Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 80 - Kenangan bersama Lylia IV



Lylia yang bersiap untuk ditampar itu perlahan mengangkat kepalanya, terkejut saat dia melihat Arya telah melindunginya.


Pada awalnya, dia mendekati Arya karena dia ingin meminta bantuannya. Bagaimanapun, dia mengenali Arya sebagai teman sekelasnya, yang merupakan salah seorang yang menonjol saat memperkenalkan diri.


"Kau... Apakah kau cari masalah?" Lery melotot pada Arya, menjadi semakin marah.


"Orang yang mencari masalah adalah kau, menampar seorang gadis hanya karena dia menjauhimu? Betapa rendahnya dirimu ini?"


Kata-kata Arya tajam, membuat Lery menggertakkan giginya.


Melepaskan tangan Lery, Arya melirik Lylia sejenak sebelum menyuruhnya menyingkir.


Lylia secara alami patuh dan menjauh beberapa langkah darinya.


Saling berdiri berhadapan, Arya dan Lery melotot satu sama lain. Tangan mereka terkepal, siap melayangkan tinju kapan saja.


Orang-orang di sekitar mulai berbisik dan para pria mulai bersemangat karena akan terjadi perkelahian. Mereka semua mengenal Lery sebagai penguasa sekolah karena kekuatannya dalam berkelahi, jadi jarang ada yang menang jika berkelahi dengannya.


Oleh karena itu, para pria bersemangat dan menantikan pemenangnya, entah itu Arya ataupun Lery, mereka sangat menantikannya.


Menyeringai, Lery adalah yang pertama memukul, mengenai wajah Arya.


Kepala Arya miring ke samping dan wajahnya menggelap, seakan awan mendung sedang menutupi wajahnya. Ketika dia mengangkat kepalanya, tatapan tajam dan dingin terlihat dari sorot matanya.


"Itu adalah akibatnya karena mencari masalah dengan...!"


Tanpa menunggu ucapan Lery selesai, Arya membalas tinjunya dengan keras, mengenai hidungnya.


Lery seketika pusing dan mundur dua langkah. Dia menggelengkan kepalanya dan merasakan sakit pada hidungnya.


Menyentuh hidungnya, dia melihat ada darah di jarinya, membuatnya terkejut.


Dia sering berkelahi, jadi tidak jarang dia mengalami berdarah ketika berkelahi. Tapi, ini adalah pertama kalinya dia berdarah ketika dia menerima pukulan pertama. Ini melukai harga dirinya sebagai penguasa sekolah.


Lery kemudian mengangkat kakinya dan menendang. Namun, Arya cerdik dan menangkap kaki lawannya, menariknya dan membuatnya terjatuh.


Penonton di sekitar terkejut dan mereka tidak bisa menahan tawa. Mereka mengenal kekuatan Lery, tapi ini pertama kalinya mereka melihat Lery dipermalukan seperti ini.


Lery memerah karena malu. Dia dan Arya baru bertukar dua pukulan, tapi dia sudah dipermalukan sedemikian rupa. Menggertakkan giginya, dia menoleh ke arah dua orang dan berteriak.


"Kalian berdua, bantu aku menghajarnya!"


Dua orang yang dipanggil Lery linglung sejenak sebelum menghela napas dan menuruti permintaan Lery.


Kedua orang ini merupakan teman sekelompok Lery, atau bisa disebut anak buahnya.


Dua orang tersebut segera maju dengan tangan terkepal.


Arya mengerutkan dahinya, memasang ekspresi serius. Dia mengutuk Lylia dalam hatinya.


Menghadapi dua orang itu, Arya cukup kewalahan. Dia terus-menerus menghindar sebisa mungkin, namun dia tetap mendapat beberapa pukulan dan itu menyebabkannya mengerang kesakitan dan menjadi marah.


Para penonton mulai bersorak lebih keras melihat perkelahian yang semakin memanas.


Lery, yang terjatuh karena Arya sudah berdiri dan menonton tidak jauh dari sana. Dia tidak perlu turun tangan lagi, karena dia yakin dua anak buahnya pasti berhasil mengalahkan Arya.


Melihat sekeliling, mata Lery bergerak, mencari seseorang.


Dia mencari Lylia, namun tidak berhasil menemukan keberadaan gadis itu.


Kembali pada Arya, dia memukul lawannya sambil menghindar. Dia mengerahkan semua kekuatannya di kaki dan tangannya. Ini adalah pertama kalinya dia berkelahi secara serius, apalagi dia melawan dua orang sekaligus, jadi ini merupakan tantangan terbesar yang pernah dia dapati.


Tiba-tiba, ketika perkelahian semakin memanas, suara seseorang terdengar dari kejauhan, membuat semua orang menoleh ke sumber suara.


Arya dan dua anak buah Lery berhenti berkelahi, Lery juga memfokuskan matanya pada sumber suara.


Ternyata, suara itu berasal dari Lylia. Dia pergi mencari guru untuk menghentikan perkelahian yang terjadi, makanya setelah menghilang beberapa saat, dia kembali bersama seorang guru pria berbadan kekar.


Melihat guru tersebut, Lery berdecak dan segera melarikan diri. Dia sadar, jika dia tidak pergi sekarang, dia akan mendapat masalah tidak berarti.


Dua orang yang melawan Arya saling memandang dan mengangguk, lalu melarikan diri bersama.


Arya yang menyadari ini segera mengejar mereka. Dia melompat dan menendang punggung salah satu dari keduanya, membuat orang yang Arya tendang terjatuh ke lantai dan mengerang kesakitan.


Arya, yang terengah-engah itu mengangkat kakinya dan menginjak punggung orang tersebut, membuat yang ditendang mengeluarkan suara aneh dan kesulitan bernapas.


Tidak berhenti di sana, Arya menendangnya lagi, membuatnya berguling sebanyak dua kali.


Dia benar-benar marah saat ini. Dia tidak pandai berkelahi, tapi dia disuruh melawan dua orang. Dia juga berniat membuat perhitungan dengan Lylia nanti.


"Hei, berhenti! Hentikan perkelahianmu!"


Guru kekar yang dipanggil Lylia berteriak dan segera menghentikan Arya, menariknya menjauh dari orang yang Arya tendang itu.


Arya terengah-engah dan jantungnya berdebar kencang. Dia dengan perlahan menstabilkan napasnya lebih dulu lalu menenangkan diri.


Melihat Arya sudah tenang, guru kekar itu memeriksa keadaan orang yang Arya tendang tadi.


"Tommy, kau baik-baik saja?"


Mengulurkan tangannya, guru kekar itu membantu orang yang Arya tendang untuk berdiri. Sepertinya, orang ini bernama Tommy dan salah satu muridnya.


Guru kekar itu mengetahui siapa Tommy, jadi dia tidak terlalu bersimpati padanya.


Lylia yang menyebabkan masalah menatap Arya dan menghampirinya. Dia melihat Arya dalam keadaan kurang baik, dengan memar di wajah dan hidungnya mengeluarkan darah sedikit. Dia juga berkeringat, mungkin karena lelah berkelahi.


Arya melirik Lylia dengan tajam, dia melotot marah pada gadis ini.


"Kau..."


Arya membuka mulutnya dan ingin mengutuk Lylia, tapi dia tiba-tiba terdiam. Dia terkejut dan matanya melebar.


Apa yang membuatnya terdiam adalah karena tindakan Lylia.


Sebelum Arya mengutuknya, Lylia sudah lebih dulu menangkupkan tangannya di pipi Arya, menyentuhnya dengan lembut. Menggunakan tangan lainnya, dia mengeluarkan serbet putih dari kantungnya, membantu Arya membersihkan noda darah di hidungnya.


Lylia juga mengelap semua keringat di wajah Arya.


Tindakan Lylia begitu lembut dan penuh perhatian. Tubuhnya begitu dekat dengan Arya, sehingga dia bisa mencium aroma wangi dari tubuh dan rambut Lylia.


Melirik ke bawah, Arya bisa melihat wajah serius Lylia ketika gadis ini mengelap seluruh wajahnya.


Ini adalah adegan yang tidak terduga.


Arya kehilangan minatnya untuk mengutuk Lylia. Sebaliknya, dia terpesona oleh kecantikannya, wajahnya perlahan terasa panas dan memerah.


Menarik kedua tangannya, Lylia tersenyum pahit pada Arya.


"Arya, benar? Maaf sebelumnya, aku diganggu oleh tiga orang tadi dan kebetulan aku melihatmu, jadi aku memanggilmu untuk meminta bantuan. Aku tidak menyangka jika karenaku, kamu jadi berkelahi. Aku sungguh minta maaf. Jika ada yang kamu inginkan, katakan saja. Aku akan memenuhinya jika bisa."


Lylia meminta maaf dengan tulus.