
Setelah bercerai, tanggung jawab Vicky untuk menafkahi Rosa beserta anaknya masih ada. Bagaimanapun, ini adalah perjanjian yang dibuat sebelum bercerai.
Namun, Vicky tetap tidak memenuhi tanggung jawabnya itu. Dia mengabaikan dan tidak pernah memberikan uang yang sudah dijanjikan. Andai dia memberi hanya sedikit, sama sekali tidak mencukupi.
Rosa tentunya sudah sering meminta uang yang sudah dijanjikan itu, namun Vicky selalu beralasan ketika dimintai. Bahkan, karena banyaknya alasan yang Vicky berikan, keduanya jadi sering bertengkar melalui telepon, ataupun ketika Vicky datang menemui Arya.
Rosa sebenarnya sangat mengetahui jika Vicky memiliki banyak uang, namun mantan suaminya itu benar-benar pelit. Dia sangat pelit pada keluarganya, namun sangat murah hati pada selingkuhannya.
Karena sikap tidak bertanggung jawab Vicky itu, bahkan setelah Rosa bercerai darinya, dia masih harus bekerja seorang diri. Dia pikir setelah bercerai Vicky akan memenuhi tanggung jawabnya, karena berbagai macam perjanjian yang mereka buat sebelum bercerai.
Tapi kenyataannya benar-benar berbeda dari harapan.
Karena hal tersebut Rosa jadi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia juga jadi kesulitan dalam memenuhi keinginan kedua putranya.
*****
Di dalam kamar, Arya yang berusia lima belas tahun itu terlihat sedang berbaring di kasurnya dan menatap langit-langit. Dia memiliki waktu luang cukup banyak karena semua tugas sekolahnya sudah dia selesaikan dan kini dia sedang beristirahat dan berniat untuk tidur siang.
Ketika kantuk mulai datang, Arya perlahan menutup matanya namun dia tiba-tiba mendengar suara teriakan ibunya, terdengar marah dan memaki seseorang.
Arya terkejut dan langsung duduk di kasurnya. Dia perlahan menghampiri sumber suara.
Di ruang keluarga, Rosa terlihat sedang menelepon seseorang namun ekspresinya terlihat marah dan matanya menunjukan kebencian yang mendalam.
Arya hanya menghela nafas melihat ini. Dia yakin kalau yang sedang berbicara dengan Rosa di telepon itu adalah Vicky. Dari apa yang dia dengar secara singkat tadi, Rosa tampaknya meminta uang untuk bulan ini tapi sepertinya Vicky menolak untuk kesekian kalinya.
Arya tidak terkejut dengan ini karena dia sudah terbiasa. Bahkan dia sampai bosan mendengar orang tuanya bertengkar.
Jika dulu, dia mungkin merasa takut dan hanya bisa menangis. Tapi sekarang, dia acuh tak acuh dan menyimpan dendam pada Vicky, atas semua perbuatannya pada ibunya.
"Jadi, kali ini pasti uang lagi, bukan?" Arya bertanya dingin, lalu duduk di sofa.
Dia sudah tahu permasalahan yang menyebabkan Rosa dan Vicky bertengkar untuk sesaat tadi. Namun, meski hanya sesaat, hal itu terkadang menjadi beban pikiran bagi Arya. Dia sangat ingin membantu ibunya untuk bisa mencari uang lebih, tapi dia sadar bahwa tidak banyak pekerjaan yang bisa dia lakukan diusianya yang sekarang, membuatnya merasa putus asa.
Oleh karena itu, hal ini menjadi stres tersendiri baginya.
"Ya, seperti yang kamu ketahui, Arya. Ayahmu sangat sulit jika masalah uang."
"Ma, tidak bisakah Mama berhenti berharap pada Papa? Tidak berguna berharap padanya. Itu hanya membuat Mama lelah dan stres karena harus bertengkar. Bajingan itu tidak akan pernah peduli pada kita, dia bahkan mungkin sudah memiliki istri simpanan lagi." Arya mencibir jijik.
"Arya, jangan bicara begitu tentang ayahmu. Bagaimanapun, dia itu adalah ayahmu."
"Persetan dengan ayahku. Dia bukan ayahku, karena dia tidak peduli padaku, ataupun Mama."
Nada Arya dipenuhi kebencian dan rasa jijik. Dia tidak ragu untuk mengungkapkan kebenciannya pada Vicky di hadapan ibunya.
Rosa menghela nafas pasrah.
Dia tahu putranya semakin membenci ayahnya sendiri setiap harinya. Dia terkadang memperingati Arya agar tidak berbicara buruk tentang ayahnya, tapi sepertinya kebencian putranya itu melebihi kebenciannya sendiri pada Vicky.
Menatap Rosa, Arya mengatakan pada ibunya untuk tidak terlalu berharap lagi pada Vicky.
Mengabaikan ucapan Arya, Rosa mulai mengoceh tentang Vicky dan membahas masalah yang sudah berlalu.
Arya sebagai anak hanya bisa diam mendengarkan sambil beberapa kali mengumpat dalam hatinya. Wajahnya benar-benar dipenuhi kedutan ketika mendengarkan semua ocehan Rosa. Dia awalnya ingin tidur siang, namun kantuknya hilang karena Rosa bertengkar dengan Vicky dan kini dia malah disuruh mendengarkan ocehan yang membuat telinganya panas.
Setelah lima belas menit mengoceh, Rosa akhirnya selesai dan pergi melanjutkan beberapa pekerjaan rumah tangganya.
Arya pun demikian, dia langsung kembali ke kamarnya setelah selesai mendengarkan Rosa mengoceh. Kepalanya terasa sakit dan telinganya panas saat ini.
Menatap langit-langit, ekspresi Arya terlihat marah dan matanya menunjukan kebencian yang mendalam.
'Si bajingan Vicky sialan! Dia selalu saja membuat masalah. Sejak dulu, dia tidak pernah berubah! Dia selalu saja senang bermain wanita! Aku ingin sekali memukulnya!'
Terlihat biasa saja, tapi nyatanya Arya memikul segudang beban pikiran.
Terkadang, karena lelah mendengarkan orang tuanya bertengkar meski sudah cerai, Arya juga lelah karena terkadang membantu pekerjaan Rosa dan harus sekolah di waktu yang sama. Ini benar-benar memberikannya beban yang cukup melelahkan.
Saking lelahnya, Arya pernah berpikir untuk bunuh diri karena baginya, kehidupannya sangat suram.
Neneknya meninggal dunia, orang tuanya terkadang bertengkar, bahkan tetangga Arya di kota Bern menyebarkan rumor buruk tentang Rosa, membuat ibunya dipandang rendah di lingkungan sekitarnya.
Ini membuat Arya sangat marah dan suatu hari, terbesit ide untuk membunuh mereka semua, yang sudah menyakiti ataupun menyebarkan rumor buruk tentang ibunya.
Arya segera menggelengkan kepalanya saat ide ini muncul. Membunuh adalah perbuatan kejam, jadi dia jelas tidak mau melakukannya.
Namun, setelah merenungi idenya itu, Arya pikir membunuh mereka semua bukan ide yang buruk.
Jika dia membunuh semua orang yang menyakiti ibunya, maka ibunya tidak akan perlu merasakan sakit lagi.
Jika dia membunuh mereka semua yang menyebarkan rumor buruk tentang ibunya, maka ibunya tidak akan dipandang rendah lagi.
Jika dia membunuh mereka semua yang menyinggungnya, maka dia tidak perlu merasa tersinggung lagi.
Ya, membunuh mungkin jalan terbaik agar kehidupannya semakin tenang, tanpa perlu tersinggung ataupun rumor buruk.
Sejak saat itu, Arya bertekad untuk membunuh setiap orang yang menyinggungnya ataupun menyakiti dan berkata buruk tentang ibunya.
Pada saat kelulusan SMP, Arya dan Rosa pergi berkunjung ke rumah Erwin di kota Century.
Pada saat kunjungan ini Arya menceritakan semua beban pikirannya selama ini pada Erwin. Dia menangis saat menceritakan semua yang dia alami.
Erwin hanya mendengarkan sambil mengelus punggung Arya dan memberikannya ucapan hiburan.
Akhirnya, ketika Arya selesai menceritakan semuanya, dia meminta kakeknya itu untuk membujuk Rosa agar dia diperbolehkan tinggal di kota Century bersama kakeknya selama dia SMA.
Rosa sempat menolak karena dia tidak ingin jauh dari putranya. Namun, Arya bersikeras dan keduanya sempat bertengkar karena Arya memaksa ingin tinggal bersama kakeknya.
Tujuannya sederhana, dia hanya ingin menjauh dari kehidupannya yang saat ini dan ingin memulai kehidupan baru.
Flashback - Off.