
Setelah beberapa saat, Arya, Helen, dan Nia mengobrol sedikit, namun tidak ada yang membahas masalah ulang tahun Lucy.
Ini membuat Helen agak kesal, karena Arya mengajaknya kemari untuk mencari hadiah ulang tahun Lucy, tapi yang mengajak malah diam saja dan tidak mengatakan apapun tentang hadiah ulang tahun itu.
Kesal, Helen berkata.
"Arya, hadiah ulang tahun macam apa yang ingin kau berikan pada Lucy?"
Arya tersentak dan diam sejenak, mengerutkan dahinya lalu berkata setelah diam agak lama.
"Seperti yang kau sarankan tadi malam, aku berniat memberinya kalung sebagai hadiah ulang tahun. Bagaimana menurutmu?"
"Kalung, ya? Itu terdengar bagus. Lagi pula, dengan kau memberikan Lucy kalung, saat Lucy memakai kalung itu, dia pasti akan mengingat dirimu. Itu pilihan yang bagus, Arya."
"Yah, semuanya berkat saran darimu, Helen."
Arya tersenyum tipis, menunjukkan rasa terima kasihnya dengan tulus. Jika dia tidak meminta saran Helen tadi malam, mungkin dia masih kebingungan saat ini.
"Ngomong-ngomong, Helen. Kau akan memberikan hadiah apa pada Lucy besok?" Arya bertanya.
"Aku berniat memberikan Lucy boneka. Lucy pernah bilang jika dia cukup menyukai boneka."
"Ah, itu benar. Lucy memang menyukai boneka. Dia terkadang memeluk boneka saat tidur. Bagaimana denganmu, Nia?"
Arya mengalihkan pandangannya ke Nia.
"Aku ingin memberikan satu set pakaian baru untuk Kak Lucy. Bisakah kau membantuku memilihkannya, Kak Arya? Aku tidak terlalu tahu pakaian model apa yang disukai Kak Lucy."
"Tentu, aku akan membantumu, Nia."
Arya mengangguk, membuat Nia menghela napas lega. Dia tidak terlalu mengetahui pakaian apa yang disukai Lucy, jadi dia takut memberikan sesuatu yang salah, makanya dia meminta bantuan Arya.
Mereka bertiga membahas hadiah ulang tahun cukup lama sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang.
Saat mereka sedang asik mengobrol, seorang wanita cantik menghampiri ketiganya.
"Ah! Ternyata itu benar kamu, Arya!"
Wanita tersebut segera tersenyum saat dia menyadari bahwa orang yang dia lihat di luar restoran tadi adalah Arya.
Mendengar ini, Arya, Helen dan Nia terkejut. Terutama Arya, dia sangat terkejut karena dia menyadari suara siapa ini.
Menoleh, Arya tersenyum masam saat dia benar-benar mengenali wanita yang memanggilnya ini.
"Halo, Tante."
Suara Arya agak canggung ketika dia menyapa wanita tersebut.
Wanita ini tidak lain adalah ibu dari temannya, Yuki.
"Halo juga~. Lama tak jumpa, Arya."
"Ya, sudah berapa lama, ya? Ngomong-ngomong, sedang apa Tante di sini?"
"Selain berbelanja, apa lagi yang bisa aku lakukan? Aku baru saja membeli beberapa pakaian baru di sini."
Yuki tersenyum lembut sambil mengangkat tas belanjaannya.
Di sisi lain, Helen dan Nia yang mendengarkan perbincangan Arya dan Yuki segera mengerutkan dahi, curiga dengan hubungan keduanya. Terlebih lagi, Arya memanggil Yuki dengan panggilan Tante, meski Yuki terlihat masih muda.
Yang tidak diketahui Helen dan Nia adalah Yuki sangat awet muda, jadi meski wajahnya terlihat seperti wanita berusia dua puluh lima hingga tiga puluh, dia sebenarnya sudah memiliki seorang anak yang hampir lulus SMA.
"Hei, Nia. Apakah kau mengenal wanita ini?" Helen memiringkan tubuhnya dan berbisik pada Nia.
"Tidak, Kak. Aku tidak mengenalnya. Kak Arya juga tidak pernah mengatakan apapun tentang wanita ini."
"Begitu, ya? Nia, apakah kau berpikiran sama denganku?"
Helen dan Nia saling berbisik, menebak-nebak siapa sebenarnya Yuki dan hubungan macam apa yang dimilikinya dengan Arya. Lagi pula, Yuki dan Arya terlihat akrab, jadi ini agak mencurigakan.
"Oh, apakah aku menggangu kencanmu dengan pacarmu?"
Yuki melirik Helen dan Nia yang menatap tajam padanya. Dia agak bingung, yang mana pacar Arya, karena ada dua gadis di sini.
"Maaf, tapi aku bukan pacarnya, Tante. Pacar Arya lebih cantik daripada aku."
Helen segera menjelaskan.
"Oh, begitu. Lalu, yang di sampingmu itu...?"
"Aku Nia, adik kelas Kak Arya." Nia juga menjelaskan.
Yuki kemudian mengangguk dengan penjelasan keduanya
Menatap Helen penuh arti, Yuki semakin penasaran dengan gadis yang menjadi pacar Arya. Dia selalu bertanya-tanya, seberapa cantik pacar Arya?
Yuki jelas menyadari bahwa Helen merupakan gadis yang cantik. Hanya dengan kecantikannya, dia yakin Helen bisa membuat jatuh hati pria mana saja.
Jika gadis cantik seperti Helen saja mengakui kecantikan pacar Arya, berarti gadis yang menjadi kekasih pemuda ini benar-benar memiliki kecantikan kelas atas.
"Oh, ya. Apakah Tante sudah makan siang? Jika belum, bagaimana jika bergabung dengan kami? Jika Tante tidak keberatan, tentunya." Arya tiba-tiba berkata demikian, agak mengejutkan Yuki.
"Tentu, aku tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan dua temanmu di sana? Apakah mereka tidak keberatan?"
Yuki melirik Helen dan Nia.
"Aku tidak keberatan."
"Aku juga tidak keberatan."
Helen dan Nia segera menjawab tanpa ragu. Mereka berdua ditraktir oleh Arya, jadi jika Arya ingin menambahkan orang pada kelompok mereka, maka keduanya tidak bisa menolak. Itu tidak sopan jika mereka menolak Yuki.
Selain itu, jika Yuki bergabung dengan mereka, Helen dan Nia jadi bisa mencari tahu hubungan macam apa yang dimiliki Arya dan Yuki. Jika keduanya memiliki hubungan yang melenceng seperti yang mereka duga, maka tidak ada salahnya melaporkannya pada Lucy.
Kemudian, Yuki duduk di sebelah Arya dan meletakkan tas belanjaannya. Dia kemudian mengambil menu.
"Tante, pesanlah apapun yang Tante inginkan. Aku yang bayar." Kata Arya.
"Oh, kalau begitu aku tidak akan sungkan."
Yuki tersenyum, kemudian memesan spageti.
Setelah memesan, Yuki menatap Arya lalu Helen dan Nia. Matanya berubah menjadi agak tajam saat dia bertanya dengan agak marah.
"Ngomong-ngomong, kenapa kalian ada di sini? Kalian seharusnya masih di sekolah, kenapa malah membolos?"
Yuki tersenyum, namun itu bukan senyuman bagi ketiganya.
Arya dan kedua gadis itu tersentak, agak terkejut dengan perubahan tiba-tiba Yuki.
Terbatuk ringan, Arya menjelaskan.
"Begini, Tante. Besok adalah ulang tahun pacarku dan karena aku kebingungan harus memberi apa di ulang tahunnya besok, aku meminta saran Helen dan Nia dan sekalian mengajak mereka bertemu lalu mencari hadiah bersama-sama. Kami tidak membolos, aku sudah meminta izin pada salah satu guru. Kami akan kembali ke sekolah setelah semua selesai."
Yuki mengangguk dengan jawaban Arya. Itu alasan yang bagus, namun itu juga tidak baik jika harus meninggalkan pelajaran di sekolah.
Menghela napas, Yuki tersenyum.
"Begitu. Jadi kalian sedang mencari hadiah ulang tahun. Kalau begitu, bolehkah aku ikut bergabung mencari hadiah juga? Aku sedikit luang hari ini."
"Jika Tante tidak keberatan, maka aku akan sangat berterima kasih karena Tante sudah mau membantu." Kata Arya tulus.