Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 106 - Pembunuhan Pertama



Lucy yang pergi bersama William itu tidak mengatakan apapun sepanjang perjalanan. Dia sangat benci karena harus bersama William, tapi dia tidak memiliki pilihan lain.


Di sisi lain, William tampak tersenyum sambil bersenandung. Tentu, dia sangat senang. Bukan karena dia bisa pulang bersama Lucy, tapi karena dia akhirnya bisa menyelesaikan tugas dari Lery dan Tommy.


Kedua orang itu menyuruhnya mendapatkan hati Lucy, agar mereka berdua bisa menjalankan rencana mereka, yaitu melecehkan Lucy.


Setelah sekian lama, William gagal mendapatkan hati Lucy namun kini, gadis ini bersamanya, jadi dia tentu saja senang. Dia bahkan sudah mengirim pesan pada Lery dan Tommy. Kedua orang itu menyuruhnya untuk pergi ke gudang kosong di ujung kota.


Bertanya tentang alamat Lucy, William mendapat jawaban memuaskan. Dia hanya mengangguk ketika Lucy mengatakan alamat rumahnya.


Setelah lebih dari sepuluh menit berkendara, Lucy mengerutkan dahinya dengan curiga. Saat ini jalan yang dilalui William malah semakin menjauh dari rumahnya. Terlebih lagi, semakin lama mereka berkendara, semakin sepi jalanan dan semakin jarang ada perumahan.


"William, ke mana kau membawaku pergi?"


"Tenang saja, Lucy. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar. Tidak masalah, kan?"


"Hentikan, William! Turunkan aku! Aku tidak ingin pergi jalan-jalan!"


Lucy berkata, sepenuhnya kesal. Dia segera memiliki firasat buruk tentang ini.


Tertawa kecil, William mengendarai motornya lebih cepat, membuat Lucy terkejut. Dia kemudian berteriak, namun William malah semakin berkendara dengan lebih cepat lagi.


Di sisi lain, Arya yang mengikuti dari jarak aman, firasat buruknya semakin menguat. Terlebih lagi jalan yang dia lalui sepi dan jarang perumahan. Dia kemudian menancap gas motornya dan berkendara lebih cepat ketika melihat motor yang dikendarai Lucy semakin menjauh dari jarak amannya.


Setelah beberapa saat, Arya berhenti di sebuah gudang kosong di ujung kota. Tidak jauh tempatnya berhenti, dia melihat Lucy sedang bertengkar dengan seorang pria.


Arya mengerutkan dahinya dan memfokuskan pandangannya pada keduanya. Dia terkejut mengetahui jika pria itu adalah William.


"Apa ini? Kenapa William bersama Lucy, terlebih lagi di gudang kosong seperti ini?" Arya kebingungan.


Menghela napas, Arya membuka tasnya, mencari sesuatu di dalam sana sejenak sebelum mengeluarkan dua benda panjang dan melengkung. Dua benda ini tidak lain adalah belatinya.


Dia selalu membawanya ke manapun, takut jika ada keadaan mendesak yang membuatnya harus membunuh.


"Jika terjadi sesuatu pada Lucy. William, kau akan kubunuh!"


Arya menatap belati di tangannya. Dia bersungguh-sungguh kali ini. Jika William melakukan sesuatu yang membahayakan Lucy, dia akan membunuhnya.


Dia melakukannya bukan karena masih mencintai Lucy, namun murni ingin melindungi gadis itu dari bahaya.


"William, lepaskan aku!"


Lucy berteriak, ekspresinya terlihat kesakitan karena William mengcengkeram pergelangan tangannya, menariknya masuk ke dalam gudang kosong itu.


"Diam! Ikuti saja aku!"


William membalas, menarik Lucy dengan kasar.


Lucy jelas sudah melawan sekuat tenaga, namun dalam hal kekuatan, dia kalah dari William.


Lucy diseret paksa ke dalam gudang kosong itu oleh William.


Lucy gemetar karena takut. Wajahnya pucat bagai kertas dan keringat dingin memenuhi dahinya. Dia sangat takut sekarang. Dia tidak tahu apa yang akan William perbuat, tapi jelas itu bukanlah hal baik.


"Lery, Tommy! Aku di sini!"


William berteriak, tidak melepaskan cengkeraman tangannya pada Lucy.


Lucy terkejut mendengar William memanggil seseorang.


Kemudian, dengan tawa aneh, dua orang pemuda muncul dari belakang. Keduanya jelas Lery dan Tommy.


"William, kau melakukan perkerjaanmu dengan baik!"


"Gadis, jangan salahkan kami karena kasar, tapi salahkan temanmu yang bernama Arya itu. Jika bukan karena dia, kau tidak akan berakhir di sini."


Lery mengeluarkan tawa mengerikan.


Lucy merinding dan terkejut mengetahui semua ini ada hubungannya dengan Arya.


"Tom, William, ikat gadis ini dan setelah itu kita akan menikmatinya. Aku akan buang air sebentar."


Lery memberi perintah dan keduanya segera mengangguk.


Tommy kemudian mengambil tali dan mengikat Lucy.


Lucy melawan, namun ketika dijegal oleh dua orang pria, seberapa kuat dia bisa melawan?


Tanpa menunggu lama, seluruh anggota tubuh Lucy terikat. Dia menangis dan menyesali keputusannya dalam menerima tawaran William.


*****


Di sisi lain, Arya yang bersembunyi mengerutkan dahinya dengan tidak senang ketika melihat Lucy diikat. Dia sangat marah, namun dia masih menahan diri.


"Siapa dua orang tadi? Aku sepertinya pernah bertemu dengan mereka, tapi di mana?"


Arya berpikir keras. Dia merasa tidak asing melihat Lery dan Tommy.


Setelah berpikir sejenak, dia ingat jika dua orang itu merupakan orang-orang yang pernah berkelahi dengannya di hari pertamanya masuk sekolah, saat dia terlibat dengan Lylia pertama kalinya.


Setelah beberapa tebakan, Arya menyimpulkan jika sepertinya orang-orang ini menyimpan dendam dengannya. Tapi, apa hubungannya dengan Lucy?


Mendengar suara, Arya menoleh ke sumber suara dan menemukan Lery sedang buang air tidak jauh darinya. Lery menghadap ke semak-semak, memunggunginya.


Menatap punggung Lery, Arya mengeluarkan belatinya. Dia bertekad untuk membunuh Lery ketika dia lengah. Namun, ini adalah pembunuhannya yang pertama, jadi dia takut dan gugup.


Mengatupkan giginya, Arya memberanikan diri, menggenggam belatinya dengan kuat dan mendekati Lery dengan perlahan tanpa mengeluarkan suara.


Ketika semakin dekat, jantung Arya berdegup kencang. Perasaan ragu-ragu memenuhi hatinya.


'Ayo, Arya! Kau pasti bisa membunuhnya!'


Arya menguatkan tekadnya.


Ketika jarak mereka hanya dua langkah, Arya segera mengangkat tangannya yang memegang belati dan menusuk tengkuk Lery.


Lery terkejut dan mengeluarkan erangan teredam. Napasnya terengah-engah dan rasa sakit yang luar biasa memenuhi tengkuknya. Dia tidak sempat menoleh ke belakang sebelum kesadarannya menghilang, diiringi dengan napasnya yang perlahan berhenti.


Arya menatap Lery yang terjatuh itu, di mana belatinya masih menancap di lehernya. Jantungnya berdegup tanpa aturan. Wajahnya berubah pucat bagai kertas dan keringat dingin memenuhi dahinya.


"Aku... Aku baru saja membunuh..."


Bahu Arya gemetar, matanya dipenuhi ketakutan saat melihat darah mengalir deras dari leher Lery.


Menutup mulutnya, Arya hampir muntah. Dia kemudian melihat sekeliling dan mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya. Dia melakukan ini beberapa kali agar tenang.


Mendapat sedikit ketenangannya, Arya menatap Lery lagi hanya untuk kehilangan ketenangan lagi. Dia kemudian dengan memberanikan diri mengambil belati di leher Lery.


Ketika dicabut, leher Lery yang tertusuk mengeluarkan darah seperti air mancur selama sedetik dan darah mengalir semakin deras.


Arya tidak memperhatikan ini. Dia mengalihkan pandangannya ke langit, menenangkan dirinya.


"Ayo, Arya. Ini adalah jalan yang kau pilih. Kau sudah membunuh, jadi sekarang kau adalah seorang pembunuh. Kau sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi, karena kau seorang pembunuh sekarang!"