Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 124 - Perpisahan



Arya terkejut, terdiam. Gerald juga begitu.


Lylia menyaksikan dengan khawatir dan takut. Dia sangat tahu jika ibunya tidak terlalu menyukai mereka yang miskin.


"Jangan sentuh tanganku dengan tangan kotor dan menjijikkanmu itu!" Vera mencibir.


Arya mengerutkan dahi mendengarnya. Dia sangat tidak senang.


"Vera, apa yang kau katakan?! Nak, maafkan istriku. Dia sedang dalam mood buruk."


"Omong kosong! Bocah, katakan padaku. Kau hanya memacari putriku demi bisa memanfaatkannya, benar? Huh, kalian semua orang miskin sama saja! Selalu memanfaatkan kebaikan kami!"


Vera menatap jijik Arya.


Emosi Arya segera meningkat, tapi dia masih mencoba menahan diri. Dia hanya menatap tajam Vera.


"Bisakah kau perjelas maksudmu?" Arya bertanya dingin.


"Masih berlagak polos? Kau hanya memanfaatkan cinta putriku, karena kau menginginkan uangnya!"


Arya terdiam, dia tidak memiliki alasan untuk membantah. Lagipula, itu memang yang dia lakukan di awal berpacaran dengan Lylia. Namun, kini dia hanya mencintai Lylia dengan tulus tanpa mengharapkan apapun.


Mengatupkan giginya, Arya tidak dapat menerima penghinaan ini. Dia memang memanfaatkan Lylia, tapi itu dulu!


"Jangan bicara sembarangan! Aku tulus mencintai Lylia."


"Meski kau tulus, kau tetaplah miskin. Putriku kaya karena kami memberikan semua yang dia butuhkan dan dia inginkan. Sedangkan dirimu, bahkan mungkin orang tuamu tidak bisa memberikan apapun padamu. Siapa yang tahu jika sebenarnya ibumu menjual tubuhnya demi uang?"


Vera tertawa meledek, membuat wajah Arya menggelap.


"Ibu, cukup!"


Lylia berteriak, panik. Dia tahu jika yang dihina adalah ibunya, maka Arya tidak akan segan pada siapapun lagi, bahkan orang tuanya sekalipun.


Gerald menarik tangan Vera, menyuruhnya berhenti dengan ucapannya.


Tubuh Arya gemetar menahan marah. Dia sudah berada diambang batas kemampuannya untuk menahan amarahnya.


Jika dia yang dihina, dia akan marah tetapi mengabaikannya. Tapi jika ibunya, tidak peduli siapa dia, Arya setidaknya ingin memberikan dua hingga tiga tamparan sebagai balasan atas penghinaannya.


Mendekati Vera, Arya mengangkat tangannya dan hendak menampar Vera tapi tangannya segera dihentikan oleh Gerald.


"Sungguh, Lylia memilih kekasih yang memiliki harga diri tinggi! Putriku benar-benar tidak salah dalam memilih kekasih! Tapi, maaf karena kau tidak bisa melampiaskan amarahmu, Nak. Dia adalah istriku, jadi tolong maafkan dia. Aku sebagai suaminya mewakilinya. Tolong dimaafkan, ya."


Gerald yang menahan tangan Arya agak terkejut, tidak menyangka jika tenaga pemuda ini begitu kuat. Juga, tatapan yang dia berikan mengerikan dan matanya menunjukkan kebencian mendalam.


'Sepertinya Vera baru saja menyentuh titik sensitif bocah ini.' Gerald berdecak dalam hati.


Menarik tangan dengan kasar, Arya menatap marah pasangan suami-istri itu.


"Tarik ucapanmu tentang ibuku, atau kau akan menyesal!"


"Omong kosong, jangan harap aku akan...!"


Vera tiba-tiba terdiam, merasakan tangannya ditarik oleh seseorang.


Gerald juga terkejut. Mereka menoleh ke belakang dan melihat Lylia menarik tangan ibunya dan menggenggam perge tangannya dengan erat.


"Ibu, cukup! Jangan mengatakan hal buruk lagi tentang Arya, atau aku akan marah!"


Lylia memelototi ibunya, yang sama sekali tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


Vera terkejut, tidak pernah melihat Lylia begitu marah padanya.


"Lylia, Ibu hanya..."


"Cukup!"


Lylia berteriak, suaranya terdengar marah. Dia mengetahui masalah dalam keluarga Arya, dia juga tahu tentang bagaimana ibu Arya mengalami kesulitan karena suaminya. Jadi, mendengar ibunya menghina ibu Arya, dia secara alami ikut marah juga.


Gerald dan Vera terdiam, tidak menyangka jika putri penurut mereka akan marah karena kekasihnya disinggung.


Vera akhirnya diam, menatap Lylia sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada Arya.


"Aku belum mendapat permintaan maafku dan sepertinya ada seseorang yang belum menarik kembali ucapannya." Arya mencibir.


Vera hanya diam, mengangkat dagunya dengan postur arogan dan sombong.


Gerald menggertakkan giginya karena marah pada Vera.


"Nak, aku mewakili istriku meminta maaf atas apa yang telah dia ucapkan. Aku menarik kembali kata-kataku." Kata Gerald.


"Aku menerima permintaan maafmu, Tuan. Tapi, yang harus menarik kembali kata-katanya adalah istri Anda. Akut tidak akan menerimanya jika orang lain yang mewakilinya."


"Bocah, cukup! Kau benar-benar memuakkan, sama seperti orang miskin lainnya! Aku hanya mengatakan fakta! Ibumu memang menjual tubuhnya agar bisa mendapat uang!"


Vera tidak tahan dengan ucapan Arya yang menuntutnya menarik kembali kata-katanya. Dia sangat tidak senang karena diperlakukan sedemikian rupa oleh bocah miskin ini.


Ekspresi Arya, Gerald dan Lylia menjadi suram mendengarnya.


"Miskin, eh? Hanya karena aku miskin, kau menghina ibuku? Bagus, akan aku tunjukkan padamu jika orang miskin bisa menjadi kaya!"


Arya berteriak marah.


"Cepat, buktikan kata-katamu itu! Kalian orang miskin hanya bisa mengemis dan tidak akan pernah kaya! Ingat kata-kataku ini!"


Arya dan Vera saling menatap dingin, menunjukkan kebencian mendalam satu sama lain.


"Berikan aku waktu lima tahun dan aku akan beli seluruh perusahaan kalian!"


Arya berbalik, meninggal Lylia dan kedua orang tuanya. Dia benar-benar tidak mengharapkan hal semacam ini terjadi diperpisahannya dengan kekasihnya


Ini benar-benar di luar dugaan.


Lylia memanggil, berlari ke arah Arya tapi dia langsung dihentikan oleh ayahnya.


"Lylia, hentikan. Kita sudah menyinggungnya, dia pasti tidak akan mendengarkanmu. Biarkan dia pergi. Hubungan kalian mungkin berakhir di sini." Gerald menghela napas, menggeleng.


"Lepas!"


Lylia mengabaikannya, menepis tangan ayahnya dengan kasar dan langsung berlari menuju Arya.


"Lylia, kembali!"


Kini Vera yang mengejar Lylia, namun dia dihentikan Gerald dan suaminya ini tidak melepaskannya seperti melepaskan lylia.


"Biarkan Lylia menemui kekasihnya sebelum kita pergi."


Suara dingin Gerald terdengar, matanya melotot pada Vera.


"Arya, tunggu!"


Lylia berlari secepat yang dia bisa, mengejar Arya.


Arya berhenti di tempat, menghela napas panjang sebelum berbalik dan membuka lebar tangannya.


Lylia segera melompat dan memeluk erat Arya.


Keduanya berbagi pelukan erat yang hangat, sebelum melepaskan diri dan saling menatap.


"Arya, tolong maakan ibuku. Dia tidak bermaksud menyinggungmu. Dia hanya..."


"Tidak perlu meminta maaf atas nama ibumu, Lylia. Jika bukan ibumu yang meminta maaf, maka aku tidak akan memaafkannya. Lylia, aku yakin kamu tahu sikapku jika ibuku dihina."


Arya menyisir rambut Lylia ke belakang telinganya, tersenyum tipis.


Lylia terdiam, mengigit bibirnya.


Membelai pipi Lylia, Arya mendekatkan wajahnya dan mencium Lylia dengan lembut.


Lylia agak terkejut, tapi dia segera membalas.


Keduanya berbagi ciuman ringan dan dangkal, saling menyatakan cinta mereka melalui ciuman itu.


Gerald dan Vera terkejut melihat Arya dan Lylia berciuman dengan mesra.


Vera tanpa henti menggertakkan giginya, marah pada Arya karena berani menempelkan bibir kotornya itu ke bibir suci Lylia.


Memisahkan diri, Arya dan Lylia menatap dengan penuh cinta.


Membelai pipi Lylia, Arya berkata dengan pahit.


"Lylia, mari kita putus. Sepertinya hubungan kita sampai di sini saja. Maaf, bukannya aku tidak mencintaimu tapi ibumu sudah keterlaluan."


Lylia melebarkan matanya, sangat terkejut. Namun, dia memahami kenapa Arya memutuskan hubungan mereka di saat seperti ini. Ibunya sudah menyinggungnya terlalu jauh, jadi wajar jika Arya memiliki kesan yang buruk pada orang tuanya.


Mengigit bibirnya, Lylia membenamkan wajahnya ke dada Arya, dibalas dengan pelukan erat.


Lylia terisak dalam pelukannya, membuat Arya merasa bersalah dan sakit di dadanya.


Menyeka air matanya, Lylia berkata.


"Aku mengerti. Arya, terima kasih banyak atas semua yang sudah kamu lakukan untukku. Aku hanya berharap kita bisa bertemu lagi dan melanjutkan hubungan kita."


"Tentu, Lylia. Jika masalahku dengan ibumu selesai, maka kita bisa melanjutkan hubungan kita. Aku janji. Aku juga minta maaf karena selama ini selalu merepotkanmu karena aku terlalu sering membuat masalah di sekolah."


"Tidak apa, aku senang bisa direpotkan."


Keduanya saling bertukar ciuman sekali lagi sebelum Arya berbalik.


Arya tidak menoleh ke belakang, takut jika dia melihat wajah sedih Lylia dia akan jadi tidak tega dan membawanya lari.


Lylia di sisi lain menangis tanpa henti, hatinya sakit ketika sang kekasih memutuskan hubungannya karena ibunya telah menyinggungnya.


Gerald dan Vera kemudian menghampiri Lylia.


Gerald tidak mengatakan apapun, hanya menatap putrinya dengan melankolis.


Vera tersenyum puas melihat kepergian Arya. Dia kemudian menatap Lylia.


"Nak, biarkan saja bocah miskin itu pergi. Dia tidak pantas bersama...!"


Vera mengusap punggung Lylia, namun gadis itu segera menepisnya dengan keras dan berteriak marah dengan mata merahnya yang penuh kesedihan dan keputusasaan.


"Diam! Jangan sebut dia miskin atau apapun lagi!"


Lylia berteriak hingga suaranya serak, menabrak bahu ibunya sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


Vera tidak tersinggung, dia hanya menghela napas ringan. Dia tidak peduli jika putrinya marah padanya. Yang terpenting Lylia tidak bersama Arya lagi.


"Vera, kau baru saja menghancurkan kebahagiaan putriku."


"Dia putriku, ingat? Putriku harus bahagia bersama pria kaya. Aku akan merencanakan pernikahannya setelah kita tiba di Amerika Serikat nanti."


Vera berkata, meninggalkan Gerald yang terkejut bukan main itu.


Gerald mengepalkan tangannya, marah pada keputusan Vera yang merencanakan pernikahan Lylia tanpa meminta pendapatnya. Bahkan, dia baru mengetahui rencana istrinya ini.


"Vera!!!"


Gerald berteriak marah pada Vera, namun dia diabaikan.


Dengan begitu, hubungan asmara Arya dan Lylia berakhir dengan perpisahan dikarenakan Vera yang keterlaluan.