
Arya terkejut mendengar David. Dia diam dan tidak menjawab untuk beberapa saat.
David tidak mendesak Arya untuk menjawab secepatnya. Dia hanya menunggu dengan sabar, meski dirinya sebenarnya sudah mengetahui jawabannya.
Melihat Arya yang kesulitan menjawab, David yakin jika apa yang dikatakan Lucy memang benar apa adanya. Ini membuatnya agak kecewa.
"Ya, aku sudah memiliki pacar, Kak."
"Lalu, bagaimana dengan Lucy? Tidakkah kamu ingat janji yang kamu buat dulu? Jangan mengecewakanku, Arya."
"Kak, aku jelas ingat janji yang kubuat. Tapi, mengingat Lucy pernah mengkhianatiku, aku takut ditinggalkan olehnya untuk kedua kalinya."
"Arya, sudah kukatakan berkali-kali padamu. Lucy belum pernah memiliki pacar, dia hanya mencintaimu seorang."
Arya diam, menundukkan kepalanya dan merenung sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Kak, aku tetap tidak percaya kata-katamu. Aku melihatnya sendiri, Lucy mengunggah foto mesra bersama pria lain."
"Arya, kamu sangat keras kepala."
David menghela napas tanpa daya.
"Jadi, sekarang kamu sudah punya pacar, lalu bagaimana perasaanmu pada Lucy?" David bertanya serius.
Arya terdiam dan berpikir cukup lama, sampai akhirnya dia menjawab dengan berat.
"Perasaanku pada Lucy masih sama, aku masih menyukai dan mencintainya. Hanya saja..."
"Kalau begitu, semuanya baik-baik saja."
David menyela, tidak membiarkan Arya selesai dengan kalimatnya.
Lucy, yang berada di luar ruang TV hampir menangis bahagia mendengar ini. Dia sudah menunggu di sana sejak Arya datang, mendengarkan semua pembicaraan kakaknya dan Arya.
Merasa lega, Lucy bersandar pada dinding dan menghela napas pelan. Dia terisak sekali lalu menunjukkan senyum bahagia.
*****
Setelah bermain game bersama David, Arya akhirnya pamit pulang dikarenakan hari sudah semakin malam.
Namun, David menghentikannya dan memintanya untuk menginap. Arya awalnya menolak karena dia memiliki beberapa hal yang perlu dilakukan. Tapi karena David terus-menerus memaksanya, dia pasrah dan menginap di rumah Lucy.
"Baiklah, Kak. Aku akan tidur duluan. Aku masih harus sekolah besok, jadi aku tidak boleh terlambat."
David mengangguk pada Arya.
Arya kemudian pergi ke kamar David, berbaring di kasur dan mencoba untuk tidur.
Setelah kurang lebih lima belas menit, dia akhirnya tertidur pulas.
David yang masih berada di ruang TV itu terlihat masih bermain game sampai akhirnya dia tiba-tiba mendapat ide bagus. Dia segera menghentikan gamenya dan menuju kamarnya.
Melihat Arya tertidur, David memanggilnya beberapa kali namun pihak lain tidak menunjukkan respon, menunjukkan jika Arya sudah tidur pulas.
David tersenyum licik dengan ini. Dia segera ke kamar adiknya, Lucy.
Lucy masih terjaga saat dia tiba-tiba mendengar ketukan pintu. Dia dengan bersemangat segera membukakan pintu, berharap yang mengetuk adalah Arya.
Namun, ketika pintu terbuka, yang terlihat hanyalah David yang tampak bersemangat itu. Ini membuat Lucy kecewa dan ekspresinya segera berubah menjadi kesal dan cemberut.
David berkedut melihat perubahan sikap Lucy, jelas mengetahui apa yang ada di pikiran adiknya itu.
"Jadi, ide apa yang kamu maksud, Kak? Aku harap itu ide bagus."
"Tentu saja ini ide bagus! Dengar, Arya saat ini sedang tertidur pulas di kamarku, aku menyuruhnya menginap tadi. Nah, sekarang kamu pergi ke kamarku dan berbaring di sisi Arya. Kamu bisa memeluknya atau melakukan apapun yang kamu inginkan selama dia tidur!"
David menjelaskan rencananya dengan penuh kebanggaan.
Lucy terkejut dan wajahnya memenas dan segera berubah jadi merah padam, bahkan kepalanya terlihat mengeluarkan asap.
"A-apa yang kamu bicarakan, Kak?! Aku tidak akan melakukan hal semacam itu!"
"Lucy, kamu dan Arya adalah teman masa kecil. Kalian sudah sering tidur bersama saat dulu, kan? Jadi, apa bedanya dengan sekarang?"
"Dulu kami masih kecil dan sekarang kami sudah dewasa, jadi tidak seharusnya aku melakukan hal semacam itu!"
"Cukup, ini kesempatan langka. Jika kamu tidak bergerak, kamu akan menyesal, lho."
David menarik lengan Lucy, mengabaikan keluhan adiknya. Dia kemudian membawanya ke kamarnya, melemparnya ke dalam dan segera menutup pintu.
Lucy yang dilemparkan ke dalam kamar itu terdiam, mengutuk kakaknya dalam hatinya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke Arya yang tertidur di kasur.
Lucy ragu-ragu ketika dia menatap Arya yang tertidur dengan ekspresi rumit. Dia ingin mendekatinya dan berbaring di sebelahnya. Namun, di satu sisi, dia masih menyimpan rasa marah pada Arya karena berpacaran dengan Lylia padahal cinta Arya sendiri masih menjadi miliknya.
Menghela napas pelan, Lucy naik ke atas kasur dan duduk di sebelah Arya. Dia menatap wajah Arya yang tengah tertidur dengan tenang. Dia perlahan tersenyum, merasa bahagia hanya karena menatap wajah tidur Arya.
"Arya, tidakkah kamu terlalu kejam? Kamu mencintaiku, tapi kamu berpacaran dengan Lylia. Aku yakin Lylia akan sakit hati jika dia tahu ini. Oh, ngomong-ngomong kamu juga mengatakan banyak hal kasar padaku, jadi kamu juga menyakitiku. Wah, Arya, kamu benar-benar keterlaluan, kamu menyakiti hati dua gadis di sini."
Lucy terkikik, membelai pipi Arya dengan lembut. Dia tidak takut Arya terbangun, karena Arya sulit dibangunkan jika hanya dengan gerakan pelan.
Perlahan, Lucy menatap Arya dengan penuh cinta. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Arya sambil menyisir rambutnya ke belakang telinga. Tujuannya jelas, dia ingin mencium Arya.
Namun, saat bibir keduanya hampir menyatu, Lucy menghentikan niatnya dan mengangkat kepalanya, menghela napas panjang.
"Ini tidak akan adil jika aku mencium Arya tanpa sepetahuannya. Juga, akan lebih membahagiakan jika aku bisa berciuman dengannya ketika hubungan kami sudah membaik."
Lucy tersenyum hangat, wajahnya agak memerah dan jantungnya berdebar kencang. Dia bisa membayangkan betapa membahagiakannya saat dia berciuman dengan Arya nanti.
Berbaring, Lucy menggunakan tangan Arya yang terbuka sebagai bantal. Dia membenamkan wajahnya ke dada Arya, memeluknya lalu menutup matanya, tidur dalam kehangatan yang sangat dia rindukan.
Saat tertidur, Lucy tetap mempertahankan senyum bahagianya ketika merasakan kehangatan tubuh Arya.
*****
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa disadari dua bulan telah berlalu. Selama dua bulan terakhir, tidak banyak yang terjadi dalam kehidupan Arya. Dia menjalani aktivitasnya seperti biasanya. Adapun hubungannya dengan Lylia, itu tidak berkembang sama sekali.
Arya hanya ingin memanfaatkan Lylia, jadi dia tidak peduli dengan kencan atau semacamnya. Dia hanya peduli pada uang yang dimiliki Lylia.
Bahkan setelah berpacaran selama dua bulan dengan Lylia, hati Arya tetap milik Lucy. Dia masih menyukai Lucy tidak peduli seberapa keras dia berusaha melupakannya.
Adapun Lylia, dia sendiri menyadari hubungannya tidak berkembang dengan Arya. Dia merasa kurang puas karena kekasihnya sangat jarang menunjukkan kasih sayangnya. Namun, meski begitu dia masih sangat mencintai Arya.