Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 109 - Aku Hanya Ingin bersama Lylia Sekarang



Arya tidak ada di rumah? Sejak kemarin?"


Begitu Lylia tiba di rumah Arya, dia bertanya tentang Arya pada Erwin namun Erwin mengatakan jika cucunya itu tidak berada di rumah sejak kemarin.


Ini membuat Lylia cukup terkejut dan bertanya-tanya, ke mana perginya Arya?


"Kalau boleh tahu, Arya pergi ke mana, Kek?"


"Entahlah. Tapi, biasanya jika dia tidak pulang ke rumah, maka dia berada di rumah Lucy. Dia sering begitu dulu."


"Rumah Lucy?!"


Lylia semakin terkejut, seketika menjadi kesal. Dia kemudian segera meminta alamat rumah Lucy pada Erwin dan pergi ke sana.


*****


Tiba di rumah Lucy, Lylia mengetuk pintu dan disambut oleh seorang pria berwajah galak. Dia sebenarnya takut ketika bertemu pria ini, namun dia memberanikan diri bertanya.


"Apakah ini benar rumah Lucy?"


"Ya, ini adalah rumah Lucy. Apakah kau temannya Lucy?"


David bertanya dengan canggung. Dia sangat terkejut karena tiba-tiba seorang gadis secantik Lylia datang mengunjungi rumahnya. Tidak hanya cantik, namun rambut putih keperakan yang dimilikinya benar-benar indah.


David mau tak mau terpesona dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Lylia.


"Aku temannya Lucy."


"Ah, masuklah jika begitu. Aku akan buatkan minum sebentar."


David mempersilakan Lylia masuk.


Lylia mengangguk ringan dan masuk, duduk di sofa ruang tamu sementara David pergi ke dapur untuk membuat teh.


Setelah beberapa saat, David kembali membawa dua cangkir teh untuk dirinya dan Lylia.


"Oh, ya. Karena kau teman Lucy, kau pasti ingin bertemu dengannya, kan? Maaf, tapi Lucy sedang tidak enak badan."


"Be-begitu, ya? Tapi, sebenarnya aku datang bukan untuk Lucy, tapi aku datang mencari Arya. Aku sempat datang ke rumahnya, tapi kakeknya bilang dia tidak di rumah dan kemungkinan ada di sini."


"Arya, ya? Dia memang ada di sini. Ngomong-ngomong, hubungan apa yang kau miliki dengan Arya?" David menyesap tehnya, bertanya dengan penasaran.


"Itu... Aku dan Arya sebenarnya sepasang kekasih..."


"Pffttt!"


David tersedak teh yang dia minum, terbatuk beberapa kali.


"Kau baik-baik saja?"


Lylia terkejut melihat David tiba-tiba batuk.


"Aku baik, jangan khawatir."


David tersenyum masam. Dia tidak menyangka jika gadis secantik Lylia merupakan kekasih Arya.


'Arya, kau bajingan cilik! Pantas saja kau meninggalkan Lucy, ternyata kau mendapat kekasih yang lebih cantik!'


David diam-diam mengutuk Arya dalam hatinya.


Berdeham ringan, David bertanya.


"Boleh kutahu, kenapa kau mencari Arya?"


"Aku dengar Arya sakit, jadi aku ingin menjenguknya. Aku juga sudah membawakannya obat jika dia memang sakit."


"Ya, Arya memang sakit. Tapi..."


David berhenti di tengah-tengah, bingung menjelaskan kondisi Arya saat ini. Kondisinya kurang baik saat ini, dengan keadaan mental yang buruk.


"Yah, kau akan tahu jika kau melihatnya sendiri."


David malas berpikir terlalu lama, karena dia sudah cukup lelah memikirkan banyak hal tadi malam.


Lylia mengangguk, lalu keduanya, dengan David memimpin Lylia menuju kamarnya.


Mempersilakan Lylia, gadis itu masuk ke dalam kamar David dan melihat Arya sedang berbaring di kasur dengan mata terpejam.


Arya mungkin terlihat tertidur, namun dia sebenarnya terjaga. Sejak membunuh William dan lainnya, dia selalu bermimpi buruk bahkan dia jika hanya tertidur beberapa menit.


Lylia kemudian duduk di tepi kasur, mengulurkan tangannya dan menyentuh dahi Arya, memeriksa apakah kekasihnya ini demam.


"Lylia, kenapa kamu ada di sini?"


Arya duduk dan menatap Lylia dengan bingung.


"Aku dengar kamu sakit, jadi aku berkunjung untuk menjengukmu di rumah, tapi kamu ternyata di sini."


"Ah, maaf. Aku hanya tidak enak badan, jangan khawatir."


"Benarkah? Kamu pucat dan terlihat lesu. Lihat, kamu bahkan keringat dingin begini. Apakah kamu sudah makan? Sudah minum obat? Aku membelikanmu makanan dan obat-obatan, kamu mau?"


Lylia membelai pipi Arya dengan lembut, hanya merasakan jika wajah Arya begitu dingin.


"Tidak, Lylia. Aku sedang tidak nafsu makan, maaf."


"Tak apa. Ngomong-ngomong, kita ke rumah sakit saja, ya? Supaya kamu mendapat perawatan."


"Lylia, tidak apa. Aku hanya tidak enak badan. Aku akan sehat kembali besok."


Arya memaksakan senyumnya.


Lylia menghela napas tanpa daya dengan ini. Dia kemudian bertanya.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa di sini, di rumah Lucy? Jika kamu sakit, bukankah seharusnya kamu di rumah? Juga, bagaimana bisa kamu sakit bersamaan dengan Lucy? Aku dengar dari guru, tahu?"


Lylia memiliki tatapan tidak senang dan nadanya terdengar kesal.


Arya terkejut dan terdiam, lalu berkata setelah jeda.


"Itu... Aku dan Lucy kemarin kehujanan saat perjalanan pulang, jadi kami sakit bersamaan."


Arya mengatakan omong kosong yang terlintas di benaknya.


Lylia tertawa kecil mendengar kebohongan Arya, merasa jika kekasihnya buruk dalam berbohong.


'Kemarin jelas-jelas terang tanpa awan mendung, jadi bagaimana bisa hujan?' Pikir Lylia.


"Yah, tidak masalah. Karena kamu lagi sakit, aku maafkan kamu. Aku hanya bisa berpesan satu hal padamu. Tolong jangan berpindah hati."


Lylia menangkupkan tangannya di wajah Arya, menempelkan dahinya ke dahi Arya dan mengusapnya dengan gerakan manja.


Arya diam dan menikmati momen hangat tersebut.


Lylia perlahan menunduk dan memeluk Arya, membenamkan wajahnya ke dadanya.


Arya balas memeluk Lylia, meraih pinggang ramping kekasihnya dan memeluknya dengan erat. Dia bahkan mengecup dahi Lylia dengan ringan, meski dia sebenarnya ragu-ragu.


Merasakan kehangatan tubuh Lylia, semua rasa bersalah, ketakutan dan penyesalan yang Arya rasakan karena membunuh William menghilang seketika. Lylia benar-benar memberinya kehangatan dan ketenangan.


David yang melihat pasangan kekasih itu berpelukan di dalam kamarnya menghela napas panjang, merasakan penyesalan dalam hatinya. Keduanya terlihat begitu mesra dan intim, jadi dia hanya berpikir jika Arya mungkin sudah benar-benar melupakan Lucy.


Dia agak menyesal di sini, karena gagal meluruskan kesalahpahaman Arya pada Lucy.


Di sini lain, Lylia yang memeluk Arya mengangkat kepalanya dan menatap Arya. Dia membelai pipi Arya dengan lembut.


"Arya, bisakah kita pulang saja? Kamu berada di rumah Lucy sekarang. Kamu pernah bilang jika kamu sering menginap di sini dulu, jadi bisakah kita pulang saja? Aku takut mengingat kenangan manis karena terlalu lama di sini."


Mata Lylia lembab dan berkaca-kaca, seakan jika Arya menolak dia akan menangis.


Arya tersenyum tipis, mengangguk sebagai jawaban.


Lylia tersenyum gembira. Dia segera melepaskan diri dari pelukan Arya.


Keduanya kemudian keluar dari kamar, menemui David untuk berpamitan.


"Oh, kamu sudah mau pulang, Arya?"


"Ya, Kak. Lylia memintaku pulang, jadi aku akan pulang." Arya tersenyum.


"Tapi bagaimana dengan kondisimu saat ini? Kamu sedang tidak dalam keadaan mental yang baik, ingat?"


"Kurasa aku sudah membaik, Kak. Berkat Lylia, aku merasa tenang dalam pelukannya."


"Begitu, ya? Baiklah, bagus karena kamu sudah membaik. Tapi, bagaimana dengan Lucy? Apakah kamu sudah benar-benar melupakannya?"


"Aku sangat minta maaf, Kak. Tapi sepertinya aku sudah melupakan perasaanku padanya. Aku hanya ingin bersama Lylia sekarang. Tapi, aku akan menganggap Lucy sebagai teman ataupun adikku."


Arya berkata dengan agal menyesal.


David terdiam, merasa kasihan pada Lucy karena pria yang dicintainya sekarang pergi bersama wanita lain.