
"Arya, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku. Aku akan membuatmu melupakan Lucy. Aku juga akan menyembuhkan luka yang membekas di hatimu. Oleh karena itu, jadilah kekasihku."
Lylia mengatakan ini dengan suara lemah, namun manis dan jelas.
Arya tercengang, matanya hampir keluar dari rongganya. Dia membeku dan pikirannya seketika kosong. Dia benar-benar tidak menyangka dengan pengakuan cinta tiba-tiba ini.
Dia tidak pernah berpikir sekali dalam hidupnya, bahwa Lylia yang merupakan seorang gadis yang sangat cantik bagaikan peri mengungkapkan perasaannya padanya. Ini tidak lebih seperti mimpi bagi Arya.
Ketika dia mendapat pernyataan cinta semacam ini, Arya jelas harus memberi jawaban.
Dalam diamnya, otak Arya perlahan bekerja dengan cepat. Dia memikirkan antara harus menerima perasaan Lylia atau menolaknya. Ini hanya dua pilihan yang terdengar mudah, namun faktanya itu sangat sulit baginya, karena ini adalah pertama kalinya dia menghadapi hal semacam ini.
'Jika aku menolaknya, itu tidak akan merugikanku. Lagipula, aku masih menyukai Lucy. Tapi jika aku menerimanya, bukankah itu akan sangat menguntungkanku?'
Berpikir demikian, Arya tersenyum dalam hatinya.
'Ya, itu benar! Jika Lylia menjadi kekasihku, aku akan sangat diuntungkan! Aku mungkin bisa melupakan Lucy dan membalas pengkhianatannya itu! Juga, Lylia sangat kaya, jadi seharusnya tidak masalah jika aku meminta bantuannya masalah uang, kan? Aku tidak ingin merepotkan mama, jadi jika Lylia menjadi kekasihku, maka dia seharusnya tidak keberatan jika aku repotkan, bukan? Ya, aku harus menerimanya! Ini demi keuntungan!'
Arya kegirangan dalam hatinya. Dia berteriak bahagia dalam hatinya.
Berdeham sekali, Arya menjawab pernyataan cinta Lylia.
"Um... Lylia, apakah yang kamu katakan itu benar?"
"Tentu saja benar. Aku menyukaimu, Arya."
"Ka-kalau benar begitu, sekarang kita adalah pasangan kekasih...?"
Lylia terkejut, terdiam dan mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menunjukkan senyum bahagia.
"Jadi, kamu menerimaku sebagai kekasihmu?"
"Te-tentu saja. Kita pasangan kekasih mulai sekarang."
Arya berkata dengan terbata-bata, berlagak seakan dia malu dengan pernyataan cinta Lylia. Namun, di dalam hatinya, dia tertawa licik.
Lylia sangat bahagia karena perasaannya diterima oleh Arya. Dia secara reflek memeluk Arya lebih erat, sehingga membuat pemuda itu tercekik. Lylia benar-benar memeluk lehernya.
"Lylia... Sakit...!"
"Ah! Maafkan aku, aku tidak sengaja!"
Lylia melepas pelukannya, berdiri dan tersenyum.
Arya menggosok lehernya dan batuk sekali, lalu berdiri dan menatap Lylia.
Lylia menatapnya juga, mata mereka saling bertemu.
Tatapan Arya menunjukkan keserakahan, sementara Lylia menunjukkan tatapan penuh cinta.
Tanpa disadari, bel sudah berbunyi menunjukkan bahwa istirahat telah usai dan semua siswa diwajibkan memasuki kelas mereka masing-masing.
"Bel sudah berbunyi, ayo kembali ke kelas."
Arya berkata dengan acuh tak acuh, seakan kata-katanya yang terbata-bata tadi palsu. Dia melangkah dan melewati Lylia.
Lylia tersentak dan berbalik, menatap punggung Arya yang berjalan menjauh. Dia memasang ekspresi cemberut dan tidak senang.
Arya yang terkejut itu reflek menarik tangannya, mundur selangkah dan menatap Lylia dengan tidak percaya.
Lylia memiringkan kepalanya dengan bingung, mengedipkan matanya beberapa kali saat dia menatap Arya.
"Kenapa, Arya? Apakah ada masalah?"
"Tentu saja masalah, kamu tiba-tiba memeluk tanganku!"
"Eh? Tapi, bukankah itu yang biasanya para pasangan lakukan? Apakah aku salah?"
Arya terdiam, merasa jika Lylia yang tampak lembut di luar namun nyatanya dia ganas dan agresif di dalam. Ini membuatnya sedikit takut dan menyesali keputusannya dalam menerima Lylia sebagai pacarnya.
"Lylia, memang benar jika pasangan kekasih akan memeluk tangan ketika kencan. Tapi, bukankah itu terlalu cepat untuk kita yang baru menjadi pasangan kurang dari sepuluh menit? Perlahan saja, oke?"
Lylia menunjukkan ekspresi sedih, dia menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.
Arya menjadi serba salah dengan ini. Namun, karena tujuannya berpacaran dengan Lylia bukan untuk saling mencintai, dia tidak terlalu memedulikannya. Dia berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Lylia terkejut melihat ini. Dia tidak menyangka jika Arya bahkan tidak membujuknya dan malah meninggalkannya begitu saja.
Dengan cepat, Lylia mengejar Arya dan berjalan berdampingan bersamanya.
Selama perjalanan menuju kelas, Arya dan Lylia yang melewati koridor mendapat banyak pandangan kagum dari orang-orang. Mereka semua fokus dan terkejut ketika melihat Arya dan Lylia yang saling berpegangan tangan dengan jari-jari mereka terjalin.
Hampir semua orang mengenal Lylia, karena dia merupakan gadis paling cantik di seluruh SMA Daeil. Sudah banyak pria yang mengajaknya kencan, namun dia menolak semuanya. Bahkan ada beberapa anak dari konglomerat yang juga mengajak Lylia kencan, tapi hasilnya tetap ditolak.
Tapi sekarang, melihat Lylia berpegangan tangan dengan Arya, semua orang terkejut dan saling berbisik.
"Apa... Apa-apaan semua ini? Apakah aku salah lihat? Siapa pria itu? Berani sekali dia berpegangan tangan dengan Lylia, dia cari mati!"
"Itu... Bukankah itu Arya? Sial, dia sangat beruntung!"
"Oh, tidak. Sepertinya Lylia sudah menemukan kekasihnya... Oh, malangnya diriku ini, aku ditolak olehnya meski wajahku lebih tampan dari orang yang berpegangan tangan dengan Lylia itu..."
Semua orang berbisik, beberapa terkejut, beberapa mengutuk dan beberapa lagi menangis darah.
Arya tersenyum pahit, dia merasa tidak nyaman dengan semua bisikan dan tatapan ini. Dia belum pernah merasakan tatapan yang begitu banyak sebelumnya.
Adapun alasan dia berpegangan tangan dengan Lylia, semuanya karena gadis ini benar-benar memaksanya dan terus merengek. Jika Arya mengabaikannya, dia takut gagal memanfaatkan Lylia, jadi dia hanya bisa menurutinya untuk sementara waktu. Juga, jika dia pergi ke kelas sambil berpegangan tangan, jika Lucy melihat ini, maka itu akan menjadi pertunjukkan yang bagus.
Merasakan genggaman Lylia semakin erat, Arya bisa merasakan betapa lembut dan kecilnya tangan Lylia, seakan jika dia melepaskannya maka tangan itu akan hancur. Tangan Lylia juga terasa hangat, memberikan Arya kenyamanan ketika mereka berpegangan tangan.
Mengabaikan sekeliling, Arya dan Lylia akhirnya tiba di kelas mereka. Keduanya kemudian masuk ke kelas dengan masih berpegangan tangan, penuh kemesraan.
Ketika mereka memasuki kelas, semua orang segera memfokuskan pandangan mereka pada keduanya. Banyak dari teman sekelas melebarkan mata mereka hingga lepas dari rongganya. Mulut mereka terbuka lebar, jelas tidak mempercayai apa yang mereka lihat.
"Ini... Arya dan Lylia berpegangan tangan?! Apakah mereka pacaran?! Sejak kapan?!"
"Tidak! Ini tidak mungkin! Lylia yang secantik itu tidak pantas bersama Arya, tidak cocok dengannya!"
"Sial, andai saja aku menjadi Arya satu hari saja, aku pasti akan mati tanpa penyesalan!"
Para pria mengeluarkan keluhan mereka, merasa jika dunia tidak adil. Adapun para gadis, beberapa bergosip sementara lainnya berteriak kegirangan, merasa senang dengan adanya pasangan kekasih di kelas ini.