
Satu jam kemudian.
Di lorong yang panjang, tampak Marissa sedang berjalan bersama seorang pelayan wanita.
Dia baru saja menyelesaikan beberapa hal dan melaporkan kejadian penculikan itu pada Ratu Chaterine.
Tentu saja, mendengar Marissa diculik akibat kelalaian Luois membuat Ratu Chaterine marah. Dia segera memanggil Luois dan para pengawal lainnya yang bersama Marissa saat Marissa liburan pada saat itu, tentu saja berniat untuk memarahi mereka agar mereka lebih disiplin dan tidak lalai lagi.
Ketika Ratu Chaterine sedang memarahi Luois dan yang lainnya, Marissa meminta undur diri karena ingin menemui Arya. Dia segera memanggil salah satu pelayan untuk mengantarkannya ke tempat Arya berada.
Tiba di ruangan tempat Arya berada, Marissa mengetuk sejenak dan pintu segera terbuka.
"Maaf membuatmu lama menunggu, Arya..."
Ketika Marissa masuk, suaranya perlahan menghilang saat dia melihat sosok pemuda berambut pirang dan bermata biru sama seperti dirinya.
Pemuda itu secara alami adalah Pangeran Ivor.
Marissa segera mengerutkan dahinya begitu melihat Pangeran Ivor duduk tidak jauh dari Arya.
"Bisakah kau memberitahuku, alasanmu ada di sini, Ivor?"
Marissa bertanya dengan dingin saat tatapan tajamnya menatap Pangeran Ivor.
Pangeran Ivor hanya tersenyum tipis melihat sikap dingin Marissa. Dia kemudian berdiri dan mendekatinya.
"Aku hanya ingin menyapa tamu yang kau undang, itu saja. Apakah itu tidak boleh?"
Nada Pangeran Ivor main-main. Dia kemudian berbalik dan menatap Arya.
"Baiklah, aku pergi dulu, Arya. Jika kau senggang, carilah aku dan kita akan mengobrol lebih banyak lagi, oke?"
Setelah mengatakan itu, Pangeran Ivor melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan ruangan.
Kembali pada Arya, dia hanya tersenyum sebagai balasan ucapan Pangeran Ivor tadi. Dia kemudian menatap Marissa, yang tampak tidak senang dengan kehadiran Pangeran Ivor.
Sepertinya Marissa dan Ivor sedikit tidak akur.
Menghela napas, Marissa memperbaiki ekspresi wajahnya sebelum duduk tidak jauh dari Arya.
"Maaf telah menunjukkan sesuatu yang tidak menyenangkan, Arya. Maaf juga karena telah membuatmu menunggu lama, aku yang mengundangmu tapi aku malah mengabaikanmu selama beberapa saat."
Marissa berkata dengan tulus sambil tersenyum.
"Tidak masalah, Putri. Kamu pasti sangat sibuk, jadi jangan terlalu memikirkan saya."
Arya berkata dengan sopan, mengubah cara bicaranya dan cara memanggil Marissa. Dia awalnya memanggilnya langsung dengan nama, tapi karena dia sedang berada di istana Buckingham, dia perlu bersikap sopan.
Jika ada orang yang mendengarnya memanggil Marissa dengan nama langsung, dia mungkin akan mendapat masalah.
Mendengar nada sopan dan cara memanggil yang berbeda, Marissa mengangkat alisnya karena terkejut. Dia kemudian tertawa kecil dan berkata.
"Ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba memanggilku "Putri" daripada "Marissa"? Tidak perlu terlalu sopan, Arya. Panggil saja aku seperti biasanya."
"Saya tidak berani, Putri."
Arya menunduk malu, merasa agak aneh.
Sejujurnya, dia juga merasa kurang nyaman memanggil Marissa dengan panggilan Putri dan lebih suka memanggilnya dengan namanya langsung.
Mendengar Arya, Marissa tersenyum tipis.
"Baiklah, aku tahu kenapa kamu tiba-tiba memanggilku seperti itu. Tapi, tolong saat hanya ada kita berdua, panggil aku dengan namaku saja, ya?"
Marissa berkata dengan lembut, tersenyum manis.
"Ah, baiklah..."
Arya segera mengangguk, sedikit terpesona dengan kelembutan dan senyuman manis dari Putri Inggris ini.
Kemudian, dikarenakan saat ini hanya ada Arya dan Marissa berdua saja di dalam ruangan itu, Arya bisa bersikap santai dan memanggil nama Marissa seperti biasanya.
Dia dan Marissa mulai mengobrol cukup banyak, dengan Marissa menceritakan kegiatan sehari-harinya sebagai seorang Putri Inggris.
Arya mendengarkan dengan seksama, sampai akhirnya dia merubah ekspresinya menjadi serius.
"Marissa, ini mungkin terdengar tidak sopan tapi ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."
Melihat Arya serius, Marissa juga ikut serius. Dia sedikit mengerutkan dahinya.
"Apa itu, Arya? Jika aku bisa menjawabnya, maka aku akan menjawabnya sebisaku."
"Baiklah. Hal yang ingin kutanyakan padamu adalah tentang Pangeran Ivor. Melihat kalian berinteraksi tadi, aku memiliki beberapa tebakan jika kalian tidak terlalu akur. Bolehkah aku mengetahui alasannya?"
Arya bertanya, sedikit ragu di tengah-tengah tapi dia tetap melanjutkan kalimatnya.
Marissa agak terkejut dengan pertanyaan Arya, namun dia tidak marah. Dia justru sedikit malu karena menunjukkan ketidakakurannya dengan adiknya, Ivor.
Diam sejenak, Marissa menghela napas.
"Seperti yang kamu lihat tadi, aku dan Ivor memang sedikit tidak akur. Untuk alasannya, aku tidak bisa mengatakannya secara jujur padamu. Tapi, aku akan memberitahumu sesuatu."
Marissa berhenti sejenak, menoleh ke kiri dan kanan, mencoba memastikan tidak ada orang lain selain dirinya dan Arya.
Menatap Arya, Marissa melanjutkan kalimatnya yang tertunda tadi.
"Arya, aku akan mengatakan ini padamu karena kamu tidak tahu kepribadian sebenarnya dari Ivor. Meski tampangnya polos dan dia mungkin terdengar bersahabat, tapi dia sebenarnya dingin dan kejam. Dia penggila takhta dan selalu berusaha merebut kedudukan Ratu Chaterine selama beberapa tahun terakhir. Ingatlah satu hal ini, Arya. Jangan pernah percaya pada ucapan Ivor!"
Marissa terdengar memiliki kebencian di akhir kalimatnya, dia bahkan menggertakan giginya.
Arya sangat terkejut mendengarnya, tidak menyangka jika itu alasan kenapa Marissa dan Ivor tidak akur.
Jika apa yang dikatakan Marissa adalah benar, maka dia harus berhati-hati saat berada di dekat Ivor.
Selain itu, Arya bisa menebak sedikit jika Ivor memang orang yang kejam. Lagipula, saat bersama Ivor tadi, dia bisa merasakan tatapan dingin dan tidak berperasaan dari Ivor sesekali.
Tatapan yang dimiliki Ivor sama seperti tatapan milik Arya, seakan-akan Ivo pernah membunuh seseorang sebelumnya.
Menghela napas, Arya berkata.
"Baiklah, terima kasih telah memberitahuku. Aku akan berhati-hati saat bersama Pangeran Ivor."
Setelah itu, Arya dan Marissa melanjutkan obrolan mereka.
*****
"Wow... Aku tidak bisa berkata-kata dengan kamar ini... Ini terlalu mewah untukku!"
Menjelang malam hari, Arya diantarkan oleh seseorang menuju kamar yang dikhususkan untuk tamu.
Kamar ini sangat mewah dan megah, luasnya tiga kali lebih luas dari kamar yang dimiliki Arya di rumahnya di kota Bern.
Arya kemudian mengambil handphonenya dan mulai memfoto kamar tersebut, tidak lupa juga dia selfie dan mengirimkan hasil fotonya tersebut pada Lucy dan Rosa. Dia ingin menunjukkan kamar yang dia dapat saat berada di istana Buckingham.
Setelah mengambil beberapa foto, Arya berjalan menuju kasur berukuran king size itu dan melemparkan dirinya ke atas sana, memantul beberapa kali saking empuknya kasur tersebut.
Arya bisa merasakan kelembutan dan kehangatan kasur ini, dia merasa sangat nyaman saat berbaring di sana. Hanya dalam sekejap, dia merasa mengantuk karena terlena dalam nikmatnya kasur ini.
Namun, Arya tidak bisa tidur untuk saat ini, karena sebentar lagi memasuki jam makan malam. Dia sudah diberitahu oleh Marissa jika nanti dirinya akan dipanggil seorang pelayan untuk makan malam bersama Ratu Chaterine, Marissa dan Ivor.
Tentu saja, ketika Arya pertama kali mendengar tentang ini, dia benar-benar terkejut. Dia tidak akan pernah menyangka jika di dalam hidupnya, dia bisa makan malam bersama Ratu Chaterine.
Menghela napas panjang, Arya tersenyum ketika dia menatap langit-langit.
"Sungguh, ini adalah keberuntungan terbaik sepanjang hidupku. Aku bisa bertemu Ratu Chaterine dan Marissa, juga Pangeran Ivor. Padahal aku hanya warga sipil biasa yang tidak terkenal sedikit pun, tapi aku bisa bertemu mereka semua. Aku benar-benar bahagia dan bangga dengan ini."
Arya berdialog dengan dirinya sendiri. Dia kemudian mengerutkan dahinya ketika tiba-tiba mengingat ucapan dan peringatan Marissa tentang Pangeran Ivor.
"Tapi, aku tidak sangka jika ternyata keluarga kerajaan Inggris akan memiliki masalah internal. Pangeran Inggris ternyata ada seseorang yang gila takhta. Yah, itu tidak terlalu mengejutkan. Beberapa tahun yang lalu aku pernah mendengar jika ada percobaan pembunuhan terhadap Ratu Chaterine. Apakah itu perbuatan Pangeran Ivor?"
Sebuah pikiran liar melintas di benak Arya, membuatnya merasakan firasat buruk dan rasa tidak nyaman segera memenuhi hatinya.
Namun, setelah berpikir sejenak, tidak mungkin percobaan pembunuhan terhadap Ratu Chaterine itu dilakukan Pangeran Ivor. Karena jika Ratu Chaterine meninggal, maka takhta sebagai pemimpin Inggris tidak diberikan pada Pangeran Ivor, melainkan pada Marissa, karena Marissa adalah anak paling tua Ratu Chaterine.
*****
Pada saat jam makan malam tiba, seperti yang dikatakan Marissa tadi, Arya dipanggil oleh seorang pelayan dan pelayan tersebut menuntunnya menuju ruang makan, dikarenakan Marissa beserta ratu dan pangeran sudah menunggu.
Arya tentu saja mengikuti pelayan tersebut.
Sepanjang jalan, dia memikirkan beberapa hal yang mungkin bisa membuatnya lebih rileks saat berbincang dengan Ratu Chaterine nanti.
Dia masih merasa gugup saat berhadapan langsung dengan sang ratu. Apalagi Arya harus menjaga mulutnya baik-baik, jangan sampai dia salah memanggil Marissa langsung dengan nama di hadapan Ratu Chaterine, karena itu bisa menyebabkan kesalahpahaman.
"Silakan, Tuan. Yang Mulia sudah menunggu Anda di dalam."
Pelayan tersebut berkata ketika mereka sudah tiba di depan sebuah pintu ruang makan.
Pelayan tersebut kemudian membukakan pintu untuk Arya dan ketika pintu terbuka sepenuhnya, Arya bisa melihat tiga sosok, dua wanita dan satu pria sedang duduk di meja makan bundar yang penuh dengan berbagai macam hidangan.
Ketiganya jelas Ratu Chaterine, Marissa dan Ivor.
Mereka semua menatap Arya yang berada di luar ruangan.
Menelan ludah, Arya memantapkan langkahnya dan perlahan memasuki ruang makan.
Di dalam sana ada Ratu Chaterine beserta dua lainnya, di tambah dengan dirinya, total ada empat orang. Sedangkan untuk para pelayan, ada hampir selusin dari mereka, berdiri beberapa langkah dari Ratu Chaterine, siap melayani.
Melihat Arya memasuki ruang makan, Ratu Chaterine tersenyum dan menyapanya.
"Selamat malam, Arya."
"Selamat malam juga, Yang Mulia Ratu. Terima kasih telah menjamu saya. Saya benar-benar merasa terhormat bisa berada di meja yang sama dengan Anda malam ini."
"Kamu terlalu serius. Silakan, duduk dan nikmati hidangannya."
Setelah mendapat izin dari Ratu Chaterine, Arya perlahan menarik kursinya dan duduk. Dia berhadapan langsung dengan Ratu Chaterine.
Setelah itu, makan malam dimulai dan Arya menikmati hidangan yang disajikan dengan lahap.
Tentunya, meski dia makan dengan lahap, Arya masih menjaga sopan santunnya.
Suasana makan malam tersebut bisa dikatakan cukup hangat dan menyenangkan. Bahkan, Marissa sempat mengajak Arya mengobrol sedikit dan kemudian, dilanjutkan dengan Ratu Chaterine yang mengucapkan terima kasih banyak pada Arya karena dirinya telah membantu Luois dalam menyelamatkan Marissa dari para penculik.
Adapun Ivor, sang pangeran, dia banyak diam dan hanya mendengarkan obrolan Marissa, Ratu Chaterine dan Arya. Dia justru banyak menatap Arya dengan tatapan tertarik.
Kemudian, makan malam selesai dan sang ratu kembali mengurus beberapa hal kecil, sementara Ivor pergi untuk bisnisnya sendiri.
Di lorong panjang, Arya berjalan menuju kamarnya ditemani dengan seorang pelayan yang menunjukkan arah agar dirinya tidak tersesat.
Dan di samping Arya, itu adalah Marissa.
Arya tidak tahu kenapa, tapi Marissa mengikutinya sejak dari ruang makan tadi.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Putri?"
Arya bertanya, sedikit penasaran dengan alasan Marissa mengikutinya. Dia tidak mempermasalahkan jika wanita ini mengikutinya, namun itu membuatnya bertanya-tanya.
"Oh, tidak perlu. Aku hanya ingin mengobrol denganmu."
Marissa berkata dengan ringan, lalu dia menyuruh pelayan yang mengantar Arya pergi dan kini, hanya mereka berdua yang berjalan di lorong.
Arya tersenyum masam dengan ini. Dia tidak tahu harus menangis atau tertawa.
"Baiklah, ada apa ini?" Arya bertanya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengorbol denganmu. Oh ya, bagaimana jika aku mengajakmu berkeliling istana?"
"Di malam seperti ini? Apa kamu yakin?"
"Tentu aku yakin. Jika tidak, kenapa aku harus mengajakmu? Ayo, aku akan tunjukkan padamu tempat favoritku!"
Marissa berkata dengan sedikit bersemangat, matanya berbinar dan dia segera meraih tangan Arya, menariknya dan mengajaknya berlari melewati lorong yang panjang.
Arya yang tangannya tiba-tiba ditarik oleh Marissa terkejut. Dia tidak sempat menolak dan langsung ditarik oleh wanita cantik ini.
Mengikuti Marissa, Arya merasa jika kehidupan di barat cukup mengerikan. Bagaimanapun, dia dan Marissa baru berkenalan kurang lebih satu minggu, namun Marissa sudah berani menggandeng tangannya dan mengajaknya pergi berdua saja.
Ini sempat membuat Arya merinding untuk beberapa saat.
Setelah ditarik selama beberapa menit, Arya akhirnya tiba di sebuah taman bunga yang indah dan penuh dengan berbagai macam bunga. Selain itu, di malam ini, cahaya bulan menerangi gelapnya malam dan setiap bunga yang ada di taman terlihat jelas berkat cahaya bulan.
Meski ini malam hari dan semua bunga di sana tidak bermekar, tapi melihat bunga yang berwarna-warni itu tetap indah dan membuat Arya kagum. Dia lalu menatap langit, hanya untuk semakin terkejut karena langit malam ini benar-benar indah.
Bulan purnama sempurna yang menggantung di langit itu sangat cantik, ditambah dengan ribuan bintang yang bertebaran di mana-mana. Ini membuat Arya sangat gembira, karena dia sangat menyukai bulan dan bintang saat malam hari.
Melihat reaksi Arya, Marissa yang berada di sebelah pemuda itu terkekeh.
"Bagaimana menurutmu? Indah, bukan? Di sini adalah tempat favoritku jika malam hari. Aku bisa melihat bulan dan bintang dengan jelas dari sini." Marissa menjelaskan sedikit.
"Kamu benar, bulan dan bintang bisa dilihat dengan jelas di sini. Ini benar-benar indah."
Arya berkomentar, tidak mengalihkan pandangannya dari bulan dan bintang.
Setelah itu, Arya dan Marissa menikmati pemandangan bulan dan bintang secara bersamaan untuk waktu yang cukup lama.