
Di kota Century, di rumah Lucy.
Di dalam kamarnya, gadis itu terlihat menggigit jarinya ketika dia memegang handphone dengan tangan lainnya. Wajahnya panik dan sedikit pucat. Matanya yang indah tidak berhenti menatap layar handphonenya.
Sudah lima hari namun Arya belum kembali juga. Bahkan, ketika Lucy mengirim pesan ataupun meneleponnya, dia diabaikan oleh kekasihnya.
Selama lima hari ini, Lucy tidur tidak nyenyak, nafsu makannya berkurang banyak dan dia menangis di tengah malam karena Arya tak kunjung pulang dan menemuinya. Bahkan menelepon dirinya pun tidak.
Lucy merasa dirinya seakan telah ditinggalkan oleh Arya.
Bagaimanapun, apa yang dia ucapkan pada kekasihnya pada malam itu benar-benar keterlaluan.
Menelepon Rosa, Lucy menanyakan apakah Arya masih di sana atau tidak. Namun, yang membuatnya terkejut adalah jika Arya sebenarnya sudah kembali ke kota Century sejak kemarin.
Lucy sangat terkejut mendengar ini. Dia lalu menelepon Erwin dan kakeknya itu mengatakan jika Arya belum kembali sejak lima hari yang lalu.
Lucy semakin panik. Dia mencoba menelepon teman-teman seperti Helen dan Nia, namun keduanya tidak mengetahui keberadaan Arya. Dia juga mencoba menelepon Brent, tapi jawaban yang dia dapatkan sama.
Terakhir, yang merupakan harapan terakhir Lucy yang mungkin mengetahui keberadaan Arya adalah Niko. Dari sekian banyak orang, Arya hanya akrab dengan Brent dan Niko, jadi jika Brent tidak tahu, mungkin Niko tahu.
"Lucy? Apakah ada yang bisa aku bantu?"
"Niko, apakah Arya ada di tempatmu?"
"Arya? Um... Ya, dia ada sini." Niko diam sejenak sebelum melanjutkan. Dia sepertinya ragu-ragu antara harus menberitahu Lucy atau tidak.
"Benarkah?! Berikan alamatmu sekarang! Aku akan ke sana!"
Setelah itu, Lucy menutup teleponnya dan beberapa saat kemudian, dia mendapat alamat rumah Niko dan segera bergegas ke sana.
Tiba di rumah Niko, Lucy menekan bel beberapa kali dan pintu segera terbuka.
"Oh, halo. Apakah ada yang bisa aku bantu?"
Yuki bertanya dengan ramah saat dia menatap Lucy dengan agak penasaran. Gadis secantik ini tiba-tiba datang ke rumahnya, mungkin saja Niko mendapatkan kekasih tanpa sepengetahuannya.
"Halo, maaf mengganggu. Apakah ini benar rumah Niko?"
"Ya, ini rumah Niko dan aku ibunya. Apakah kamu ingin bertemu Niko?"
"Tidak. Aku ingin bertemu orang lain. Apakah ada orang bernama Arya di sini?"
Yuki tertegun sejenak mendengar nama Arya disebutkan. Dia melirik ke dalam sejenak sebelum menatap Lucy kembali.
"Ya, Arya ada di dalam. Masuklah jika kamu memiliki keperluan dengannya."
Yuki menyingkir sedikit dari pintu dan mengajak Lucy masuk.
Lucy masuk dan mengikuti di belakang Yuki dengan cemas. Dia tiba-tiba datang kemari tanpa memberitahu Arya dan mereka saat ini sedang bertengkar, jadi dia takut jika Arya masih marah padanya dan malah tidak mau menemuinya.
"Nah, itu Arya. Arya, ada seorang gadis yang ingin menemuimu. Mungkinkah dia kekasihmu?"
Yuki memanggil Arya yang sedang duduk di sofa ruang tamu dan pemuda itu segera menoleh. Matanya melebar saat melihat sosok Lucy.
"Lucy, apa yang kamu lakukan di sini?"
Arya bertanya, mengerutkan dahi dan sedikit rasa kesal terdengar dari nadanya. Dia berdiri dan hendak mendekati Lucy tapi sebelum dia tiba di hadapan gadis tersebut, dia mundur dua langkah.
Lucy tiba-tiba berlari menuju dirinya dan memeluk Arya begitu erat, sehingga pemuda tersebut tidak siap dan terhuyung ke belakang. Dia terdiam ketika mendengar isak tangis Lucy.
"Maaf... Maafkan aku... Aku berjanji tidak akan mengatakan hal buruk lagi padamu... Aku berjanji akan menunggumu menceritakan masalahmu dan tidak akan memaksamu jika kamu tidak mau bercerita.... Oleh karena itu, kumohon, jangan marah lagi padaku. Jangan abaikan aku lagi..."
Suara penyesalan datang dari Lucy, membuat dada Arya sakit bagai ditusuk pisau. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Masalahnya, dia masih menyimpan rasa kesal pada Lucy.
Tapi ketika melihat betapa rapuhnya kekasihnya tanpa dirinya, Arya tidak tahan untuk memeluknya erat dan mengelus kepalanya dengan gerakan menyayangi.
"Tidak apa, Lucy. Jangan menangis lagi. Aku sudah tidak marah lagi, jadi berhenti menangis, oke?"
Lucy terisak sekali dan menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia kemudian memeluk Arya lagi dan membenamkan wajahnya ke dadanya.
Di sisi lain, Yuki yang melihat kemesraan dua orang ini entah mengapa merasa kesal. Rasanya begitu tidak nyaman saat melihat Arya memeluk Lucy.
Ada kecemburuan dan iri dalam mata indah Yuki ketika dia menatap Arya, seakan ingin mendapat pelukan juga.
*****
Setelah beberapa saat, Arya dan Lucy beserta Niko dan Yuki duduk di ruang keluarga.
Arya dan Lucy duduk bersebelahan sementara di seberang mereka adalah Niko dan ibunya.
Arya yang duduk di sebelah Lucy menatap gadis itu, yang memiliki mata merah karena habis menangis. Kekasihnya ini menundukkan kepalanya, sepertinya sedikit malu.
Bagaimanapun, Lucy datang tiba-tiba dan langsung memeluknya, jadi itu sedikit memalukan baginya.
"Lucy, sudah tenang?" Arya bertanya, menatap Lucy yang mengangguk sebagai jawaban.
"Baguslah. Maaf karena tidak langsung menemuimu."
"Tidak, yang seharusnya minta maaf adalah aku, Arya. Maaf karena telah mengatakan banyak hal buruk padamu malam itu. Aku tidak bermaksud mengatakan itu semua... Hanya saja, kamu tahu, aku khawatir karena kamu sedang menghadapi masalah yang tidak aku ketahui. Aku ingin mendengar tentang masalahmu, tapi aku tidak tahu jika semuanya akan berakhir seperti ini."
"Semua sudah terjadi, Lucy. Jadi tidak ada gunanya memikirkannya. Aku hanya ingin kamu lebih berhati-hati di masa depan. Percayalah padaku, jika aku menghadapi masalah lagi, aku akan bercerita padamu. Tapi, jika seandainya tidak bercerita padamu, tolong jangan desak aku. Aku pasti akan memberitahumu masalahku padamu, pasti."
Arya meraih tangan Lucy, menggenggamnya erat dan menatap matanya yang indah.
Lucy mengangguk, menunjukkan senyum tipis.
Keduanya saling menatap dan mata mereka dipenuhi kebahagiaan dan kerinduan. Mereka tidak bertemu selama lima hari, jadi tentu saja mereka saling merindukan satu sama lain.
Ketika keduanya saling menatap dengan bahagianya, dua orang lainnya yang berada di hadapan mereka berkedut.
Niko sedikit tidak senang karena Arya dan Lucy sepertinya bermesraan tanpa memperhatikan sekitar. Selain itu, dia belum pernah memiliki seorang kekasih, jadi dia agak iri di sini.
Adapun Yuki, entah kenapa rasanya agak kesal melihat kemesraan Arya dan Lucy. Dia menatap Lucy seakan sedang menatap wanita yang merebut suaminya. Ini juga membuatnya agak aneh pada dirinya sendiri.
'Sejak kapan aku menjadi seemosional ini hanya karena melihat Arya dekat dengan kekasihnya? Bukankah ini seharusnya wajar? Apa yang sebenarnya terjadi?' Yuki bingung dalam hatinya
"Ehem!" Niko yang sudah kesal berdeham dengan keras, menyebabkan Arya dan Lucy tersentak, melepaskan genggaman tangan mereka dan mengambil jarak, menatap sumber dehaman tadi.
"Bisakah kalian perhatikan sekitar? Ingatlah jika kalian sedang bertamu."
Niko berkata dengan dingin, membuat Lucy menunduk karena malu dan wajahnya merah padam. Adapun Arya, dia mendecakkan lidahnya dan menatap tajam sejenak sebelum menatap Yuki yang tampak bermasalah itu.
"Tante, perkenalkan. Ini kekasihku, Lucy. Lucy, ini Tante Yuki, yang sering kubicarakan. Dia ibu Niko."
Arya memperkenalkan Yuki dan Lucy secara bergantian.
Yuki tersentak mendengarnya, meremas senyumnya dan menatap Lucy.
Lucy tersenyum canggung dan mengangguk.
"Ha-halo, Tante. Aku Lucy, kekasih Arya. Arya sering bercerita tentang Tante. Maaf jika Arya terkadang merepotkan saat berkunjung kemari."
"Tidak masalah, Lucy. Aku senang jika Arya sering berkunjung. Dia sangat sering belajar bersama Niko setiap dia berkunjung."
"Oh, benarkah? Aku senang mendengarnya. Jika Arya merepotkan, jangan sungkan untuk memberitahuku, Tante. Aku akan mendisplinkannya."
Yuki mengangguk, tersenyum tipis mendengarnya. Dia kemudian menatap Arya dan tersenyum penuh makna pada pemuda tersebut.
Arya entah kenapa merinding melihat senyum Yuki, seakan dia bukan melihat senyuman, melainkan amarah terpendam Yuki.
Setelah itu, keempat orang tersebut mengobrol dan setelah hampir dua jam, Arya dan Lucy berpamitan.