
Yuki menatap tangannya yang dipegangi oleh Arya dengan terkejut. Dia kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Arya, bertanya dengan malu-malu.
"Arya... Apakah kamu sudah selesai?"
"Ma-maaf, aku tidak sengaja, Tante..."
Arya tersentak, segera menarik tangannya dan wajahnya memerah. Dia kemudian berbalik, hendak pergi.
Tapi, tiba-tiba Yuki menghentikannya, meraih ujung lengan baju Arya.
"Ta-Tante...?"
Arya terkejut, menoleh dan menatap Yuki dengan rumit.
"Se-sebentar saja tidak masalah, kan?"
Yuki terdengar gugup. Dia perlahan menjalinkan jarinya pada Arya. Jari-jari ramping dan lembutnya itu memenuhi tangan Arya yang besar.
Yuki merasakan jika tangan Arya agak kasar, tapi itu dipenuhi kehangatan dan kenyamanan, membuatnya bahagia.
Mulut Arya menggeliat ketika dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tetap diam pada akhirnya dan tersenyum lembut pada Yuki. Dia juga menjalinkan jarinya dengan erat.
Saling menatap, Arya dan Yuki tersenyum satu sama lain.
Perlahan, Yuki menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Arya dan bersandar di dadanya. Dia memeluk Arya dengan erat.
Arya terkejut, tapi dia segera tenang dan balas memeluk Yuki. Dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yuki, merasakan bahwa pinggangnya sangat ramping tanpa lemat berlebih.
Yuki membiarkan Arya memeluknya. Dia tersenyum manis dengan matanya yang penuh kebahagiaan. Dia mendengarkan detak jantung Arya yang berdetak kencang, seakan itu adalah lagu yang indah.
"Arya, peluk aku lebih erat. Di luar terasa dingin."
"U-um... Baiklah."
Memenuhi permintaan Yuki, Arya memeluknya lebih erat, membuat tubuh Yuki semakin erat dengannya sehingga dia bisa merasakan dua bola besar yang lembut dan hangat menyentuh dadanya.
Selama lima menit, keduanya berpelukan dengan erat. Perasaan hangat membuat mereka tidak ingin melepaskan diri masing-masing.
"Tante, ini... Bisakah aku pergi ke sekolah sekarang? Ini sudah masuk jam pelajaran, sepertinya."
"Eh? Tapi... Bisakah sebentar lagi? Satu menit saja, tidak, tiga puluh detik sudah cukup."
Yuki mengangkat kepalanya dan menatap Arya dengan kecewa dan cemberut. Matanya berkaca-kaca, seakan dia tidak ingin berpisah dari Arya.
Arya tersenyum lembut melihat ini. Dia membelai pipi Yuki dan berbisik dengan pelan, namun kata-kata yang dia ucapkan begitu manis.
Yuki terbujuk dengan ucapannya, jadi dia tidak memaksanya lagi dan melepaskan pelukannya.
"Baiklah, aku pergi dulu, Tante."
"Ah, tunggu..."
"Apakah ada hal lainnya, Tante?"
"Ti-tidak, hanya saja... Bisakah kamu memenuhi permintaan kecilku? Tidak akan memakan waktu banyak, kok."
"Baiklah, kenapa tidak?" Arya tersenyum.
Yuki menghela napas pelan lalu menatap Arya dengan malu-malu, wajahnya semerah apel.
"Pa-panggil namaku..."
Dengan suara manisnya, Yuki berkata demikian.
"Tunggu, bisakah Tante ulangi? Aku sepertinya salah dengar di sini." Arya terkejut, merasa tidak percaya.
"Panggil namaku, jangan panggil aku Tante, oke? Satu kali ini saja."
Yuki mengulangi permintaannya, membuatnya merasa malu dan wajahnya merah padam.
Arya semakin terkejut dan dia diam cukup lama, sebelum akhirnya menatap Yuki.
Suara Arya pelan, tapi itu bagaikan genderang di telinga Yuki. Hatinya dipenuhi kebahagiaan dan dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Arya. Jantungnya berdetak kencang. Suara Arya yang memanggil namanya terus-menerus terngiang di telinganya.
Dengan cepat, Yuki maju dan berhenti tepat di hadapan Arya. Dia berjinjit sedikit dan mencium Arya.
Arya terkejut, matanya melebar ketika dia merasakan pipinya dicium oleh Yuki.
Ketika Arya mendapat kesadarannya kembali, Yuki sudah mengambil posisi awal, berdiri di hadapannya sambil tersenyum manis.
*****
"Jadi, pergi kemana saja kekasihku ini kemarin? Sejak pulang sekolah kemarin, kamu sama sekali tidak bisa dihubungi."
Pada saat jam istirahat makan siang, di dalam kelas 3-3, seorang gadis berdiri di hadapan Arya yang duduk di bangkunya, menatapnya. Gadis itu memiliki tatapan tajam dan nada sedingin es.
Secara alami, gadis itu adalah Lucy.
Sejak pulang sekolah kemarin, Lucy mencoba menghubungi Arya berkali-kali, entah meneleponnya atau mengirimkannya pesan. Tapi, semuanya sia-sia.
Arya sama sekali tidak bisa dihubungi dan ini membuat Lucy kesal. Sangat jarang bagi Arya untuk sulit dihubungi.
Selain itu, Lucy bahkan meminta David untuk menelepon Erwin untuk menanyakan keberadaan Arya. Tapi, hasilnya mengejutkan Lucy.
Ternyata Arya tidak ada di rumahnya sejak pulang sekolah kemarin dan Erwin mengatakan jika Arya pergi ke tempat temannya.
Lucy merasa curiga dengan Arya, tapi dia tidak melakukan apapun dan menunggu Arya menghubunginya balik. Dia masih berpikir positif di sini.
Tapi, pada pagi ini, Lucy secara tidak sengaja bertemu dengan Niko dan Niko memberitahunya bahwa Arya datang ke rumahnya dan menginap di sana. Niko juga mengatakan bahwa Arya sudah berada di rumahnya sejak pulang sekolah kemarin.
Lucy seketika naik darah. Dia menunggu Arya datang ke sekolah agar dia bisa memarahinya. Tapi, setelah menunggu cukup lama, Arya tidak kunjung datang. Setelah pelajaran pertama selesai, Arya baru tiba di sekolah.
Arya menatap Lucy dengan rumit. Dia merasa bersalah pada gadis ini, karena pada pagi ini, dia berpelukan dengan Yuki. Dia bahkan mendapat kecupan di pipinya.
Meremas senyumnya, Arya berkata.
"Aku di rumah kemarin. Handphoneku mati dan aku agak sibuk, jadi aku tidak bisa membalas pesanmu."
"Oh, jadi kamu sibuk, ya?"
"Ya, Ratuku. Aku sibuk kemarin."
"Sibuk gigimu! Niko jelas-jelas bilang kamu menginap di rumahnya!"
Arya terdiam, mengutuk Niko dalam hatinya.
"Begini, Ratuku. Aku memiliki alasan yang bagus untuk dikatakan padamu."
"Oh, kalau begitu katakan alasanmu!"
Lucy mengerutkan dahinya dan menatap Arya dengan jijik.
Menghela napas, Arya berkata.
"Aku kemarin belajar bersama dengan Niko. Saat aku ingin pulang, ibu Niko menyuruhku makan malam di sana dan aku berakhir mengobrol lebih lama. Tanpa aku sadari, aku sudah melewati jam malamku. Karena itu, aku menginap di sana."
"Benarkah? Bukankah kamu datang ke sana karena ibu Niko itu cantik dan sangat perhatian padamu? Juga, kenapa aku mencium aroma wanita lain di tubuhmu? Kamu juga memakai parfum yang berbeda hari ini."
Lucy mengerutkan dahinya, menunjukkan tatapan dingin. Dia jelas tidak percaya dengan kata-kata Arya.
Arya tersenyum masam. Dia masih berusaha menyakinkan Lucy dengan berbagai macam cara, tapi semuanya tidak membuahkan hasil.
"Hmph! Terserah padamu, kamu benar-benar jahat padaku!"
Lucy mendengus, buang muka sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Arya. Hatinya dipenuhi rasa kesal. Bagaimanpun, dia diabaikan seharian penuh oleh Arya, jadi dia ingin membalasnya dengan cara yang sama.
Arya menghela napas tanpa daya. Dia kemudian mengikuti Lucy dari belakang dan terus-menerus mengucapkan kata-kata manis, berusaha membujuknya.
Setelah seharian penuh, Lucy akhirnya terbujuk.