
Setengah tahun lebih yang lalu, keluarga Nia merupakan keluarga yang bahagia dan harmonis. Meski keluarganya kekurangan dalam hal ekonomi, namun mereka semua selalu penuh kebahagian dan harmonis.
Di dalam keluarga Nia, terdapat empat anggota keluarga. Terdiri dari ayah, ibu, kakak dan Nia. Mereka semua hidup bahagia tanpa keluhan, meski hidup ala kadarnya.
Kakak Nia merupakan seorang pekerja keras dan tidak mudah menyerah, bahkan ketika menghadapi masalah sebesar apapun.
Setiap kali Nia berada dalam mood yang buruk, dia selalu menghiburnya. Jika Nia mengalami suatu masalah dan hampir menyerah, dia selalu menyemangatinya. Dia selalu bersikap layaknya seorang kakak yang penuh pengertian pada adiknya.
Nia sendiri sangat bahagia karena memiliki kakak yang begitu perhatian padanya.
Kakak Nia sendiri merupakan seorang wanita. Dia begitu cantik dan penuh semangat.
Ibu Nia sendiri merupakan seseorang yang selalu menyayangi keluarganya. Dia juga bekerja serabutan untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Selain itu, ibu Nia memiliki pembawaan yang kalem dan kepribadian yang lembut. Dia merupakan anggota keluarga yang sangat disayangi oleh suami dan dua putrinya.
Nia sangat bahagia dengan keluarga kecilnya. Dia selalu berdoa agar keluarganya selalu hidup dalam keharmonisan dan selalu hidup bahagia bersama.
Namun sayangnya, takdir berkata lain.
Suatu hari, ketika ibu dan kakak Nia sedang keluar untuk berbelanja, mereka mengalami kecelakaan maut dan berakhir dengan kehilangan nyawa mereka.
Kehilangan ibu dan kakaknya benar-benar merupakan sebuah pukulan keras bagi Nia maupun ayahnya.
Sejak kematian istri dan anaknya, ayah Nia jadi berubah total dan hidupnya berantakan. Dia menjadi seorang pemabuk dan perokok berat. Dia mabuk-mabukan agar bisa melupakan kematian istri dan anaknya. Namun, dia terlalu larut dalam kesedihan hingga dia selalu mabuk-mabukan bahkan setelah sekian lama.
Dikarenakan hidupnya berantakan, ayah Nia menjadi pemalas dan lebih memilih untuk menghabiskan uang untuk alkohol dan rokok. Karena sikap malasnya itu, dia jadi jarang masuk kerja dan akhirnya dipecat dari tempatnya bekerja.
Karena tidak berkerja, tentu tidak ada pemasukan dalam keluarganya, membuat ayah Nia memilih untuk berhutang pada rentenir.
Awalnya hutang tersebut hanya berjumlah kurang dari tiga juta, tapi karena hutang tersebut tidak dibayar, akhirnya hutangnya menumpuk dan semakin membesar setiap saatnya.
Berbeda dengan ayahnya yang larut dalam kesedihan, Nia malah menjadi pribadi yang lebih baik. Tentunya dia juga sedih karena kehilangan ibu dan kakaknya, tapi kesedihannya tidak berlarut seperti sang ayah.
Sejak ibu dan kakaknya meninggal, Nia bertekad dalam hatinya bahwa dia akan menjadi seperti kakaknya yang pekerja keras dan pantang menyerah. Dia juga bertekad untuk menjadi seperti ibunya, yang kalem, lembut dan selalu menyayangi keluarganya.
Tapi, setelah melihat ayahnya menjadi seorang pemabuk, Nia menjadi membenci pria busuk ini dan emosinya terkadang jadi tidak stabil saat melihat ayahnya mabuk-mabukan.
Namun, dia tetap berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seperti ibu dan kakaknya.
Nia juga menjadi lebih rajin dan dia selalu belajar siang dan malam sampai akhirnya dia menerima beasiswa untuk masuk ke dalam SMA Daeil.
Hal ini jelas merupakan berita yang membahagiakan bagi Nia. Dia menjadi sangat bersemangat.
Nia bersekolah dengan tenang dan ada beberapa teman sekelasnya yang iri padanya karena dia merupakan murid yang rajin dan cerdas, selalu dipuji guru karena hal tersebut.
Karena beberapa temannya iri, mereka mulai membully Nia karena gadis ini kekurangan dalam ekonomi. Namun, dia tidak peduli dan mengabaikan kata-kata orang-orang yang irinya padanya dan dia lebih memilih untuk berteman dengan mereka yang tulus berteman.
Suatu hari, ketika sedang istirahat di kantin, Nia secara tidak sengaja melihat sosok kakaknya.
Dia awalnya mengira bahwa dia salah lihat, tapi setelah melihat lebih dekat sosok kakaknya itu, ternyata orang itu adalah Lucy.
Lucy memiliki wajah yang mirip seperti kakaknya dan kepribadiannya sangat mirip dengan ibunya.
Ini membuat Nia sangat bahagia karena dia telah menemukan seseorang yang mirip ibu dan kakaknya, baik dalam wajah ataupun kepribadiannya.
Nia selalu ingin menghabiskan waktunya bersama Lucy.
Rasa suka yang Nia tunjukkan pada Lucy bukanlah rasa suka seperti cinta seorang gadis pada pria pujaan hatinya, melainkan rasa suka dan cinta sebagai anggota keluarga. Dia selalu menganggap Lucy sebagai kakak sekaligus ibunya, karena Lucy mirip dengan keduanya.
Semenjak Nia selalu pulang larut malam, ayahnya yang pemabuk menjadi marah. Dia tidak ingin putrinya bermain di luar dan hanya ingin putrinya belajar di rumah.
Oleh karena itu, saat ayahnya marah dan karena di bawah pengaruh alkohol juga, ayahnya terkadang memukulnya dan itu membuat Nia semakin membenci pria busuk ini.
*****
"Begitu ceritanya, Kak..."
Nia menutup ceritanya. Air mata memenuhi sudut matanya saat dia menahan kesedihan atas kehilangan ibu dan kakaknya untuk selamanya.
Lucy yang mendengar cerita Nia dari awal hingga akhir ikut sedih. Dia menatap Nia dengan prihatin dan memeluknya dengan erat.
Lucy juga sudah kehilangan kedua orang tuanya, jadi dia mengerti bagaimana perasaan Nia saat ini.
Di sisi lain, wajah Arya menggelap seakan awan mendung menutupi wajahnya. Dia diam-diam mengepalkan tangannya.
Mendengar cerita Nia, dia menjadi sangat marah. Dia memiliki hubungan buruk dengan ayahnya, jadi ketika mendengar cerita Nia, dia menjadi sangat tidak senang dengan ayah Nia.
'Putrinya telah bekerja keras, tapi ayahnya malah menjadi pemabuk? Ayah macam apa itu?'
Arya menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
Arya kemudian perlahan berdiri, hendak pergi.
"Aku akan keluar sebentar."
Arya berkata demikian sambil tersenyum, namun matanya menunjukan kemarahan.
"Tunggu, Arya! Ke mana kamu akan pergi?!"
"Aku hanya keluar sebentar, jangan hiraukan aku."
Arya menjawab tanpa menoleh. Dia dengan cepat meninggalkan dua gadis itu, mengambil motornya di garasi dan pergi dengan kecepatan tinggi
Lucy menggertakan giginya. Dia ingin menghentikan Arya, tapi Nia saat ini sedang menangis dalam pelukannya. Jadi, dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Nia menangis setelah merasakan kehangatan dari pelukan Lucy. Dia bahkan tidak menyadari kalau Arya sudah pergi.
Lucy memeluk Nia dan mengelus kepala gadis itu sambil mengucapkan kata-kata menghibur.
'Arya, tolong jangan bertindak sembarangan.'
Lucy diam-diam berharap dalam hatinya.
Sebagai kekasih Arya, dia dengan jelas memahami jalan pikirannya.
Pada saat Arya pergi, dia jelas pergi menuju rumah Nia agar dia bisa memukul ayah Nia agar pemabuk itu merasakan apa yang putrinya rasakan.