
Esok harinya.
Di dalam kamarnya, Arya sedang berkemas untuk pergi ke Inggris. Dia membawa koper yang cukup besar dan semuanya di isi oleh pakaiannya. Dia tidak tahu berapa lama dirinya berada di Inggris, jadi dia membawa pakaian lebih.
"Untung saja Lucy belum membuang belatiku. Jadi aku tidak perlu membeli yang baru, atau itu akan merepotkan."
Arya menghela napas lega ketika dia menatap belati dia tangannya. Dia benar-benar bersyukur karena Lucy belum membuang belatinya saat dia diintrogasi oleh Kepala Kepolisian di kota Vant saat penculikan terjadi.
Tersenyum tipis, Arya kemudian memainkan belatinya dengan gerakan yang cepat dan lincah, sama sekali tidak takut belati itu mengenai dirinya sendiri.
Tiba-tiba, ketika sedang bermain dengan belatinya, suara pintu dibuka terdengar dan Arya segera panik. Dia menyembunyikan belatinya secepat yang dia bisa sebelum pintu terbuka sepenuhnya.
"Apa kamu sudah selesai berkemas, Arya?"
Suara Lucy terdengar, membuat Arya menghela napas lega. Jika yang datang adalah ibunya dan Rosa melihatnya sedang bermain-main dengan belati, Arya pasti mendapat masalah besar.
"Lucy, kamu mengejutkanku..."
Arya menggeleng, mengeluarkan belatinya dari balik tubuhnya dan memasukkannya ke dalam koper.
Lucy terkekeh mendengarnya. Dia sepertinya tahu kenapa Arya berkata seperti itu.
Mendekati Arya, Lucy membuka kedua tangannya sambil tersenyum manis. Dia kemudian berkata.
"Arya, peluk."
Hanya dua kata, namun itu membuat Arya terdiam sejenak dan menatap Lucy. Dia terkekeh, kemudian memeluk Lucy.
"Ada apa, Lucy? Kamu tiba-tiba bertingkah manja sekarang."
"Apa salahnya aku bertingkah manja? Kamu akan pergi ke Inggris dan aku tidak tahu kapan kamu akan pulang, jadi setidaknya biarkan aku manja sepuasnya sebelum kamu pergi."
"Baiklah, baiklah. Jangan cemberut begitu, nanti cantiknya hilang."
Arya tersenyum, mengelus kepala Lucy dengan gerakan menyayangi. Dia tidak sangka jika Lucy akan jadi cemberut karena ucapannya.
Berpelukan cukup lama, Lucy melepaskan pelukannya dan berbalik, mengunci pintu kamar dan kembali menatap Arya.
"Hei, kenapa kamarnya dikunci?" Arya bertanya dengan senyum nakalnya.
"Hm~, kenapa ya?"
Nada Lucy main-main saat senyum nakalnya melebar. Jarak antara Arya dan Lucy semakin dekat dan kemudian, Lucy berjinjit sedikit dan mencium bibir Arya dengan lembut.
Arya membalas dengan cepat. Dia sudah paham dengan ini.
Lucy dengan cepat melingkari leher Arya dengan kedua tangannya.
Arya pun begitu. Dia memeluk erat pinggang Lucy.
Keduanya berbagi ciuman dangkal dan ringan, namun itu penuh dengan kasih sayang. Meski mereka sering melakukan ciuman semacam ini hampir setiap harinya, namun mereka tidak pernah bosan dan selalu ketagihan setiap saatnya.
Setelah merasa puas, keduanya memisahkan diri dan saling menatap. Keduanya memiliki wajah yang memerah.
"Arya, jangan terlalu lama berada di Inggris, ya. Jaga pandanganmu selama berada di sana. Bagaimanapun, di Inggris banyak wanita cantik dan kebanyakan dari mereka memakai pakaian yang terbuka. Aku takut kamu tergoda salah satu dari mereka."
Dengan matanya yang lembab dan napasnya yang agak terengah-engah, Lucy mengingatkan Arya. Selama Arya pergi ke Inggris, dia akan jauh dari pengawasannya, jadi Lucy agak khawatir.
Mendengarnya, Arya malah terkekeh sambil tersenyum tipis.
"Ratuku, bagaimana mungkin aku tergoda oleh orang-orang di sana? Di dalam hatiku, hanya ada kamu seorang. Kamu adalah pujaan hatiku hari ini dan selamanya."
"Tentu saja, Ratuku. Untuk apa aku berbohong padamu? Kamu tahu betapa besarnya cintaku padamu."
Arya berkata dengan lembut sambil membelai pipi Lucy, lalu menciumnya dengan lembut.
Lucy menutup matanya dan mengikuti gerakan bibir Arya. Keduanya kini tidak melakukan ciuman ringan dan dangkal lagi, melainkan ciuman yang dalam dan intim. Mereka perlahan menjalinkan lidah mereka dan memulai french kiss mereka.
Karena seringnya mereka melakukan french kiss semacam ini, mereka jadi semakin ahli dalam menjalinkan lidah dan lidah mereka tidak pernah tergelincir lagi seperti saat pertama kali mereka melakukan french kiss.
Setelah beberapa saat, keduanya memisahkan diri karena kehabisan napas. Namun, itu hanya untuk sesaat sebelum keduanya menempelkan bibir mereka lagi.
Semakin lama mereka berciuman dan menjalinkan lidah, semakin terdengar jelas suara decakan air liur. Napas mereka yang kasar dan manis menggema di dalam kamar yang sunyi.
Arya sempat khawatir dengan suara decakan yang terjadi. Dia takut suara mereka terdengar hingga luar kamar. Namun, ketika sedang berciuman seperti sekarang, bagaimana bisa dia peduli?
Semua fokusnya tertuju pada Lucy. Arya terlalu sibuk menikmati lidah mungil dan merah milik Lucy. Meski sudah melakukannya berkali-kali, tapi Arya tak pernah bosan dan selalu ketagihan setiap saat dia melakukan french kiss bersama Lucy.
"Ah... Arya, apakah ini tidak masalah...? Bukankah kita terlalu lama...?"
Lucy menarik bibirnya, terengah-engah dan wajahnya memerah namun matanya menunjukkan kebahagiaan yang tak berujung. Berciuman dengan pria yang dia cintai benar-benar membuatnya ketagihan dan merasa seperti melayang.
"Jangan pikirkan yang tidak perlu, Lucy."
Arya menjawab dengan acuh tak acuh, lalu mencium Lucy lagi.
Setelah itu, tidak ada yang tahu berapa banyak ciuman yang mereka lakukan.
*****
Dua jam kemudian, Arya sudah siap untuk pergi.
Dia kini sedang mengobrol dengan ibu, adik serta kekasihnya di ruang keluarga, menunggu Luois menjemputnya.
Beberapa saat yang lalu, dia mendapat telepon dari Marissa.
Marissa meminta alamat rumahnya karena dia akan menjemput Arya agar mereka bisa berangkat bersama.
Arya tentu memberikan alamatnya dan setelah itu, dia diminta menunggu karena Luois sedang dalam perjalanan.
Setelah hampir tiga puluh menit, Luois tiba dengan mobil mewah yang berhenti di depan rumah Rosa.
Arya kemudian segera berpamitan pada Rosa dan Andhika.
"Ma, aku pergi dulu, ya. Aku mungkin tidak akan lama di Inggris, jadi aku akan bisa kembali ke rumah secepatnya dan menghabiskan waktu lebih lama bersama Mama."
"Tentu, Nak. Hati-hati selama berada di Inggris. Jaga sikapmu di sana dan jangan buat masalah."
Rosa tersenyum lembut pada Arya, lalu menasehatinya lebih banyak.
Setelah itu, Arya menatap Andhika yang cemberut dan memiliki ekspresi tidak senang. Tentu, ekspresinya yang demikian itu dikarenakan Arya menunda janjinya untuk mengajaknya ke pantai.
"Andhika, jangan cemberut terus. Kakak sudah minta maaf berulang kali padamu. Andhika, aku terpaksa melakukan ini, karena aku tidak akan tahu jika kejadiannya seperti ini. Maaf, Andhika. Kakak janji, setelah pulang dari Inggris, kami boleh meminta apapun yang kamu mau."
Arya meminta maaf dengan tulus sambil mengelus kepala Andhika.
Mendengarnya, Andhika mendengus dan menghela napas dengan kasar.
"Hmph, baiklah. Jika Kakak pulang nanti, aku akan menguras habis uang di rekening Kakak, jadi jangan salahkan aku jika Kakak tidak punya uang lagi!"
"Baiklah, baiklah. Habiskan uang Kakak jika kamu bisa." Arya terkekeh.