Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 140 - Juicy Kiss



"Arya, kamu mau stroberi?" Tanya Lucy, matanya berkedip dengan nakal.


Arya menatapnya sejenak, menghela napas dan mengangguk. Dia kemudian membuka mulutnya agar Lucy bisa menyuapinya.


Namun, setelah menunggu lama, Arya tidak merasakan apapun masuk ke dalam mulutnya, membuatnya semakin berkedut.


Menatap Lucy, Arya terkejut.


"Ini, ambil jika kamu mau..."


Lucy berkata, matanya menatap nakal Arya saat dia mengigit stroberi di mulutnya.


Arya terkejut, wajahnya agak memerah. Bagaimana mungkin dia tidak tahu maksud Lucy?


Mendekati Lucy, Arya mengambil stroberi tersebut dari mulut Lucy.


Hal selanjutnya yang terjadi membuat Arya semakin terkejut.


Lucy mendorong bibirnya dan memasukkan stroberi itu menggunakan lidahnya. Jus stroberi pecah di mulut Arya, diikuti oleh rasa manis dari lidah Lucy sementara masam dari stroberi.


Arya kemudian menelan stroberi tersebut tanpa ragu, menikmatinya. Dia agak tidak menyangka jika Lucy akan menjadi agresif di saat-saat seperti ini.


"Bagaimana rasanya? Apakah itu enak?" Lucy menggoda. Wajahnya memerah namun ada senyum bahagia menghiasi wajahnya.


"Ya, rasanya sangat enak. Aku ingin satu lagi."


Arya menyeka sudut mulutnya, mengambil satu buah stroberi lagi dan mengigit setengahnya, kemudian membawanya ke mulut Lucy.


Lucy tentu menerimanya dengan senang hati. Dia memainkan lidahnya ketika rasa masam dan manis sekaligus nikmat pecah di dalam mulutnya.


Meski ini hanya ide iseng yang terlintas di benaknya, Lucy tidak menyangka jika rasanya akan benar-benar nikmat dan membuatnya ketagihan. Ini memberikannya pengalaman yang sama sekali baru.


Memisahakan diri, keduanya terengah-engah setelah melakukan juicy kiss yang cukup lama. Bibirnya keduanya kini berwarna merah karena jus dari stroberi yang menetes ke mana-mana. Bahkan dagu dan leher mereka sedikit basah karena terkena air liur yang bercampur jus stroberi yang tumpah.


'Ah... Ini berbahaya. Rasanya sangat nikmat sampai aku ketagihan. Aku tidak bisa berhenti...'


Arya perlahan membaringkan tubuh Lucy saat bibirnya menggigit stroberi lagi. Ini sudah ketiga kalinya mereka melakukan berciuman menggunakan stroberi dan kini Arya benar-benar ketagihan. Dia mungkin tidak akan berhenti sebelum stroberinya habis.


Menatap Arya yang berada di atas tubuhnya, Lucy tersenyum nakal. Dia meraih dada Arya, mendorongnya dan membuat posisi mereka seketika berubah.


Arya terkejut, karena dia awalnya berada di atas, kini dia berada di bawah dengan Lucy duduk di atas perutnya. Kedua tangannya di letakkan di dadanya saat gadis itu menghembuskan napas hangat.


"Bagaimana rasanya berada di bawah? Rasanya memalukan, bukan?" Lucy terkikik.


Mendengarnya, wajah Arya memerah dan dia mengalihkan pandangannya ke samping, merasa malu. Ternyata berada di bawah bisa membuatnya merasa malu seperti ini.


Melihat reaksi Arya, Lucy tertawa kecil dan menciumnya, memecahkan stroberi yang berada di mulut Arya.


"Mmm..." Lucy mengeluarkan suara yang manis namun menggoda.


Arya pun tidak tinggal diam. Dia meraih pinggang Lucy dan memainkan lidahnya sesuai dengan gerakan lidah Lucy.


Dan setelah itu, stroberi ketiga habis, masuk ke dalam mulut Arya dan Lucy.


"Arya, mau lagi?"


"Tentu. Sebelum stroberi itu habis, kita tidak akan berhenti..."


Arya dan Lucy terengah-engah, namun setelah mengambil napas sebentar, mereka berdua melanjutkan kegiatan mereka.


Lucy mengambil satu buah stroberi lagi dan menggigitnya, hendak membawanya ke dalam mulut Arya.


Tiba-tiba, ketika keduanya sedang menikmati juicy kiss mereka, ketukan pintu terdengar dan keduanya segera menghentikan kegiatan mereka.


"Siapa yang datang di saat seperti ini? Mengganggu saja!"


Arya berkedut, sangat kesal karena kesenangannya terusik. Dia kemudian duduk dan memangku Lucy.


Lucy mengerutkan dahinya ketika dia memikirkan sesuatu, setelah itu berkata.


"Ah! Aku baru ingat. Kita punya janji untuk belajar bersama Helen dan Niko. Brent juga datang, lho."


"Ck, mereka datang di saat yang tidak tepat!" Arya mendengus, tidak senang.


"Biar aku yang membersihkannya." Kata Lucy nakal.


Dia kemudian menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat sekitar bibir Arya, membuat Arya terkejut namun dia membiarkannya dan menikmatinya.


Seakan tidak cukup di bagian bibir, Lucy kini berpindah ke sekitar dagu dan leher Arya. Dia mengecupnya dengan lembut sambil menjilatnya.


Arya, yang diperlakukan seperti itu, tidak bisa untuk tidak tegang. Dia merasa jika Lucy melakukan lebih jauh dari ini, dia bisa ketagihan dan tidak ingin berhenti.


"Sudah bersih..."


Lucy menarik kembali bibirnya sambil menjilatnya, membuat ekspresi menggoda.


Melihat kekasihnya yang sangat agresif, Arya tidak mau kalah. Dia duduk dan memangku Lucy, melakukan hal yang sama.


"Hngh... Arya, geli..."


Bahu Lucy gemetar saat Arya mengecup dan menjilat dagu dan lehernya. Dia merasakan sensasi geli namun nikmat hingga mengeluarkan suara seksi tanpa dia sadari.


Semakin lama Arya mengecup lehernya, semakin geli rasanya dan hal itu membuat Lucy merasa melayang. Dia kemudian mengulurkan tangannya, memegang kepala Arya, seakan tidak mau membiarkannya berhenti.


Untuk beberapa saat, wajah Arya tenggelam dalam leher Lucy. Dia mengecup dan menjilatnya, tidak berhenti jika Lucy tidak melepaskannya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan terdengar lagi, membuat Lucy terbangun dari kenikmatan.


"Arya, kita harus berhenti... Jika seperti ini terus, Helen dan yang lain akan menunggu terlalu lama..."


Lucy terengah-engah saat suara manis dan menggodanya masuk ke telinga Arya. Dia mendorong pundak Arya menjauh sebelum bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk memeriksa apakah ada tanda kecupan atau tidak di lehernya.


Kembali pada Arya, dia menghela napas kecewa. Jika bukan karena ada janji untuk belajar bersama, dia dan Lucy mungkin masih melakukan juicy kiss seperti tadi hingga menghabiskan stroberi satu piring penuh.


Memeriksa sekitar mulutnya, Arya kemudian segera menuju pintu, menyambut Helen dan yang lainnya dengan ekspresi kesal dan tidak senang.


"Ya ampun! Apa yang membuatmu lama sekali hanya untuk membuka pintu? Aku sudah menunggu selama lima menit lebih, tahu!" Helen mengoceh sambil menghentakkan kakinya. Dia lelah berdiri di depan pintu karena menunggu tuan rumah menyambutnya.


"Siapa yang peduli? Jika kalian datang satu jam lebih lambat atau tidak datang sama sekali, mungkin aku dan Lucy sudah bahagia sekarang."


Mengabaikan Helen, Arya menatap ketiga temannya dengan dingin, seakan dia akan membunuh mereka semua sekarang juga.


Niko dan Brent menelan ludah mereka saat keduanya merinding. Keduanya mengetahui fakta bahwa Arya adalah pembunuh, jadi keduanya sedikit takut dengan Arya jika pemuda itu menatap dengan dingin.


"Oh, apakah aku mengganggu waktu kalian? Ngomong-ngomong, di mana Lucy?"


"Aku di sini, Helen."


Suara Lucy terdengar dari balik tubuh Arya. Dia sudah kembali dari kamar mandi dan sepertinya Arya sama sekali tidak meninggalkan bekas kecupan di lehernya, jadi dia bisa lega.


Setelah itu, Lucy mengajak Helen dan yang lainnya masuk. Hanya Arya yang malas menyambut mereka.


"Niko, Brent, bagaimana kabar kalian?"


"Kabarku baik, Arya."


Niko dan Brent menjawab serempak. Walau mereka satu sekolah, tapi mereka berbeda kelas. Selain itu, Brent lebih sering menghabiskan waktu untuk mengurus toko roti sehingga waktu untuk mereka berkumpul dan mengobrol bersama jadi semakin berkurang banyak.


"Oh, ya. Bagaimana kabar ibumu, Niko?" Tanya Arya.


"Ibuku sehat. Dia masih seperti biasanya. Oh, ya karena kau jarang berkunjung ke rumahku, ibuku sering menanyakan kabarmu. Aku hanya ingin bertanya, apa yang sebenarnya kau lakukan pada ibuku hingga dia begitu peduli padamu?"


Niko bertanya, nadanya dingin dan tatapannya tajam.


Niko sangat heran dengan ibunya. Ibunya sangat sering menanyakan kabar Arya karena temannya itu tidak berkunjung ke rumahnya akhir-akhir ini.


"Aku tidak melakukan apapun pada ibumu! Juga, jangan mengatakan hal yang bisa membuat Lucy salah paham!" Balas Arya.


Dia kemudian melirik ke arah Lucy, mengetahui jika kekasihnya itu menatapnya dengan tajam. Matanya seakan menyiratkan jika dia akan mengintrogasi dirinya nanti.


Setelah obrolan singkat, mereka semua mulai belajar bersama di ruang tamu.