
Setelah mengetahui kalau dia mendapat kelas yang berbeda dengan Lucy, Arya merasa sangat tidak puas. Dia menggerutu kesal beberapa saat dan berpikir untuk meminta kepala sekolah untuk memindahkan Lucy ke kelasnya ataupun sebaliknya.
Arya memiliki beberapa pertemanan yang cukup baik dengan kepala sekolah SMA Daeil, jadi jika dia meminta beberapa bantuan darinya, maka dia akan mendapatkannya dengan sedikit usaha.
Tapi setelah pertimbangan, Arya mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan kepala sekolah. Dia yakin jika dia melakukan hal ini, Lucy pasti tidak akan senang dan malah memarahinya.
Satu bulan kemudian, Arya dan Lucy sudah terbiasa dengan kelas masing-masing. Keduanya sedikit kecewa karena tidak bisa berada di kelas yang sama. Jika mereka berada di kelas yang sama, mereka pasti akan memilih untuk duduk bersebelahan saat di kelas. Hal ini agar saat pelajaran dimulai, mereka bisa curi-curi waktu untuk mengobrol sedikit.
Berbeda kelas berarti mendapat teman baru.
Lucy saat berada di kelasnya yang baru, yaitu kelas 3-1, dia mendapat beberapa teman baru dan kebanyakan dari mereka adalah gadis.
Ada beberapa pria yang mendekatinya tapi karena mereka takut pada Arya, mereka tidak terlalu dekat dengan Lucy.
Ini juga merupakan kekhawatiran Arya. Jika dia berada di kelas yang berbeda dengan Lucy, dia tidak bisa mengetahui pria mana saja yang berusaha mendekati gadis tersebut.
"Lucy, bagaimana kabarmu hari ini?"
Seorang gadis berambut merah dengan wajah cantik berkata demikian pada Lucy. Dia merupakan salah satu teman baru Lucy, Rui.
Rui merupakan salah satu siswa terkaya di SMA Daeil ini. Kedua orang tuanya merupakan pengusaha kaya raya di kota Century ini.
"Kabarku baik. Bagaimana denganmu, Rui?"
"Aku juga baik. Um, aku ke sana dulu, ya."
Setelah bertukar sapa sejenak, Rui segera pergi. Dia melambaikan tangannya dan tersenyum tipis pada Lucy.
Lucy secara alami membalas.
Beralih pada Rui, dia segera mendecakkan lidahnya dengan kesal. Ekspresinya segera menjadi kesal, tampak tidak puas akan suatu hal.
"Sialan, dia selalu saja bertingkah sok imut! Lihat saja kau, aku pasti akan bisa merebut Arya darimu!"
Rui menggerutu kesal.
Seperti yang dia katakan, dia baru saja mengutuk Lucy dan bertekad untuk merebut Arya darinya.
Yap, Rui telah jatuh hati pada Arya sejak lama. Dia juga sudah mengungkapkan perasaannya dua kali pada Arya dan sebanyak dua kali juga dia ditolak.
Tentu saja Arya akan menolak. Lagi pula dia sudah memiliki Lucy, jadi Rui secara alami hanyalah penggangu bagi Arya sendiri.
Karena ditolak dua kali oleh Arya, Rui merasa sangat kesal. Dia segera menyimpulkan bahwa alasannya ditolak oleh Arya adalah karena Lucy selalu menempel pada Arya, membuatnya ditolak.
Segera, dia bertekad untuk merebut Arya.
Saat mengetahui kalau dia berada di kelas yang sama dengan Lucy, Rui menjadi sangat senang. Dia sudah mendekati Lucy selama satu bulan ini dengan tujuan ingin mencari keburukan Lucy lalu melaporkannya pada Arya agar Arya terkejut dan tidak menyangka kalau Lucy akan memilih sikap yang buruk.
Tapi tidak seperti yang diharapkan, selama satu bulan ini Lucy justru bersikap sangat baik dan ramah hampir pada semua orang. Dia murah senyum, populer dan menjadi yang paling cantik di seluruh SMA Daeil.
Hal ini membuat Rui menjadi sangat tidak senang. Semua rencana yang sudah dia siapkan gagal dan dia tidak menemukan sedikitpun keburukan Lucy.
*****
Di teras samping rumah, terlihat seorang pemuda sedang duduk dan menatap ke langit yang penuh bintang. Matanya yang tajam terlihat sangat menikmati pemandangan langit di malam hari ini.
Ya, pemuda tersebut adalah Arya.
Dia sedang berada di rumah Lucy saat ini.
Dia sedang menemani Lucy menunggu kakaknya pulang dari tempatnya bekerja. Kakak Lucy lembur hari ini, jadi dia pulang lebih lambat dari biasanya. Kedua orang tua Lucy juga sudah meninggal sejak dia SMP tahun ketiga, jadi saat kakaknya pergi bekerja, dia akan sendirian di rumah sejak dia pulang sekolah.
Tentu, tidak baik jika seorang gadis berada di rumah seorang diri. Jadi, sebagai orang yang mencintainya, Arya menemaninya. Dia juga mengambil kesempatan ini untuk berduaan dengan Lucy dan menghabiskan waktu bersamanya dengan penuh kasih sayang.
"Melihat bintang adalah yang terbaik."
Arya bergumam dengan suara rendah sambil tersenyum tipis. Dia cukup menyukai bintang.
Ketika dia merasa stres, maka dia akan melihat bintang untuk menghilangkan stresnya itu.
Bagi Arya, melihat bintang adalah salah satu cara menghilangkan stres.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekatinya dari dalam rumah.
Lucy mendatangi Arya dengan membawa gelas mug di kedua tangannya. Dari atas gelas mug tersebut, terlihat asap melayang keluar. Jelas, yang di dalam mug tersebut berisi sesuatu yang panas.
"Ini, minumlah. Aku membuatkanmu cokelat panas."
Lucy meletakkan mug tersebut di depan Arya. Dia kemudian duduk di sebelahnya.
Meletakkan gelas mug itu kembali ke meja, Arya menyadari kalau kedua mug yang dibawa Lucy merupakan mug yang dikhususkan untuk pasangan.
Mug yang baru saja Arya gunakan memiliki huruf A yang tertulis dengan rapi dan indah.
Melirik ke mug milik Lucy, itu memiliki huruf L yang hampir sama seperti miliknya tadi.
Melihat bahwa mug itu dikhususkan untuk pasangan, Arya merasa hangat di hatinya. Dia menatap Lucy dengan hangat sambil tersenyum dan berkata dengan lembut.
"Apakah kamu baru membelinya baru-baru ini? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya."
"Um, aku baru membelinya beberapa hari yang lalu. Apakah kamu suka?"
"Ya, aku sangat menyukainya. Itu sangat cantik."
Arya mengangguk. Dia kemudian memiringkan kepalanya, mendekati wajahnya dan mencium pipi Lucy dengan lembut.
Merasakan pipinya dikecup, wajah Lucy terasa panas dan dia segera memerah.
Mengabaikan reaksi Lucy, Arya meraih tangan gadis tersebut dan menjalinkan jari-jarinya.
Lucy pun segera menjalinkan jari-jarinya dan bersandar pada Arya.
Segera, rasa hangat memenuhi keduanya. Angin malam yang seharusnya dingin sama sekali tidak terasa bagi keduanya.
Kemudian, keduanya kembali melihat bintang-bintang di langit sambil mengobrolkan beberapa hal yang ringan.
Terkadang Arya akan menggoda Lucy sedikit dan mengucapkan kata-kata manis padanya, membuat Lucy memerah tapi bahagia.
Di bawah langit yang dipenuhi bintang, pasangan tersebut saling mengumbar kemesraan mereka.
*****
"Ini mulai dingin. Ayo masuk."
Kata Arya sebelum berdiri.
Lucy segera mengikuti dari belakang dan membawa kedua mug yang telah kosong.
Tiba-tiba, saat keduanya hendak masuk ke dalam rumah, handphone Lucy berdering.
Tertulis nama Paman di layar handphone Lucy ketika sebuah panggilan telepon masuk. Jelas, paman Lucy menelepon.
Tanpa menunda, Lucy segera menerima panggilan telepon tersebut.
"Paman, bagaimana kabarmu?"
"Hm? Ke tempat Paman bekerja?"
"Baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi."
Setelah bertukar beberapa kata, Lucy menutup panggilan teleponnya. Dia kemudian menatap Arya.
"Kamu mau bertemu pamanmu?"
"Ya, paman menyuruhku menemuinya karena dia ingin memberikan uang belanja bulanan padaku."
"Tunggu, kamu masih menerima uang dari paman?!"
Arya terkejut dengan ini.
Semenjak orang tuanya meninggal, Lucy selalu menerima uang belanja bulanan dari pamannya. Tapi setelah kakaknya bekerja, dia berhenti menerima uang belanja bulanan dari pamannya. Tapi sayangnya, pamannya tetap bersikeras memberinya uang, membuat Lucy merasa tidak enak hati jika menolak.
Arya mengetahui masalah ini dan menyuruh Lucy untuk berhenti menerima uang tersebut semenjak dia membuka toko rotinya. Dia menyuruh Lucy bertindak demikian agar tidak merepotkan pamannya lagi. Dia juga lebih senang jika Lucy meminta uang padanya daripada pamannya.
Jadi, saat mengetahui Lucy masih menerima uang dari pamannya Arya terkejut dan sedikit marah.
Lucy hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Dia tahu kalau Arya marah padanya.
"Maafkan aku. Aku janji, setelah ini aku akan meminta pamanku untuk tidak memberi uang lagi."
Lucy mengerucutkan bibirnya dengan cemberut. Dia segera mendekati Arya, menjatuhkan dirinya dalam pelukannya dan menyandarkan kepalanya ke dada Arya.
Merasakan kehangatan Lucy, rasa marah Arya langsung hilang. Dia menghela nafas dan segera mengelus kepala Lucy.
"Bagus kalau begitu. Ngomong-ngomong, ayo segera pergi ke tempat pamanmu bekerja."
Kemudian, Arya segera mengantarkan Lucy ke tempat pamannya bekerja.