
Satu bulan kemudian, Arya, Niko dan Brent kini membuka toko roti mereka.
Semuanya berawal dari ide Brent yang mengusulkan untuk membuka toko roti ketika Arya sedang berniat untuk membuka suatu bisnisy untuk menghasilkan uang.
Arya sedikit ragu karena menurutnya sendiri, toko roti memerlukan modal yang cukup banyak. Dia sendiri hanya memiliki beberapa juta di rekeningnya, jadi dia tidak bisa gegabah. Salah sedikit saja, maka dia akan mengalami kerugian.
Tapi karena tidak ingin mengecewakan Brent, Arya mengetesnya dalam membuat roti.
Dan hasilnya, roti buatan Brent benar-benar lezat. Roti buatannya memiliki tekstur lembut, aromanya khas dan rasanya tidak mengecewakan.
Karena skill pembuatan roti Brent ternyata benar-benar ahli, Arya segera memutuskan untuk membuka toko roti saja. Dia yakin, dengan kemampuan Brent, toko rotinya akan laris dan ramai pengunjung.
Satu masalah selesai dan satu masalah lainnya datang.
Peluang bisnis sudah di depan mata, tapi karena Arya memiliki modal yang terbatas, dia hanya bisa memodalkan bahan-bahan untuk membuat roti. Jika hanya itu masalahnya, maka baik-baik saja.
Tapi permasalahannya adalah dia membutuhkan tempat untuk mendirikan tokonya. Dia membutuhkan modal lebih untuk menyewa sebuah toko tingkat satu untuk membuka toko rotinya sementara.
Lucy yang mendengar rencana Arya terkejut dan segera menawarkan bantuan untuk memenuhi modal yang Arya butuhkan. Tapi sayangnya, Arya menolak.
Niko melakukan hal yang sama dan berakhir ditolak juga.
Adapun Brent, ternyata dia adalah kunci yang menyelesaikan masalah ini.
Brent berkata pada Arya kalau orang tuanya memiliki beberapa toko yang disewakan dan kebetulan ada dua toko yang kosong tanpa penyewa.
Segera, Brent meminta izin orang tuanya untuk meminjam salah satu ruko tersebut untuk membuka toko roti dan hasilnya, dia diizinkan. Kedua orang tuanya ternyata sangat mendukung permintaan Brent.
Selain itu, Brent juga mengatakan pada Arya kalau orang tuanya memberikan salah satu toko tersebut untuk digunakan secara bebas tanpa dipungut biaya.
Berita ini benar-benar membuat Arya gembira. Dia sangat berterima kasih pada Brent dan kini, toko rotinya sudah buka dan pengunjung yang datang sangat ramai setiap harinya.
Selama satu bulan terakhir, Arya bersama Niko dan Brent benar-benar sibuk mengurus toko roti mereka yang sangat ramai. Hal ini dikarenakan roti buatan Brent benar-benar lezat. Hanya dalam satu bulan ini sana, Arya sudah mendapat keuntungan yang melimpah dan kini dia berencana untuk membuka cabang menggunakan keuntungan yang dia dapat.
*****
Empat bulan kemudian, Arya yang membuka toko rotinya kini sudah menjadi seseorang yang kaya. Hanya dalam lima bulan, dia sudah membuka tiga cabang dan penghasilannya per bulan bisa mencapai puluhan bahkan seratus juta pun mungkin setiap bulannya.
Melihat toko rotinya laris manis, Arya sangat gembira dan senang. Dengan uang sebanyak itu, asalkan tokonya berjalan lancar dia bisa membeli apapun yang dia inginkan selama ini. Selain itu, dengan uang tersebut dia bisa membelikan Lucy beberapa perhiasan ataupun kosmetik yang diperlukan gadis tersebut.
Di dalam tokonya, Arya terlihat sedang beristirahat bersama Niko dan Brent di ruang istirahat. Ketiganya terlihat kelelahan setelah melayani pengunjung yang begitu banyak.
"Arya, selama satu minggu ini aku ingin mengambil cuti."
Niko yang duduk di depan Arya tiba-tiba berkata demikian, mengejutkan pemuda tersebut. Jarang bagi Niko untuk mengambil cuti saat membantu Arya di toko, jadi ini sedikit membingungkan.
Ketika Arya masih terkejut dan kebingungan, Brent yang diam tiba-tiba meminta izin untuk cuti juga, membuat Arya semakin terkejut.
Brent adalah orang yang bertanggung jawab pada produksi roti, jadi jika Brent cuti maka toko akan kekurangan pegawai untuk membuat roti. Selain itu, Brent adalah pembuat roti paling lezat, jadi jika Arya bisa dia tidak ingin mengizinkannya cuti.
Tapi setelah pertimbangan, Arya mengangguk dan membiarkan mereka berdua cuti.
"Kenapa kalian tiba-tiba ingin mengambil cuti?" Arya bertanya.
"Aku ingin belajar untuk ujian. Satu minggu lagi kita mulai masuk sekolah lagi dan langsung mengikuti ujian untuk kenaikan kelas, ingat?"
Niko menjawab dengan ringan dan Brent juga memberikan alasan yang sama.
Seperti yang mereka katakan, sebentar lagi sekolah akan dimulai dan sesaat setelah itu, ujian kenaikan kelas akan diadakan.
Tentu saja, Arya dan yang lainnya sudah mendapat libur selama lima bulan dikarenakan hilangnya Roy dan kelompoknya yang sudah Arya bunuh.
Karena Arya membunuh mereka di tempat yang tidak diketahui orang, para polisi dan pihak SMA Daeil melakukan penyelidikan tapi hasilnya nihil.
Pada akhirnya, sekolah diliburkan selama lima bulan dam dua minggu yang lalu pihak sekolah mengumumkan bahwa sekolah akan kembali pada saat ujian kenaikan kelas.
Ketika mendengar jawaban dari Niko dan Brent, Arya benar-benar terkejut. Dia benar-benar lupa kalau sebentar lagi akan mulai masuk sekolah lagi dan langsung ujian.
Alasannya bisa lupa tentang sekolah adalah karena dia terlalu sibuk dengan toko rotinya dan dia juga menikmati uang yang dia dapat dari usahanya, membuatnya lupa bahwa dia masih seorang siswa sekolah menengah.
*****
Di rumah Niko, Arya yang baru saja tiba segera menekan bel rumah Niko. Dia datang dengan membawa tas ranselnya dengan tujuan ingin belajar bersama di rumah Niko agar bisa fokus.
Jika Arya belajar seorang diri, dia tentu akan mengalami kesulitan karena dia tidak terlalu pintar dan ketika mengalami kesulitan dalam belajar tentunya dia memerlukan seseorang yang pandai dan rajin belajar.
Niko adalah salah satu teman yang pandai dan rajin belajar, jadi Arya memutuskan untuk belajar bersamanya saja.
Adapun Lucy, gadis tersebut pintar dan rajin belajar. Bahkan Lucy lebih pintar daripada Niko tapi Arya lebih memilih Niko.
Alasannya sederhana, jika dia belajar bersama Lucy, maka keduanya hanya akan bermesraan karena keduanya saling mencintai.
Dan jika hal ini sudah terjadi, mereka akan melupakan pelajaran dan lebih fokus pada kemesraan mereka.
Saat menekan bel rumah Niko, Arya memasang senyum lembut. Dia berharap Yuki yang menyambutnya.
Lagi pula, Yuki adalah wanita cantik dan sebagai seorang pemuda yang normal dan penuh semangat, tidak ada salahnya main mata sedikit.
Ini juga menjadi alasan mengapa Arya memilih belajar bersama Niko, karena ada kecantikan seperti Yuki.
Ketika pintu terbuka, senyum di wajah Arya berubah dan dia langsung berkedut.
Tidak seperti yang dia harapkan, ternyata yang menyambutnya adalah Niko dan bukannya Yuki, membuat Arya kecewa.
"Apa-apaan ekspresimu itu?"
Niko bertanya dengan kesal saat wajahnya berkedut. Dia melihat jelas ekspresi tidak puas dan kecewa Arya, membuatnya memiliki beberapa tebakan.
Arya hanya menggelengkan kepalanya sebelum Niko mengundangnya masuk.
Di ruang TV, Arya melihat Yuki sedang menonton TV dengan santai. Dia menyapanya dan pihak lain juga membalas dengan lembut sebelum pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan untuk Arya.
Kemudian, Niko mengajak Arya untuk belajar bersama di ruang TV. Keduanya segera membuka buku masing-masing dan memasang ekspresi serius.
Setiap beberapa saat sekali, Arya akan bertanya beberapa hal pada Niko ketika dia menemukan pertanyaan yang tidak dia mengerti. Niko mengajarinya dengan santai dan keduanya akhirnya selesai belajar bersama lalu istirahat sebentar sebelum melanjutkan.
Ketika sedang beristirahat, Yuki yang dari tadi diam menonton keduanya belajar kini mendekati mereka. Dia duduk tepat di sebelah Arya. Dia begitu dekat dengan pemuda tersebut hingga aroma tubuhnya bisa tercium oleh Arya.
Mengetahui kalau Yuki begitu dekat, Arya dan Niko terkejut. Terutama Niko, dia tidak pernah melihat ibunya begitu dekat dengan seorang pria selama ini.
Dia memelototi Arya tapi Arya menghindari tatapannya.
Mengabaikan Yuki, Arya dan Niko fokus belajar lagi.
Awalnya, Yuki mengawasi keduanya belajar sambil sesekali memberi arahan ketika Arya melakukan kesalahan.
Ini membuat Arya merasa senang karena diajari oleh wanita cantik seperti Yuki.
Perlahan, karena merasakan bosan Yuki akhirnya memiliki sebuah ide. Dia semakin mendekati Arya dan mendekati wajahnya ke telinga Arya lalu menghembuskan nafasnya dengan lembut namun menggoda.
Arya yang merasakan angin bertiup di telinganya segera bergidik dan tersipu malu. Tidak terbayangkan kalau Yuki akan melakukan hal tersebut padanya.
Dia kemudian menatap Yuki dengan ketidakpercayaan tapi tidak seperti yang diharapkan, Yuki hanya tersenyum puas seakan dia mengharapkan reaksi tersipu malu Arya.
Melihat ini, Niko menjadi sangat kesal. Dia tidak pernah melihat ibunya begitu dekat dengan pria.