
Setelah Arya hampir menampar Lucy, dia pergi meninggalkan rumah kekasihnya itu. Dia berkendara dengan motornya yang berkecepatan tinggi. Dia sedang menuju ke kota Bern, ingin bertemu Rosa secepatnya.
Selama perjalanan, angin dingin menyelimuti tubuh Arya, namun pemuda itu mengabaikannya. Di dalam benaknya, dia hanya ingin bertemu ibunya dan meminta maaf sebanyak-banyaknya, karena telah menjadi putra yang tak berguna, yang membiarkan ibunya menderita seorang diri beberapa tahun terakhir.
Arya tidak pernah menyangka jika Vicky ternyata lebih bajingan daripada bayangannya. Jika dia tahu Vicky menyakiti hati ibunya lebih dari yang dia tahu, dia sudah membunuhnya sejak lama.
Setelah tiga jam perjalanan, Arya tiba di depan rumahnya. Dia membuka gerbang dan memarkirkan motornya di halaman sebelum mengetuk pintu.
Setelah beberapa saat menunggu, Arya tidak mendapat respon sama sekali. Dia sadar jika ini sudah lewat tengah malam, jadi wajar jika Rosa ataupun Andhika sudah tidur dan tidak membukakannya pintu.
Mengetuk pintu sekali lagi, Arya berharap Rosa membukakannya pintu agar dia bisa meminta maaf atas ketidaktahuannya tentang penderitaan Rosa selama menjadi istri Vicky dulu.
Menunggu sejenak, suara langkah kaki terdengar dari dalam.
"Siapa?" Suara lembut milik Rosa memasuki telinga Arya, membuat pemuda tersebut terenyuh.
"Ma, ini aku. Maaf karena tiba-tiba pulang tengah malam begini..."
"Arya, itu kamu, Nak?"
Rosa terkejut, segera membuka pintu tanpa pikir dua kali. Benar saja, di hadapannya benar-benar putranya, yang menatapnya dengan rumit.
"Kamu... Kenapa kamu tiba-tiba pulang, terlebih lagi malam seperti ini? Dengan siapa kamu pulang? Oh, ya ampun! Kenapa kamu tidak memakai jaket? Masuk, nanti kamu bisa masuk angin!"
Rosa tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat putranya pulang tiba-tiba di malam hari. Terlebih lagi dia tidak memakai jaket dan hanya memakai baju lengan panjang.
Arya mengangguk patuh dan masuk sebelum menjatuhkan diri ke pelukan Rosa, memeluk ibunya dengan erat dan membenamkan wajahnya ke pundaknya.
Rosa terkejut dan mundur satu langkah karena tidak kuat menahan tubuh Arya. Terlebih lagi, ini terlalu tiba-tiba.
"Arya, ada apa, Nak? Kamu baik-baik saja? Kamu kedinginan? Ayo, lepaskan Mama dan akan Mama buatkan teh hangat, ya?"
Rosa menepuk punggung Arya dan mengelusnya.
Rosa bisa merasakan kesedihan datang dari Arya ketika putranya memeluknya.
Arya tidak menanggapi Rosa. Dia terisak ketika air mata menetes dari matanya.
"Maafkan aku, Ma... Maafkan aku karena telah menjadi putra yang tidak berguna... Maafkan aku karena telah membiarkan Mama menderita seorang diri... Maafkan aku karena terlambat menyadari semuanya... Maafkan aku karena tidak bisa berbagi beban dengan Mama..."
Serangkaian permintaan maaf datang dari Arya yang membenamkan wajahnya di pundak Rosa.
Rosa terkejut mendengarnya, bingung dengan permintaan maaf tiba-tiba. Terlebih lagi nada Arya terdengar begitu menyedihkan, membuatnya merasa tidak nyaman dan ikut sedih.
"Arya, apa yang kamu katakan? Bagaimana bisa kamu tidak berguna? Kamu tidak pernah membiarkan Mama menderita sama sekali, tahu?"
Rosa menepuk punggung Arya, menyayangi putranya yang sedang bersedih itu.
Setelah beberapa menit, Arya melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya.
"Tidurlah, Nak. Kamu pasti lelah karena perjalanan jauh. Andhika sudah tidur, jadi pelan-pelan masuk kamarnya, ya."
Rosa berjinjit untuk mengelus kepala Arya, namun tidak sampai karena Arya sudah lebih tinggi darinya.
Arya menundukkan kepalanya untuk dielus oleh Rosa. Dia memejamkan matanya dan menikmati tangan halus dan hangat ibunya menyisir rambutnya.
Setelah itu, Arya mengucapkan selamat malam pada Rosa sebelum pergi tidur.
Keesokan paginya, Arya membuka matanya dengan berat. Dia duduk dan melihat sekeliling, agak terkejut karena pemandangan yang dia lihat agak berbeda dari biasanya.
"Ah, aku di rumah." Gumam Arya setelah ingat jika semalam dia pulang ke rumahnya.
Melihat handphone, Arya mendapat beberapa panggilan tak terjawab dari Lucy. Dia juga mendapat pesan permintaan maaf dari kekasihnya, namun dia mengabaikannya dan menghapus notifikasi pesan tersebut sebelum keluar kamar.
"Oh, kamu sudah bangun, Arya? Bagaimana tidurmu? Kamu tidak masuk angin, kan? Mau sarapan, atau mandi dulu?"
Ketika Arya menuju ruang keluarga, dia melihat Rosa sedang menyapu dan segera menyapanya.
Arya tersenyum lembut pada ibunya.
"Selamat pagi, Ma. Tidurku cukup malam ini. Juga, maaf karena aku pulang tiba-tiba tadi malam."
"Tidak masalah. Mama tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba pulang dan langsung meminta maaf tadi malam, tapi Mama yakin kamu sedang menghadapi suatu masalah, bukan? Tidak apa, Mama mengerti itu. Jika kamu mau menceritakan masalahmu, Mama akan mendengarkannya. Jika tidak, maka tidak masalah."
Arya mengangguk mendengarnya. Rasanya begitu nyaman berada di rumah dan tinggal bersama ibunda tercinta.
Arya kemudian mengambil sapu yang di tangan Rosa, lalu menggantikan ibunya untuk menyapu.
Rosa membiarkannya. Dia pergi ke dapur yang berantakan karena digunakan untuk memasak sarapan sebelum Arya bangun tadi.
Setelah satu jam berberes rumah, Arya yang sudah segar usai mandi itu duduk di sofa, bersandar. Rosa berada tidak jauh darinya.
"Ma, apakah Vicky sebenarnya hanya memiliki tiga istri, atau dia memiliki selingkuhan lainnya di luar sana?"
Arya tiba-tiba bertanya dengan nada dalam, membuat Rosa terkejut dan langsung menatapnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Apakah terjadi sesuatu antara kamu dan ayahmu?"
"Tidak, Ma. Aku hanya bertanya secara acak." Arya tersenyum masam.
Rosa mengerutkan dahinya, jelas curiga. Tidak mungkin Arya akan bertanya secara acak, terutama yang dia tanyakan adalah ayahnya, yang mana Arya sangat membenci pria tersebut.
'Vicky, apa yang sebenarnya kau katakan pada Arya? Tunggu, bagaimana jika semua ini bukan perbuatan Vicky, tapi Alice? Alice mungkin melakukannya, tapi apa keuntungan yang dia dapat? Jika ja lang itu berani mengatakan hal yang tidak seharusnya pada putraku, jangan harap dia masih bisa berbicara setelah ini!' Rosa tenggelam dalam pikirannya, diam-diam mengutuk Alice karena kecurigaannnya.
Melihat perubahan ekspresi Rosa, Arya menghela napas pelan.