Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 65 - Tidak Lebih dari Lamaran!



Setelah Helen dan Nia pulang, Lucy yang sedang berada di kamarnya sedang menatap beberapa hadiah ulang tahunnya.


Dia duduk di kasurnya ketika beberapa kotak hadiah dengan berbagai macam ukuran berserakan di sana. Lucy mengerutkan dahinya sambil berpikir untuk membuka hadiah yang mana lebih dulu.


Ketika Lucy sedang merenung untuk memilih hadiah mana yang akan dia buka lebih dulu, suara pintu diketuk terdengar.


"Masuk." Kata Lucy.


Setelah itu, pintu terbuka dengan suara derit dan memperlihatkan sosok Arya.


"Kamu belum membuka hadiahnya?" Tanya Arya.


"Aku bingung mau membuka yang mana. Bagaimana jika kamu yang memilihkan untukku, Sayang?"


Arya merenung sejenak. Dia menatap beberapa kotak hadiah yang dihias dengan indah itu sebelum akhirnya memilih untuk membuka hadiah dari Nia lebih dulu.


Lucy mengangguk setuju dan membuka hadiah dari Nia dan segera, dia mendapat dua sepasang pakaian baru.


Dia mendapat pakaian kasual santai untuk sehari-hari dengan model yang cukup mewah. Ini cukup sesuai dengan seleranya, namun ketika Lucy melihat pakaian lainnya, dia terdiam.


Dia mendapat pakaian tidur, alias piyama dengan model yang cukup provokatif. Piyama tersenyum agak ketat dengan corak bunga warna-warni.


Lucy tidak bisa menahan kedutan. Dia tahu ini hadiah dari Nia, jadi dia tahu bahwa tidak mungkin Nia memilihkannya piyama provokatif semacam ini.


Satu-satunya jawaban yang Lucy dapatkan adalah dengan menatap Arya.


Arya tersenyum masam melihat perubahan ekspresi Lucy.


"Bisakah kamu menjelaskannya, Sayang? Ini dari Nia, atau kamu yang memilihnya dan meminta Nia memberikannya padaku?"


"Yah... Itu sebenarnya dari Nia, tapi karena Nia tidak terlalu mengetahui selera pakaianmu, jadi dia meminta bantuanku untuk memilih. Kedua pakaian ini Nia yang memilih, semuanya saran dariku."


Arya tersenyum polos, seakan dia tidak bersalah.


Lucy menghela napas tanpa daya. Dia tidak tahu harus menangis atau tertawa. Tapi yang pasti, dia tidak akan memakai piyama ini dalam waktu dekat.


"Lucy, pakai piyama itu malam ini."


Arya berkata, menyebabkan dia mendapat bogem mentah dari Lucy.


Kemudian, Lucy melihat ke hadiah lainnya dan memilih membuka hadiah dari Helen.


Dia mendapat dua boneka dari Helen, satu boneka kelinci dan lainnya adalah kucing.


Boneka kelinci tersebut berwarna putih bersih dengan dua bola mata berwarna merah dan senyuman lucu. Sementara itu, boneka kucing itu berwarna putih juga dengan garis-garis hitam di punggungnya. Kucing tersebut memiliki mata biru dan menyeringai ala kucing, yang tampak menggemaskan bagi Lucy.


Lucy sangat senang ketika mendapat dua boneka ini, terutama boneka kucing, karena menurutnya itu sangat imut.


Setelah itu, Lucy menyingkirkan dua boneka itu dan mengambil hadiah dari David, membuka hadiah dari kakaknya itu dan agak terkejut ketika mendapat satu set lengkap alat kosmetik. Lucy cukup senang dengan ini, karena semua alat kosmetik ini akan sangat berguna baginya.


"Kakak sepertinya tahu jika aku membutuhkan satu set lengkap alat kosmetik, ya." Gumam Lucy, diam-diam berterima kasih pada David dalam hatinya.


Dan terakhir, Lucy membuka hadiah dari Arya.


Lucy menemukan hadiah dari Arya adalah sebuah handphone. Dia menatap handphone barunya dengan agak terkejut, karena handphone ini merupakan model terbaru dan sepengetahuannya, harganya cukup mahal.


Menatap Arya, Lucy memiliki ekspresi rumit di wajahnya.


Arya mengetahui kenapa Lucy berekspresi seperti itu. Semuanya karena Lucy merasa tidak nyaman jika mendapat sesuatu yang terlalu mahal sebagai hadiah.


Lucy membuka mulutnya, namun pada akhirnya, dia tidak mengatakan apapun selain berterima kasih pada kekasihnya itu.


Membereskan semua hadiahnya, Lucy meletakkan dua pakaian baru dari Nia di lemarinya. Dua boneka dari Helen dia biarkan di kasurnya sedangkan satu set alat kosmetik dari David dia letakkan di meja tempat biasa dia berdandan dan merias diri.


Arya yang melihat Lucy membereskan semua hadiah tersenyum tipis. Dia sedang duduk di tepi kasur ketika dia tiba-tiba memanggil Lucy, menyuruhnya duduk di pangkuannya.


"Lucy, kemarilah. Ada hal yang ingin aku katakan padamu."


Lucy menoleh dan menatapnya sejenak, sebelum datang dan duduk di pangkuannya dan bersandar di dadanya.


Ketika Lucy sudah duduk, Arya mengambil sesuatu dari kantung celananya.


Apa yang Arya ambil dari kantung celananya tidak lain adalah kalung semanggi berdaun empat yang dia beli kemarin. Dia sengaja tidak memberikannya di awal, agar menjadi kejutan di akhir.


"Lucy, tutup matamu. Sebelum aku menyuruhmu membukanya, jangan buka."


Arya berkata, membuat Lucy heran.


Menutup matanya, Lucy tidak menanyakan apapun.


Setelah beberapa saat, Lucy merasakan tangan Arya menyentuh lehernya dan tengkuknya, membuatnya agak merinding tapi dia tidak membuka matanya meski dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya Arya lakukan.


"Baiklah, sekarang kamu boleh membuka matamu." Kata Arya.


Lucy perlahan membuka matanya. Dia agak terkejut karena merasakan sesuatu melingkar di lehernya.


Menoleh ke bawah, Lucy semakin terkejut ketika menyadari bahwa apa yang melingkari lehernya adalah sebuah kalung semanggi berdaun empat.


Mata indah Lucy bergetar ketika dia menatap kalung di telapak tangannya. Dia kemudian menoleh ke ke belakang dengan kaku.


"Arya, ini..."


"Ya, ini adalah hadiah sesungguhnya untukmu. Meski tidak mewah, aku berharap kamu menyukainya dan bisa menjaganya dengan baik."


"Te-tentu saja, aku akan menjaganya dengan baik! Lagi pula, ini adalah hadiah darimu!"


Arya hanya tersenyum ringan dan memeluk Lucy dengan erat sambil berbisik di telinganya dengan lembut.


"Tahun ini, mungkin hadiah dariku hanya sebuah kalung. Tapi tahun depan, percayalah padaku bahwa tahun depan aku akan memberikanmu cincin. Dan tahun depannya lagi, aku yakin kita sudah memiliki bayi kecil di rumah kita, hidup bahagia selamanya."


Wajah Lucy langsung memerah hingga ke telinga mendengar ini. Jantungnya berdetak lebih cepat dan perasaan bahagia memenuhi hatinya.


Karena Arya sudah berkata seperti itu, bagaimana mungkin Lucy tidak memahami maksud kekasihnya ini? Ini tidak lebih dari lamaran!


Tanpa Lucy sadari, air mata menetes dari matanya. Dia terkejut karena tiba-tiba menangis, jadi dia segera menyekanya. Namun, tidak peduli seberapa banyak dia menyeka air matanya, dia tetap tidak bisa berhenti menangis.


"Lucy, kenapa kamu menangis?" Arya bertanya, nadanya main-main.


"Bodoh, kenapa kamu masih bertanya? Aku menangis gara-gara kamu mengatakan sesuatu yang terlalu membahagiakan untukku! Ini adalah hasil dari kata-katamu, kamu harus bertanggung jawab!"


"Lucy, aku mencintaimu."


"Aku juga, sangat, sangat, sangat mencintaimu, Arya."


Pada malam itu, setelah keduanya mengungkapkan perasaan mereka masing-masing, malam pun ditutup dengan sebuah ciuman penuh kasih yang membahagiakan.