamu. Kakek sudah memperingatkanmu."


Erwin menghela napas tanpa daya.


Arya kemudian diam cukup lama dan merenungi kata-kata kakeknya itu.